Alaikum salam Warahmatullahi wa Barakatuh,
Tanah Ulayat satu kekayaan masyarakat adat Minangkabau.
Kekayaan itu akan terjaga dengan hak penguasaan dan pemanfaatan secara hukum
dan kaidah ekonomi yang bersesuaian untuk orang banyak (anak kemenakan dan
kaum), sepanjang masa.
Jika kita pandai menggunakannya dengan cara-cara yang tepat.
Selain itu, tanah ulayat menjadi kekayaan budaya yang besar pula manfaat daya
tariknya. Tanah ulayat sesungguhnya adalah modal yang sangat besar, yang lahir
dari hukum adat.
Karena itu, tanah ulayat jangan di jual, jangan dialihkan.
Budaya Minangkabau sangat kuat membatasinya.
Tanah ulayat tidak boleh di anjak dan atau digadai, kecuali untuk penghapus
malu jika telah tercoreng di kening, atau ketika mayat terbujur di tengah
rumah, tak ada lagi manusia sekampung yang rela menyelenggarakan, atau ketika
gadih gadang indak balaki artinya tidak ada lagi laki-laki di kampung itu, atau
kalau rumah gadang alah katirisan, barulah tanah ulayat boleh digadaikan dan
tidak boleh dijual.
Sesungguhnya, ke empat syarat itu jarang akan terjadi.
Mafhum mukhalafahnya adalah tanah ulayat terlarang dialih tangankan !!!
Cara menggadai pun di ingatkan jan ma hangok ka lua badan, artinya hanya dari
dan oleh lingkungan terdekat lebih dahulu.
Namun sekarang, persoalannya bagaimana dengan tanah ulayat di Pasaman Barat
dan Timur, di Lunang dan Silaut, di Sitiung Rimbo Bujang, yang telah berkembang
menjadi lahan perkebunan luas.
Di mana hak masyarakat adat itu?
Adakah mereka terperhatikan?
Coba jemput kembali yang tertinggal, dan kamehkan baliek nan ta icie.
Sengketa akan tetap tampil ketika sesuatu indak bakajalehan.
Jalan keluarnya gagaskan dengan segera Hak Guna Tanah Ulayat dalam
pelaksanaan investasi perkebunan, pabrik, pertambangan dan bangunan di atas
tanah ulayat masyarakat adat di Minangkabau atau Sumatera Barat.
Para pakar hukum kita mesti sudah berfikir dan berusaha ke arah itu. Moga
segera terkabul. Amin.
Wassalam,
BuyaHMA
Bot S Piliang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mmm..sebenarnya banyak hal positif dari sistem tanah Ulayat. Mungkin
"kakobeh" urang kan man cime'eh sebagai tradisi Discourse urang Minang.
Sumatera Barat buliah bangga karano alam Sumbar masih terjaga karena hukum
tanah ulayat ini.
Kita bisa lihat di Jawa dan Bali dimana hampir setiap sudutnya sudah tergerus
oleh kapitalisasi asing atau orang Kaya,. Penduduk lokal hanya jadi pemain
dasar atau burh kasar atau bahkan jadi penonton saja.
Hanya saja, sekarang bagaimana agar pemanfaatan tnah ulayat ini bsia di arahkan
kearah yang lebih positif, semisal pembangunan fasilitas umum, pengelolaan
objek wisata yang ebrbasis kerakyatan dan sebagainya.
Jadi pemanfaatan tanah ulayat atau pusako tinggi bukan hanya karana tiga hal
yang biasa dipakai, (mayik tabujua tangah rumah, rumah gadang katirisan, gadih
gadang alun balaki)tapi juag duarahkan untuk hal-hal laion yajng menyangkut
kemaslahatan anak kemanakan dan tentu saja urang di ranah tacinto.
Salam
BSP
adyan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamualaikum w.w.
Baru sakali ko rasonyo awak mandapek pandangan nan babedo, nan positif
tentang tanah ulayat.. dari pak Wapres bana malah!
biasonyo selalu ngatif sajo..
salam
-adyan
On Jun 7, 6:00 pm, "Fitr Tanjuang" wrote:
> Mudah2an iko mamatahkan anggapan baso tanah ulayat ko "by default" masalah
> untuak berinvestasi.
>
> Subananya labiah pado pendekatan dan kebijakan.
>
> Tapi iyo kito indak bisa manutuik mato baso masalah sengketa tanah sangaik
> banyak di Minang...
>
> Wassalam
> fitr tanjuang
> lk/33/Albany
>
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---