Saya mencoba menjawab postingan beni per paragraf.
  BI: Benni Inayatullah
  MS: Mantari Sutan
  
benni inayatullah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
    BI:
  Erwin, sedikit dari cerita yang saya peroleh dari ayah saya yang masih 
mengalami pendidikan surau dapat saya ceritakan begini. ketika dalam kehidupan 
bermasyarakat Minang ketika itu terutama setelah ABS –SBK menjadi landasan 
berpikir dan bertindak atau the way of life masyarakat minangkabau maka peran 
surau ini sangat sentral menggantikan gelanggang yang dulunya tempat menyabung 
ayam dan berjudi. Ketika seorang anak laki2 beranjak dewasa maka aib bagi 
mereka untuk tinggal serumah dengan Ibu mereka. Mungkin hal ini juga didorong 
oleh kenyataan bahwa dirumah gadang tidak tersedia kamar bagi anak laki2 dewasa 
sehingga rasa malu apabila bercampur dengan saudara perempuan atau ipar laki 
laki.
   
  MS:
  Ben, semua itu hanyalah masa lalu.  Kalaupun hendak mengacu pada ABS SBK, 
sistem pendidikan surau (dimana anak laki-laki tanggung sudah di lepas begitu 
saja) rasanya tidak begitu sejalan dengan Al Quran dan Hadits.
   
  BI:
  Sesungguhnyo pola menjauhkan anak dari ibunya ini dulunya adalah salah satu 
ide plato. Dalam kartanya yang terkenal Republic ia menyebut bahwa pendidikan 
terbaik yang ideal adalah jika anak dan Ibu dipisah sejak awal karena akan 
menumbuhkan pikiran2 anak berdasarkan bakatnya sendiri.  Ini bisa dikatakan 
masyarakat idealis-utopis. Hal yang ditiru oleh Lenin di rusia dan mao dichina 
dimana sejak bangun tidur anak2 diharuskan baca buku merah, kitab suci Mao. 
APakah pola kemasyarakatan  ini pengaruh ide plato atau Mao ? saya tak bisa 
memastikan.
   
  MS:
  Yang dikerjakan Lenin dan Mao adalah sesuatu yang kontradiktif dengan ide 
Plato.  Plato menekankan pada kebebasan berfikir dan Mao/Lenin adalah sebuah 
indoktrinasi sistemik.
  Sebenarnya ini hanyalah soal pendidikan belaka.  Bukanlah format pemisahan 
orang dari keluarganya.
   
  BI:
  Sehingga anak laki yang beranjak dewasa ketika sore hari sudah berkumpul 
disurau, biasanya di awali dengan permainan ketangkasan dsb. Setelah maghrib 
mereka mengaji atau membaca Al Quran kemudian setelah sholat Isya anak2 
perempuan dan laki2 yang belum dewasa pulang kerumah sedangkan yang dewasa 
tinggal disurau untuk memperdalam “kaji” apakah itu kitab kuning bertulisan 
arab gundul hingga ke adat, budaya, sejarah dan lainnya. Selain pengetahuan 
tersebut mereka juga diajarkan silat beserta philosofi yang terkandung 
didalamnya.
   
  MS:
  Memang dulu begitu di kampung kita
   
  BI:
  Singkat kata anak laki2 yang jenius muncul dengan bakatnya masing2 apakah itu 
agama, sosial, sejarah bahkan politik. Syukurnya lagi penjajah belanda ketika 
itu sering mensekolahkan pemuda yang mereka anggap pintar kenegeri Belanda 
antara lain Tan malaka sehingga akhirnya mereka muncul menjadi tokoh nasional 
satu persatu, Agus Salim, Hamka, Natsir, STA, Hatta.
   
  MS:
  Pelajarilah sejarah kehidupan mereka.  Belajar di surau seperti paragraf anda 
sebelumnya adalah sebuah kurun waktu yang sangat singkat dalam kehidupan 
mereka.  Mereka relatif lebih singkat berkehidupan budaya surau dibanding orang 
minangkabau lainnya.  Lha mereka baru lulus pendidikan dasar langsung 
disekolahkan ke tempat lain di luar kampungnya.  Dan ingat.  Sekolah itu 
bukanlah surau.
   
   
   
  BI:
   Jadi disini peran adat dan budaya jelas, dimana anak laki2 “malu” tinggal 
dirumah sehingga memilih surau sebagai tempat tinggal dan belajar adalah aspek 
sentral dalam menghasilkan dan menyeleksi pemuda yang jenius dan berpendidikan. 
Bandingkan dengan di Jawa dimana yang mendapat pendidikan hanyalah keturunan 
priyayi saja sementara di Minangkabau semua lapisan masyarakat mulai miskin 
hingga kaya mendapat kesempatan sama disurau.
   
  MS:
  Di surau Iya!  Tapi yang belajar di surau hanya menjadi rakyat biasa saja di 
ranah minang.  Bukan penghasil Bung Hatta, Syahrir, Tan Malak dan seterusnya.
   
   
  BI:
  Lanjut ke kondisi sosial politik ketika itu, jaman perjuangan kemerdekaan 
yang berawal dari berdirinya Budi Utomo membutuhkan pemuda yang cerdas dan 
berpendidikan. Suatu kondisi ideal bagi pemuda Minangkabau yang pola pikir dan 
pengetahuannya ketika itu “lebih” dibandingkan pemuda  daerah lainnya. Pemuda 
Minang yang ikut dalam organisasi dan pergerakan akhirnya muncul sebagai 
pemimpin dan tokoh baik dalan pergerakan, perjuangan kemerdekaan hingga awal 
membangun sebuah negara yang bernama Indonesia.
   
  MS: Setuju.  Dan sekali lagi bukanlah hasil pendidikan surau.
   
   
  BI:
  Jadi kesimpulannya kurikulum surau itu yang juga dilengkapi oleh pendidikan 
formal di luar negeri menghasilkan pemuda yang berpengetahuan lebih dibanding 
orang kebanyakan . paling tidak bisa membuka diri bagi dunia luar sehingga 
muncullah pemuda yang paham tentang agama (hamka, Natsir), ideologi2 besar 
sosial dan politik serta ekonomi (Tan Malaka, STA, Syahrir, Hamka) . keunggulan 
pemuda minang itu disempurnakan oleh jaman pergerakan yang membutuhkan orang2 
seperti mereka yang menguasai agama , ide2 besar dan politik (the right man on 
the right place).
   
  MS: PendidikTerlhiat kan? Surau tak sehebat itu.  Bukan penjawab semua tanya.
   
  BI:
  Lalu bagaimana semua keunggulan itu kemudian hilang ? tidak ada lagi atau 
jarang sekali muncul pemuda Minang yang muncul menjadi tokoh nasional. Antara 
lain karena memang faktor surau yang sudah tiada. Namun tidak sepenuhnya juga 
faktor itu, seandainya surau masih ada, masyarakat Minang belum tentu akan 
semenonjol era pergerakan dulu karena masyarakat Indonesia lainnya juga sudah 
mendapatkan pendidikan yang merata bahkan mungkin secara kesempatan dan 
kualitas mengalahkan pendidikan surau.
   
  MS:
  Bukan hilangnya surau penyebabnya Ben.  Yang lain berlari dan kita masih 
berjalan.  Hanya masalah itu saja
   
   



 
---------------------------------
Bored stiff? Loosen up...
Download and play hundreds of games for free on Yahoo! Games.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Kami mengundang sanak untuk hadir dalam acara: "Wartawan mengajak Berdoa 
Bersama untuk Keselamatan Negeri" pada tanggal 8 April 2007 jam 08:00 di Masjid 
Istiglal. Acara ini terpicu oleh musibah terbakarnya Ustano Pagaruyuang dan 
Gempa di Sumbar.

Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke