Mantari Sutan yang bauk

Janganlah  cepat memvonis sistim kepemilikan lahan menurut adat Minangkabau 
pangka bala kemiskinan, Perlu dibedakan antara Ulayat atau harta bersama turun 
temurun dan kepemilikan pribadi atau harta pencarian yang lebih dikenal pusako 
randah Sistim adanya harta bersama malah dipuji banyak urang dan  dinamakan 
oleh de Jodselin de Jong sebagai " social fund " atau sebagai ban serapa kaum 
Dengan sisitim iko urang Minang ,alah tidak boleh miskin Setidak tidaknya 
mereka punya ban serep Masak titik peluh leluhur dikatakan pangka bala 
kemiskinan Kalau itu pencarian sendiri atau orang tua berlaku hukm islam.  
Malaha itu yang mendorong lelaki Minang rajin berusaho indak hanyo maarokkan 
harto pusako
Chaidir N Latief


----- Original Message ----
From: Mantari Sutan <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, June 13, 2007 11:59:47 AM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Tanah Ulayat dan Hernando de Soto



Saya tidak pernah mempelajari ekonomi secara khusus.  Pengetahuan saya soal 
ekonomi sangatlah terbatas, mungkin mendekati nihil.

Saya pernah mendengar nama Hernando de Soto sekilas.  Terutama menyangkut 
pemikirannya soal kemiskinan di dunia ketiga.  Yang katanya disebabkan oleh 
pola kepemilikan lahan tidak jelas.  Lebih banyak secara informal. Ini 
menyebabkan, akses ke permodalan tidak pernah ada.  Kata de Soto pula, Jepang 
dan Amerika maju karena sistem kepemilikan lahan mereka jelas.

Pertama mendengar gagasan ini, saya langsung ingat pada sistem tanah ulayat 
pusako tinggi di kampung saya.  Dan menurut saya -yang muda mentah ini- 
sangatlah tidak jelas.  Namanya juga tanah komunal, idealnya memang untuk 
kepentingan komunitas.  Tapi prakteknya, subjektivitas penggarapan pasti akan 
selalu ada.  Mamak kepala kaum, mamak kepala waris, para tungganai atau apapun 
istilahnya tetap akan sulit 100% objektif dalam pendistribusian tanah garapan.  
 Apalagi jika dalam sebuah suku sudah terbagi dalam paruik-paruik, dimana 
distribusi orang dan lahannya juga akan sulit merata pula.

Mendengar de Soto dan melihat kondisi paruik, suku dan nagari saya.  Saya 
jadinya manggut-manggut.  Pantasan kita tidak pernah maju di bidang ekonomi.  
Di tanah jawa, juga begitu.  Kata kawan saya yang orang jawa, kepemilikan tanah 
juga masih kabur.  Katanya akibat culture stelseel zaman dulu.  Diaman setelah 
itu hanya meninggalkan istilah tanah negara, garapan, sultan grant, girik dan 
sebagainya.

Sekali lagi, saya ingin bertanya kepada anggota milis ini tentang pendapat Mr 
de Soto ini dan tanah ulayat kita.  Maklumlah, saya tak mengerti ekonomi.  Tak 
paham hukum agraria.  Yang saya pahami, hanyalah saya tak punya uang.  Dunsanak 
di kampung banyak yang kere pula.

Salam




Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel. 


       
____________________________________________________________________________________
Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows. 
Yahoo! Answers - Check it out.
http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396545469
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke