”Kami bukan Pembangkang”

 Padang Ekspres • Kamis, 23/05/2013 11:21 WIB • Redaksi • 42 klik

[image: Petugas pemadam kebakaran berupaya memadamkan api di los G dan I
Pasar Padangpan]

*Kebakaran *menghanguskan 121 petak kios di Pasar Padangpanjang,
benar-benar membuat pedagang terpukul. Seharian ke­marin, para pedagang
gurem ini mengais barang-barang yang masih bisa diselamatkan di lokasi
kebakaran.



Irdawati, 57, masih berbaju daster tidur­nya, terlihat bersama beberapa
kerabatnya, mencari barang berharga di bekas kiosnya yang hangus terbakar.
Cabai bulat dan bawang bertebaran di lantai beton kiosnya. Sebuah karung
tampak tertimbun kayu dan atap seng yang sudah menjadi arang.



Dari beberapa sobekan karung itu, keluar cairan cabai giling halus. Warga
Kam­pung­manggis itu berupaya menyisihkan cabai giling yang masih baik ke
baskom besar. “Hanya ini yang tersisa. Dalam keadaan seperti ini, barang
terkecil pun sangat berarti. Satu karung cabai giling ini harganya Rp 1,4
juta. Untung masih ada setengah karung yang utuh,” ungkap wanita paruh baya
yang akrab disapa Eti Lado itu.



Eti Lado dan ratusan pedagang lainnya, belum berani membayangkan nasibnya
setelah kejadian itu. Mereka hanya berharap Pemko tidak otoriter dalam
membenahi pasar ini nantinya.



Eti mengatakan dirinya dan pedagang lain bukanlah pem­bangkang. Mereka tak
pernah menolak keinginan Pemko mem­bangun pasar. Para peda­gang los H dan I
tetap bertahan di kios karena pemerintah tidak memberikan solusi sesuai
kebu­tuhan pedagang.



“Di kios berukuran 4x4 me­ter ini, tentulah bisa dika­takan terlalu sempit.
Apalagi pedagang barang *mudo*seperti ini, harus digelar agar tetap segar
dan menarik pembeli. Bagaimana kami dapat ber­jualan di penam­pungan sangat
kecil seperti itu,” sebut Eti sembari menunjuk ke arah penampungan yang
sudah disiapkan Pemko.



Bukannya memberikan so­lu­si, Eti malah merasakan Pem­ko berupaya mengadu
dom­ba pedagang terkait rencana pem­bangunan pasar. “Kepada kami dikatakan
pedagang yang lain telah setuju pasar ini dibangun. Padahal, belum,” timpal
peda­gang cabai lainnya.



Eti memperkirakan keru­gian yang dialaminya Rp 40 juta.  “Yang mirisnya,
buku penca­tatan piutang sejumlah peda­gang mengambil barang ke saya
terbakar,” ujar Eti dengan suara bergetar. *(wrd)*

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke