Assalamualaikum w.w. Ananda Dt Endang dan Ananda Ahmad
Ridha,

Dari respons Ananda Dt Endang saya melihat bahwa
dialog Ananda berdua yang sesungguhnya bisa berkembang
sebagai langkah awal dari upaya mencari solusi dari
'deadlock' yang berusia 170 tahun ini, ternyata masih
belum bisa dilanjutkan, karena seperti kata Ananda Dt
Endang : "karena tatanan telah dibentuk dan disusun
agar keduanya berjalan secara harmonis.".

Sebabnya ialah oleh karena bahkan dalam merumuskan
problem saja sudah tidak bisa bertemu, karena yang
satu mengatakan ada masalah, yang lain mengatakan
semua OK-OK saja. Implikasinya adalah bahwa semua
keluhan sejak dari yang disampaikan oleh Syekh Akhmad
Khatib al Minangkabauwi sampai Buya Hamka, sama sekali
tidak ada artinya. 

Karano itu, kito parambunkanlah baliak masalah ko, bia
kenyataan dan dinamika sejarah sajo nan ka
manyalasaikannyo nanti. 

Hanyo ambo masih tatap taheran-heran mancaliak
kanyataan susah bana mangintegrasikan norma adat jo
agamo, khusus dalam masalah hukum kakarabatan jo hukum
waris ko. Manuruik pamahaman ambo, arti 'basandi' yo
'basandi', dan "ABS- SBK" yo "ABS SBK". Tanyato ado
pamahaman lain dari basandi, [mungkin] manuruik caro
urang mambuek rumah gadang dahulu, yaitu 'mampakuaik'.
sahinggo ABS SBK bisa diartikan fungsi syarak itu yo
sakadar mampukuaik adat. Ambo mandanga penafsiran
sarupo tu sawakatu ambo maluncuakan buku ambo di
studio TVRI Padang tahun 2004 nan lalu. Kini ado
kamungkinan varian lain dari 'basandi' yaitu
'basisian". Kok tafsiran iko nan akan kito anuik, mako
ABS SBK akan mampunyai arti : " Adat Basisian jo
Syarak, Syarak [sajo] nan Basandi Kitabullah". Apo iyo
baitu para Dunsanak sa palanta ?

Hikmah dari wacana kito iko, adolah kasadaran dan
kanyataan bahaso -- paliang tidak --  ado duo arti ABS
SBK, nan alun dapek disatukan lai satu samo lain. 

Sakadar klarifikasi, ambo saketekpun indak maragukan
pernyataan Ananda Dt Endang, bahaso " secara limbago
saya sudah melalui proses ‘gadang ikan paus di
lautan’.
> Ka ateh taambun jantan, ka bawah takasiek bulan,
> tagantuang ka nan tinggi, taserak ka nan laweh." Nan
ambo harokkan -- sabalun iko -- adolah agar wacana
tantang ABS SBK ko bisa dilanjuikkan, dimano Ananda Dt
Endang nan cukuik 'eloquent' dalam menyampaikan
pandapek, bisa menjadi 'representasi' dari kaum adat.
Harapan ambo ko memang indak mudah malaksanakannyo,
karano kito tahu 'adat salingka nagari'. Bisa-bisa
Ananda Dt Endang disanggah pulo dek urang gadang dari
nagari lain.  

Wassalam,
Saafroedin Bahar


--- Datuk Endang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Ysh Pak Saaf dan Adik Ahmad Ridha,
>   Saya tidak menemukan surat Ridha di browser
> yahoo.com saya, dan syukurlah bila disampaikan
> ulang. Sebenarnya tidak semua email yang masuk dapat
> saya baca, berhubung kesibukan saat ini. Untuk
> menanggapi panjang lebar mohon waktu hingga 2 minggu
> ke depan, berhubung ada kesibukan kerja dan keluar
> daerah. Namun sedikit saya tanggapi saja:
>   Saya tidak perlu mewakili kelompok apa pun untuk
> berdiskusi di milis ini, karena secara limbago saya
> sudah melalui proses ‘gadang ikan paus di lautan’.
> Ka ateh taambun jantan, ka bawah takasiek bulan,
> tagantuang ka nan tinggi, taserak ka nan laweh.
>   Bila ingin memulai dialog dan diskusi, hendaknya
> kita dapat saling membuka diri dan melakukan
> perbincangan secara analitik. Seperti bermain kartu,
> kalau kebetulan kartu di tangan semua adalah kartu
> truf atau as, maka kita tidak akan pernah menikmati
> permainan. Seperti contoh, saya selama ini hanya
> menyampaikan pemaparan dan analisis tentang sejarah
> dan tambo seperti apa adanya, dan menanggapi
> berbagai tanggapan sedapatnya. Demikian juga Adik
> Ridha juga menyampaikan ayat dan tafsir seperti apa
> adanya.
>   Namun kalau diperbenturkan, maka jadilah dialog
> seperti:
>   “Mudah-mudahan legenda yang disampaikan Datuk
> Endang tidak benar”.
>   Dan tentunya saya akan menjawab, “Mudah-mudahan
> Allah swt memberikan inayah dan pemahaman yang lebih
> kepada Adikku Ridha, sehingga dapat memahami
> ‘ayat-ayat’ Allah secara lebih baik”.
>   Karenanya di dalam adat ditanamkan pemahaman ‘tali
> nan tigo sapilin, tungku nan tigo sajarangan’, bahwa
> di antaranya kaum ulama dan kaum umara (pemangku
> adat) adalah berjalan seiring, ‘ka hilie sarangkuah
> dayuang, ka mudiak saantak galah, sahino samalu,
> sapantang sapanjatian’. Panghulu rintang jo pituah,
> malin rintang jo kitab, pamarentah saundang. Bila
> hendak berdiskusi, ’buliah bakisa tagak asah lai di
> tanah nan sabingkah, buliah bakisa duduak asah lai
> di lapiak nan sahalai’.
>   Untuk itu suatu kezaliman menurut hemat saya bila
> mempertentangkan adat dan agama sedemikian rupa,
> karena tatanan telah dibentuk dan disusun agar
> keduanya berjalan secara harmonis.
>   Demikian sementara waktu, wassalam.
>    
>   -datuk endang
> 
> 
> Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  
> Assalamualaikum w.w. Ananda Ahmad Ridha dan Ananda
> Dt
> Endang,
> 
> Saya memperhatikan dengan cermat dialog ini, dan
> saya
> mengharap Ananda Dt Endang bersedia menjedi juru
> bicara para fungsionaris adat, bukan hanya untuk
> menjawab sanggahan Ananda Ahmad Ridha, tetapi juga
> untuk mencari formula yang dapat mengakomodasi
> ajaran
> Islam dan hukum negara ke dalam norma adat
> Minangkabau, yang ditengarai agak resisten terhadap
> pembaharuan dan perbaikan. 
> 
> Secara pribadi saya menduga -- mudah-mudahan saya
> salah -- bahwa resistensi tersebut disebabkan hanya 
> karena adanya 'vested interest' dari [sebagian]
> fungsionaris adat. Tidak mustahil juga sekedar
> karena
> konservatisme belaka.
> 
> Dalam email saya kepada Ananda Erwin, saya
> menyarankan
> jalan keluarnya, yaitu 'sistem matrilienal plus'
> yang
> rasanya bisa memenuhi ajaran 'elok di awak katuju di
> urang'. Untuk lengkapnya saya persilakan Ananda
> berdua
> melihat-lihat posting saya mengenai hal ini.
> 
> Saya berharap banyak kepada Ananda berdua, agar kita
> orang Minang masa kini dapat menyelesaikan secara
> mendasar bengkalai sejarah yang sudah berusia 170
> tahun ini.
> 
> Wassalam,
> Saafroedin Bahar
> 
> --- Ahmad Ridha wrote:
> 
> > 
> > On 3/11/07, Datuk Endang 
> > wrote:
> > 
> > > Memang perhitungan pengelompokan masyarakat di
> > Minangkabau dilakukan melalui
> > > 'garis ibu', seperti penentuan suku, penentuan
> > penanggung jawab pusaka
> > > 'warih dijawek pusako ditolong', dan sebagainya.
> > Walaupun sejak kedatangan
> > > Islam, hal ini tidak ada perubahan hingga saat
> > ini; sehingga dapat dikatakan
> > > hal tersebut tidak bertentangan dengan syariat.
> > >
> > 
> > Mak Datuk Endang, tidak adanya perubahan sesuatu
> > tidak dapat dijadikan
> > dasar bahwa hal itu tidak bertentangan dengan
> > syariat. Sebagai contoh
> > saja, di Jawa penyembahan terhadap sapi dalam
> budaya
> > mereka tetap saja
> > ada walau pun Islam sudah masuk sejak lama.
> > 
> > > Setelah itu Cati Bilang Pandai berkata, "hai
> > Datuk-datuk sekaliannya dan Datuk orang
> > > yang berdua ini, meminta hamba sungguh-sungguh
> > jangan diberikan juga pusaka itu
> > > kepada anak, melainkan baiklah kita berikan
> kepada
> > kemenakan kita saja semuanya.
> > > Ampun beribu kali ampun, karena kita sudah
> mencoba
> > menghela perahu ini tetapi
> > > sekalian mereka itu tidak mau menolong bapaknya
> > sendiri".
> > >
> > 
> > Semoga legenda ini tidak benar. Jadinya kok aturan
> > warisan diubah
> > karena kesal kepada anak-anak mereka sendiri.
> > Padahal setelah
> > ayat-ayat tentang warisan, Allah berfirman (yang
> > artinya):
> > 
> > "(Hukum-hukum tersebut) itu adalah
> > ketentuan-ketentuan dari Allah.
> > Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya,
> > niscaya Allah
> > memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di
> > dalamnya sungai-sungai,
> > sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah
> > kemenangan yang besar."
> > (QS. an-Nisaa' 4:13)
> > 
> > Allahu Ta'ala a'lam.
> > 
> > -- 
> > Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
> > (l. 1400 H/1980 M)
> > 
>  
> ---------------------------------
> TV dinner still cooling?
> Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV.
>
> 
> 



 
____________________________________________________________________________________
We won't tell. Get more on shows you hate to love 
(and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures list.
http://tv.yahoo.com/collections/265 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke