Kalau mau ideal, tentu memang harus dari A sampai Z nya. Cuma, sebagaimana
tercantum di subject posting, program ini adalah untuk obat saja. Mungkin
(mudah2an) suatu saat nanti Pemerintah (dan seluruh pihak terkait) juga akan
meluncurkan program untuk menekan unsur2 biaya pengobatan lain, seperti
diagnosis, penatalaksanaan dll spt yang anda sebutkan.
Dengan program ini tidak berarti bahwa seluruh jenis pengobatan harus
menggunakan obat seharga 1,000. Pemahaman saya, program ini meminta - jika
terdapat berbagai pilihan merk dagang (yang kandungannya sama), please use obat
yang seribuan.
Tentang apakah obat yang seribuan itu manjur atau tidak, saya tidak punya
kompetensi untuk menjawabnya, karena saya bukan dokter.
Yang mungkin bisa saya share adalah tentang "kesepakatan harga yang harus
dibayar konsumen akhir", dimana price theory ini berlaku umum, tidak hanya
untuk obat. Dari sisi konsumen, harga kesepakatan ditentukan dari apakah dia
mau dan mampu membayar, jadi relatif sederhana.
Dari sisi penyedia (produsen, penjual dll), perhitungannya tentu lebih
panjang. Harga kesepakatan adalah sebesar biaya yang dia keluarkan ditambah
keuntungan yang diinginkan (atau dikurangi dengan besar kerugian yang dia
bersedia menanggungnya).
Pada posting sebelumnya saya mencoba menggambarkan garis besar komponen
"harga kesepakatan" yang diminta konsumen obat.
Kalau misalnya untuk suatu produk obat, berbagai unsur biaya dapat
dihilangkan atau ditekan ke tingkat minimum; misalnya, biaya penelitian dan
pengembangan, biaya paten, kuantitas produksi lebih besar - selama masih dalam
kapasitas produksinya, tanpa biaya promosi karena konsumennya jelas, tanpa
biaya penyimpanan - karena ini ditangani pemerintah, tentunya harga kesepakatan
bisa lebih rendah. Apalagi kalau - tentunya atas pertimbangan bisnis - pabrikan
bersedia menerapkan subsidi silang; subsidi dari Pemerintah; bukan tidak
mungkin harga kesepakatan bisa menjadi hanya sekian persen dari harga yang
berlaku sekarang.
Saya tidak punya data lengkap, dan rasanya saya belum pernah baca adanya
suatu penelitian mengenai komposisi harga obat yang harus dibayar konsumen.
Tetapi dari bbrp kali ikut mengaudit, saya lihat proporsi biaya promosi (atau
dengan nama apapun), terhadap harga keseluruhan cukup signifikan. Dan tentunya,
secara awampun bisa dipahami bahwa biaya promosi ini tidak hanya meliputi iklan
di mass media, pemasangan bill-board disepanjang jalan, penyebaran "junk-mail",
dsb.
Jadi, secara ekonomi (sekali lagi, saya tidak punya kompetensi dibidang
kedokteran), program obat serba seribu ini bukan merupakan program yang "tidak
masuk akal".
Riri (45)
rahyussalim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);}
st1\:*{behavior:url(#default#ieooui) } Saya pikir
ketidakterjangkauan obat oleh orang miskin Indonesia yang disikapi dengan
memproduksi sendiri obat murah (yang belum tentu murah) tidak lah tepat.
Pendapat saya, idealnya adalah bagaimana setiap orang Indonesia meliputi juga
orang miskin mendapatkan pengobatan sesuai dengan perkembangan ilmu dan
teknologi kedokteran masa kini Indonesia (SITKIMI). Konsep ini bertolak dari
kenyataan bahwa persoalan penegakan diagnosis (meliputi pemeriksaan
laboratorium, imaging) dan persoalan penatalaksanaan baik operasi maupun tidak
operasi masih menjadi masalah yang membuat seorang masyarakat Indonesia tidak
tertangani dengan standar ilmu dan teknologi kedokteran Indonesia masa kini
(SITKIMI).
Saya ambilkan satu contoh kasus yang pernah saya tangani sendiri di salah
satu RSUD di Jawa Barat. Wanita umur 15 tahun dengan tumor di ujung paha kanan.
Seharusnya wanita ini mendapatkan pelayanan diagnostic (pelayanan yang sesuai
standar ilmu dan teknologi kedokteran Indonesia masa kini) seperti Laboratorium
rutin dan khusus, Imaging (plain X ray, CT scan, MRI dan Bone scan), Patologi
Anatomi; pelayanan terapi seperti kemoterapi atau radioterapi, operasi dan
rehabilitasi pasaca terapi. Kenyataannya si wanita ini tidak mendapat pelayanan
sesuai standar ilmu dan tekonologi kedokteran Indonesia masa kini. Relevan kah
Program obat serba rp 1000 pada kasus seperti ini????. Lantas program ini
relevan untuk penderita yang mana???
Masih banyak kasus lain yang saya tangani namun tidak sesuai dengan standar
yang saya maksud diatas dan tidak pula bisa diatasi dengan program yang
optimis baru diluncurkan depkes. Beberapa program terdahulu seperti JPS,
MASKIN, GAKIN setidaknya sudah cukup banyak membantu masyarakat menengah dan
bawah. Namun menurut hemat saya belum optimal.
(gagasan mengenai konsep ini akan saya tulis di lain waktu, beberapa test
case pada orang miskin sudah pernah saya coba dengan hasil yang cukup memuaskan
si pasien miskin)
Rahyussalim
---------------------------------
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Riri
- Mairizal Chaidir
Sent: Wednesday, May 09, 2007 10:01 AM
To: [email protected]
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Depkes Luncurkan Obat Serba Rp1.000
Saya bukan dokter, apoteker, ataupun pengusaha yang berkaitan dengan
obat2an.
Cuma, rasanya terlalu sumir kalau ada simpulan bahwa "obat murah tidak
manjur", sebaliknya "obat mahal pasti top"
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.467 / Virus Database: 269.6.6/794 - Release Date: 5/8/2007 2:23 PM
---------------------------------
The fish are biting.
Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Tapi harus mendaftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount dengan
email yang terdaftar di mailing list ini.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---