Pemkab Mentawai sendiri yang selama ini kurang mendukung diterapkannya pelajaran muatan lokal budaya Mentawai dan kegiatan lain yang menunjang pelestarian budaya Mentawai. Membuat uma (rumah adat Mentawai) di Tuapeijat (seperti sekarang yang dilakukan YCM dengan dana dari Rainforest, Norwegia) atau mengadakan Pesta Rakyat Mentawai seperti yang diadakan tahun lalu oleh YCM juga, sebenarnya bisa dilakukan Pemkab sejak beberapa tahun lalu. Tapi itu tidak dilakukan, anggaran mereka banyak habis untuk hal yang sebagian terbengkalai, seperti pembuatan portal pemda hampir Rp2 miliar yang kasusnya sampai ke PN Padang, tapi situsnya tak ada. Yang sering ya, membawa Turuk Laggai ke pagelaran luar daerah, bahkan luar negeri. Kenapa budaya Mentawai tak kunjung dijadikan mata pelajaran pengganti BAM? Tentu saja satu penyebab karena masih menduanya pikiran sebagian orang Mentawai terhadap budaya mereka sendiri: perlu dikembangkan atau dihilangkan. Kalau dikembangkan perlu ini-perlu itu, berat, mendingan dibiarkan saja yang ada. Apa yang bisa dilakukan Orang Minang, termasuk orang Minang di Mentawai? Bisakah kita mendorong orang Mentawai mengangkat budaya mereka sama tinggi dan rendah dengan budaya Minang? Sebagai referensi silakan baca: http://padangkini.com/mozaik/?id=15 Syof (38+/Padang)
--- On Mon, 17/11/08, Nofend Marola <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Nofend Marola <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [EMAIL PROTECTED] TRADISI : Pelestarian Budaya Mentawai Masih Minim To: [email protected] Date: Monday, 17 November, 2008, 4:35 PM Kito juo mestinyo mamparatian dan melestarikan budaya dunsanak kito ditapi samudra Hindia ko. Senin, 17 November 2008 | 00:38 WIB Tuapeijat, Kompas - Pelestarian budaya Mentawai membutuhkan kerja sama semua pihak. Selama ini, budaya Mentawai belum mendapatkan tempat yang layak sehingga di sejumlah tempat budaya Mentawai semakin pudar. Demikian disampaikan anggota Aliansi Masyarakat Adat Peduli Mentawai (AMA-PM) Kabupaten Kepulauan Mentawai Celester Saguruwjuw, Sabtu (15/11), saat pembukaan Pagelaran Budaya Mentawai 2008 yang diselenggarakan oleh Yayasan Citra Mandiri (YCM) di Dusun Mapaddegat, Tuapeijat, Kabupaten Kepulauan Mentawai. ”Budaya Mentawai tidak kurang dari budaya lain. Budaya itu mencerminkan harga diri dan martabat orang Mentawai. Budaya Mentawai juga bisa menjadi acuan pembangunan di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Namun, kapan itu akan terjadi karena sekarang budaya Mentawai semakin tergusur?” kata Celester. Dia menambahkan, sejumlah daerah di Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, dan Pulau Pagai Selatan sudah kehilangan jejak budaya Mentawai. Sebagian dari masyarakat bahkan tidak bisa mengenali lagi budaya asli mereka. Direktur YCM Sandang Puruhum mengatakan, YCM berupaya mengembangkan budaya Mentawai dengan mendirikan uma, rumah adat masyarakat Mentawai di Mapaddegat. Mapaddegat adalah salah satu dusun di Pulau Sipora yang sudah mulai kehilangan budaya asli Mentawai. ”Uma ini akan dikembangkan menjadi pusat pengembangan budaya Mentawai. Secara berkala, kami akan menghadirkan guru-guru budaya dari Siberut, untuk melatih aneka budaya Mentawai kepada masyarakat sekitar uma ini,” ucap Sandang. Di Tuapeijat dan Pulau Sipora pada umumnya, serta di Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan, bangunan uma sudah hilang. Uma masih tersisa di Pulau Siberut saja. ”Selain sebagai tempat pelestarian budaya, sejumlah informasi dan literatur tentang budaya Mentawai juga akan dikumpulkan dan diletakkan di uma ini. Harapannya, masyarakat yang membutuhkan aneka literatur tentang budaya Mentawai bisa mendapatkannya di uma ini,” kata Sandang. Pagelaran Budaya Mentawai 2008 diisi dengan aneka lomba, seperti festival turuk langgai, lomba memasak, lomba panahan, dan pameran busana Mentawai. Lomba-lomba itu diikuti puluhan masyarakat Mentawai dari berbagai daerah di kabupaten itu. Wakil Bupati Kepulauan Mentawai, Yudas Sabaggalet, mengakui keterbatasan pemda untuk mengembangkan budaya Mentawai selama ini. Dia berjanji akan menggelar aneka perlombaan serupa pada tahun 2009. Yudas juga akan mendesakkan budaya Mentawai sebagai muatan lokal dalam kurikulum di sekolah yang ada di kabupaten itu. Sebelumnya diberitakan, hingga sembilan tahun setelah Kabupaten Kepulauan Mentawai terbentuk, usulan memasukkan muatan lokal budaya Mentawai dalam kurikulum pendidikan belum juga terealisasi. Usulan itu sudah dilontarkan sejak enam tahun silam. Selama ini, materi muatan lokal sekolah-sekolah di Mentawai diisi dengan Budaya Alam Minangkabau. Padahal, budaya dan lingkungan masyarakat Mentawai jauh berbeda dengan masyarakat Minangkabau. (ART) http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/17/00380588/pelestarian.budaya.mentawai.masih.minim Get your new Email address! Grab the Email name you've always wanted before someone else does! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/ --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
