Asslamu'alaikum Warahmatullahi wa barakatuh'
Pak Abraham dan dunsanak kasadonyo,
PRRI suatu pergolakan di daerah Sumatera Tengah (meliputi Sumbar, Riau dan
Jambi), kemudian diikuti beberapa daerah lainnya di Nusantara, sehingga menjadi
perjuangan semesta.
Pergolakan itu bukan ciptaan asing, apalagi CIA sebagai diungkapkan oleh
beberapa penulis sejarah yang kurang memahami sejarahnya dari sisi idealis.
Nancy Tunner dan Kahin amat bijak bercerita ini.
Hebatnya, rakyat di kampung-kampung dan pelosok nagari menerimanya, dengan
resiko memberikan bantuan makan, pakaian, sandang, dan tempat diam, di atas
segalanya itu perlindungan.
Mereka telah berikan apa yang dapat mereka sumbangkan, dan resikonya tidak
kecil, bahkan rumah mereka banyak yang dibumi hanguskan, dibarakar dengan bom
napalm dari pesawat, yang ketika itu tidak dipunyai oleh orang PRRI. Alasannya
penumpasan pemberontakan.
Secara ideal pergolakan itu berjalan terus, akhirnya pemerintah RI setelah 3
tahun (sama lamanya dengan masa Jepang berkuasa di Indonesia), mengakui sendiri
dengan mengeluarkan abolisi dan amnesti, artinya pemulihan kembali hak-hak
mereka yang di rampas, dengan istilah Bung Karno dan Jenderal Nasution ketika
itu "tidak ada yanag kalah dan tidak ada yang menang, yang menang hanya ibu
pertiwi". Satu kalimat yang lebih kepada titik berat pengakuaan idealis.
Pelakunya sekarang sudah banyak yang tiada.
Karena satu kepentingan, sejarah banyak dibelokan.
Perlu ditulis kembali, ditanya kembali, cerita dari bawah, dari rakyat biasa,
bagaimana perasaan mereka, bagaimana isi lubuk hati mereka, bagaimana
penderitaan mereka, dan bagaimana-bagaimana yang lainnya......., sehingga
hal-hal akan terungkap banyak dan bahkan lebih banyak, yang secara sosial
budaya terjadi pemesraan antara pusat dan daerah, berkembangnya sumando
manyumando antara daerah ini dengan tanah seberang.
Adakah pergolakan itu semata menampilkan kerusuhan dan kerugian saja?? Tidak
sama sekali. Membaca sejarah tidak hanya yang tertulis dengan tanggal dan bukti
autentik, tulisan atau akta, tetapi sejarah juga apa yang belum diungkap karena
masih terbenam di dalam sanubari.
Sebuah karya besar bila dapat mengungkap hati nurani orang banyak, untuk
menata dan meraih "back to future".
Terimakasih,
Wassalam,
HMA
Abraham Ilyas <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ass. w.w. Kkd. Sjamsir Sjarif dan Angku Jamaludin Mohyiddin nan ambo
hormati,
Ambo setuju sekali untuk metode penulisan sejarah ataupun peristiwa oleh
mereka-mereka yang merasakan langsung kejadiannya. Contoh peristiwa PRRI
tersebut, yang paling banyak terlibat, ialah penduduk nagari-nagari. Tapi
disinilah letak masalahnya masyarakat nagari belum memiliki tradisi mencatat
apalagi menulis hal-hal semacam itu.
Ambo telah menyediakan fasilitas untuk menulis tentang nagari-nagari, dan
sangat disayangkan sampai saat ini belum dimanfaatkan oleh anak nagari.
Wassalam
Abraham Ilyas
hambociek <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Tendensi, ciri-ciri, dan cara-cara penulisan sejarah seperti di zaman
"dahulu kala" itu, masih kita lihat sampai dewasa ini. Tidak perlu jauh-jauh,
lihat dan telitilah misalnya salah satu tulisan Mestika Zed, et. al, 430 pp.,
Sumatera Barat di Panggung Sejarah 1945-1995, terbitan Bidang Penerbitan Khusus
Panitia Peringatan 50 tahun RI Sumatera Barat, Dicetak oleh PD Grafika
Ssumatera Barat, Cetakan Pertama 1995.
Buku Sejarah yang diterbitkan pada tahun 1995 ini, masih tetap berbau dan
punya ciri, cara, dan tendensi penulisan seperti cerita zaman dahulu kala itu.
Bedanya bukan lagi menceritakan hikayat raja-raja lagi seperti dahulu kala itu,
tetapi punya tendensi menceritakan para "pelakon-pelakon" utama yang terbayang
muncul di atas "panggung" sejarah itu...
Salam,
MakNgah
-- Sjamsir Sjarif
--- In [EMAIL PROTECTED], jamaludin mohyiddin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Angku angku yang hambo hormati,
>
> Pendekatan multi-disciplinary atau multi-dimensional adalah satu cara yang
> bagus dalam menceritakan PRRI. Salah satu nya apa yang di usulkan oleh
> MakNgah. Tuliskan pengelaman pengelaman, kesah kesah peribadi yang
> berunsurkan pendukungan, pelanggaran atau penyalahgunaan HAM rakyat biasa. Di
> zaman dahulu kala, sejarah di Alam Melayu lazimmya menceritakan kesah istana
> atau disebut bangsawan. Sejarah ini umumnya sejarah bangsawan. Penulisan
> sejarah dikala ini tidak berghairah menceritakan hal atau gulongan rakyat
> biasa. Peristiwa PRRI bukannya cerita atau sejarah orang atasan, juga
> berbicara sejarah rakyat biasa. Ianya cerita rakyat. PRRI bukan hanya
> sejarah ide atau penafsiran
> kepada sesuatu.
>
> Untuk berlaku adil terhadap peristiwa PRRI dan meletakkan historical
> perspective yang benara benar berimbang dan adil dalam penulisan dan
> pensejarahan PRRI dan dalam usaha mencari i'tibar dan pendidikan kepada
> generasi mendatang, pendekatan multi-disciplinary ini akan banyak membantuan.
> Penulisan atau pensejarahan PRRI memerlukan sumber keshahihan
> penceritaan. Oleh kerana para cerdik pandai Minang sudah terbiasa
> dengan disiplin ilmu periwayatan hadiths dimana keshahihan meriwayatkan
> sebuah hadiths di jadikan inti menshahihkan sebuah hadiths dan meletakkan
> tapak ilmiyyah sebuah hadiths, maka kita tidak ragu ragu keilmiyyahan dan
> keshahihan pensejarahan PRRI. Mudah mudahan projek penulisan sejarah PRRI ini
> berjalan lancar. Ianya akan menjadi bahan rujukan dan i'tibar yang amat
> berguna sekali bagi generasi sekarang dan mendatang.
>
> --- On Sun, 6/8/08, hambociek <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> From: hambociek <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [EMAIL PROTECTED] Ulasan- sejarah PRRI
> To: [email protected]
> Date: Sunday, June 8, 2008, 1:16 AM
>
> Angku Abraham Ilyas,
>
> Yang penting lagi dikumpulkan bukan cerita-cerita dari apa yang
> dinamakan "pelaku" itu tetapi cerita-cerita pengalaman penduduk
> kampuang biasa mengenai apa yang mereka alami waktu perang saudara
> itu. Data seperti itu penting dalam penggalian sejarah di masa depan.
>
> Contoh satu cerita misalnya di Lapau ini dengan Posting "Lentera"
> dari Angku Lembang, salah satu contoh. Ratusan kalau tidak ribuan
> cerita-cerita pribadi mungkin dapat dikumpulkan. Antara lain-lain
> misalnya bagaimana pengalaman ibu-ibu di kampuang yang
> dikonsentrasikan di kamp-kamp atau "boks" setiap malam di luar
> kemauan
>
> mereka.
>
> Salam,
> --MakNgah
>
> --- In [EMAIL PROTECTED], Datuk Endang <datuk_endang@>
> wrote:
> >
> > Pak Abraham yang ambo hormati.
> > Apa yang bapak sampaikan mudah-mudahan sebenarnya banyak
> memberikan retrospeksi terhadap makna perjuangan ...
> > Wassalam,
> > -datuk endang
> >
> > --- On Mon, 5/19/08, Abraham Ilyas abrahamilyas@ wrote:
> >
> > >
> > > Untuk kisah lain yang sifatnya catatan pribadi, sebaiknya
> > > ditulis sendiri oleh pelaku dalam bentuk file biasa
> > > menggunakan word. Anak-anak dari para pelaku agar mendorong
> > > ayah mereka untuk bercerita dan mencatatnya. Selanjutnya
> > > catatan ini dikumpulkan oleh seseorang.
> > > Salam,
> > > Abraham Ilyas
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---