On 3/25/07, Datuk Endang <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Untuk itu suatu kezaliman menurut hemat saya bila mempertentangkan adat dan > agama sedemikian rupa, karena tatanan telah dibentuk dan disusun agar > keduanya berjalan secara harmonis. >
Saya bukan hendak mempertentang-tentangkan namun memang legenda itu yang bertentangan karena disebutkan: > Setelah itu Cati Bilang Pandai berkata, "hai Datuk-datuk sekaliannya dan > Datuk orang > yang berdua ini, meminta hamba sungguh-sungguh jangan diberikan juga pusaka > itu > kepada anak, melainkan baiklah kita berikan kepada kemenakan kita saja > semuanya. > Ampun beribu kali ampun, karena kita sudah mencoba menghela perahu ini tetapi > sekalian mereka itu tidak mau menolong bapaknya sendiri". > Sedangkan Allah telah menerangkan mengenai pembagian warisan kepada anak-anak dalam ayat-ayat sebelum ayat yang saya nukilkan, di antaranya: "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan; ...." (QS. an-Nisaa' 4:11) di akhir ayat itu juga ditegaskan: "... (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. an-Nisaa' 4:11) Sehingga dapat kita katakan mengenai legenda itu bahwa tidak dapat kita ketahui siapa di antara anak atau kemenakan yang lebih banyak manfaatnya bagi kita. Oleh karena itu, harus kita ikuti ketetapan Allah dalam masalah ini. Allahu Ta'ala a'lam. -- Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim (l. 1400 H/1980 M) --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
