Mak St. Sinaro manulih:

--------
Sakali lai mintak maaf pak Saaf, inok-inok ranuangilah, seolah-olah awak
meninggikan Islam, tapi sabananyo awak marandahkannyo."
---------

ANB:

Mohon maaf ambo ikuik sato sakaki dalam obrolan "bilateral" Mak Sinaro dan
Pak Saaf ko.

Istilah "seolah-olah awak meninggikan Islam, tapi sabanonyo marandahkannyo"
yang Mak Sinaro gunakan, dalam ilmu balaghah disebut 'ta'kidu adz zammi
bima yushbihu al madha' yang secara harfiah bermakna "mencela dalam
(bungkus) sebuah pujian".

Ada dua hal mendasar dengan frasa itu:

1. Ini adalah statement yang serius, berat, dan biasanya ditujukan kepada
seseorang/satu kaum setelah diadakan sebuah penyelidikan yang saksama,
berhati-hati, dan dengan bukti-bukti yang sangat kuat.

Misalnya kisah tentang Abu Syahamah, putra Sayyidina Umar bin Khattab r.a.,
yang banyak beredar di masyarakat, bahwa AS satu ketika ikut minum arak
(mabuk-mabukan) di satu tempat, lalu pulangnya melihat seorang budak
perempuan bani Najjar. Akibat mabuk, AS memperkosa budak perempuan itu
sampai hamil, melahirkan, dan melaporkan kejadiannya pada Amirul Mukminin,
sang khalifah kedua. Masih dalam riwayat itu, Sayyidina Umar lalu
menjatuhkan hukuman hudud terhadap putranya sebagai bentuk penerapan hukum
Islam. Meski Abu Syahamah, setiap setelah menerima 10 cambukan
hudud meminta maaf kepada sang ayah, tapi Amirul Mukminin bergeming dengan
terus me merintahkan eksekutor menjalankan tugasnya, hingga sampai cambukan
ke-100 Abu Syahamah pun mengembuskan napas terakhir. Mati.

Sekilas kisah ini menunjukkan betapa tegasnya Sayyidina Umar dalam
menegakkan Islam, sehingga anak sendiri pun dihukum tanpa ada pengecualian.
Namun penyelidikan para fuqaha terhadap kisah ini menunjukkan banyak hal
janggal. Mulai dari bagaimana mungkin seorang anak khalifah bisa
mabuk-mabukan apatah lagi sampai memperkosa budak perempuan, sampai
kejanggalan semantik dalam kisah itu yang ditemukan oleh para ahli bahasa.
Dalam kisah itu, budak perempuan yang dimaksud sebagai obyek kekerasan
seksual Abu Syahamah (Abdul Rahman bin Umar bin Khattab) disebut sebagai
"ghulam".

Dari penyelidikan inilah terbukti bahwa kisah itu sesungguhnya fitnah yang
dibuat kelompok Syiah Rafidhah, karena "ghulam" dalam bahasa Arab berarti
"budak lelaki yang belum baligh" (jadi tidak semua budak disebut ghulam)m
apalagi berarti "budak perempuan" seperti dalam bahasa ... Persia.

Jadi, terbongkarlah motif sebetulnya kisah itu yang sesungguhnya bermotif
'ta'kidu ada zammi bima yushbihu al madha'. Seolah-olah ingin memuji
ketegasan Umar, tapi sesungguhnya justru untuk mencela Umar dengan
menunjukkan sang khalifah 'tak bisa mendidik anaknya'. Motif ta'kidu ini
bagian dari strategi tabarra (memutuskan/menjauhkan) yang digunakan Syiah
untuk menghujat para sahabat Nabi, utamanya Abu Bakar r.a. dan Umar bin
Khattab r.a.

Jadi Mak Sinaro, para ulama terdahulu memiliki kearifan sekaligus
kehati-hatian dalam memberi sebutan (labeling) terhadap pihak lain.
Kalaupun itu harus dilakukan, maka sebutan diberikan setelah dilakukan
penyelidikan yang cermat.

Adakah hal serupa sudah Mak Sinaro lakukan terhadap Pak Saaf sehingga Mak
Sinaro bisa dengan mudahnya memberikan nisbat "seolah-olah awak meninggikan
Islam, tapi sabananyo awak merendahkannyo" yang tentunya ditujukan kepada
Pak Saaf.

Dengan kata lain, apa benar Pak Saaf sudah "merendahkan Islam" seperti
halnya strategi sistematis Syiah Rafidhah yang mengemas cerita Abu Syahamah
mabuk dan memperkosa?

2. Kalau  Pak Saaf menyuarakan pendapat beliau bahwa sebaiknya ada
pemisahan antara agama Islam yang sakral, dengan negara dalam bentuknya
sebagai produk profan, sebetulnya banyak juga pemikir Islam lain yang sudah
menyatakan hal itu dalam bentuk berbeda. Misalnya Endang Saifuddin Anshari
(ESA), salah seorang motor keislaman di ITB dan Masjid Salman, yang membuat
definisi singkat, sekaligus perbedaan, antara Islam, Filsafat Islam, dan
Filsafat Orang Islam.

Dalam definisi ESA:
- Islam itu mutlak mutlak (absolutely absolute)
- Filsafat Islam itu relatif mutlak (relatively absolute)
- Filsafat orang Islam itu mutlak relatif (absolutely relatif).

Dengan menggunakan definisi ini, kita bisa mengganti kata 'filsafat' dengan
'politik' sehingga formulasinya menjadi:
- Islam itu mutlak mutlak (absolutely absolute)
- Politik Islam itu relatif mutlak (relatively absolute)
- Negara Islam (sebagai hasil Politik Islam) itu mutlak relatif (absolutely
relative).

Nah, sependek pembacaan ambo terhadap pendapat Pak Saaf untuk tema ini,
beliau tetap menganggap bahwa Islam itu mutlak mutlak (sakral, dalam
istilah beliau), atau ya'lu wala yu'la 'alaihi dalam istilah Mak Sinaro.
 Jadi sampai di sini Pak Saaf dan Mak Sinaro tidak bersimpang jalan.

Tapi pada implementasi level ketiga, barulah terjadi perbedaan pandangan
antara Pak Saaf dan Mak Sinaro.

Sebab, bukankah sejarah Islam sendiri, seperti ditulis dengan jernih oleh
Imam As Suyuthi dalam "Tarikh Al Khulafa" yang merupakan salah satu kitab
paling objektif dalam sejarah Islam, tak melulu mencatat tinta emas
terhadap para penguasa Islam (pasca-wafatnya Rasulullah).

Ambo ingat, tahun lalu dalam seri posting Ramadhan Mak Sutan Sinaro
sendiri, mamak menyinggung nama Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi, Gubernur
Makkah pada masa pemerintahan Bani Umayyah. Seorang 'alim yang bisa membaca
Al Qur'an secara terbalik, ikut berjasa merumuskan sistem harakat dalam
versi mushaf yang digunakan muslim sekarang, tapi sekaligus dia juga
seorang yang bengis dan  kejam luar biasa.

Memang dalam posting Mak Sinaro itu profil HbYaT tidak diungkap banyak.
Namun untuk memberi ilustrasi profilnya, mari kita lihat lebih jauh lagi
berdasarkan deskripsi dan narasi dari para penulis sejarah muslim sendiri.

Para penyelidik riwayat memperkirakan HbYaT sedikitnya bertanggung jawab
atas kematian 120.000 ulama dan orang saleh, termasuk para sahabat utama
Rasulullah seperti Abdullah ibn Zubair ibn Awwam, putra Asma bin Abu Bakar
Shiddiq r.a., yang semasa kecilnya sering digendong Rasul dan kepalanya
diciumi. Di tangan Hajjaj Ats-Tsaqafi, kepala Abdullah ditebas dan
dipertontonkan kepada pada penduduk Makkah, Madinah, sampai Damaskus.
Sampai-sampai 'Umar bin 'Abdul Aziz sendiri mengatakan, "Andai umat-umat
datang dengan segala kejahatan mereka, dan kita datang dengan kejahatan
Hajjaj seorang, demi Allah tak akan ada yang bisa mengalahkan kita."

Itu satu contoh saja Mak Sinaro. Belum lagi dengan kejadian-kejadian lain,
termasuk pada masa Khulafa Rasyidin, seperti ditulis pada "Tarikh Al
Khurafa" oleh Imam Suyuthi. (Karena itu pada posting awal ambo beberapa
hari lalu, ambo sempat mengomentari bahwa ada baiknya kalau kita
mendiskusikan tema berat seperti ini, sebaiknya mengacu pada kitab-kitab
yang mencatat periode-periode itu dengan cukup obyektif seperti karya Imam
Suyuthi, sehingga tidak hanya berdasarkan dugaan-dugaan, betapa pun
bagusnya dugaan itu).

Dengan semua contoh di atas, nan ingin ambo sampaikan adalah: alangkah
eloknya kalau terhadap lawan debat yang kebetulan berbeda pendapat (dalam
hal ini Pak Saaf terhadap Mak Sinaro), janganlah serta merta diikuti dengan
memberikan penyebutan "seolah-olah meninggikan Islam, padahal
merendahkannya."

Sebab yang dikritisi oleh Pak Saaf, dan muslim lain yang mungkin terlihat
tidak langsung mengunyah ide "negara Islam", bukanlah pada kemuliaan Islam
melainkan lebih pada evaluasi terhadap implementasi (pembumian) nilai-nilai
Islam dalam format "negara Islam" itu sendiri yang sudah tercatat dalam
sejarah Islam itu sendiri.

Terakhir, mungkinkah kita bisa berdiskusi dengan menggali lebih dalam
setiap tema, dengan niat saling melengkapi sebagai sesama muslim, namun
pada saat yang sama juga menahan diri sekuat tenaga untuk tidak mudah
memberikan labeling kepada kawan debat, hanya karena kebetulan dia berbeda
pendapat?

Wassalam,

ANB
45, Cibubur






Pada Senin, 22 Juli 2013, Sutan Sinaro menulis:

> Assalaamu'alaikum. w.w.
>
> Pak Saaf, statement pak Saaf
>
> "Biarlah hal yang suci, sakral, tetap ditangani agama dan para rohaniwan."
>
> seolah-olah meninggikan Islam, tetapi sebenarnya sebaliknya, betul ndak ?.
> Hal-hal suci yang mana ?, sembahyang, puasa, zakat, naik haji ?,  itu saja
> ?.
> Lalu diserahkan kepada kementrian agama untuk mengurusnya ?.
>
> Urusan negara dan pemerintahan sesuai dengan yang diridhai Allah swt.
> bukan hal yang suci ?.
>
> Lalu yang lebih parah lagi, apakah urusan negara tidak dapat ditangani
> oleh Islam ?.
> Apakah kita meninggikan dan mensucikan Islam namanya bila kita katakan
> Islam
> tidak dapat mengurus negara ?. Lalu diserahkan kepada pihak-pihak yang
> berpikiran
> sekuler untuk mengurusnya ?.
>
> Sungguh sebenarnya Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih daripadanya.
> Islam mengatur dari urusan masuk wc sampai urusan kepala negara.
> Islam is solution to your problem (Ahmad deedat).
>
> Aii Sutan ... kareh bana... ..
>
> Oops mintak maaf pak Saaf,
> Takah iko pak Saaf,
>
> Agamo Islam nan awak picayoi ko, nan awak yakin ka mambaok awak ka sarugo
> ko,
> sagalo nan diajakannyo tu ka dipakai bilo ?, ka dipakai di akhirat atau
> ka dipakai kini
> di dunia ko ?.
> Di akhirat nyo ndak paguno lai do pak Saaf. Di sinan tingga pengadilan
> sajo lai.
>
> Kini dipakai dek awak pak Saaf untuak manjadi pedoman supayo salamaik
> sampai
> di sarugo, bukan untuak nantik.
> Kalau kito mangatokan Islam ko suci, tinggi, dan mulia, sesuatu nan
> disangajo
> diturunkan Allah swt. untuak kito, aratinyo kito harus melaksanakan Islam
> tu kasadonyo
> pak Saaf. Kalau indak, aratinyo kito ndak maanggap nyo suci tu doh, indak
> maanggapnyo
> tinggi tu doh, dan indak picayo awak sabananyo ka agamo awak sendiri tu
> doh.
> Baa dek bitu ?, dek karano awak indak picayo jo apo nan diaturnyo.
> Baa dek bitu sakali lai ?. Dek karano dalam Islam tu ado urusan nan
> bersangkutan jo
> negara. Kalau indak jo Negara indak bisa disalasaikan doh. (QS:2:178).
> Itu sababnyo ado kitab urusan negara dalam pelajaran Islam, sahinggo
> dalam Islam ado urusan Ibadah, Muamalah, Munakahah, Jinayah dan....
> Khilafah.
> (Di buku kuniang Fiqih Islam, karangan Sulaiman,  nan acok nampak dek awak
> talatak-latak di rumah, atau di jua di toko-toko buku, bahkan di kaki limo
> sajo,
> ado tatulih urusan ko).
>
> Kitab khilafah ko urusan negara ko pak Saaf.
> Kok awak mangatokan awak mensucikan Islam, awak meninggikan Islam,
> kok bisa-bisanyo awak pisahkan urusan agamo jo negara takah urang Kristen
> pulo,
> dan indak mengakui ado khilafah atau urusan Negara dalam Islam ?.
>
> Sakali lai mintak maaf pak Saaf, inok-inok ranuangilah, seolah-olah awak
> meninggikan Islam, tapi sabananyo awak marandahkannyo.
> Na'uudzubilaah.
>
> Bilaahil hidayah wat taufiq
>
> Wassalam
>
> St. Sinaro
>    *From:* Dr. Saafroedin Bahar 
> <[email protected]<javascript:_e({}, 'cvml', 
> '[email protected]');>
> >
> *To:* "[email protected] <javascript:_e({}, 'cvml',
> '[email protected]');>" 
> <[email protected]<javascript:_e({}, 'cvml', 
> '[email protected]');>>
>
> *Cc:* "[email protected] <javascript:_e({}, 'cvml',
> '[email protected]');>" 
> <[email protected]<javascript:_e({}, 'cvml', 
> '[email protected]');>>
>
> *Sent:* Monday, 22 July 2013 8:43 AM
> *Subject:* Re: Bls: [R@ntau-Net] Negara Islam seperti apa (Tayang Ulang)
> dari Re : Pak Saaf dan Pak MN
>  **
> Ajo Sur, pengamatan Ajo ini penting, yaitu kecenderungan umat Islam
> menyamakan
> AGAMA Islam yang sakral (= suci) dengan NEGARA/ Masyarakat/ partai/ ormas
> Islam"
> yang profan (= duniawi). Padahal Negara/Masyarakat /Partai / ormas "
> Islam" itu hanya
> mungkin suci jika dipimpin langsung oleh Rasulullah saw. Kelihatannya
> Negara Islam
> berdasar Piagam Madinah sendiri pun tidaklah bersifat sakral, bukan suatu
> theokrasi,
> karena dipimpin berdasar kesepakatan dengan suku-suku Yahudi di sana. Kita
> semua
> tahu apa yang terjadi disana setelah Rasulullah wafat.
> Dalam dunia modern, seluruh Negara - termasuk yang menyebut diri dengan
> " Negara Islam" - adalah Negara profan, katakanlah secara lugas sebagai '
> Negara sekuler' ,
>  yang diatur berdasar hukum internasional, antara lain dalam Konvensi
> Montevideo
> tahun 1933. Bidang yang diaturnya adalah masalah duniawi, sekuler,  yaitu
> Wilayah,
> Rakyat, dan Pemerintah. Tidak mungkin "mengatur" Allah swt dan ajaran para
> Rasul.
> Tidak dirancang dan tak ada kompetensi Negara untuk itu. Terlalu berat.
> Biarlah hal
> yang suci, sakral, tetap ditangani agama dan para rohaniwan. Bila
> dicampur, bisa rusak
> dua-duanya, seperti kita alami selama ini.
> Hanya harus diakui, konsep " Negara Islam" ini sudah menjadi ideologi,
> yang di
> Indonesia hampir selalu merujuk pada Piagam Jakarta 22 Juni 1945, walau
> Piagam
> Jakarta itu sendiri sudah dikoreksi oleh Bung Hatta dkk dan PPKI tanggal
> 18 Agustus
> 1945. Seperti bisa kita amati selama ini, setelah jadi ideologi tidak ada
> penjelasan
> apapun yang bisa diterima penganutnya untuk meluruskannya sesuai dengan
> perkembangan. Itulah sebabnya mengapa saya sekarang mempersilakan saja
> untuk
>  memperjuangkannya.
> Hanya jika kita amati hasil survai LIPI terakhir, serta rangkaian hasil
> Pemilu selama ini,
> para pemilih Indonesia lebih mempercayai partai-partai nasionalis daripada
> partai agama,
>  apalagi setelah kasus daging sapi baru-baru ini.
> Jadi biarkan sajalah. Dilarang tidak akan terlarang oleh kita. Lagi pula,
> siapalah kita-kita
> ini, hanya " sicerek di tapi banda' saja.
>
> Wassalam,
> SB.**
> Sent from my iPad
> **On 21 Jul 2013, at 15:15, Lies Suryadi 
> <[email protected]<javascript:_e({}, 'cvml', '[email protected]');>>
> wrote:****
>
>
>
>
>
>
>
>
>   --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
> Grup Google.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke rantaunet+berhenti 
> [email protected]<javascript:_e({}, 'cvml', 
> '[email protected]');>.
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>
>
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke