Limapuluh Kota darurat bencana banjir-longsor tujuh hari
Sabtu, 4 Maret 2017 10:51 WIB - 3.800 Views

Pewarta: Miko Elfisha


 
Limapuluh Kota darurat bencana banjir-longsor tujuh hari
Sejumlah warga melintas di samping material longsor di daerah Koto Alam, 
Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat, Jumat 
(3/3/2017). Data sementara dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatera 
Barat, sebanyak 8 kendaraan roda empat tertimbun longsor, tiga orang meninggal 
dunia, 8 orang selamat dan satu masih dalam pencarian, akibatnya jalan 
Sumbar-Riau putus total. (ANTARA/Muhammad Arif)

Sarilamak, Sumbar (ANTARA News) - Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera 
Barat (Sumbar), menetapkan daerah tersebut dalam kondisi darurat bencana banjir 
dan longsor selama tujuh hari ke depan.

"Mulai saat ini, kita tetapkan darurat bencana untuk tujuh hari ke depan," kata 
Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi seusai rapat koordinasi antara Badan 
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, Taruna Siaga Bencana 
(Tagana), DPRD, dan instansi terkait di eks kantor bupati yang berada di Kota 
Payakumbuh, Sabtu pagi

Ia mengatakan status tersebut ditetapkan karena melihat dampak bencana banjir 
dan longsor yang melanda daerah itu sehingga banyak infrastruktur yang rusak, 
area pertanian rusak, dan banyak warga yang merasakan dampaknya secara langsung.

Menurutnya, tim penanganan bencana yang terdiri atas Basarnas, Dinas Sosial, 
PMI, Tim Kesehatan, TNI, Polri dan berbagai ormas lainnya telah melakukan 
penanganan hingga sebelum tanggap darurat ditetapkan.

Bupati juga akan melakukan rapat dengan semua instasi terkait untuk mendapatkan 
langkah-langkah penangannya bencana tersebut, termasuk tindakan untuk 
mengevakuasi masyarakat, serta penyedian logistik.

Ia meminta semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) setempat untuk berperan 
aktif dalam menangani bencana banjir dan longsor itu.

"Kepada BPBD, Basarnas, Tagana mengambil langkah untuk penyelamatan masyarakat 
dari banjir, Dinas Sosial menyuplai makanan dan logistik, serta Dinas Kesehatan 
menyediakan obat-obatan sehingga tidak banyak masyarakat yang sakit. Untuk OPD 
lainnya untuk berperan aktif dalam musibah ini," kata Bupati.

Berdasarkan data yang dihimpun di BPBD setempat, banjir dan longsor terjadi di 
23 titik, dari 23 lokasi tersebut, 13 titik longsor dan 10 lokasi banjir.

Dari 13 titik longsor, tujuh di antaranya terjadi di Nagari Koto Alam dan satu 
titik di Sibunbun Nagari Tanjung Balik, Kecamatan Pangkalan Koto Baru. Selain 
itu, tiga titik di Nagari Maek, Kecamatan Bukit Barisan, dua titik sebelum 
Kelok Sebilan, tepatnya di Air Putiah, Kecamatan Harau.

Banjir melanda 10 lokasi, di antaranya Nagari Sopang, Pangkalan, dan Gunuang 
Malintang, Kecamatan Pangkalan Koto Baru.

Selain itu, di Kecamatan Kapur IX, Nagari Limbanang Baruah, Kecamatan Suliki, 
Nagari Mungka, Kecamatan Mungka, dan Nagari Subarang air, Balai Panjang, dan 
Bukik Sikumpa, Kecamatan Lareh Sago Halaban.

Pemkab sudah menurunkan alat berat untuk menyingkirkan material longsor 
sehingga badan jalan yang tertimbun meterial dapat dilalui. Jalan tersebut 
sebagai akses masyarakat ke Pangkalan.

Ketua DPRD Kabupaten Limapuluh Kota Safaruddin menyarankan agar penanganan 
bencana tersebut dilakukan dalam satu komando sehingga memudahkan mengambil 
langkah penanganan ke depannya.

Selain itu, ditunjuk koodinasi di masing-masing kecamatan, hal itu mengingat 
lokasi bencana bukan hanya satu atau dua titik, melainkan banyak lokasi.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sumbar Pagar Negara meminta bantuan 
pada BPBD Kabupaten Kampar untuk penanggulangan banjir dan longsor di Kecamatan 
Pangkalan Koto Baru.

"Kita sudah berusaha untuk masuk ke daerah bencana, tetapi terhambat oleh 
beberapa titik longsor. Terpaksa kita minta bantuan BPBD Kampar yang 
kemungkinan memiliki akses lebih baik ke daerah bencana," kata dia.

Ia mengatakan sekarang BPBD bersama pihak terkait sedang berupaya menyingkirkan 
material longsor menggunakan alat berat agar bisa masuk ke lokasi banjir untuk 
membantu masyarakat.
Editor: Fitri Supratiwi

COPYRIGHT © ANTARA 2017

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke