Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
Sebagai seorang peminat masalah masyarakat hukum adat dan  kesukubangsaan, saya 
tertarik dengan masalah pelestarian budaya Mentawai ini. Jika benar bahwa yang 
diajarkan sekarang kepada anak-anak Mentawai adalah Budaya Adat Minangkabau, 
izinkan saya menyarankan agar kebijakan ini segera dihentikan, karena 
sama sekali tidak tepat. 
Berikutnya, baik Pemerintah Kabupaten Mentawai maupun Pemerintah Provinsi 
Sumatera Barat, dibantu oleh Fakultas Sastra dan Fakultas Hukum Universitas 
Andalas, perlu membentuk sebuah tim kecil -- yang terutama terdiri dari 
putera-puteri Mentawai sendiri -- untuk menyusun sebuah draft buku ajaran 
mengenai Budaya Mentawai ini. Setidak-tidaknya literatur etnologi yang pernah 
diterbitkan fihak Belanda dahulu dapat dijadikan bahan awal.
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]






________________________________
From: Syofiardi BachyulJb <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, November 17, 2008 5:22:27 PM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: TRADISI : Pelestarian Budaya Mentawai Masih Minim


Pemkab Mentawai sendiri yang selama ini kurang mendukung diterapkannya 
pelajaran muatan lokal budaya Mentawai dan kegiatan lain yang 
menunjang pelestarian budaya Mentawai. 

Membuat uma (rumah adat Mentawai) di Tuapeijat (seperti sekarang yang dilakukan 
YCM dengan dana dari Rainforest, Norwegia) atau mengadakan Pesta Rakyat 
Mentawai seperti yang diadakan tahun lalu oleh YCM juga, sebenarnya bisa 
dilakukan Pemkab sejak beberapa tahun lalu. Tapi itu tidak dilakukan, anggaran 
mereka banyak habis untuk hal yang sebagian terbengkalai, seperti pembuatan 
portal pemda hampir Rp2 miliar yang kasusnya sampai ke PN Padang, tapi situsnya 
tak ada.

Yang sering ya, membawa Turuk Laggai ke pagelaran luar daerah, bahkan luar 
negeri.

Kenapa budaya Mentawai tak kunjung dijadikan mata pelajaran pengganti BAM? 
Tentu saja satu penyebab karena masih menduanya pikiran sebagian orang Mentawai 
terhadap budaya mereka sendiri: perlu dikembangkan atau dihilangkan. Kalau 
dikembangkan perlu ini-perlu itu, berat, mendingan dibiarkan saja yang ada.

Apa yang bisa dilakukan Orang Minang, termasuk orang Minang di Mentawai? 
Bisakah kita mendorong orang Mentawai mengangkat budaya mereka sama tinggi dan 
rendah dengan budaya Minang?

Sebagai referensi silakan baca: http://padangkini.com/mozaik/?id=15

Syof (38+/Padang)



--- On Mon, 17/11/08, Nofend Marola <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Nofend Marola <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] TRADISI : Pelestarian Budaya Mentawai Masih Minim
To: [email protected]
Date: Monday, 17 November, 2008, 4:35 PM


Kito juo mestinyo mamparatian dan melestarikan budaya dunsanak kito ditapi 
samudra Hindia ko.
 
Senin, 17 November 2008 | 00:38 WIB 
Tuapeijat, Kompas - Pelestarian budaya Mentawai membutuhkan kerja sama semua 
pihak. Selama ini, budaya Mentawai belum mendapatkan tempat yang layak sehingga 
di sejumlah tempat budaya Mentawai semakin pudar.
Demikian disampaikan anggota Aliansi Masyarakat Adat Peduli Mentawai (AMA-PM) 
Kabupaten Kepulauan Mentawai Celester Saguruwjuw, Sabtu (15/11), saat pembukaan 
Pagelaran Budaya Mentawai 2008 yang diselenggarakan oleh Yayasan Citra Mandiri 
(YCM) di Dusun Mapaddegat, Tuapeijat, Kabupaten Kepulauan Mentawai.
”Budaya Mentawai tidak kurang dari budaya lain. Budaya itu mencerminkan harga 
diri dan martabat orang Mentawai. Budaya Mentawai juga bisa menjadi acuan 
pembangunan di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Namun, kapan itu akan terjadi 
karena sekarang budaya Mentawai semakin tergusur?” kata Celester.
Dia menambahkan, sejumlah daerah di Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, dan Pulau 
Pagai Selatan sudah kehilangan jejak budaya Mentawai. Sebagian dari masyarakat 
bahkan tidak bisa mengenali lagi budaya asli mereka.
Direktur YCM Sandang Puruhum mengatakan, YCM berupaya mengembangkan budaya 
Mentawai dengan mendirikan uma, rumah adat masyarakat Mentawai di Mapaddegat. 
Mapaddegat adalah salah satu dusun di Pulau Sipora yang sudah mulai kehilangan 
budaya asli Mentawai.
”Uma ini akan dikembangkan menjadi pusat pengembangan budaya Mentawai. Secara 
berkala, kami akan menghadirkan guru-guru budaya dari Siberut, untuk melatih 
aneka budaya Mentawai kepada masyarakat sekitar uma ini,” ucap Sandang.
Di Tuapeijat dan Pulau Sipora pada umumnya, serta di Pulau Pagai Utara dan 
Pulau Pagai Selatan, bangunan uma sudah hilang. Uma masih tersisa di Pulau 
Siberut saja.
”Selain sebagai tempat pelestarian budaya, sejumlah informasi dan literatur 
tentang budaya Mentawai juga akan dikumpulkan dan diletakkan di uma ini. 
Harapannya, masyarakat yang membutuhkan aneka literatur tentang budaya Mentawai 
bisa mendapatkannya di uma ini,” kata Sandang.
Pagelaran Budaya Mentawai 2008 diisi dengan aneka lomba, seperti festival turuk 
langgai, lomba memasak, lomba panahan, dan pameran busana Mentawai. Lomba-lomba 
itu diikuti puluhan masyarakat Mentawai dari berbagai daerah di kabupaten itu.
Wakil Bupati Kepulauan Mentawai, Yudas Sabaggalet, mengakui keterbatasan pemda 
untuk mengembangkan budaya Mentawai selama ini.
Dia berjanji akan menggelar aneka perlombaan serupa pada tahun 2009. Yudas juga 
akan mendesakkan budaya Mentawai sebagai muatan lokal dalam kurikulum di 
sekolah yang ada di kabupaten itu.
Sebelumnya diberitakan, hingga sembilan tahun setelah Kabupaten Kepulauan 
Mentawai terbentuk, usulan memasukkan muatan lokal budaya Mentawai dalam 
kurikulum pendidikan belum juga terealisasi. Usulan itu sudah dilontarkan sejak 
enam tahun silam.
Selama ini, materi muatan lokal sekolah-sekolah di Mentawai diisi dengan Budaya 
Alam Minangkabau. Padahal, budaya dan lingkungan masyarakat Mentawai jauh 
berbeda dengan masyarakat Minangkabau. (ART)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/17/00380588/pelestarian.budaya.mentawai.masih.minim
________________________________
New Email names for you! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke