salam,
   
  berarti dengan logika yang sama bisa dikatakan... dengan sistem yang gak 
sustainable menciptakan pelanggaran... dengan adanya pelanggaran tercipta 
sistem yang gak sustainable...
   
  jabok

"Yudi \"KudaLiar\"" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  
untuk melihat kasus kemiskinan tidak bisa dilihat secara parsial...
tanah bukan faktor utama. harus dilihat juga faktor lain2 nya.
ketika tahap evolusi masy masih di tingkat pertanian, memang tanah menjadi 
faktor utama. tapi ketika masy beranjak ke tahap evolusi selanjutnya yaitu 
industri, maka tanah hanya menjadi bagian dari kapital. di tahap industri ini, 
faktor SDM menjadi utama. 
mungkin saja, masy minang mengalami ketidak siapan dalam menghadapi tahapan 
industri ini. mental masih menggunakan mental petani, tapi dunia ternyata sudah 
menapaki tahap industri.
lalu, mungkin juga faktor struktural. akses2 ekonomi dikuasai oleh sekelompok 
sehingga kelompok lain tidak mendapatkan kesempatan yang sama untuk mencapai 
tingkat ekonomi yang lebih baik. 
mantan presiden Brazil, Cardoso berpendapat....masyarakat miskin karena 
malas...atau masyarakat malas karena miskin....

saya setuju dengan pendapat pak Chaidir diatas. bahwa hukum ulayat dibuat oleh 
nenek moyang kita dahulu untuk meminimalisir kemiskinan di masy minang. 
individu yang gagal secara ekonomi akan dibangkitkan oleh kaum nya dengan tanah 
ulayat sebagai salah satu modal. kalo pun ada penyimpangan dari para pemegang 
kekuasaan thd tanah ulayat tersebut, sebenarnya telah diantisipasi oleh sistem 
lainnya. ingat, para ninik mamak atau datuk2 tidak bukan sebagai pemilik. 
mereka hanya sebagai organizer. sedangkan pemilik adalah para bundo kanduang. 
ada pembagian kekuasaan yang ditujukan untuk saling mengawasi dan saling 
mendukung.
pembagian kekuasaan ini diaplikasikan dalam sako dan pusako. pusako tak berarti 
apa2 tanpa ada sako (gala). atau sebaliknya, sako tidak berfungsi kalo tidak 
ada pusako (tanah ulayat). 




  On 6/14/07, Rasyid, Taufiq (taufiqr) <[EMAIL PROTECTED]> wrote:      Ambo 
sapakat jo pandapek pak Chaidir.
  Jan talalu capek mamburuakkan nan diawak.
  Soal petani  Indonesia yang masih miskin bukan karena kepemilikan tanah  yang 
sedikit atau karena kebanyakan di Jawa sana mereka hanya sebagai buruh tani 
saja.
  Hendaknya dipertimbangkan juga kondisi saat ini dimana hasil pertanian baik 
padi, sayur mayur, palawija sering susah untuk menutup biaya produksi 
(bibit,pupuk, insektisida) sehingga tenaga dan waktu mereka yang dihabiskan 
untuk bertani banyak terbuang percuma saja.
  Keberpihakan pemerintah pada petani seperti di Jepang, Amerika, Perancis dll 
belum tampak.  Proteksi dari pemerintah yang didapat petani Luar Negeri dari 
pemerintahnya belum ada disini. Apalagi  dengan alasan demi mengamankan 
Investasi pihak Luar , para petani sering dirugikan.

    
---------------------------------
  From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of 
chaidir latief
Sent: Wednesday, June 13, 2007 8:41 PM
To: [email protected]
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Tanah Ulayat dan Hernando de Soto


    
    Mantari Sutan yang bauk
   
  Janganlah  cepat memvonis sistim kepemilikan lahan menurut adat Minangkabau 
pangka bala kemiskinan, Perlu dibedakan antara Ulayat atau harta bersama turun 
temurun dan kepemilikan pribadi atau harta pencarian yang lebih dikenal pusako 
randah Sistim adanya harta bersama malah dipuji banyak urang dan  dinamakan 
oleh de Jodselin de Jong sebagai " social fund " atau sebagai ban serapa kaum 
Dengan sisitim iko urang Minang ,alah tidak boleh miskin Setidak tidaknya 
mereka punya ban serep Masak titik peluh leluhur dikatakan pangka bala 
kemiskinan Kalau itu pencarian sendiri atau orang tua berlaku hukm islam.  
Malaha itu yang mendorong lelaki Minang rajin berusaho indak hanyo maarokkan 
harto pusako
  Chaidir N Latief


  ----- Original Message ----
From: Mantari Sutan <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, June 13, 2007 11:59:47 AM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Tanah Ulayat dan Hernando de Soto

    
Saya tidak pernah mempelajari ekonomi secara khusus.  Pengetahuan saya soal 
ekonomi sangatlah terbatas, mungkin mendekati nihil.

Saya pernah mendengar nama Hernando de Soto sekilas.  Terutama menyangkut 
pemikirannya soal kemiskinan di dunia ketiga.  Yang katanya disebabkan oleh 
pola kepemilikan lahan tidak jelas.  Lebih banyak secara informal. Ini 
menyebabkan, akses ke permodalan tidak pernah ada.  Kata de Soto pula, Jepang 
dan Amerika maju karena sistem kepemilikan lahan mereka jelas.

Pertama mendengar gagasan ini, saya langsung ingat pada sistem tanah ulayat 
pusako tinggi di kampung saya.  Dan menurut saya -yang muda mentah ini- 
sangatlah tidak jelas.  Namanya juga tanah komunal, idealnya memang untuk 
kepentingan komunitas.  Tapi prakteknya, subjektivitas penggarapan pasti akan 
selalu ada.  Mamak kepala kaum, mamak kepala waris, para tungganai atau apapun 
istilahnya tetap akan sulit 100% objektif dalam pendistribusian tanah garapan.  
 Apalagi jika dalam sebuah suku sudah terbagi dalam paruik-paruik, dimana 
distribusi orang dan lahannya juga akan sulit merata pula.

Mendengar de Soto dan melihat kondisi paruik, suku dan nagari saya.  Saya 
jadinya manggut-manggut.  Pantasan kita tidak pernah maju di bidang ekonomi.  
Di tanah jawa, juga begitu.  Kata kawan saya yang orang jawa, kepemilikan tanah 
juga masih kabur.  Katanya akibat culture stelseel zaman dulu.  Diaman setelah 
itu hanya meninggalkan istilah tanah negara, garapan, sultan grant, girik dan 
sebagainya.

Sekali lagi, saya ingin bertanya kepada anggota milis ini tentang pendapat Mr 
de Soto ini dan tanah ulayat kita.  Maklumlah, saya tak mengerti ekonomi.  Tak 
paham hukum agraria.  Yang saya pahami, hanyalah saya tak punya uang.  Dunsanak 
di kampung banyak yang kere pula.

Salam



  
---------------------------------
  Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel. 
  



  
---------------------------------
  Got a little couch potato? 
Check out fun summer activities for kids.

  







-- 
Salam,

Yudi F
+62 819 3135 7781
http://yudifebri.multiply.com
YM ID : yudifebri




       
---------------------------------
Got a little couch potato? 
Check out fun summer activities for kids.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke