Uda Nofrin, Pak Saaf, jo warga RantauNet.
 
Sejak muatan lokal Budaya Alam Minangkabau (BAM) diberlakukan di SD seluruh 
Sumatera Barat, di Kepulauan Mentawai juo diberlakukan. Tapi kamudian di 
sekolah-sekolah dasar swasta di bawah Yayasan Prayoga (Katolik) diganti jo 
muatan lokal Budaya Mentawai (Bumen) nan mereka rancang sorang. Alasannyo 
karano BAM indak cocok. Itu tajadi sekitar tahun 2000.
 
SD yang mamakai Bumen di antaronyo SD Santa Maria (Muara Siberut), SD 
Fransiskus (Muara Sikabaluan), SD Fincesius (Sipora), satu SD di Sikakap (di 
bawah Prayoga).
 
Sedangkan SD negeri tetap memakai BAM hinggo kini, kecuali beberapa SD di 
Siberut Utara alah mancubo mangganti jo Bumen atas bantuan Yayasan Citra 
Mandiri (YCM), LSM lokal. YCM punyo program budaya Mentawai, salah satu mambuek 
kurikulum Bumen. Tapi baru dicubo di Siberut Utara atas wewenang Kepala Ranting 
Siberut Utara Dinas Pendidikan. Sedangkan kebijakan secara kabupaten alun ado.
 
Tadi ambo danga Ketua DPRD Mentawai jo Wakil Bupati Yudas Sabaggalet alah 
bertekad memakai Bumen ko mulai 2009. Kurikulum nan dipakai rancangan YCM nan 
alah diproses melibatkan Dinas Pendidikan Mentawai jo guru-guru, bahkan 
dianggarkan melalui APBD 2007.
 
Persoalan mendasar melaksanakan Bumen hanyo tanago guru nan langka. Tantu 
paralu wakatu untuak malatiah mereka.
 
Persoalan lainnyo, anak-anak Minang banyak basikola di Mentawai, tarutamo di 
ibukecamatan, seperti juo anak Batak. Baa caranyo mereka juo bisa baraja BAM 
salain Bumen.
 
Kalau ado dari organisasi atau orang Minang nan ikuik mandorong Bumen diadokan, 
iko tambahan moral bagi pajabaik Mentawai.
 
Salam,
Syof (38+/padang)
 
 
Jiko iko sukses, anak-anak Minang nan 
 
 
 
 
informasi ko batua. 
Di seluruh sekolah di Kepulauan Mentawai masih mamakai BAM (Budaya Alam 
Minangkabau) sebagai muatan lokal, karano BAM ko dipakai di seluruh Provinsi 
Sumatera Barat. Nan maaja tantu guru Minang, dan itu gampang karano guru nan 
urang Minang memang labiah 60 persen di Mentawai.
 
Kalau indak salah sekitar 4 tahun lalu, SD
bumen
Yayasan Prayoga Katolik, Sibeurt Utara Bumen sebagian, 
Ruslianus, kini camat, tim kabupaten inyo koodinator.  Polin Kadinas.Dikdasmen 
Syaiful Jannah, akan dilaksanakan 2009 memakai budaya mentawai kemarin karena 
tidak ada orang yang menangani, kekurangan SDM, taka da tim. anggaan sudah ada 
sejak 2007.
 
 


--- On Tue, 18/11/08, Yulnofrins Napilus <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Yulnofrins Napilus <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: TRADISI : Pelestarian Budaya Mentawai Masih Minim
To: [EMAIL PROTECTED], [email protected]
Cc: "Drs Sjafnir Aboe NAIN" <[EMAIL PROTECTED]>, "Sultanul SUL, S.H" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "Karo Human Pemprov SUMBAR" <[EMAIL PROTECTED]>, "Dra. Adriyetti 
AMIR, SU" <[EMAIL PROTECTED]>, "Ilhamdi TAUFIK" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tuesday, 18 November, 2008, 1:24 PM



Wah, kalau ini benar, ini penjajahan budaya ini Pak Saaf...! Untuk jangka 
panjang ini cukup berbahaya buat kelestarian budaya masyarakat Mentawai. 
Mudah-mudahan bukan krn kita malu utk mengakui bahwa mereka juga saudara kita 
krn mereka tidak berpakaian seperti kita...?
 
Kalau kita hanya beremail-email saja, saya agak pesimis kita bisa "menggugah" 
utk merubah kebijakan tsb. Ada yg punya ide...? Thanks.
 
Wassalam,
Nofrins

"Dr.Saafroedin BAHAR" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:







Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
Sebagai seorang peminat masalah masyarakat hukum adat dan  kesukubangsaan, saya 
tertarik dengan masalah pelestarian budaya Mentawai ini. Jika benar bahwa yang 
diajarkan sekarang kepada anak-anak Mentawai adalah Budaya Adat Minangkabau, 
izinkan saya menyarankan agar kebijakan ini segera dihentikan, karena 
sama sekali tidak tepat. 
Berikutnya, baik Pemerintah Kabupaten Mentawai maupun Pemerintah Provinsi 
Sumatera Barat, dibantu oleh Fakultas Sastra dan Fakultas Hukum Universitas 
Andalas, perlu membentuk sebuah tim kecil -- yang terutama terdiri dari 
putera-puteri Mentawai sendiri -- untuk menyusun sebuah draft buku ajaran 
mengenai Budaya Mentawai ini. Setidak-tidaknya literatur etnologi yang pernah 
diterbitkan fihak Belanda dahulu dapat dijadikan bahan awal.
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED] com;
saafroedin.bahar@ rantaunet. org








From: Syofiardi BachyulJb <[EMAIL PROTECTED] com>
To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Sent: Monday, November 17, 2008 5:22:27 PM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: TRADISI : Pelestarian Budaya Mentawai Masih Minim

. 
__,_._,___ 













      New Email names for you! 
Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke