Ajo Duta n.a.h. memang ini masalah dilematis, seperti juga dihadapi "Sang Pencerah", tak ada produser (rumah produksi) "lokal" yang mau berinvestasi serius untuk membuat film-film seperti ini. Selalu respon itu muncul dari para produser berdarah India (dalam kasus "Sang Pencerah" oleh produser yang namanya dipelesetkan Remy Silado menjadi "tak ada rotan, Raam pun jadi". Dan Raam Punjabi pula yang menjadi produser film "Soekarno" yang tengah edar saat ini di Indonesia). Walhasil, warisan insting Bollywood mereka dalam memproduksi film tetap kental. Begitu juga dalam "TKVdW" ini. Keberanian Sunil Soraya untuk menjadi produser (sekaligus sutradara) dari film yang membuat replika kapal dengan menyewa perusahaan Belanda agar bisa mendapatkan bentuk yang sesuai seperti kapal aslinya (yang kini karam di lepas pantai Brondong, Lamongan) sebetulnya sudah luar biasa.
Tapi dari testimoni Johannas Backir di wall Facebook ambo (alah 100+ komentar soal iko) yang pernah terlibat dalam riset film dari roman Buya Hamka lainnya "Di Bawah Lindungan Ka'bah", pada akhirnya kesepakatan untuk membuat film dalam proporsi 35 % komersial dan 65 % idealisme, pada akhirnya menjelang produksi dimulai selalu komposisi itu berbalik. Dan mereka yang terlibat riset seperti JB dkk tak bisa berbuat apa-apa. (Silakan Ajo Duta lihat beberapa contoh hasil riset JB yang ditampilkan di dinding FB ambo tu). Kondisi yang selalu menekan insan kreatif ini juga dilematis bagi mereka. Kalau tetap ikut seperti menghalalkan komersialisasi dan malah stres, kalau mereka mundur, pihak-pihak narasumber (terutama keluarga Buya Hamka) tahunya mereka yang bertanggung jawab. Tapi akhirnya JB dkk memutuskan mundur (dari proyek "Di Bawah Lindungan Ka'bah", produksi produser berdarah India lainnya) dan menjelaskan kepada Pak Afif Hamka, putra Buya. Dilema produksi kesenian ini, sayangnya, kurang diminati urang awak untuk dibahas lebih serius, meski sebetulnya tak kalah fatal dibandingkan kasus-kasus lain yang tengah terjadi di Sumbar, atau berkaitan dengan Minangkabau. Rembesan tafsir budaya konsumerisme ke dalam karya-karya seperti dihasilkan Buya Hamka ini sebetulnya tragedi yang lebih mencemaskan. Salam untuk kawan-kawan yang tengah bermuktamar di Louisville. ANB 45, Cibubur nr: "Sistem Dajjal" - Ahmad Thomson. Pada 22 Desember 2013 10.41, ajo duta <[email protected]> menulis: > Nakan ANB, sayang film TKVW ini tidak digarap oleh penulis skenario yang > menghayati betul kisah yang ditulis Buya Hamka ini. > > Produser/sutradara film ini tidak melihat keberhasilan "Sang Pencerah". > Seharusnya mereka bertanya kesana kemari, lebih dahulu. > > > > > *-----------------------------------------------------------------------------------------------* > *"Komunitas RN Harus Hidup Terus Melebihi Usia Kami Yang Tua-tua Ini" > (Bunda Nizmah pada acara HUT RN 20 Tahun)* > > Wassalaamu'alaikum > Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta), > 17/8/1947, suku Mandahiliang, gala Bagindo > Gasan Gadang Pariaman - Tebingtinggi Deli - > Jakarta - Sterling, Virginia USA > ------------------------------------------------------------ > > > 2013/12/21 Akmal Nasery Basral <[email protected]> > >> Assalamu'alaikum Wr. Wb, >> memenuhi permintaan Rky Renny dan Rina, juga Pak Saaf melalui Facebook >> agar ambo manulih saketek tentang film "Tenggelamnya Kapal Van der Wijk" >> yang baru 2 hari ini beredar di bioskop, >> di bawah ini adalah kesan singkat ambo yang dikopi dari status FB ambo >> pagi ko. >> >> Semoga berkenan. >> >> Wassalam, >> >> ANB >> 45, Cibubur >> >> ___ >> >> TENGGELAMNYA KAPAL PROFETIK. Kita memang harus berterima kasih pada Sunil >> Soraya, yang menghidupkan impian banyak orang untuk melihat ekranisasi >> roman legendaris "Tenggelam Kapal Van Der Wijck" karya Buya Hamka. Dan >> Sunil pun, konon, menyiapkan waktu lima tahun untuk memproduksi film >> berdurasi 165 menit ini, cukup panjang untuk rata-rata film Indonesia yang >> biasanya berkisar 100-an menit. >> >> Lalu kita mendengar dialek kental Makassar dari Zainuddin (ayah Minang, >> ibu Makassar) di sepanjang film. Anak yang "di Makassar dianggap orang >> Minang, di Minang dilihat sebagai anak Makassar" ini mencoba mencari jejak >> leluhur ke Batipuh, Sumatra Barat, untuk menemukan dirinya jatuh hati 3/4 >> mati pada Hayati, "bunga Batipuh" yang dijaga para mamak (paman dari garis >> ibu) seketat para pengusaha menjaga investasi. >> >> Lalu kita melihat keindahan alam Minangkabau dan seketul tradisinya yang >> kaya memenuhi kamera. Pepatah petitih bertebaran menyapa penonton, terutama >> berkat peragaan mumpuni Musra Dahrizal -- seniman serbabisa Minang yang >> populer dipanggil Mak Katik -- yang berperan sebagai datuk kaum adat dan >> mamak Hayati. Begitu pun tradisi borjuasi segelintir elit Minang di kota >> Padangpanjang lewat kegiatan pacuan kuda, kegiatan yang mempertemukan >> Hayati dengan Aziz, lelaki "modern", yang hidupnya jauh lebih mapan dari >> Zainuddin, dan yang terpenting, Minang tulen. >> >> Layaknya dalam rumus kisah tragedi, tokoh Aziz menjadi vital karena >> melalui dialah konflik dibangun setelah sang datuk yang berwenang >> memutuskan masa depan Hayati menerima lamaran Aziz dan mencampakkan >> Zainuddin. Karam dalam patah hati yang tak tersembuhkan, patah hati yang >> membuatnya majenun, Zainuddin pindah ke Batavia, lalu ke Surabaya, menekuni >> profesi sebagai pujangga yang kelak membuatnya masyhur. Kemudian garis >> nasib sekali lagi mempertemukan Zainuddin (kini bernama Shabir) dengan >> Hayati dan suaminya Aziz, yang kini sudah jatuh miskin, di Surabaya. Shabir >> mengizinkan dua "sahabatnya" itu untuk tinggal di rumahnya yang semewah >> istana. Aziz yang awalnya ingin memanfaatkan kebaikan hati Shabir, akhirnya >> malah memutuskan bunuh diri untuk memberikan kesempatan agar Hayati bisa >> bersatu kembali dengan kekasih lamanya. Namun Shabir tak menggunakan >> kesempatan itu untuk mendekati Hayati, malah menyuruhnya pulang kampung >> dengan naik kapal Van der Wijck. >> >> Tim skenario (termasuk Sunil di dalamnya, selain Imam Tantowi dan Donny >> Dhirgantoro) memilih setia pada plot kisah yang dikembangkan Buya Hamka. >> Tak ada puntiran, sisipan, pengubahan, pengembangan, alur kisah dari yang >> sudah dikenali publik yang, sedikitnya, pernah sekali membaca roman itu. >> Jadi dari sisi ini, Sunil berhasil menjadikan film ini sebagai "palapeh >> taragak" (pelepas rindu) terhadap Buya Hamka. Ditambah dengan promosi masif >> sebelum pemutaran, antusiasme penonton terlihat jelas sebelum mereka >> memasuki pintu bioskop. >> >> Tetapi kemudian mulai berdatangan gangguan. Awalnya secara visual ketika >> pada adegan-adegan awal, terutama saat di Minangkabau, sering terjadi >> perubahan intensitas cahaya pada gambar. Efek-efek cahaya yang disajikan >> mengingatkan pada gaya ABG yang baru kenal instagram. Usai "parade efek >> visual" yang lebih sering mengganggu mata ketimbang memuaskan itu, >> datanglah adegan penting pertama ketika Zainuddin bersirobok mata dengan >> Hayati yang sedang naik bendi. Percikan cinta yang muncul dalam pandangan >> pertama ini, sayangnya, kurang "tradisional". Keduanya berpandangan lama, >> layaknya dalam film-film masa kini, yang tentu saja tak akan terjadi jika >> Sunil dan tim lebih mendalami sisi sosiologis dan psikologis remaja tahun >> 1930-an apalagi di daerah seperti Minang. Tak terlihat di layar cara >> pandang "malu-malu kucing" yang terkenal itu. >> >> Dan mungkin juga tersebab ekspektasi penonton terhadap sosok Zainuddin >> dan Hayati, berdasarkan pembacaan mereka terhadap roman asli Buya Hamka, >> tak dipenuhi Sunil yang memasang duet Herjunot Ali (Zainuddin) - Pevita >> Pearce (Hayati), yang tak memiliki tipikal wajah rakyat Indonesia >> kebanyakan. >> >> Upaya lima tahun Sunil untuk menghidupkan roman ini gugur sejak awal, >> karena dia lebih memilih pendekatan ekonomis untuk menggunakan kembali >> pasangan yang bermain dalam film "5 cm" (dari karya Donny Dhirgantoro) -- >> film yang cukup sukses memikat hati penonton muda di akhir tahun lalu dan >> awal tahun ini. Tetapi seharusnya Sunil paham bahwa Zainuddin bukanlah >> Zafran di "5 cm", seperti halnya Hayati juga bukan Dinda di film yang sama. >> Artinya, pendalaman akting yang dimulai dari penghayatan tentang sosok >> tokoh yang akan dimainkan, menjadi kelemahan mendasar film ini. Malah Aziz >> yang diperankan Reza Rahadian (pemeran Habibie dalam "Habibie & Ainun") >> yang jauh lebih menonjol, dan mampu menghidupkan sosok itu. Jika peran Reza >> dan Herjunot dipertukarkan, saya yakin hasilnya akan lebih baik. Reza akan >> lebih mampu menangkap jiwa Zainuddin. Begitu pun jika peran Hayati >> diperankan oleh pemain yang lebih matang dibandingkan Pevita, katakanlah >> misalnya, Nirina Zubir. Jadi, trik Sunil "don't change the winning team" >> (dari film "5 cm" dengan mempertahankan Junot-Pev) seharusnya tidak >> dilakukan untuk film dari roman selegendaris ini. >> >> Singkat cerita, meski sepanjang 165 menit penonton disuguhi baris-baris >> dialog dari gubahan asli Buya Hamka, juga disajikan lokasi-lokasi yang >> (disajikan ulang) sesuai periode aslinya (usaha yang tak mudah, dan karena >> itu pantas diapresiasi), tapi Sunil tergelincir juga saat menafsirkan >> kesuksesan Shabir/Zainuddin sebagai pujangga masyhur dengan memiliki rumah >> sebesar dan semegah istana -- yang biasanya tampil dalam adegan-adegan film >> Bollywood. Sekiranya Sunil mau melihat langsung rumah museum Buya Hamka di >> Maninjau, atau rumah pujangga Abdoel Moeis di Birugo, Bukittinggi, yang >> juga pengarang masyhur saat itu, niscaya pemahaman tentang rumah seorang >> pujangga masyhur itu tidak seperti di dalam film, yang lengkap dengan acara >> cocktail party (post-party) ala MTV. >> Absurd. Zainuddin bukan hanya mengubah nama menjadi Shabir, tapi >> betul-betul berubah menjadi karakter lain yang tak dikenal para pembaca >> setia roman ini. >> >> "Tenggelamnya Van der Wijck" besutan Sunil Soraya, walhasil benar-benar >> menenggelamkan elemen terpenting yang ingin diangkat Buya Hamka: sisi >> profetik dari sebuah kisah yang setua peradaban manusia, bahwa cinta >> sepasang insan pada hakikatnya fana, jika tak bersandar lebih dulu pada >> kecintaan terhadap Tuhan, Muasal dari Segenap Cinta Yang Mengalir di >> Semesta. >> >> -- >> . >> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat >> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ >> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. >> =========================================================== >> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: >> * DILARANG: >> 1. Email besar dari 200KB; >> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; >> 3. Email One Liner. >> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta >> mengirimkan biodata! >> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting >> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply >> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & >> mengganti subjeknya. >> =========================================================== >> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: >> http://groups.google.com/group/RantauNet/ >> --- >> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari >> Grup Google. >> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, >> kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . >> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. >> > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari > Grup Google. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
