Pandangan Ayip Rosidi terhadap tokoh-tokoh sejarah (sebagian berperan saat PRRI)
  (Luhak bapangulu, rantau barajo)
  Dikutip dari sk. Jakarta tg. 2 Juni 2008-06-03 (resensi buku: Yang Datang 
Telanjang)
  Selain  Syafruddin, tokoh yang memesona Ajip adalah Natsir, M Roem, dan Ali 
Sadikin. Semen­tara Soekarno, Nasution, dan Soeharto hanya pantas dicerca, 
dikutuk, dan malahan dirajam (dikubur setengah badan lalu dilempar sehingga 
tersiksa sampai mati, di barat dengan hukuman penggal kepala/guilontine). 
  Dalam suratnya kepada Arifin C Noer, 17 Februari 1984, Ajip mengatakan, 
walaupun memba­ca gagasan-gagasan tentang de­mokrasi, Soekarno tetaplah 
se­orang Jawa yang menyerap ni­lai-nilai masyarakat Jawa tentang raja 
dan negara sehingga ketika kemudian dia menjadi presiden dan memegang 
keku­asaan, maka sadar atau tidak sa­dar dia ingin menghayati kehidupan 
seorang Raja Jawa.
  "Kau akan tertawa terping­kal-pingkal atau menangis de­ngan sedih 
kalau mendengar bahwa pada tahun 1963, ketika Ratna Sari Dewi pulang ke 
Je­pang karena marah (purik), Soe­karno mengirimkan 
menteri-­menteri, bahkan perdana men­teri, untuk membujuknya agar 
kembali ke Indonesia! Dapat kau bayangkan hal itu terjadi di za­man modern 
ini, kalau presiden­nya tidak merasa dirinya sebagai Raja Majapahit atau 
Mataram?" tulisnya menyindir.
  Adapun sikapnya (Ayip Rosidi) mengenai Nasution terbaca dalam Surat kepada AQ 
Djaelani, 19 Desem­ber 1998. 
   
  Dia menuduh ABRI adalah "biang keladi segala ma­lapetaka yang terjadi di 
Indo­nesia, yaitu setelah diberi lan­dasan 'dwifungsi' oleh AH 
Na­sution yang sebelumnya telah mendesak pemerintahan Djuan­da (1958) 
agar mengusulkan ke­pada Konstituante, yang sedang bersidang, supaya 
menyetujui gagasannya 'kembali ke UUD 1945'." 
  Walau usul itu ditolak, menurut Ajip, Nasution lah yang mendesak Soekarno 
untuk "kembali ke UUD 1945" melalui Dekrit Presiden dan membubar­kan 
Konstituante dengan alasan gagal menyusun undang­undang.
   
  Syafruddin Prawiranegara, Gu­bernur Bank Indonesia ini, yang meninggalkan 
kedudukannya yang terhormat dan memilih membelot terhadap pernerintah sah untuk 
memimpin Pemerin­tah Revolusioner Republik In­donesia tahun 1958, di 
mata Ajip merupakan manusia paripurna yang selayaknya memimpin bangsa ini. 
   
     
  Karakter tokoh pujaan Ajip itu hanya muncul sekilas dalam suratnya tertanggal 
24 Februari 986, yang ditujukan kepada pe­yair terkemuka Lekra, Agam Wispi, 
yang hidup terasing di Belanda. 
  Membaca tulisan-tuli­an dan mengikuti sepak terjang Syafruddin di bidang 
politik, tokoh idolanya itu menyadarkan Ayip tentang "pentingnya cita-ci­ta 
dalam hidup". 
   
  Ajip sempat punya angan-angan platonis me­genai pujaannya itu. Katanya 
kepada Wispi: "Kalau saja Syafruddin tidak terlibat dalam kegiatan politik 
praktis, dia se­benarnya mempunyai potensi yang besar untuk menjadi seorang 
pemikir yang mendalam dan tajam."
   
  Untuk pandangan yang serupa silakan klik palanta di: 
   
  http://www.nagari.or.id/?moda=palanta&no=73 atau 
http://www.nagari.org/palanta.php?no=73
   
  Abraham Ilyas 63 th. Lk.
  webmaster: nagari.org & nagari.or.id



jamaludin mohyiddin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:              Angku angku yang 
hambo hormati,

Pendekatan multi-disciplinary atau multi-dimensional adalah satu cara yang 
bagus dalam menceritakan PRRI. Salah satu nya apa yang di usulkan oleh MakNgah. 
Tuliskan pengelaman pengelaman, kesah kesah peribadi yang berunsurkan 
pendukungan, pelanggaran atau penyalahgunaan HAM rakyat biasa. Di zaman dahulu 
kala, sejarah di Alam Melayu lazimmya menceritakan kesah istana atau disebut 
bangsawan. Sejarah ini umumnya sejarah bangsawan. Penulisan sejarah dikala ini 
tidak berghairah menceritakan hal atau gulongan rakyat biasa. Peristiwa PRRI 
bukannya cerita atau sejarah orang atasan, juga berbicara sejarah rakyat biasa. 
Ianya cerita rakyat. PRRI bukan hanya sejarah ide atau penafsiran kepada 
sesuatu. 

Untuk berlaku adil terhadap peristiwa PRRI dan meletakkan historical 
perspective yang benara benar berimbang dan adil dalam penulisan dan 
pensejarahan PRRI dan dalam usaha mencari i'tibar dan pendidikan kepada 
generasi mendatang, pendekatan multi-disciplinary ini akan banyak membantuan. 
Penulisan atau pensejarahan PRRI memerlukan sumber keshahihan penceritaan.  
Oleh kerana para cerdik pandai Minang sudah terbiasa dengan disiplin ilmu 
periwayatan hadiths dimana keshahihan meriwayatkan sebuah hadiths di jadikan 
inti menshahihkan sebuah hadiths dan meletakkan tapak ilmiyyah sebuah hadiths, 
maka kita tidak ragu ragu keilmiyyahan dan keshahihan pensejarahan PRRI. Mudah 
mudahan projek penulisan sejarah PRRI ini berjalan lancar. Ianya akan menjadi 
bahan rujukan dan i'tibar yang amat berguna sekali bagi generasi sekarang dan 
mendatang. 

--- On Sun, 6/8/08, hambociek <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  From: hambociek <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] Ulasan- sejarah PRRI
To: [email protected]
Date: Sunday, June 8, 2008, 1:16 AM


Angku Abraham Ilyas,

Yang penting lagi dikumpulkan bukan cerita-cerita dari apa yang 
dinamakan "pelaku" itu tetapi cerita-cerita pengalaman penduduk 
kampuang biasa mengenai apa yang mereka alami waktu perang saudara 
itu. Data seperti itu penting dalam penggalian sejarah di masa depan.

Contoh satu cerita misalnya di Lapau ini dengan Posting "Lentera" 
dari Angku Lembang, salah satu contoh.  Ratusan kalau tidak ribuan 
cerita-cerita pribadi mungkin dapat dikumpulkan. Antara lain-lain 
misalnya bagaimana pengalaman ibu-ibu di kampuang yang 
dikonsentrasikan di kamp-kamp atau "boks" setiap malam di luar 
kemauan

   mereka.

Salam,
--MakNgah


--- In [EMAIL PROTECTED], Datuk Endang <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Pak Abraham yang ambo hormati.
> Apa yang bapak sampaikan mudah-mudahan sebenarnya banyak 
memberikan retrospeksi terhadap makna perjuangan ...
> Wassalam,
> -datuk endang
> 
> 
> --- On Mon, 5/19/08, Abraham Ilyas [EMAIL PROTECTED] wrote:
> 
> > 
> > Untuk kisah lain yang sifatnya catatan pribadi, sebaiknya
> > ditulis sendiri oleh pelaku dalam bentuk file biasa
> > menggunakan word. Anak-anak dari para pelaku agar mendorong
> > ayah mereka untuk bercerita dan mencatatnya. Selanjutnya
> > catatan ini dikumpulkan oleh seseorang. 
> > Salam, 
> > Abraham Ilyas







       
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke