Assalamu'alaikum wr.wb.

https://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=20095&type=4

Sebelum kebijakan *One Belt One Road* (OBOR)-nya XI Jinping terbit, tak
boleh dielak, embrionya adalah *String of Pearls*, yaitu strategi China
guna mengamankan jalur ekspor-impornya terutama suplai energi (*energy
security*) dari negara dan/atau kawasan asal hingga ke kawasan tujuan.
Target jalur yang diincar ialah bentangan perairan dari pesisir Laut Cina
Selatan, Selat Malaka, melintas Samudera Hindia, Laut Arab, Teluk Persia,
dan lainnya sehingga bila dibaca dalam peta, terlihat seperti untaian
mutiara atau gambar kalung (*Pearls*).

Strategi ini, selain mempunyai konsekuensi dibutuhkan militer modern yang
progresif, juga membutuhkan akses lapangan terbang dan pelabuhan-pelabuhan
laut sebagai penyangga. Dan sudah barang tentu, kelak infrastruktur ini
bisa dijadikan fasilitas militer memadai.

Ada beberapa pelabuhan yang telah berdiri seperti di Pulau Hainan misalnya;
atau landasan terbang darurat di Pulau Woody, di Kepulauan Paracel,
kontainer fasilitas pengiriman di Chittagong, Bangladesh; pembangunan
pelabuhan di Sittwe, Myanmar; pembangunan basis angkatan laut di Gwadar,
Pakistan; pipa melalui Islamabad dan Karakoram Highway ke Kashgar di
Xinjiang; fasilitas pengumpulan intelijen di pulau-pulau di Teluk Benggala
dekat Selat Malaka dan pelabuhan Hambantota di Sri Lanka, dan lain-lain.

Hambatan utama dalam implementasi *String of Pearls* kemarin adalah
bercokolnya kapal-kapal perang AS dan sekutu (Armada ke 7 Amerika) di
Singapura. Artinya, jika kelak terjadi friksi terbuka antara Amerika versus
China sesuai ramalan Samuel P Huntington dalam buku *The Clash of
Civilizations and the Remaking of World Order* (Benturan Antarperadaban dan
Masa Depan Politik Dunia), maka bakal terjadi hambatan besar bagi hilir
mudik kapal-kapal China di Selat Malaka.

Menghadapi kendala tersebut, Xi Jinping melahirkan OBOR sebagai
penyempurnaan *String of Pearls*. Dan tak boleh disangkal, bahwa salah satu
cabang OBOR-nya Xi ---tak ada jalan lain--- adalah melintas di selat-selat
dan perairan Indonesia. Kenapa? Bila Selat Malaka diblokade oleh Amerika
kelak, maka alternatif jalur paling singkat menuju Samudera Hindia, Laut
Arab, dan lain-lain ---guna mengamankan jalur suplai energi--- sesuai
rute *String
of Pearls* dulu adalah Selat Sunda, atau Selat Lombok dan lainnya.

Mungkin inilah jawaban sementara, kenapa China sangat bernafsu membangun
berbagai infrastruktur baik pelabuhan laut maupun bandara udara di republik
tercinta ini, karena selain alasan ekonomi --- betapa Indonesia merupakan
lintasan *Sealane of Communications* (SLOCs) yakni jalur perdagangan dunia
yang tak pernah sepi akibat posisi silang di antara dua benua dan dua
samudera, juga kemungkinan besar akan digunakan sebagai fasilitas militer
jika kelak meletus friksi terbuka dengan Amerika sesuai prediksi Huntington.

Salam

Reza



2017-05-17 17:38 GMT+07:00 Fashridjal M. Noor <[email protected]>:

> Nampaknyo dari muncuang harimau jatuah ka muncuang buayo
>
> *Dahsyatnya Penguasaan China di Timor Leste dari Ekonomi hingga Militer,
> Akankah Indonesia Seperti itu?*
>
> By admin -
>
> July 15, 2016
>
> Lingkarannews.com Jakarta- Indonesia harus belajar tentang Timor Leste,
> bagaimana China berhasil menguasai sendi sendi ekonomi negara Timor Leste
> dengan cepat, berawal alasan pembangunan infrastruktur dan pemberian utang
>
> Kini di Timor Leste sangat mudah ditemukan pendatang asal China, yang
> masih memakai bahasa China; mereka adalah Tenaga Kerja yang dipekerjakan
> pembangunan pembangunan infrstruktur seperti jalan dan jembatan
>
> Hal ini terjadi, karena dulunya Beijing telah memberikan jutaan dolar AS
> untuk membangun istana kepresiden baru, kantor kementerian luar negeri, dan
> markas besar militer Timor Leste.
>
> Ketiga bangunan itu adalah struktur bangunan baru yang paling impresif di
> Dili, dan membuat Australia berkerut keningnya, apalagi negeri satu ini
> menganggap Timor Leste ada dalam jangkauan pengaruhnya.
>
> Dari hubungan antara kedua negara (Timor Leste dan China) tersebut,
> pemerintah China berhasil memasukkan ratusan ribu warganya untuk
> dipekerjakan pada proyek proyek yang dijalankan oleh perusahaan China
>
> Sekarang setiap sudut kota Dili, toko toko besar bahkan rumah makan cepat
> saji seperti MacDonald ataupun KFC pemilik dan pekerjanya adalah orang China
>
> Initinya kini yang menjadi ‘pembangun’ sektor ekonomi di Timor Leste
> adalah orang atau pendatang asal China
>
> Dan yang utama, setelah Pemerintah China ‘menguasai’ perekonomian Timor
> Leste maka yang dikuasai selanjutnya adalah kepentingan Militernya
>
> Banyak yang tidak tahu, Timor Leste adalah tempat Radar utama kapal dan
> pesawat milik China serta sedang dalam rencana untuk pembangunan pangkalan
> militer disalah satu wilayah Timor Leste
>
> Perihal Pangkalan Milter tersebut diketahui, ketika angkatan Laut Amerika
> sedang memberikan bantuan pencarian pesawat malayasia airline MH37 di
> samudera Hindia, ketika melintasi wilayah Timor, ada otoritas militer China
> meminta konfirmasi keberadaan
>
> Melihat hal tersebut, apakah Indonesia mau dijadikan Timor Leste ke-dua,
> dikuasi oleh China dengan berbagai cara salah satunya melalui utang dan
> dengan alasan pembangunan infrastruktur
>
> Karena kini sudah ada bukti contohnya, yaitu Timor Leste
>
> (Adityawarman @aditnamasaya)
>
> http://lingkarannews.com/dahsyatnya-penguasaan-china-
> di-timor-leste-dari-ekonomi-hingga-militer-akankah-indonesia-seperti-itu/
>
> On May 17, 2017 17:01, "muhammad syahreza" <[email protected]>
> wrote:
>
>> Assalamu'alaikum wr.wb.
>>
>>
>> Daripado lapau langang taruih, mungkin sakali-sakali paralu kito ramian
>> baliak jo carito lamo...
>> https://suciptoardi.wordpress.com/2017/04/26/keluarga-cendan
>> a-tidak-ingin-kehilangan-timor-leste/
>>
>> Rezim Orde Baru selalu menggunakan slogan ” demi persatuan dan kesatuan
>> bangsa ” untuk melegitimasi penjajahan atas Timor Leste. Tanpa kita sadari
>> yang sebenarnya adalah ” demi kepentingan ekonomi keluarga Suharto ” maka
>> Timor Leste harus tetap menjadi bagian dari Indonesia. Begitu banyak
>> tentara Indonesia yang mati di sana semuanya hanya demi kepentingan ekonomi
>> keluarga Suharto, begitu pula banyak tokoh pro demokrasi Indonesia yang
>> membela bahwa Timor Leste harus menjadi bagian dari Indonesia, mereka juga
>> telah ikut mendukung bisnis keluarga Suharto.
>>
>> Berikut ini fakta tentang kepentingan ekonomi keluarga Cendana yang
>> membuat mereka tidak ingin kehilangan bumi timor loro sae. Pertama, Putri
>> kesayangan Suharto yaitu Siti Hardiyanti Rukmana menguasai monopoli kopi di
>> Dili dibawah perusahaannya PT Citra Inskopindo Persada, dalam paruh akhir
>> tahun lalu perusahaan itu sanggup memproduksi 1,2 ton kopi instant.
>>
>> Kedua, Putera puteri Suharto dan kerabatnya juga telah menjadikan bumi
>> Timor Leste sebagai lahan bisnis yang menguntungkan. Tutut dan adiknya
>> Tommy telah berencana membuka lahan perkebunan tebu seluas 25000 hektar
>> dari Betano di Manufahi sampai Iliomar di Viqueque. Probosutejo juga sudah
>> tergiur dengan kesuksesan keponakannya sehingga ingin membuka perkebunan
>> kopi juga di Timor Leste. Puteri Sulung Suharto masih belum puas dengan
>> monopoli kopinya telah berencana untuk membuka pabrik semen di Timor Timur.
>> Joint Venture Tutut dengan Abilio Araujo ( tokoh Fretilin yang menyebrang
>> ke Orde Baru ) dinamakan PT Semen Timor Loro Sae dan dana yang akan
>> ditanamkan sebesar 512,8 juta US dolar. Konglomerat yang juga ingin
>> berpartisipasi dalam bisnis semen ini adalah Sudwikatmono, saudara angkat
>> Suharto melalui Djajanti Groupnya yang membawahi PT Dinamika Semen Tidak
>> ketinggalan pula teman main golf Suharto yaitu Bob Hasan melalui PT Fendi
>> Hutani Lestari, telah berencana untuk membuka perkebunan seluas 50.000
>> hektar yang akan menggusur 11 desa di Viqueque. Nyonya Prabowo Subianto
>> atau lebih dikenal dengan Titiek Prabowo juga meneguk keuntungan dari
>> bisnis di Timor Loro Sae melalui Maharani Group dan Texmaco group kepunyaan
>> dia yang berjoint venture dengan Dilitex factory kepunyaan saudara ipar
>> Gubernur Abilio Soares.
>>
>> Ketiga, Sempati Airlines milik Tommy dan Sigit telah mendominasi rute
>> Jakarta, Surabaya, Denpasar, Dili. Komnas Ham dan utusan luar negri yang
>> ingin berkunjung ke Dili untuk melakukan pencarian fakta tidak bisa
>> berangkat dengan Garuda ataupun Merpati, jadi mereka terpaksa harus memakai
>> Sempati yang berarti semakin mempertebal kantong Tommy.
>>
>> Keempat , keluarga Suharto selama dua puluh tahun terakhir telah menumpuk
>> kekayaan dari rejeki minyak bumi, dan lima tahun terakhir mereka mendapat
>> curahan rejeki baru melalui minyak di celah Timor. Gatari Air Service
>> perusahaan milik Tommy dan Sigit telah berencana untuk menyewakan pesawat
>> dan helikopter kepada perusahaan minyak yang akan beroperasi di celah Timor
>> . Humpus Petrogas kepunyaan Tommy juga telah bekerjasama dengan Aker
>> Maritime dari Norwegia untuk beroperasi di celah Timor. Belum lama
>> berseleng kita mendengar juga bahwa 42 juta US dolar akan ditanamkan untuk
>> mengembangkan kilang minyak di daerah Kakatua Utara di celah Timor. Proyek
>> ini adalah joint Venture antara Australia dengan Indonesia. Partner dari
>> Australia itu adalah BHP Petroleum, Santos, Inpex Sahul dan Petroz. Seperti
>> kita ketahui BHP adalah sebuah perusahaan raksasa di Australia yang cukup
>> dekat dengan Krakatau Steel yang dikontrol oleh Tutut dan Salim group
>> kepunyaan Sudono Salim teman lama Suharto.
>>
>> Kita sudah melihat bagaimana besarnya keterlibatan bisnis keluarga
>> Suharto di bumi Timor Loro Sae. Jadi hendaknya ini semakin membuka mata
>> bagi kelompok pro demokrasi ataupun orang Indonesia lainnya bahwa ketika
>> kalian mendukung integrasi Timor Timur tanpa kalian sadari kalian juga
>> telah memperkaya Suharto.
>>
>>
>> Salam
>>
>>
>> Reza
>>
>> --
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
>> * DILARANG:
>> 1. Email besar dari 200KB;
>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>> 3. Email One Liner.
>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
>> mengirimkan biodata!
>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>> ---
>> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
>> Grup.
>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>> kirim email ke [email protected].
>> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
> Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke