Bundo kanduang, limpapeh rumah nan gadang
  Umbun puro pegangan kunci
  Hiasan didalam kampuang
  Sumarak dalam nagari
  Nan gadang basa batuah
  Kok hiduik tampek banasa
  Kok lah mati tampek baniat
  Ka unduang-unduang ka Madinah
  Ka payuang panji ka sarugo
   
  Pepatah diatas hanya sebagai hiasan negeri, tempat membayarkan nazar, menjadi 
puro penyimpan harta benda,  tapi dia tidak mempunyai fungsi untuk dibawa 
bermufakat sama sekali.
   
  Juga didalam tungku 3 sajarangan yang maksudnya ialah pemerintahan, adat, dan 
agama jadi berdiri tegak untuk menumpu periuk atau kancah.  Jadi dimanakah 
letaknya perempuan bundo kanduang itu?
   
  Didalam buku "Masih Ada Harapan" karangan pak Saaf dikatakan bahwa studi dari 
Lusi Herlina mengatakan bahwa Fenomena ini menunjukkan bahwa perempuan 
Minangkabau sesungguhnya tidak memiliki kontrol terhadap sumber daya, tanah dan 
harta pusaka tingi lainnya. Dari penelitian dan analisis Lusi Herlina dkk., 
Bundo Kanduang tidak dapat lagi berfungsi sebagai perlindungan dan pemberdayaan 
bagi jutaan kaum perempuan dan anak-anak anggota suku di Minangkabau. Makin 
lama dalam sistem pengambilan keputusan semakin melemah dan lama kelamaan akan 
kehilangan kekuatan politiknya dan akan menjadi hiasan belaaaaka dalam sistem 
adat Minangkabau".
   
  Buku "Minangkabau Yang Gelisah" sudah mengrekomendasikan yang berkaitan 
dengan peranan bundo kanduang itu:
    
   Melestarikan peranan Bundo Kanduang dalam budaya matrilineal.  
   Fungsi laki-laki dan perempuan dalam adat Minang, secara filosofisnya, 
masing-masing memiliki fungsi masing-masing pula.  
   Dalam hal gender, Minangkabau mengakui persamaan gender sejak dulu dan 
masalah feminim lebih dulu muncul daripada dalam tataran global.  
   Dalam Konsep Islam dikatakan manusia adalah khalifah (pemimpin) dimuka bumi 
. Jadi baik perempuan dan/laki-laki adalah sama-sama pemimpin.  
   Gender memang diperjuangkan dalam tatanan global.
  Keadaan ditanah Arab yang menjalankan syariah Islam tidak lebih baik 
keadaannya. Contohnya:
    
   Perempuan di Makah dan Madinah hanya keluar pada hari Jumat saja dan kalau 
keluar mukanya ditutup dan yang kelihatan hanya matanya saja.  
   Ruang tunggu di Rumah Sakit tempatnya terpisah laki-laki sesama laki-laki 
dan perempuan sesama perempuan.  
   Jarang adanya perempuan yang berkarir, berdagang, dan bersekolah tinggi 
bahkan membawa mobil saja tidak ada orang perempuan.
  Kemerdekaan dan kesempatan yang selama ini diperdapat oleh perempuan apakah 
akan hilang kalau kita menjalankan ABSSBK?  Seperti pak Saaf mengatakan dalam 
pembagian warisan beliau tak mau membedakan anak-anaknya begitu juga perempuan 
yang berjalan malam hari tanpa muhrim apakah juga akan ditangkap seperti yang 
terjadi di Tangerang?
   
  Apakah kita akan kembali lagi keawal abad ke 20 yang diterima di Sekolah Raja 
hanya laki-laki saja?
   
  Apakah sudah ada bupati atau walikota perempuan di Minangkabau?
   
  Sekianlah dulu pendapat saya yang telah bertahun-tahun merasakan kemerdekaan 
akan membiarkan anak cucu dan kemenakan perempuan saya akan menjadi hiasan 
belaka.
  Wassalam bil maaf
  Hayatun Nismah Rumzy (68+)

       
---------------------------------
Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel. 
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke