*untung ada beberapa figur penyeimbang: M. Sayuti, Maso’ed Abidin, Zulwadi,
Shofwan Karim, Zainuddin Husin, Desi Asmarut, Nur Ainas Abizar, Feriyanti,
Ade Faulina, Yunando Dhuhelmo, Basril Djabar, Marzul Veri, Fahmi Idris,
Syafi’i Maarif, Fasli Djalal, Sjahrul Udjud, Chairul Tandjung, dan Febby,
Saldi Isra, Eko Alvares, Gus tf Sakai, Edy Utama. Kini, demi (pembangunan
dan kesejahteraan) Provinsi Sumbar, mereka dimohon segera mengadakan
pendekatan dengan presiden dan wakil presiden terpilih. Dan semoga
gubernur, bupati dan walikota yang “menjerumuskan” (di antara tanda petik)
rakyat masih terpilih lagi untuk tetap menjabat. Saya menggunakan diksi
menjerumuskan menyusul kelakuan mereka yang tidak memerdekakan rakyat
menentukan pilihan.*

Kemenangan Jokowi-JK dan Sumbar “Hebaaat”
<http://hariansinggalang.co.id/kemenangan-jokowi-jk-dan-sumbar-hebaaat/> (514
Views) July 24, 2014 8:43 am | Published by sgl17
<http://hariansinggalang.co.id/author/sgl17/> | No comment
<http://hariansinggalang.co.id/kemenangan-jokowi-jk-dan-sumbar-hebaaat/#respond>

Darman Moenir – Kemarin malam, Selasa, 22 Juli 2014, pukul 20.30,
pemerintah melalui Ketua KPU Republik Indonesia, Husni Kamil Manik, secara
resmi mengumumkan, bahwa pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla memenangkan
pemilihan presiden dan wakil presiden yang diselenggarakan pada 9 Juli 2014.

Artinya, kini RI punya presiden dan wakil presiden baru, menggantikan
SBY-Boediono. Joko Widodo-JK akan dilantik 20 Oktober, memangku jabatan
sampai 2019. Perolehan suara Jokowi-JK 70.997.833 atau 53,15 persen dari
suara sah sebanyak 133.574.277. Prabowo-Hatta meraih 62.576.444 suara, atau
46,85 persen.
Satu lagi kerja besar rampung. Dan bangsa Indonesia, tanpa dikomando,
bersyukur, amat sangat bersyukur dengan hasil pilpres. Dua kubu
berseberangan diharap kembali bersatu, sebangsa dan setanah air. Perbedaan
pilihan dan barangkali gesekan-gesekan sebelum dan selama kampanye patut
diakhiri, dan pada waktunya kita kembali melanjutkan pembangunan RI ke arah
lebih baik, makmur, sejahtera, aman dan damai.


Dan kepada presiden terpilih, kita sampaikan ucapan: selamat Pak Jokowi dan
Pak JK. Jokowi-JK adalah pilihan sebagian besar rakyat Indonesia dari
Sabang sampai Merauke. Oleh karena itu semua janji sesuai visi dan misi
mohon diimplementasikan. Kepada Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa yang pun
kita berterima kasih.
Kemenangan Jokowi-JK adalah kemenangan rakyat Indonesia, kemenangan rakyat
di Provinsi Sumatra Barat. Kemenangan rakyat di Sumbar perlu garis-bawah.
Ternyata, 76,92 persen rakyat Sumbar memberikan suara kepada Prabowo-Hatta.
Prabowo meraih 1.797.505 suara. Jokowi-JK hanya mendapat 5.039.308 suara.
Paling menarik, persentase itu terbesar di semua provinsi! Tidak
tanggung-tanggung, sesudah angka itu diketahui melalui hitung-cepat, Irwan
Prayitno langsung menghadap Prabowo di Jakarta.
“Pak Prabowo berterima kasih dan memberikan apresiasi yang
setinggi-tingginya kepada masyarakat Sumatra Barat yang telah memberikan
hak politik kepada Prabowo-Hatta. Hal ini disampaikan beliau dalam rapat
yang diikuti pemimpin parpol pendukung dan jajaran tim pemenangan pada
Rabu, 9 Juli, pukul 23.00 WIB,” kata Irwan Prayitno, Ketua Tim Pemenangan
Prabowo-Hatta seperti diwartakan Haluan, Jumat, 11 Juli 2014.


Namun, kenyataan bicara lain, amat sangat lain! Di Indonesia, Prabowo-Hatta
tidak beruntung. Bukan senda-gurau, pemilihan kali ini bukan pemilihan
gubernur. Bukan! Berapa pun presentase kemenangan Prabowo-Hatta di Sumbar,
yang akan dilantik menjadi presiden dan wakil presiden tetaplah Jokowi-JK.
Persoalan besar dan mendasar yang menarik disiasati adalah, mengapa
Prabowo-Hatta menang telak di Sumbar? Apakah cukup alasan, kemenangan itu
diraih sebagai akibat Ketua Timses Prabowo-Hatta adalah Irwan Prayitno
yang, tentu saja, tidak dapat tidak, adalah Gubernur Sumbar? Apakah
kemenangan itu sebagai akibat 18 bupati/walikota di Sumbar dan 7 parpol
ikut mengusung Prabowo-Hatta? Di mana gerangan kehebatan dan kecerdasan
orang Minangkabau berdemokrasi, duduak samo randah, tagak samo tinggi?


Dan menyimak iklan sehalaman penuh surat kabar dalam upaya pemenangan itu,
ada yang lucu, menggelikan. Terpampang jelas foto Irwan Prayitno dan 18
figur utama dari kabupaten dan kota seantero Sumbar. Di bawah foto
terpasang 7 logo partai pendukung. Lucu. Mengapa sembunyi di balik ilalang
sehelai? Mengapa nama dan jabatan tidak dicantumkan? Trik itu mangkus?


Namun, itukah saja alasan mengapa 76,92 persen rakyat tidak memilih
Jokowi-JK? Adakah sebagian rakyat termakan isu kampanye hitam: Jokowidodo
kafir, keturunan Cina, berhaluan komunis, dan punya program kristenisasi
serta beberapa intrik yang tak berterima akal sehat? Saya menyatakan,
tidak! Urang awak takkan termakan kampanye hitam. Mereka mampu
membeda-bedakan loyang, perak, emas, intan, berlian. Dan dari dulu, sejak
zaman alun barabalun, orang Minangkabau cerdas. Parpatiah Nan Sabatang dan
Katumangguangan adalah pemimpin yang hebat dan agung. Pemimpin-pemimpin
sejak Imam Bondjol, Abdoel Moeis, Rasoena Said, Tan Malaka, M. Yamin, Agus
Salim, Sjahrir, Bung Hatta, berkiprah sangat luar biasa hebat, demi
kepentingan bangsa, demi Indonesia. Sampai sekarang, dan entah sampai
kapan, mereka diteladani.


Begitu pula Ahmad Husein, komandan Pasukan Harimau Kuranji, menggebrak,
menentang pemerintah pusat, Jakarta, dengan ultimatum Dewan Perjuangan.
Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia, PRRI, dideklarasikan Ahmad
Husein 15 Februari 1958. Figur-figur PRRI adalah Sjafruddin Prawiranegara,
Assaat Datuak Mudo, Dahlan Djambek, Maluddin Simbolon, Soemitro
Djojohadikoesoemo, Moh. Sjafei, J.F. Warouw, Moechtar Lintang, Saleh
Lahade, Gani Usman, Ventje Sumual, Wim Najoan, Eddy Gagola, Dolf
Runturambi, D. J. Somba, Alexander Evert Kawilarang, dan ratusan yang lain
berjuang gagah perkasa. PRRI melakukan koreksi atas pemerintah pusat yang
bertindak sewenang-wenang. Soekarno membangun Jakarta jadi pusat
pemerintahan dan membangun proyek mercu suar Monumen Nasional (Monas),
Masjid Istiqlal, Stadion Gelora Senayan (sekarang Gelora Bung Karno) dan
sejumlah patung. Tidak ada pemerataan pembangunan. Daerah dibiarkan miskin
dan melarat. Soekarno mengangkat dirinya menjadi presiden seumur hidup.
Soekarno terlalu dekat dengan PKI yang tak disukai kelompok Islam dan
nasionalis.


Biar kalah, ribuan pejuang dan rakyat jelata tewas, tetapi apa yang
diperjuangkan PRRI kemudian wujud dan kini menemukan bentuk. Itulah
pemerataan pembangunan dan seluruh tanah air, itulah otonomi daerah, itulah
daulat rakyat. Kita patut bersyukur kepada Allah SWT dan berterima kasih
kepada Ahmad Hussein dan para sahabat.


Lalu, dengan menggiring bupati/walikota dan rakyat Sumbar, sesungguhnya apa
yang diperjuangkan dan hendak diraih Irwan Prayitno? Usaha dan upaya Irwan
Prayitno berhasil, menang telak tetapi sekaligus gagal total. Ini bisa
berakibat fatal! Mudah-mudahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden
Jusuf Kalla takkan menganak-tirikan Provinsi Sumbar di antara
provinsi-provinsi lain. Dipercaya, presiden dan wakil presiden pilihan
rakyat ini berjiwa besar, negarawan sejati.


Dan di Sumbar untung ada beberapa figur penyeimbang: M. Sayuti, Maso’ed
Abidin, Zulwadi, Shofwan Karim, Zainuddin Husin, Desi Asmarut, Nur Ainas
Abizar, Feriyanti, Ade Faulina, Yunando Dhuhelmo, Basril Djabar, Marzul
Veri, Fahmi Idris, Syafi’i Maarif, Fasli Djalal, Sjahrul Udjud, Chairul
Tandjung, dan Febby, Saldi Isra, Eko Alvares, Gus tf Sakai, Edy Utama.
Kini, demi (pembangunan dan kesejahteraan) Provinsi Sumbar, mereka dimohon
segera mengadakan pendekatan dengan presiden dan wakil presiden terpilih.
Dan semoga gubernur, bupati dan walikota yang “menjerumuskan” (di antara
tanda petik) rakyat masih terpilih lagi untuk tetap menjabat. Saya
menggunakan diksi menjerumuskan menyusul kelakuan mereka yang tidak
memerdekakan rakyat menentukan pilihan.
Dan, ya, diharapkan, semoga Gubernur Irwan Prayitno, para bupati dan
walikota yang tidak mengusung Jokowidodo dan Jusuf Kalla itu mampu
mengadakan pendekatan dengan Jakarta. Andaikan tidak?!


Ini tragedi. Fatal. Ini sungguh-sungguh bertolak-belakang dengan upaya
(dengan hasil cemerlang) dari Tan Malaka, Hatta, Ahmad Husein. (*)

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke