Tarimo kasih Sanak Sutan Sinaro. Ambo faham, kan alah acok Sanak sampaikan. Wassalam, SB. Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
-----Original Message----- From: Sutan Sinaro <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Mon, 22 Jul 2013 08:18:24 To: [email protected]<[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: 3 Re: Bls: [R@ntau-Net] Negara Islam seperti apa (Tayang Ulang) dari Re : Pak Saaf dan Pak MN Assalaamu'alaikum. w.w. Pak Saaf, statement pak Saaf "Biarlah hal yang suci, sakral, tetap ditangani agama dan para rohaniwan." seolah-olah meninggikan Islam, tetapi sebenarnya sebaliknya, betul ndak ?. Hal-hal suci yang mana ?, sembahyang, puasa, zakat, naik haji ?, itu saja ?. Lalu diserahkan kepada kementrian agama untuk mengurusnya ?. Urusan negara dan pemerintahan sesuai dengan yang diridhai Allah swt. bukan hal yang suci ?. Lalu yang lebih parah lagi, apakah urusan negara tidak dapat ditangani oleh Islam ?. Apakah kita meninggikan dan mensucikan Islam namanya bila kita katakan Islam tidak dapat mengurus negara ?. Lalu diserahkan kepada pihak-pihak yang berpikiran sekuler untuk mengurusnya ?. Sungguh sebenarnya Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih daripadanya. Islam mengatur dari urusan masuk wc sampai urusan kepala negara. Islam is solution to your problem (Ahmad deedat). Aii Sutan ... kareh bana... .. Oops mintak maaf pak Saaf, Takah iko pak Saaf, Agamo Islam nan awak picayoi ko, nan awak yakin ka mambaok awak ka sarugo ko, sagalo nan diajakannyo tu ka dipakai bilo ?, ka dipakai di akhirat atau ka dipakai kini di dunia ko ?. Di akhirat nyo ndak paguno lai do pak Saaf. Di sinan tingga pengadilan sajo lai. Kini dipakai dek awak pak Saaf untuak manjadi pedoman supayo salamaik sampai di sarugo, bukan untuak nantik. Kalau kito mangatokan Islam ko suci, tinggi, dan mulia, sesuatu nan disangajo diturunkan Allah swt. untuak kito, aratinyo kito harus melaksanakan Islam tu kasadonyo pak Saaf. Kalau indak, aratinyo kito ndak maanggap nyo suci tu doh, indak maanggapnyo tinggi tu doh, dan indak picayo awak sabananyo ka agamo awak sendiri tu doh. Baa dek bitu ?, dek karano awak indak picayo jo apo nan diaturnyo. Baa dek bitu sakali lai ?. Dek karano dalam Islam tu ado urusan nan bersangkutan jo negara. Kalau indak jo Negara indak bisa disalasaikan doh. (QS:2:178). Itu sababnyo ado kitab urusan negara dalam pelajaran Islam, sahinggo dalam Islam ado urusan Ibadah, Muamalah, Munakahah, Jinayah dan.... Khilafah. (Di buku kuniang Fiqih Islam, karangan Sulaiman, nan acok nampak dek awak talatak-latak di rumah, atau di jua di toko-toko buku, bahkan di kaki limo sajo, ado tatulih urusan ko). Kitab khilafah ko urusan negara ko pak Saaf. Kok awak mangatokan awak mensucikan Islam, awak meninggikan Islam, kok bisa-bisanyo awak pisahkan urusan agamo jo negara takah urang Kristen pulo, dan indak mengakui ado khilafah atau urusan Negara dalam Islam ?. Sakali lai mintak maaf pak Saaf, inok-inok ranuangilah, seolah-olah awak meninggikan Islam, tapi sabananyo awak marandahkannyo. Na'uudzubilaah. Bilaahil hidayah wat taufiq Wassalam St. Sinaro ________________________________ From: Dr. Saafroedin Bahar <[email protected]> To: "[email protected]" <[email protected]> Cc: "[email protected]" <[email protected]> Sent: Monday, 22 July 2013 8:43 AM Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] Negara Islam seperti apa (Tayang Ulang) dari Re : Pak Saaf dan Pak MN Ajo Sur, pengamatan Ajo ini penting, yaitu kecenderungan umat Islam menyamakan AGAMA Islam yang sakral (= suci) dengan NEGARA/ Masyarakat/ partai/ ormas Islam" yang profan (= duniawi). Padahal Negara/Masyarakat /Partai / ormas " Islam" itu hanya mungkin suci jika dipimpin langsung oleh Rasulullah saw. Kelihatannya Negara Islam berdasar Piagam Madinah sendiri pun tidaklah bersifat sakral, bukan suatu theokrasi, karena dipimpin berdasar kesepakatan dengan suku-suku Yahudi di sana. Kita semua tahu apa yang terjadi disana setelah Rasulullah wafat. Dalam dunia modern, seluruh Negara - termasuk yang menyebut diri dengan " Negara Islam" - adalah Negara profan, katakanlah secara lugas sebagai ' Negara sekuler' , yang diatur berdasar hukum internasional, antara lain dalam Konvensi Montevideo tahun 1933. Bidang yang diaturnya adalah masalah duniawi, sekuler, yaitu Wilayah, Rakyat, dan Pemerintah. Tidak mungkin "mengatur" Allah swt dan ajaran para Rasul. Tidak dirancang dan tak ada kompetensi Negara untuk itu. Terlalu berat. Biarlah hal yang suci, sakral, tetap ditangani agama dan para rohaniwan. Bila dicampur, bisa rusak dua-duanya, seperti kita alami selama ini. Hanya harus diakui, konsep " Negara Islam" ini sudah menjadi ideologi, yang di Indonesia hampir selalu merujuk pada Piagam Jakarta 22 Juni 1945, walau Piagam Jakarta itu sendiri sudah dikoreksi oleh Bung Hatta dkk dan PPKI tanggal 18 Agustus 1945. Seperti bisa kita amati selama ini, setelah jadi ideologi tidak ada penjelasan apapun yang bisa diterima penganutnya untuk meluruskannya sesuai dengan perkembangan. Itulah sebabnya mengapa saya sekarang mempersilakan saja untuk memperjuangkannya. Hanya jika kita amati hasil survai LIPI terakhir, serta rangkaian hasil Pemilu selama ini, para pemilih Indonesia lebih mempercayai partai-partai nasionalis daripada partai agama, apalagi setelah kasus daging sapi baru-baru ini. Jadi biarkan sajalah. Dilarang tidak akan terlarang oleh kita. Lagi pula, siapalah kita-kita ini, hanya " sicerek di tapi banda' saja. Wassalam, SB. Sent from my iPad On 21 Jul 2013, at 15:15, Lies Suryadi <[email protected]> wrote: > > > > > > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
