Dinda Ronald n.a.h. beberapa waktu lalu beberapa anggota milis Isnet berinisiatif kopi darek dengan acara berbeda dari biaso: nonton bareng di rumah salah surang anggota. Mereka minta ambo rekomendasikan film, dan ambo sarankan nobar film "Margin Call". Dari palanta RN ko nan juo anggota Isnet hadir Pak Bachtiar Muin dan sanak Jaha Nababan (datang basamo surang kawannyo dari Japang nan tangah ka Indonesia). Sabalun film diputa, ambo maagiah pengantar pendek manga film ko paralu ditonton. Sayang, wakatu itu ambo alun tahu bahwa Ronald tanyato juo sanang jo film ko (bahwa sampai menonton belasan kali? iko lua biaso. Rekor ambo manonton satu film paling banyak baru 8 kali, itu pun "Sang Pencerah" dek karano saat tayang dulu tiok sabanta ikuik mangawani JK, lalu bisuaknyo Mensos Salim Segaf, dll).
Mungkin di 2014 ko rancak pulo kalau salah satu program RN adolah nobar film-film rancak nan dilanjuikkan diskusi (semi) serius. Tampek alah ado di Rumah Damai, Sa'abun. Baa tu gak ati Ronald? Pak Katua Miko/Nofend? Dan Pak Aslim Tan Sati sebagai sahibul bait? Wass, ANB 45, Cibubur Pada 27 Desember 2013 08.54, Ronald P Putra <[email protected]>menulis: > Waalaikum salam, > > Uda Akmal, alhamdulillah kemaren saya sempat menonton film ini bersama > ayah, ibu, dan istri. > > Secara keseluruhan, film ini bisa "menggedor" dada penontonnya. Cuma > sayang, scene tenggelamnya kapal, yg menurut saya visual effectnya sangat > jelek, sangat mengganggu. Saya kira, adalah lebih baik jika scene tsb > dihilangkan dan cukup diganti saja dgn kehebohan berita tenggelamnya kapal > tsb. > > (hehehe.. Coba-coba jadi pengamat film, ternyata enak juga. Saya menonton > belasan kali film Margin Call, hanya untuk mencoba mencari tahu perbedaan > karakter dari masing-masing tokohnya, dan ternyata, luar biasa...) > > Wassalam > Ronald - Depok > On Dec 21, 2013 8:14 AM, "Akmal Nasery Basral" <[email protected]> > wrote: > >> Assalamu'alaikum Wr. Wb, >> memenuhi permintaan Rky Renny dan Rina, juga Pak Saaf melalui Facebook >> agar ambo manulih saketek tentang film "Tenggelamnya Kapal Van der Wijk" >> yang baru 2 hari ini beredar di bioskop, >> di bawah ini adalah kesan singkat ambo yang dikopi dari status FB ambo >> pagi ko. >> >> Semoga berkenan. >> >> Wassalam, >> >> ANB >> 45, Cibubur >> >> ___ >> >> TENGGELAMNYA KAPAL PROFETIK. Kita memang harus berterima kasih pada Sunil >> Soraya, yang menghidupkan impian banyak orang untuk melihat ekranisasi >> roman legendaris "Tenggelam Kapal Van Der Wijck" karya Buya Hamka. Dan >> Sunil pun, konon, menyiapkan waktu lima tahun untuk memproduksi film >> berdurasi 165 menit ini, cukup panjang untuk rata-rata film Indonesia yang >> biasanya berkisar 100-an menit. >> >> Lalu kita mendengar dialek kental Makassar dari Zainuddin (ayah Minang, >> ibu Makassar) di sepanjang film. Anak yang "di Makassar dianggap orang >> Minang, di Minang dilihat sebagai anak Makassar" ini mencoba mencari jejak >> leluhur ke Batipuh, Sumatra Barat, untuk menemukan dirinya jatuh hati 3/4 >> mati pada Hayati, "bunga Batipuh" yang dijaga para mamak (paman dari garis >> ibu) seketat para pengusaha menjaga investasi. >> >> Lalu kita melihat keindahan alam Minangkabau dan seketul tradisinya yang >> kaya memenuhi kamera. Pepatah petitih bertebaran menyapa penonton, terutama >> berkat peragaan mumpuni Musra Dahrizal -- seniman serbabisa Minang yang >> populer dipanggil Mak Katik -- yang berperan sebagai datuk kaum adat dan >> mamak Hayati. Begitu pun tradisi borjuasi segelintir elit Minang di kota >> Padangpanjang lewat kegiatan pacuan kuda, kegiatan yang mempertemukan >> Hayati dengan Aziz, lelaki "modern", yang hidupnya jauh lebih mapan dari >> Zainuddin, dan yang terpenting, Minang tulen. >> >> Layaknya dalam rumus kisah tragedi, tokoh Aziz menjadi vital karena >> melalui dialah konflik dibangun setelah sang datuk yang berwenang >> memutuskan masa depan Hayati menerima lamaran Aziz dan mencampakkan >> Zainuddin. Karam dalam patah hati yang tak tersembuhkan, patah hati yang >> membuatnya majenun, Zainuddin pindah ke Batavia, lalu ke Surabaya, menekuni >> profesi sebagai pujangga yang kelak membuatnya masyhur. Kemudian garis >> nasib sekali lagi mempertemukan Zainuddin (kini bernama Shabir) dengan >> Hayati dan suaminya Aziz, yang kini sudah jatuh miskin, di Surabaya. Shabir >> mengizinkan dua "sahabatnya" itu untuk tinggal di rumahnya yang semewah >> istana. Aziz yang awalnya ingin memanfaatkan kebaikan hati Shabir, akhirnya >> malah memutuskan bunuh diri untuk memberikan kesempatan agar Hayati bisa >> bersatu kembali dengan kekasih lamanya. Namun Shabir tak menggunakan >> kesempatan itu untuk mendekati Hayati, malah menyuruhnya pulang kampung >> dengan naik kapal Van der Wijck. >> >> Tim skenario (termasuk Sunil di dalamnya, selain Imam Tantowi dan Donny >> Dhirgantoro) memilih setia pada plot kisah yang dikembangkan Buya Hamka. >> Tak ada puntiran, sisipan, pengubahan, pengembangan, alur kisah dari yang >> sudah dikenali publik yang, sedikitnya, pernah sekali membaca roman itu. >> Jadi dari sisi ini, Sunil berhasil menjadikan film ini sebagai "palapeh >> taragak" (pelepas rindu) terhadap Buya Hamka. Ditambah dengan promosi masif >> sebelum pemutaran, antusiasme penonton terlihat jelas sebelum mereka >> memasuki pintu bioskop. >> >> Tetapi kemudian mulai berdatangan gangguan. Awalnya secara visual ketika >> pada adegan-adegan awal, terutama saat di Minangkabau, sering terjadi >> perubahan intensitas cahaya pada gambar. Efek-efek cahaya yang disajikan >> mengingatkan pada gaya ABG yang baru kenal instagram. Usai "parade efek >> visual" yang lebih sering mengganggu mata ketimbang memuaskan itu, >> datanglah adegan penting pertama ketika Zainuddin bersirobok mata dengan >> Hayati yang sedang naik bendi. Percikan cinta yang muncul dalam pandangan >> pertama ini, sayangnya, kurang "tradisional". Keduanya berpandangan lama, >> layaknya dalam film-film masa kini, yang tentu saja tak akan terjadi jika >> Sunil dan tim lebih mendalami sisi sosiologis dan psikologis remaja tahun >> 1930-an apalagi di daerah seperti Minang. Tak terlihat di layar cara >> pandang "malu-malu kucing" yang terkenal itu. >> >> Dan mungkin juga tersebab ekspektasi penonton terhadap sosok Zainuddin >> dan Hayati, berdasarkan pembacaan mereka terhadap roman asli Buya Hamka, >> tak dipenuhi Sunil yang memasang duet Herjunot Ali (Zainuddin) - Pevita >> Pearce (Hayati), yang tak memiliki tipikal wajah rakyat Indonesia >> kebanyakan. >> >> Upaya lima tahun Sunil untuk menghidupkan roman ini gugur sejak awal, >> karena dia lebih memilih pendekatan ekonomis untuk menggunakan kembali >> pasangan yang bermain dalam film "5 cm" (dari karya Donny Dhirgantoro) -- >> film yang cukup sukses memikat hati penonton muda di akhir tahun lalu dan >> awal tahun ini. Tetapi seharusnya Sunil paham bahwa Zainuddin bukanlah >> Zafran di "5 cm", seperti halnya Hayati juga bukan Dinda di film yang sama. >> Artinya, pendalaman akting yang dimulai dari penghayatan tentang sosok >> tokoh yang akan dimainkan, menjadi kelemahan mendasar film ini. Malah Aziz >> yang diperankan Reza Rahadian (pemeran Habibie dalam "Habibie & Ainun") >> yang jauh lebih menonjol, dan mampu menghidupkan sosok itu. Jika peran Reza >> dan Herjunot dipertukarkan, saya yakin hasilnya akan lebih baik. Reza akan >> lebih mampu menangkap jiwa Zainuddin. Begitu pun jika peran Hayati >> diperankan oleh pemain yang lebih matang dibandingkan Pevita, katakanlah >> misalnya, Nirina Zubir. Jadi, trik Sunil "don't change the winning team" >> (dari film "5 cm" dengan mempertahankan Junot-Pev) seharusnya tidak >> dilakukan untuk film dari roman selegendaris ini. >> >> Singkat cerita, meski sepanjang 165 menit penonton disuguhi baris-baris >> dialog dari gubahan asli Buya Hamka, juga disajikan lokasi-lokasi yang >> (disajikan ulang) sesuai periode aslinya (usaha yang tak mudah, dan karena >> itu pantas diapresiasi), tapi Sunil tergelincir juga saat menafsirkan >> kesuksesan Shabir/Zainuddin sebagai pujangga masyhur dengan memiliki rumah >> sebesar dan semegah istana -- yang biasanya tampil dalam adegan-adegan film >> Bollywood. Sekiranya Sunil mau melihat langsung rumah museum Buya Hamka di >> Maninjau, atau rumah pujangga Abdoel Moeis di Birugo, Bukittinggi, yang >> juga pengarang masyhur saat itu, niscaya pemahaman tentang rumah seorang >> pujangga masyhur itu tidak seperti di dalam film, yang lengkap dengan acara >> cocktail party (post-party) ala MTV. >> Absurd. Zainuddin bukan hanya mengubah nama menjadi Shabir, tapi >> betul-betul berubah menjadi karakter lain yang tak dikenal para pembaca >> setia roman ini. >> >> "Tenggelamnya Van der Wijck" besutan Sunil Soraya, walhasil benar-benar >> menenggelamkan elemen terpenting yang ingin diangkat Buya Hamka: sisi >> profetik dari sebuah kisah yang setua peradaban manusia, bahwa cinta >> sepasang insan pada hakikatnya fana, jika tak bersandar lebih dulu pada >> kecintaan terhadap Tuhan, Muasal dari Segenap Cinta Yang Mengalir di >> Semesta. >> >> -- >> . >> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat >> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ >> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. >> =========================================================== >> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: >> * DILARANG: >> 1. Email besar dari 200KB; >> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; >> 3. Email One Liner. >> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta >> mengirimkan biodata! >> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting >> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply >> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & >> mengganti subjeknya. >> =========================================================== >> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: >> http://groups.google.com/group/RantauNet/ >> --- >> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari >> Grup Google. >> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, >> kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . >> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. >> > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari > Grup Google. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
