Dd ZD n.a. h

Ambo ulang saketek:

Uang indak beragama dan tidak terikat pada tanah air tertentu. Dia akan
pergi kemana dia bisa memperoleh “rente” ekonomi



Apa tak mungkin  dirobah paradigma “uang tidak beragama dan tidak terikat
kepada tanah air” atau malah uang tidak bertanah air.



Apa tak mungkin uang Indonesia untuk Indonesia, memang mungkin dikatakan
tak maju, tapi setidaknya kita selamat.



Caranya: Kita sendiri yang memproduksi SDA dan mengolah  sampai baramg
jadi, arti nya dari hulu ke hilir diolah oleh BUMN.



Yang belum kemampuan kita biar dulu dalam tanah, tak usah tergesa. Ini
untuk mencegah SDA ini cepat habis dan lebih banyak orang luar dapat dari
negara sendiri.



Tahun 70-an, swasta  dari dalam dan luar negeri atau patungan boleh ambil
kayu di Indonesia untuk export.

Setiap kubik kayu Indonesia baik Kalimantan, Sumatera, Papua, pemerintah  hanya
dapat dari harga export   US $ 2 / kubik kayu gelondongan.



Kayu  gelondongan ini kalau diolah menjadi kayu olahan 3/4 kubik bersih
dengan nilai, kalau harga  sekarang rata-rata  US $ 200/kubik,  ¾ kubik  US
$ 150, pemerintah hanya dapat US $ 2 ,  US $ 140 lebih dibawa keluar.
Uang-uang
yang bangsa beginilah yang sebagian besar diopersikan  di luar negeri oleh
para konglomerat.



Memang pemerintah serba sulit, disamping uang untuk pembangunan, yang lebih
mendorong lagi  adalah agar pengangguran bisa ditampung, terutama yang
rendah pendidikn atau tak ada sama sekali dan  tidak punya  lahan garapan,
hanya semata mengharapkan adanya pembukaan lapangan pekerjaan dari
pemerintah.



Kedepan mungkin harus dipikirkan agar pemberian tanah garapan kepada mereka
yang membutuhkan agar diberikan dengan sertifikat hak garap turun temurun,
agar tidak dilepas lagi ketangan lain. Penggarap punah , tanah kembali ke
negara.



Kalau tidak demikian tanah Sumatera, Kalimantan, Papua akan habis hanya
untuk dibagi kepada kepada trasmigran kemudian tanah itu terkumpul ke
konglomerat. Pemberian tanah  jadi sia-sia.



Dengan demikian golongan ini tidak lagi memaksa pemerinta huntuk
mendatangkan investor dari luar yang menyebabkan SDA kita terjual murah,
atau hutang karena terpaksa  untuk membuka lapangan pekerjaan untuk memberi
makan para tak punya garapan ini.



Wass,



Maturidi

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke