Nakan ANB, sayang film TKVW ini tidak digarap oleh penulis skenario yang menghayati betul kisah yang ditulis Buya Hamka ini.
Produser/sutradara film ini tidak melihat keberhasilan "Sang Pencerah". Seharusnya mereka bertanya kesana kemari, lebih dahulu. *-----------------------------------------------------------------------------------------------* *"Komunitas RN Harus Hidup Terus Melebihi Usia Kami Yang Tua-tua Ini" (Bunda Nizmah pada acara HUT RN 20 Tahun)* Wassalaamu'alaikum Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta), 17/8/1947, suku Mandahiliang, gala Bagindo Gasan Gadang Pariaman - Tebingtinggi Deli - Jakarta - Sterling, Virginia USA ------------------------------------------------------------ 2013/12/21 Akmal Nasery Basral <[email protected]> > Assalamu'alaikum Wr. Wb, > memenuhi permintaan Rky Renny dan Rina, juga Pak Saaf melalui Facebook > agar ambo manulih saketek tentang film "Tenggelamnya Kapal Van der Wijk" > yang baru 2 hari ini beredar di bioskop, > di bawah ini adalah kesan singkat ambo yang dikopi dari status FB ambo > pagi ko. > > Semoga berkenan. > > Wassalam, > > ANB > 45, Cibubur > > ___ > > TENGGELAMNYA KAPAL PROFETIK. Kita memang harus berterima kasih pada Sunil > Soraya, yang menghidupkan impian banyak orang untuk melihat ekranisasi > roman legendaris "Tenggelam Kapal Van Der Wijck" karya Buya Hamka. Dan > Sunil pun, konon, menyiapkan waktu lima tahun untuk memproduksi film > berdurasi 165 menit ini, cukup panjang untuk rata-rata film Indonesia yang > biasanya berkisar 100-an menit. > > Lalu kita mendengar dialek kental Makassar dari Zainuddin (ayah Minang, > ibu Makassar) di sepanjang film. Anak yang "di Makassar dianggap orang > Minang, di Minang dilihat sebagai anak Makassar" ini mencoba mencari jejak > leluhur ke Batipuh, Sumatra Barat, untuk menemukan dirinya jatuh hati 3/4 > mati pada Hayati, "bunga Batipuh" yang dijaga para mamak (paman dari garis > ibu) seketat para pengusaha menjaga investasi. > > Lalu kita melihat keindahan alam Minangkabau dan seketul tradisinya yang > kaya memenuhi kamera. Pepatah petitih bertebaran menyapa penonton, terutama > berkat peragaan mumpuni Musra Dahrizal -- seniman serbabisa Minang yang > populer dipanggil Mak Katik -- yang berperan sebagai datuk kaum adat dan > mamak Hayati. Begitu pun tradisi borjuasi segelintir elit Minang di kota > Padangpanjang lewat kegiatan pacuan kuda, kegiatan yang mempertemukan > Hayati dengan Aziz, lelaki "modern", yang hidupnya jauh lebih mapan dari > Zainuddin, dan yang terpenting, Minang tulen. > > Layaknya dalam rumus kisah tragedi, tokoh Aziz menjadi vital karena > melalui dialah konflik dibangun setelah sang datuk yang berwenang > memutuskan masa depan Hayati menerima lamaran Aziz dan mencampakkan > Zainuddin. Karam dalam patah hati yang tak tersembuhkan, patah hati yang > membuatnya majenun, Zainuddin pindah ke Batavia, lalu ke Surabaya, menekuni > profesi sebagai pujangga yang kelak membuatnya masyhur. Kemudian garis > nasib sekali lagi mempertemukan Zainuddin (kini bernama Shabir) dengan > Hayati dan suaminya Aziz, yang kini sudah jatuh miskin, di Surabaya. Shabir > mengizinkan dua "sahabatnya" itu untuk tinggal di rumahnya yang semewah > istana. Aziz yang awalnya ingin memanfaatkan kebaikan hati Shabir, akhirnya > malah memutuskan bunuh diri untuk memberikan kesempatan agar Hayati bisa > bersatu kembali dengan kekasih lamanya. Namun Shabir tak menggunakan > kesempatan itu untuk mendekati Hayati, malah menyuruhnya pulang kampung > dengan naik kapal Van der Wijck. > > Tim skenario (termasuk Sunil di dalamnya, selain Imam Tantowi dan Donny > Dhirgantoro) memilih setia pada plot kisah yang dikembangkan Buya Hamka. > Tak ada puntiran, sisipan, pengubahan, pengembangan, alur kisah dari yang > sudah dikenali publik yang, sedikitnya, pernah sekali membaca roman itu. > Jadi dari sisi ini, Sunil berhasil menjadikan film ini sebagai "palapeh > taragak" (pelepas rindu) terhadap Buya Hamka. Ditambah dengan promosi masif > sebelum pemutaran, antusiasme penonton terlihat jelas sebelum mereka > memasuki pintu bioskop. > > Tetapi kemudian mulai berdatangan gangguan. Awalnya secara visual ketika > pada adegan-adegan awal, terutama saat di Minangkabau, sering terjadi > perubahan intensitas cahaya pada gambar. Efek-efek cahaya yang disajikan > mengingatkan pada gaya ABG yang baru kenal instagram. Usai "parade efek > visual" yang lebih sering mengganggu mata ketimbang memuaskan itu, > datanglah adegan penting pertama ketika Zainuddin bersirobok mata dengan > Hayati yang sedang naik bendi. Percikan cinta yang muncul dalam pandangan > pertama ini, sayangnya, kurang "tradisional". Keduanya berpandangan lama, > layaknya dalam film-film masa kini, yang tentu saja tak akan terjadi jika > Sunil dan tim lebih mendalami sisi sosiologis dan psikologis remaja tahun > 1930-an apalagi di daerah seperti Minang. Tak terlihat di layar cara > pandang "malu-malu kucing" yang terkenal itu. > > Dan mungkin juga tersebab ekspektasi penonton terhadap sosok Zainuddin dan > Hayati, berdasarkan pembacaan mereka terhadap roman asli Buya Hamka, tak > dipenuhi Sunil yang memasang duet Herjunot Ali (Zainuddin) - Pevita Pearce > (Hayati), yang tak memiliki tipikal wajah rakyat Indonesia kebanyakan. > > Upaya lima tahun Sunil untuk menghidupkan roman ini gugur sejak awal, > karena dia lebih memilih pendekatan ekonomis untuk menggunakan kembali > pasangan yang bermain dalam film "5 cm" (dari karya Donny Dhirgantoro) -- > film yang cukup sukses memikat hati penonton muda di akhir tahun lalu dan > awal tahun ini. Tetapi seharusnya Sunil paham bahwa Zainuddin bukanlah > Zafran di "5 cm", seperti halnya Hayati juga bukan Dinda di film yang sama. > Artinya, pendalaman akting yang dimulai dari penghayatan tentang sosok > tokoh yang akan dimainkan, menjadi kelemahan mendasar film ini. Malah Aziz > yang diperankan Reza Rahadian (pemeran Habibie dalam "Habibie & Ainun") > yang jauh lebih menonjol, dan mampu menghidupkan sosok itu. Jika peran Reza > dan Herjunot dipertukarkan, saya yakin hasilnya akan lebih baik. Reza akan > lebih mampu menangkap jiwa Zainuddin. Begitu pun jika peran Hayati > diperankan oleh pemain yang lebih matang dibandingkan Pevita, katakanlah > misalnya, Nirina Zubir. Jadi, trik Sunil "don't change the winning team" > (dari film "5 cm" dengan mempertahankan Junot-Pev) seharusnya tidak > dilakukan untuk film dari roman selegendaris ini. > > Singkat cerita, meski sepanjang 165 menit penonton disuguhi baris-baris > dialog dari gubahan asli Buya Hamka, juga disajikan lokasi-lokasi yang > (disajikan ulang) sesuai periode aslinya (usaha yang tak mudah, dan karena > itu pantas diapresiasi), tapi Sunil tergelincir juga saat menafsirkan > kesuksesan Shabir/Zainuddin sebagai pujangga masyhur dengan memiliki rumah > sebesar dan semegah istana -- yang biasanya tampil dalam adegan-adegan film > Bollywood. Sekiranya Sunil mau melihat langsung rumah museum Buya Hamka di > Maninjau, atau rumah pujangga Abdoel Moeis di Birugo, Bukittinggi, yang > juga pengarang masyhur saat itu, niscaya pemahaman tentang rumah seorang > pujangga masyhur itu tidak seperti di dalam film, yang lengkap dengan acara > cocktail party (post-party) ala MTV. > Absurd. Zainuddin bukan hanya mengubah nama menjadi Shabir, tapi > betul-betul berubah menjadi karakter lain yang tak dikenal para pembaca > setia roman ini. > > "Tenggelamnya Van der Wijck" besutan Sunil Soraya, walhasil benar-benar > menenggelamkan elemen terpenting yang ingin diangkat Buya Hamka: sisi > profetik dari sebuah kisah yang setua peradaban manusia, bahwa cinta > sepasang insan pada hakikatnya fana, jika tak bersandar lebih dulu pada > kecintaan terhadap Tuhan, Muasal dari Segenap Cinta Yang Mengalir di > Semesta. > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari > Grup Google. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
