Eari Haluan kita baca artikel ini, informasi yang rarang kita jumpai. 
Baik kita simpan dalam Mailing List Rantaunet ini untuk dicatat dan 
diketahui Angkatan Kemudian.

Sqalam,
-- MakNgah
Sjamsir Sjarif
Di Tapi Riak nan Badabua
Santa Cruz, California, USA

Bukittinggi Kota Juang 
Jumat,23 Desember 2016 - 01:43:32 WIB
[image: Bukittinggi Kota Juang] Drs. Indra Utama. N bersama Prof. Pooze 
(Pengarang buku tan malaka) di KILV Leiden Belanda.


*1. 19 Desember 1948 sampai 15 Januari 1949*

Sejak pemboman Bukittinggi pada pagi hari 19 Desember 1948 sampai 
pendudukan tentara Belanda 22 Desember 1948 hingga pertengahan Januari 
1949, terdapat kekos­ong an pemerintahan di Kota Bukit­tinggi. Kota 
Bukittinggi kenagariannya terdiri dari 5 jorong yang masin-masing­nya 
mempunyai Wali Jorong, yang dinamakan juga Nagari Ku­rai Limo Jorong yang 
walinya H. Mohammad Hadrajat mantan sekretaris kolonial tuan Spitt gubernur 
Sumatera di Medan; ke 5 jorongnya : 1. Jorong Tigo Baleh, 2. Jorong Koto 
Sala­yan, 3. Jorong Aua Birugo, 4. Jorong Guguak Panjang, 5. Jorong 
Mandiangin.


Jorong-jorong tidak ada hubungan dengan pemerintahan kota dan bela­kangan 
baru diketahui bahwa walikota A. Azwir Jennie ditangkap dan ditahan oleh 
Belanda. Masing-masing jorong berusaha mengadakan hubungan sesamanya dan 
berusaha mencari kontak dengan pihak militer di Agam Tuo Selatan (Sungai 
Pua/Kubang Putiah) dan di Agam Tuo Utara (Ka­mang Hilia/ Kamang Mudiak) 
atau be­rusaha mengadakan konsolidasi di jo­rong masing-masing dengan BPN/K 
(Ba­risan Pengawal Nagari/Kota) atau bersama pemimpin-pemimpin sipil dan 
militer yang sedang menyingkir ke pinggir kota ke Tigo Baleh dan Koto 
Selayan.


*2. Pembentukan MPRK (Markas Pertahanan Rakyat Kecamatan)*

Pada malam tanggal 15 Januari dibentuk MPRK Kurai berdasarkan instruksi 
Residen Sumatera Barat yang dibawa oleh kurir Sutan R. Moedo pegawai EMS. 
Oleh karena belum atau tidak ada jabatan Camat di pemerin­tahan Kota 
BUkittinggi, maka malam itu sekaligus diangkat N. DJ. Datoek Sampono Toeo 
dari Tigo BAleh menja­bat Camat Militer, Wakil Camat Militer A. DTK. 
Sampono Sati dari MAndiangin. MPRK diketuai oleh Camat Militer dan 
anggotanya terdiri dari pemuka-pemuka masyarakat yang bertugas untuk 
memperkokoh perta­hanan rakyat, menyiapkan dana dan perbekalan untuk para 
pejuang (geril­yawan), memberikan penerangan kepada rakyat terutama counter 
propa­ganda Belanda yang menjelekkan Republik. Sekretaris MPRK yang 
sekaligus menjadi sekretaris Camat Militer ialah Moechtar Sutan Samiak dan 
Wakil Sekretaris Letnan Nazir Kari Mangkoeto.

Dengan terbentuknya kecamatan militer dengan nama resmi Kecamatan Militer 
Istimewa Kurai/Kota Bukit­tinggi PDRI, maka wali-wali jorong yang ada 
dengan sendirinya diangkat menjadi Wali Perang. Dari 5 wali jorong yang ada 
hanya terdapat 2 saja yang masih utuh, yakni wali jorong Koto Selayan 
menjadi Wali Perang Koto Selayan yaitu Engku Munir Pakiah Sutan dan Wali 
Jorong Guguak Panjang menjadi Wali Perang Guguak Panjang, DTK Toembaliak 
Kayo, tetapi karena jorong Guguak Panjang sering dirazia dan digeledah 
setiap rumah oleh Belanda dengan maksud mencari Extrimist praktis wali 
perang ini tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan sempurna. Wali Perang 
yang 3 orang lagi diangkat belakangan.


*3. Peringatan 3 ½ Tahun Kemerdekaan RI*

Sesuai dengan instruksi PDRI di Suliki, pada tanggal 17 Februari 1949 
diadakan upacara peringatan 3 ½ tahun RI disalah satu rumag di Parit 
Antang. Upacara tersebut diselengga­rakan dengan rahasia dengan penga­walan 
para anggota BPN/K dan tentara yang kebetulan berada disekitar tempat 
upacara.

Namun lengkap dihadiri oleh jorong-jorong dan pemuka-pemuka masyarakat 
diseluruh Kurai, dipimpin oleh Camat Militer. Upacara itu rupanya diketahui 
juga oleh Belanda, karena beberapa pasukan tentara Belanda datang dari 
berbagai jurusan dan arah.

Tetapi sebelum kedatangan pasu­kan Belanda upacara sudah selesai dan para 
peserta segera berpergian atau menyingkir. Seorang anggota BPN/K dalam 
peristiwa ini tewas kena tembak, dan ini adalah korban pertama semen­jak 
terbentuknya MPRK.


*4.  Camat Militer Datoek Sampono Toeo Ditangkap Belanda*

Sekitar akhir Februari 1949 Camat Militer ditangkap Belanda, setelah 
Belanda lebih dahulu membunuh 2 orang kemenakan beliau. Wakil Camat Militer 
karena berada ditengah-tengah lingkungan pendudukan Belanda tidak dapat 
memimpin kecamatan. Sebab itu, Camat Militer dirangkap oleh sekretaris MPRK 
M. St. Samiak disamping tugasnya sebagai Koman­dan BPN/K Tigo Baleh.


*5.  Konsolidasi Pemerintahan*

Konsolidasi pemerintahan diterus­kan dengan pengangkatan Wali Pe­rang Tigo 
Baleh Sdr. Syamsu Sutan Asa Radjo, Wali Perang Aua Birugo Tuan­ku Madjo 
Indo dan Wali Perang Mandiangin Tuanku Samiak. Kantor-kantor Wali Perang 
bersifat mobil dalam kewalian masing-masing, se­dang kantor kecamatan 
bersifat mobil antara Tigo Baleh, Koto Selayan, Aua Birugodan Mandiangin 
dibagian pinggirnya. Namun markas utama kecamatan berada di Tigo Baleh 
dikampung Pabeloan dan Tabek Gadang yang terlindung dari segala arah dengan 
jalan setapaknya yang hampur tidak kentara, kemudian dite­ratak Ikua Koto 
yang berada disebuah lembah yang sekelilingnya rumpun aur dan betung 
demikian strategisnya letaknya tidak tampak dari tepi jalan raya atau rel 
kereta api dan kampung Parik Putuih. Disini juga bermarkas PMTKK (Pasukan 
Mobil Teras Kurai Kota) yang dikomandani oleh Letnan Muda Karidjiun dan 
wakil Sersan Mayor P.T Buyung Paloma. Markas Ikua Koto sampai 27 Desember 
1949.

Penasehat Wali Perang Mandi­angin adalah Noermatias (orang tua Ramlan 
Nurmatias; Wako Bukittinggi) tercatat dalam bukun DHD YS Bukit­tinggi dan 
penasehat wali perang lainnya.


*6.  Belanda Mengganas di Tigo Baleh*

Sekitar awal Maret 1949, Belanda mengganas di Tigo Baleh dan mengge­ledahi 
semua rumah. Semua laki-laki, terutama yang muda-muda ditangkapi dan 
disiksa, al. sdr. M. Dtk. S. Sati Dipotong kupingnya sebelah dan ditembak 
dadanya. Staf kecamatan praktis tidak dapat melakukan tugas­nya atau 
bekerja di Tigo Baleh serta kea­daan dijorong-jorong lainpun demikian mulai 
panas pula. Maka pejabat militer dan Wakil Sekretaris camat menyingkir.

Oleh karena pemerintahan harus tetap berjalan, maka sejak awal Maret sampai 
akhir Maret 1949, beberapa jabatan diserahkan kepada wanita. Camat militer 
diserahkan kepada nona Nurmi Salim, Sekretaris Camat Militer kepada nona 
Rosmi Salim serta Ko­mandan BPN/K Tigo Baleh diserahkan kepada nyonya 
Dasima Rais, Ia adalah seorang guru SD XIII.

Setelah mulai agak aman, pada akhir Maret 1949 jabatan-jabatan itu 
dipulihkan kembali kepada yang bersangkutan. Untuk menjaga keraha­siaan, 
maka naskah serah terima jaba­tan-jabatan tersebut ditulis dalam tulisan 
Arab, terletak diantara buku catatan pelajaran bahasa arab dari sdr. Rosmi 
Salim yang waktu itu siswi MIK. Sungguhpun wanita-wanita ini bertugas 
selama 25 hari, tetapi peristi­wa peris­tiwa ini cukup berkesan dan 
tercantum da­lam buku kenang-kenangan Deppen yang diterbitkan tahun 1950.


*7.Pengangkatan Ca­mat Militer yang Baru*

Pada awal  Ap­ril 1949 diangkat Camat Militer pengganti Camat Mili­ter yang 
ditangkap Belanda yaitu Inyik Bilal Dtk. Madjo Indo, Inspektur Polisi Satu 
waktu itu. Beliau lebih banyak berkedudukan di Kamang di samping Kol. M. 
Dahlan Djambek, KPA (Ko­man­dan Pertempuran Agam) yang se­kaligus menjabat 
Bupati Militer Agam.

Pembinaan mulai diadakan di wilayah 5 jorong, terutama mengenai pembukaan 
sekolah-sekolah dasar. Sekolah-sekolah dasar pada umumnya tidak dapat 
menempati sekolah-sekolahnya, yang pada umumnya berada di pinggir jalan 
besar yang acapkali atau sering dilewati patroli Belanda, pendidikan 
diteruskan secara darurat disurau-surau/langgar-langgar atau 
ditempat-tempat yang terpencil, kecuali hanya sebuah saja SD yang resmi 
ditempati yaitu SD XIII di Pakan Labuh  dengan kepala sekolanya Sdri. 
Baenar dan guru-guru Ny. Dasima Rais dan Sdr. Thaifur. Ketiga orang guru 
ini sudah beberapa kali dipukuli patrol Belanda karena membandel tidak mau 
menutup sekolah.


Dengan diangkatnya Camat Militer yang baru, maka sdr. Moechtar St. Sa miak 
diangkat menjadi Wakil Camat Militer dan Letnan Nazir Kari Mang koeto 
diangkat menjadi Sekre­taris Camat Militer/Sekretaris MPRK Kurai.

Dalam bulan April inilah Camat Militer Bilal Dtk. Madjo indo kepada 
perangkatnya serta kepada semua Wali Perang mengungkapkan niat dan 
membicarakannya serta bagaiamana cara melaksanakan mendirikan Tugu/Prasati 
PRDI dalam Kota Bukittinggi yang sedang diduduki/ dikuasai Belan­da ini. 
Dalam pembangunan Tugu PDRI ini hendaknya selesai pada per­tengahan 
Agustus, supaya nanti tepat saatnya tanggal 17 Agustus 1949 dapat 
diresmikan.


*8.  Wakil Camat Militer dan Sekretaris Camat Militer Ditangkap*

Pada tanggal 27 April 1949, Wakil Camat Militer dan Sekretaris Camat 
Militer ditangkap patrol tentara Belanda dalam keadaan sedang mobil 
(berpindh dari satu tempat ketempat lainnya untuk bertugas). Kedua orang 
ini dimasukkan kedalam tahanan di Bukittinggi, lalu diinternir di penjara 
Padang dan penajara Pariaman dan baru dikeluarkan pada tanggal 27 Desember 
1949.

Jabatan Wakil Camat Militer dan Sekretaris Camat Militer keduanya dirangkap 
oleh Camat Militer dan belakangan baru diserahkan kepada orang lain.


*9.  Pembangunan Tugu PDRI di Gantiang, Jorong Koto Salayan (kini Kelurahan 
Manggis Ganting Jalan Soekarno Hatta)*

Atas inisiatif Camat Militer Bilal Datoek Madjo Indo serta oemuka-pemuka 
masyarakat Kurai di Bukit­tinggi, maka menjelang peringatan hari ulang 
tahun kemerdekaan Repub­lik Indonesia ke IV, telah dibangun Tugu Peringatan 
PDRI di Bukittinggi sebagai suatu bukti bahwa Pemerin­tahan Darurat 
Republik Indonesia masih mempunyai kekuasaan di wila­yah Kota Bukittinggi. 
Pada waktu itu Belanda mendakwakan bahwa wilayah kekuasaannya meliputi 
radius 6 Km dari Jam Gadang, karena itu lebih luas dari wilayah 
Pemerintahan Kecamatan Militer Kurai Kota Bukittinggi. Tem­pat tugu 
tersebut berada ditepi jalan raya Bukittinggi dengan Payakumbuh di 
Gantiang, Koto Selayan, boleh dikatakan hanya pada jarak antara 1-1 ½ Km 
dari Jam Gadang.

Maksud para pendiri tugu waktu itu ialah supaya kawan maupun lawan 
mengetahui akan adanya eksistensi Pemerintahan Darurat Republik Indo­nesia 
didalam wilayah kekuasaan musuh waktu itu.

Seingat penulis, hanya tugu yang amat bersahaja inilah satu-satunya yang 
dibangun di dalam wilayah kekuasaan musuh kala itu yang ingin mengatakan 
kepada siapa saja : “Inilah aku, PDRI, Masih Berjaya, wala senantiasa 
diancam oleh musuh,”


Pada waktu diresmikan tugu ini tanggal 17 Agustus 1949, sesungguh­nya sudah 
berada dalam keadaan cease fire akibat Roem-Royen Statement, tetapi di 
Bukittinggi tampaknya penghentian tembak menembak itu belum berlaku.

Suatu hari akhir Mei 1949, jang­kua memarkir pedatinya ditepi jalan raya, 
sembari anaknya lebih kurang 4 tahun disuruh menunggu, kerbaunya diikatkan 
pada pedati. Dia turun ketambuo di Garegeh untuk mengum pulkan pasir guna 
pembangunan tugu yang mana tambuo dekat dengan lokasi tugu. Tidak 
diketahuinya waktu itu secara rahasia dilakukan pengg­ranatan terhadap 
konvoi Belanda dari atas bukit Garegeh. Penggranatan berhasil melumpuhkan 
bagian tengah konvoi. Gerilya menghilang kearah Talao. Ekor konvoi memutar 
haluan kembali ke Bukittinggi. Tak lama kemudian datang beberapa pantser 
dan pengangkut personel melampiaskan kemarahannya di PArit Putus pendu­duk 
laki-laki dibariskan ditepi jalan semuanya ditembak mati.

Begitupun halnya dengan Jangkua yang sedang asyik mengumpulkan pasir 
diberondong dari jalan raya, dia tewas dan kerbaunya mati. Mayatnya baru 
dapat diambil hampir dekat waktu magrib, oleh anggota-anggota BPN/K menuju 
Koto Tangah di Koto Salayan untuk dikuburkan malam itu juga.


Tugu itu dibuat sembunyi-sem­bunyi pada dini hari atau pada tengah malam. 
Apabila patroli lewat para para pekerja menyingkir dan bila ketahuan 
ditembaki dan disiksa. Pada hari peresmian tugu ini, sebelum dini hari 
diatas Bukit Mandiangin dan Bukit Campago pada pucuk batang Sampia dipasang 
bendera merah putih, untuk mengalihkan perhatian Belanda di­wak­tu upacara 
sedang berlangsung. Belanda menurunkan Sang Merah Putih tersebut dengan 
menyiramnya dengan tembakan mitralyur dari atas pantser sampai batang Ampia 
tersebut putus-putus. Saat berlangsungnya upacara, disekitarnya 
anggota-ang­gota PMT/KK dan BPNK mendakan pengawalan. Setelah upacara 
selesai peserta telag bubar mendapat rin­tangan dari Belanda. Untung saja 
tidak terjadi korban.

Atas perintah Dahlan Djambek pembangunan Tugu PDRI pertama itu dilanjutkan 
oleh Buyung Padang dengan kebau Si Bengok dan pedati membawa bahan-bahan 
bangunan dari Kamang ke lokasi tugu tersebut.


*10.  Serah Terima Pemerinta han Kecamatan dengan Bupati Agam*

Kalau tidak salah pada tanggal 21 Februari 1950, Camat Militer dengan resmi 
menyerahkan Pemerintahan Kecamtan Militer Istimewa Kurai/ Kota Bukittinggi 
kepada Bupati Agam waktu itu dijabat oleh Bupati Harun Al Rasjid. Upacara 
serah terima dihadiri oleh pemuka-pemuka masya rakat Kurai/ Kota 
Bukittinggi dan disaksikan pula oleh Walikota Bukit­tinggi BApak Eni Karim. 
Sejak itu resmi Pemerintahan di Bukittinggi yang sudah berbenah sejak 
pengakuan kedaulatan 27 Desember 1949.

Camat Militer yang menyerahkan kembali pemerintahan ialah Bilal Datoek 
Madji Indo Inspektur satu polisi negara.


*11.  Amanah Alm. Wazar Barmansyah*

Oleh para bekas pejuang dari Kurai/Bukittinggi, baik yang berada dikampung 
maupun di perantauan, diusulkan agar masyarakat c.q peme rintahan Kota 
Bukittinggi kiranya dapat memelihara tugu ini sebagai monumen sejarah dalam 
rangkaian sejarah PDRI. Bersahaja buatannya, tetapi mulia ungkapan yang 
tersembu nyi di dalamnya!

*12.  Naskah tulisan dibuat mengenang veteran pejuang Alm. Wazar 
Barmansyah. Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta. Hasil 
wawancara penulis dengan beliau yang belum dipublikasikan.*** *

 

*DRS. INDRA UTAMA. N *


On Sunday, December 18, 2016 at 2:30:13 PM UTC-8, Sjamsir Sjarif wrote:
>
> Anggota DPRD Sumbar Minta Jaksa Usut Proyek Jalan Palupuah-Koto Tinggi 
> Senin,19 Desember 2016 - 02:08:11 WIB
>
>
> *PADANG, HALUAN —* Anggota DPRD Sumbar dari Daerah Pemilihan (Dapil) III 
> (Agam-Bukittingi), Armiati meminta pihak kejaksaan turun untuk mengusut 
> pelaksanaan proyek Jalan Palupuah-Pagadih-Koto Tinggi, Kabu­paten Agam. 
> Armiati menilai, penger­jaan jalan yang menelan dana Rp4,9 miliar itu 
> berjalan tak wajar.
>
> Kepada Haluan, Minggu (18/12), Armiati menyatakan bahwa temuannya saat 
> berkunjung ke lokasi jalan ter­sebut, terlihat pengerjaan jalan se­panjang 
> 900 meter itu, ternyata yang baru rampung 100 persen hanya 400 meter. 
> Sedangkan yang 500 meter lagi baru berupa cor dasar atau awal.
>
> “Besarnya dana yang di­beri­kan untuk proyek tersebut tak seban­ding 
> dengan capaian kerja yang ada seka­rang. Mestinya yang 900 meter itu telah 
> tuntas kese­luru­han 100 persen. Nyatanya yang selesai baru 400 meter,” 
> ucap Armiati.
>
> Menurutnya agar tidak me­nim­­bulkan kecurigaan di masya­rakat, proyek ini 
> perlu diaudit. Harus ada penjelasan dan per­tangung­jawaban untuk 
> semua­nya. Jika memang ada unsur kesengajaan melam­bungkan ang­garan, 
> dirinya m­e­minta kejaksaan turun.
>
> Desakan pengusutan kejang­galan pelaksanaan proyek jalan juga disampaikan 
> masyarakat setempat, Afdal (32). Warga Pa­gadih, Agam tersebut berencana 
> mengadukan persoalan yang ada ke kejaksaan. 
>
> “Kami akan melayangkan surat ke Kejaksaan yang ditem­buskan langsung ke 
> DPRD serta Gubernur Sumbar. Pengaduan ditulis atas nama LSM Nagari 
> Kecamatan Palupuh yang lang­sung ditanda­tangani oleh ketua KAN, dan Wali 
> Nagari,” ujar Afdal.
>
> Camat Palupuh Harizon me­nga­takan, memang banyak mas­ya­rakat yang 
> mengeluh dengan kondisi yang ada sekarang. Hal itu karena jalan provinsi 
> yang ter­letak Pagadih tersebut merupakan akses warga menuju Limapuluh Kota.
>
> Dia khawatir, jika dibiarkan berlarut-larut maka akan pe­r­dampak dapak 
> buruk untuk sektor perekonomian masyarakat Palu­puh yang mayoritas adalah 
> petani.
>
> “Tak hanya itu, banyak potensi pariwisata yang terabaikan akibat 
> infrastukstur yang ada masih kurang memadai. Untuk Keca­matan Palupuah saja 
> misalnya, kita memiliki air terjun Sarasah dan taman Raflesia, namun be­lum 
> bisa dikembangkan dengan baik karena kondisi jalan yang ada belum 
> mendukung,” paparnya.
>
> Harizon berharap dengan sele­sai­nya pengerjaan perbaikan jalan provinsi 
> ini, nantinya akan ada investor yang akan menanamkan modalnya untuk 
> mengem­bang­kan potensi pariwisata. Sehingga bisa mendongkrak perekonomian 
> masyarakat.* (h/len)*
>
>
> On Sunday, December 18, 2016 at 1:43:52 PM UTC-8, Sjamsir Sjarif wrote:
>>
>> Dari Haluan kita baca: 
>>
>> GUBERNUR LEPAS MARATON 10K HBN Ribuan Orang Napak Tilas ke Tugu PDRI 
>> Senin,19 Desember 2016 - 02:10:10 WIB
>> [image: Ribuan Orang Napak Tilas ke Tugu PDRI] Gubernur Sumbar Irwan 
>> Prayitno, didampingi Sekjen Kemenhan Widodo, Minggu (18/12) melepas lomba 
>> lari Maraton Bela Negara 10K di Depan Kantor Gubernur Sumbar, Jln. Sudirman 
>> Padang. Acara ini digelar dalam rangka peringatan Hari Bela Negara, 19 
>> Desember. (HUMAS)
>>
>>
>> *PADANG, HALUAN —* Guber­nur Sumatera Barat Irwan Pra­yitno, Minggu 
>> (18/18) melepas lari marathon 10k di depan Gubernur Sumbar, Jln. Sudir­man 
>> Padang. Sedangkan di Kabupaten Limapuluh Kota, ribuan wartga akan mengikuti 
>> Napak Tilas menuju Tugu Pe­me­rintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di 
>> Koto Ting­gi.  Kegiatan ini dalam rangka peringatan Hari Bela Negara (HBN) 
>> yang jatuh setiap 19 Desember.
>>
>> Menurut Irwan, dengan lom­ba lari marathon ini masyarakat bisa menghargai 
>> keringat para pahlawan yang bisa membe­rikan kita kemerdekaan. Hari bela 
>> negara bertujuan mem­bang­kitkan semangat juang para pemuda-pemudi untuk 
>> menghargai para pahlawan de­ngan cara marathon yang di selenggarakan.
>>
>> “Lari maraton sejauh 10k ini menimbulkan rasa perjuangan yang tinggi 
>> untuk mencapai garis finish yang di depan mata,” ujarnya. Juga hadir Sekjen 
>> Menteri pertahanan republik indonesia Laksdya TNI widodo, SE, M.Sc dan 
>> Walikota Padang Mahyeldi Ansyarullah.
>>
>>
>> Sementara itu di Kabupaten Limapuluh Kota, ribuan orang dari berbagai 
>> kalangan akan berjalan kaki tengah malam mulai Minggu (18/12). Rombongan 
>> akan berjalan dari Jorong Koto Kociak, Nagari VII Koto Talago, Kecamatan 
>> Guguak mulai pukul 20.00 Wib menuju pusat PDRI di Koto Tinggi.
>>
>> Hal itu dinyatakan Yudilfan Habib dari Forum Peduli Luak Limopuluah. 
>> Wakil Ketua Pemu­da Panca Marga (PPM) Kabupaten Limapuluh Kota itu 
>> menjelaskan, pentingnya membangun kesada­ran masyarakat untuk mengingat 
>> perjuangan bela negara.
>>
>> Karena Koto Tinggi adalah satu tempat yang menyuarakan tentang keberadaan 
>> PDRI pada 19 Desember 1948. “Karena itu kita dari PPM mengadakan napak 
>> tilas untuk mengikuti jejak pejuang PDRI dari Koto Kaciak ke Koto Tinggi,” 
>> jelas Habib.
>>
>> Diterangkannya, napak tilas itu menelusuri jejak pahlawan dengan jalan 
>> kaki sejauh lebih kurang tiga puluh kilometer. “Anggota TNI, Ormas serta 
>> anak-anak, cucu keturunan dari pe­juang kemerdekaan RI ambil bagian dalam 
>> hal ini,”ucapnya lagi.
>>
>>
>> Ketua PPM Kabupaten Lima­puluh Kota, Safaruddin Dt Ban­daro 
>> mengungkapkan, napak tilas me­ru­pa­kan rangkaian peringatan Hari Bela 
>> Negara di Limapuluh Kota. Napak tilas yang diadakan PPM disupport penuh 
>> oleh Sekre­taris Yayasan Peduli Perjuangan PDRI, Ferizal Ridwan.
>>
>> Wakil Bupati Limapuluh Kota itu, mendukung upaya PPM dalam mengenang 
>> sejarah penting per­jua­ngan pahlawan terhadap ke­mer­dekaan RI. Sementara 
>> Ketua Panitia napak tilas PDRI Davit Arisandi melaporkan untuk pe­serta 
>> napak tilas mencapai seribu lebih.
>>
>> Tak hanya dari Kabupaten Lima­puluh Kota, juga dari ber­bagai daerah di 
>> Sumbar serta provinsi tetangga. “Ribuan pe­serta ambil bagian dalam napak 
>> tilas ini. Star dari Koto Kociang, menuju Suliki dan finis di Koto Tinggi. 
>> Di­per­kirakan Senin su­buh peserta sudah sampai di Koto Tinggi dan paginya 
>> langsung upacara Hari Bela Negara,” terang Davit. *(h/ddg/ald)*
>>
>> On Wednesday, December 14, 2016 at 8:21:41 PM UTC-8, Maturidi Donsan 
>> wrote:
>>>
>>> Kewajiban bagi bangsa Indonesia  memperingatinya terutama bagi kita 
>>> orang SUMBAR
>>>
>>> PDRI adalah penyambung nyawa RI.
>>>
>>>
>>>
>>> Maturidi
>>>
>>> Pada 14 Desember 2016 06.35, Sjamsir Sjarif <[email protected]> 
>>> menulis:
>>>
>>>>
>>>> *Jokowi Dijadwalkan Jadi Irup HBN*
>>>>
>>>>
>>>> Selasa,13 Desember 2016 - 02:16:53 wib | Dibaca: *397* kali 
>>>>
>>>>
>>>> *PADANG, HA­LUAN *— Pre­si­den Joko Wi­do­do di­jad­wal­kan menjadi 
>>>> ins­pek­tur upa­cara (Ir­up)  Peringatan Hari Bela Ne­gara (HBN) yang 
>>>> di­pu­satkan di lapangan Imam Bonjol, Kota Padang,  19 Desember 2017 
>>>> mendatang. Kehadiran Presiden RI ke­tujuh di HBN ini diharapkan bisa 
>>>> mempercepat ke­lanju­tan pembangunan mo­nu­ment Bela Negara yang saat ini 
>>>> sedang terlantar di Koto Tinggi, Kabupaten Lima­puluh Kota.
>>>>
>>>>
>>>> “Jika tidak ada alang me­lintang, pelaksanaan upa­ca­ra Hari Bela 
>>>> Negara di Lapangan Imam Bonjol, Padang akan dipimpin oleh Presiden 
>>>> Jo­kowi. 
>>>> Ini pertama kalinya HBN dilaksanakan di tanah kela­hiran PDRI,” kata Ketua 
>>>> DHD 45 Sumbar, Zulwadi Dt. Ba­gindo Kali kepada *Haluan*, Jumat (9/12) 
>>>> lalu.
>>>>
>>>> Informasi Presiden Joko Wi­dodo yang akan menjadi Ins­pe­k­tur Upacara 
>>>> dalam peringatan Hari Bela Negara nanti didapat dari hasil rapat persiapan 
>>>> peringatan HBN di Kantor Gubernur, Kamis (8/12). Kabar ini disambut 
>>>> gem­bira oleh seluruh lembaga pejuang yang ada di Sumatera Barat karena 
>>>> memperkuat pengakuan negara terhadap PDRI dan peluang untuk melanjutkan 
>>>> pembangunan Mo­nu­men Bela Negara yang sedang terbengkalai.  
>>>>
>>>> “Seluruh pejuang yang masih hidup sangat senang dengan informasi ini. 
>>>> Bukti bahwa PDRI semakin diakui oleh negara dan menjadi peluang untuk 
>>>> me­lan­jut­kan monument Bela Negara. Se­moga apa yang telah di­rencanakan 
>>>> berjalan dengan baik sampai hari H,” kata Zulwadi.
>>>>
>>>>
>>>> Sebelumnya, pengakuan ne­gara terhadap PDRI hanya dinya­ta­kan dalam 
>>>> Kepres No 28 tahun 2006 dengan menetapkan hari lahir PDRI tanggal 19 
>>>> Desember sebagai Hari Bela Negara. Kendati presiden ke 6, Susilo Bambang 
>>>> Yudhoyono (SBY)menetapkan HBN sejak tanggal 2006, pe­ringa­tan HBN secara 
>>>> nasional baru terlaksana pada 19 Desember 2014 di Jakarta.
>>>>
>>>>
>>>> Namun, dalam agenda Pre­siden Jokowi di Sumatera Barat pada peringatan 
>>>> HBN, tidak ada kunjungan ke Monumen Bela Negara. DHD 45 Sumbar be­ren­cana 
>>>> mendesak protokoler untuk menjadwalkan peninjauan Mo­numen Bela Negara di 
>>>> Koto Ting­gi, Kabupaten 50 Kota.
>>>>
>>>> “Jelang tanggal 19 Desember, kami mencoba berkomunikasi dengan protokol 
>>>> untuk men­jad­walkan presiden Jokowi ke Mo­nu­men Bela Negara di Koto 
>>>> Ting­gi, Kabupaten 50 Kota. Pem­bangu­nan monument ini terhenti karena 
>>>> tidak ada biaya setelah dibuka oleh mantan Presiden SBY tahun 2014,” 
>>>> katanya.
>>>>
>>>> Ia juga mengatakan selama pembangunan monument ter­henti, masyarakat di 
>>>> lokasi basis perjuangan PDRI serta veteran Sumbar kecewa. Mereka merasa 
>>>> pemerintah tidak menghargai perjuangan berat dan kesetiaan PDRI untuk 
>>>> menyambung nyawa republik ini.
>>>>
>>>>
>>>> “Jika Jokowi bisa meninjau ke lokasi monumen, kekecewaan itu bisa 
>>>> sedikit terobati,” katanya.
>>>>
>>>> Wakil Bupati Kabupaten 50 Kota, Ferizal Ridwal mengatakan dirinya telah 
>>>> menulis surat kepada Presiden Jokowi untuk me­nurun­kan biaya kelanjutan 
>>>> pem­bangu­nan monumen. Dengan mo­men­tum ini, sangat diharapkan orang no 1 
>>>> di Indonesia ini bisa me­ninjau langsung ke lokasi monumen.
>>>>
>>>> “Harapan masyarakat Kabu­paten 50 Kota, Presiden Jokowi datang meninjau 
>>>> langsung ke lokasi monumen. Soalnya, di sini PDRI dilahirkan dan banyak 
>>>> pribumi yang berjuang. Semoga presiden terketuk hatinya untuk mengucurkan 
>>>> dana,” kata Ferizal. (*h/mg-ang*)
>>>>
>>>>
>>>> On Tuesday, December 13, 2016 at 3:25:21 PM UTC-8, Sjamsir Sjarif wrote:
>>>>>
>>>>> Rencana Peringatan Hari Bela Negara di Limapuluh Kota, Kementerian 
>>>>> Pertahanan RI Akan Undang Jokowi 
>>>>> 09 August 2016
>>>>>
>>>>> Wakil Bupati Ferizal Ridwan (kanan) tengah berdiskusi dengan Direktur 
>>>>> Bela Negara Ditjen Pothan Kementerian Pertahanan RI, Laksamana Pertama 
>>>>> TNI 
>>>>> M Faisal (tengah) di Kantor Kementerian Pertahanan RI, Jakarta Pusat, 
>>>>> beberapa waktu lalu
>>>>>
>>>>> *Gerak-an.com, Limapuluh Kota *— Kementrian Pertahanan RI memastikan 
>>>>> diri bakal terlibat menyiapkan berbagai agenda kegiatan dalam rangka 
>>>>> peringatan Hari Bela Negara (HBN) di Kabupaten Limapuluh Kota, 19 
>>>>> Desember 
>>>>> mendatang. Menurut wacana, kegiatan HBN 2016 di Limapuluh Kota bakal 
>>>>> dipusatkan di GOR Singa Harau, Nagari Sarilamak, Kecamatan Harau.
>>>>>
>>>>> Hal ini diungkapkan Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan, 
>>>>> ketika melakukan diskusi terbatas bersama Bagian Humas Setkab di Kantor 
>>>>> Bupati setempat, Selasa (9/8). Ferizal menyebut, pada peringatan HBN di 
>>>>> Limapuluh Kota, Kementerian Pertahanan bakal memboyong Presiden RI, Joko 
>>>>> Widodo.
>>>>>
>>>>> “Saya beberapa waktu lalu sudah konsultasi dengan Direktur Bela Negara 
>>>>> Ditjen Pothan, Kementrian Pertahanan RI, Bapak Laksamana Pertama TNI M 
>>>>> Faisal di Jakarta. Beliau menyanggupi, untuk terlibat langsung dalam 
>>>>> persiapan serta penyelenggaraan HBN di Limapuluh Kota,” sebut Wabup 
>>>>> Ferizal 
>>>>> Ridwan.
>>>>>
>>>>> Direktur Bela Negara, Laksamana Pertama TNI M Faisal, dikatakan 
>>>>> Ferizal, juga berjanji akan mengupayakan kedatangan Presiden Jokowi ke 
>>>>> Limapuluh Kota. Oleh sebab itu, Kemenhan meminta kepada pemerintah daerah 
>>>>> Provinsi Sumatera Barat maupun Kabupaten Limapuluh Kota, bisa segera 
>>>>> mempersiapkan baik skedul, tempat, maupun anggaran kegiatannya.
>>>>>
>>>>>
>>>>> Selain membicarakan persiapan kegiatan HBN dengan Kemhan, Pemkab 
>>>>> Limapuluh Kota, lanjutnya, juga sudah menyiapkan bermacam agenda, mulai 
>>>>> dari upacara gabungan/apel nasional, atraksi Bela Negara dan pameran di 
>>>>> GOR 
>>>>> Singa Harau. Kemudian juga ziarah ke makam pahlawan PDRI di Lurah Kincia, 
>>>>> Situjuahbatua, hingga kunjungan ke Monumen Nasional PDRI di Koto Tinggi, 
>>>>> Gunuang Omeh.
>>>>>
>>>>> Sebanyak 15.000 satuan khusus, forum relawan, serta generasi muda bela 
>>>>> negara, akan terlibat dalam kegiatan ini. Satuan ini terdiri dari unsur 
>>>>> TNI/Polri, Karang Taruna hingga OKP. Ferizal mengharapkan, jika agenda 
>>>>> HBN 
>>>>> di Limapuluh Kota mendapat perhatian pusat, maka daerah basis perjuangan 
>>>>> PDRI, kelak akan diperhatikan dari segi pembangunan.
>>>>>
>>>>> “Setidaknya, kita nanti bisa pula menagih dan menuntut kompensasi 
>>>>> terkait pembangunan di daerah-daerah basis PDRI. Sebab, bagaimana pun, 
>>>>> Limapuluh Kota serta beberapa daerah lain di Sumbar termasuk daerah basis 
>>>>> perjuangan, basis pertahanan serta mata rantai berdirinya negara 
>>>>> Indonesia. 
>>>>> Ini harus kita manfaatkan, agar cita-cita para pahlawan dari daerah ini 
>>>>> bisa terwujud,” sebutnya. (rep)
>>>>>
>>>>>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke