Assalamu'alaikum Wr. Wb,
memenuhi permintaan Rky Renny dan Rina, juga Pak Saaf melalui Facebook agar
ambo manulih saketek tentang film "Tenggelamnya Kapal Van der Wijk" yang
baru 2 hari ini beredar di bioskop,
di bawah ini adalah kesan singkat ambo yang dikopi dari status FB ambo pagi
ko.

Semoga berkenan.

Wassalam,

ANB
45, Cibubur

___

TENGGELAMNYA KAPAL PROFETIK. Kita memang harus berterima kasih pada Sunil
Soraya, yang menghidupkan impian banyak orang untuk melihat ekranisasi
roman legendaris "Tenggelam Kapal Van Der Wijck" karya Buya Hamka. Dan
Sunil pun, konon, menyiapkan waktu lima tahun untuk memproduksi film
berdurasi 165 menit ini, cukup panjang untuk rata-rata film Indonesia yang
biasanya berkisar 100-an menit.

Lalu kita mendengar dialek kental Makassar dari Zainuddin (ayah Minang, ibu
Makassar) di sepanjang film. Anak yang "di Makassar dianggap orang Minang,
di Minang dilihat sebagai anak Makassar" ini mencoba mencari jejak leluhur
ke Batipuh, Sumatra Barat, untuk menemukan dirinya jatuh hati 3/4 mati pada
Hayati, "bunga Batipuh" yang dijaga para mamak (paman dari garis ibu)
seketat para pengusaha menjaga investasi.

Lalu kita melihat keindahan alam Minangkabau dan seketul tradisinya yang
kaya memenuhi kamera. Pepatah petitih bertebaran menyapa penonton, terutama
berkat peragaan mumpuni Musra Dahrizal -- seniman serbabisa Minang yang
populer dipanggil Mak Katik -- yang berperan sebagai datuk kaum adat dan
mamak Hayati. Begitu pun tradisi borjuasi segelintir elit Minang di kota
Padangpanjang lewat kegiatan pacuan kuda, kegiatan yang mempertemukan
Hayati dengan Aziz, lelaki "modern", yang hidupnya jauh lebih mapan dari
Zainuddin, dan yang terpenting, Minang tulen.

Layaknya dalam rumus kisah tragedi, tokoh Aziz menjadi vital karena melalui
dialah konflik dibangun setelah sang datuk yang berwenang memutuskan masa
depan Hayati menerima lamaran Aziz dan mencampakkan Zainuddin. Karam dalam
patah hati yang tak tersembuhkan, patah hati yang membuatnya majenun,
Zainuddin pindah ke Batavia, lalu ke Surabaya, menekuni profesi sebagai
pujangga yang kelak membuatnya masyhur. Kemudian garis nasib sekali lagi
mempertemukan Zainuddin (kini bernama Shabir) dengan Hayati dan suaminya
Aziz, yang kini sudah jatuh miskin, di Surabaya. Shabir mengizinkan dua
"sahabatnya" itu untuk tinggal di rumahnya yang semewah istana. Aziz yang
awalnya ingin memanfaatkan kebaikan hati Shabir, akhirnya malah memutuskan
bunuh diri untuk memberikan kesempatan agar Hayati bisa bersatu kembali
dengan kekasih lamanya. Namun Shabir tak menggunakan kesempatan itu untuk
mendekati Hayati, malah menyuruhnya pulang kampung dengan naik kapal Van
der Wijck.

Tim skenario (termasuk Sunil di dalamnya, selain Imam Tantowi dan Donny
Dhirgantoro) memilih setia pada plot kisah yang dikembangkan Buya Hamka.
Tak ada puntiran, sisipan, pengubahan, pengembangan, alur kisah dari yang
sudah dikenali publik yang, sedikitnya, pernah sekali membaca roman itu.
Jadi dari sisi ini, Sunil berhasil menjadikan film ini sebagai "palapeh
taragak" (pelepas rindu) terhadap Buya Hamka. Ditambah dengan promosi masif
sebelum pemutaran, antusiasme penonton terlihat jelas sebelum mereka
memasuki pintu bioskop.

Tetapi kemudian mulai berdatangan gangguan. Awalnya secara visual ketika
pada adegan-adegan awal, terutama saat di Minangkabau, sering terjadi
perubahan intensitas cahaya pada gambar. Efek-efek cahaya yang disajikan
mengingatkan pada gaya ABG yang baru kenal instagram. Usai "parade efek
visual" yang lebih sering mengganggu mata ketimbang memuaskan itu,
datanglah adegan penting pertama ketika Zainuddin bersirobok mata dengan
Hayati yang sedang naik bendi. Percikan cinta yang muncul dalam pandangan
pertama ini, sayangnya, kurang "tradisional". Keduanya berpandangan lama,
layaknya dalam film-film masa kini, yang tentu saja tak akan terjadi jika
Sunil dan tim lebih mendalami sisi sosiologis dan psikologis remaja tahun
1930-an apalagi di daerah seperti Minang. Tak terlihat di layar cara
pandang "malu-malu kucing" yang terkenal itu.

Dan mungkin juga tersebab ekspektasi penonton terhadap sosok Zainuddin dan
Hayati, berdasarkan pembacaan mereka terhadap roman asli Buya Hamka, tak
dipenuhi Sunil yang memasang duet Herjunot Ali (Zainuddin) - Pevita Pearce
(Hayati), yang tak memiliki tipikal wajah rakyat Indonesia kebanyakan.

Upaya lima tahun Sunil untuk menghidupkan roman ini gugur sejak awal,
karena dia lebih memilih pendekatan ekonomis untuk menggunakan kembali
pasangan yang bermain dalam film "5 cm" (dari karya Donny Dhirgantoro) --
film yang cukup sukses memikat hati penonton muda di akhir tahun lalu dan
awal tahun ini. Tetapi seharusnya Sunil paham bahwa Zainuddin bukanlah
Zafran di "5 cm", seperti halnya Hayati juga bukan Dinda di film yang sama.
Artinya, pendalaman akting yang dimulai dari penghayatan tentang sosok
tokoh yang akan dimainkan, menjadi kelemahan mendasar film ini. Malah Aziz
yang diperankan Reza Rahadian (pemeran Habibie dalam "Habibie & Ainun")
yang jauh lebih menonjol, dan mampu menghidupkan sosok itu. Jika peran Reza
dan Herjunot dipertukarkan, saya yakin hasilnya akan lebih baik. Reza akan
lebih mampu menangkap jiwa Zainuddin. Begitu pun jika peran Hayati
diperankan oleh pemain yang lebih matang dibandingkan Pevita, katakanlah
misalnya, Nirina Zubir. Jadi, trik Sunil "don't change the winning team"
(dari film "5 cm" dengan mempertahankan Junot-Pev) seharusnya tidak
dilakukan untuk film dari roman selegendaris ini.

Singkat cerita, meski sepanjang 165 menit penonton disuguhi baris-baris
dialog dari gubahan asli Buya Hamka, juga disajikan lokasi-lokasi yang
(disajikan ulang) sesuai periode aslinya (usaha yang tak mudah, dan karena
itu pantas diapresiasi), tapi Sunil tergelincir juga saat menafsirkan
kesuksesan Shabir/Zainuddin sebagai pujangga masyhur dengan memiliki rumah
sebesar dan semegah istana -- yang biasanya tampil dalam adegan-adegan film
Bollywood. Sekiranya Sunil mau melihat langsung rumah museum Buya Hamka di
Maninjau, atau rumah pujangga Abdoel Moeis di Birugo, Bukittinggi, yang
juga pengarang masyhur saat itu, niscaya pemahaman tentang rumah seorang
pujangga masyhur itu tidak seperti di dalam film, yang lengkap dengan acara
cocktail party (post-party) ala MTV.
Absurd. Zainuddin bukan hanya mengubah nama menjadi Shabir, tapi
betul-betul berubah menjadi karakter lain yang tak dikenal para pembaca
setia roman ini.

"Tenggelamnya Van der Wijck" besutan Sunil Soraya, walhasil benar-benar
menenggelamkan elemen terpenting yang ingin diangkat Buya Hamka: sisi
profetik dari sebuah kisah yang setua peradaban manusia, bahwa cinta
sepasang insan pada hakikatnya fana, jika tak bersandar lebih dulu pada
kecintaan terhadap Tuhan, Muasal dari Segenap Cinta Yang Mengalir di
Semesta.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke