Pak Abraham yth, pernyataan MOP adalah Ahmadiyah dapat ditemukan dibukunya 
halaman 112-113. Saya kira dengan doktrin Ahmadiyah sangat mudah bagi beliau 
menyalahkan berbagai mazhab dan aliran di dalam Islam, dan sebenarnya inilah 
bahaya laten yang pernah ramai beberapa waktu yang lalu.
 
Saya memang sulit menyebutkan TIB adalah seorang tarekat, walau saat ini di 
daerah Bonjol berkembang aliran tarekat tertentu. Dari naskah yang saya temukan 
bila TIB setelah selesai Maghrib hingga Isya berzikir/berkhalwat ‘sendiri’; dan 
tidak ada disebutkan ibadah yang dilakukan bersama-sama. Aktivitas berunding, 
makan, dll dilakukan setelah Isya.
 
Penampilan tarekat seperti digambarkan beliau menggunakan sorban, walau beliau 
tidak ada disebutkan pernah berangkat haji. Saya kurang tahu 
menghubung-hubungkan hal ini, namun memang kelihatan pribadi beliau tawaddu’ 
dan menyandarkan diri kepada semata kekuatan Allah swt.
 
Kedua adalah semata pemahaman tarekat yang dalam dapat meyakinkan 40+40 pasukan 
inti (hulubalang) untuk tegak berdiri bertahan selama sekurangnya 6 bulan di 
atas Bukit Tajadi, untuk menghadapi ribuan pasukan Belanda. Atau adakah doktrin 
lain yang lebih kuat dari itu?
 
Perang Paderi harus dilihat dalam beberapa babak atau tahapan. Priode Bonjol 
juga demikian dan memiliki kekhasan sendiri. Sebenarnya priode awal di Bonjol 
(1808?) tidaklah dimaksudkan untuk membangun kekuatan bersenjata dan ekspansif, 
walau mereka mendirikan benteng batu. ‘Perlawanan TIB’ terjadi ketika beliau 
mengundang rekan-rekan seperguruan (jaringan surau) dalam suatu walimah 
syukuran, dan hadir sekitar 100 orang (kemungkinan besar veteran paderi dari 
Agam dan Tanah Datar); dan dengan kekuatan ini dilakukan perlawanan pertama 
sekali melawan Dt. Sati dan pengikutnya. Itupun dilakukan dengan adanya 
dukungan Dt. Bandaharo. Saya kira kemenangan ini melahirkan semangat baru untuk 
membangun kekuatan bersenjata sendiri dan selanjutnya melakukan berbagai 
ekspansi ke luar wilayah; dan terbuai cukup lama dengan berbagai penaklukan 
itu, hingga akhirnya disadarkan oleh Tuanku Kadi Basa.
 
Pada priode ke-2, perjuangan TIB adalah fokus pada pengusiran Belanda (hingga 
ke pesisir pantai). Jadi saya meragukan ‘skenario ekonomi’ yang diungkapkan 
oleh Dobbin dkk. Bila skenario ekonomi yang digunakan, maka wujud perjuangan 
TIB adalah imperium. Kenyataannya TIB menyerahkan kembali penguasaan secara 
adat, atau pada kekuasaan setempat. Jadi fenomena perjuangan TIB adalah 
‘membantu’ perlawanan setempat dalam menegakkan keadilan. Saya kira ini adalah 
pelajaran dari teladan budi yang beliau rasakan ketika dulu mendapatkan 
dukungan dalam menghadapi Dt. Sati di Alahan Panjang.
 
Saya koreksi mengenai Marapalam, yang saya lihat di buku Dobbin (hal 187) 
adalah Tandikei (Tandikat). Jadi kiranya benar catatan sejarah yang menyebutkan 
rencana perlawanan balik kepada Belanda secara besar-besaran dimatangkan di 
Bukit Tandikat pada tahun 1832. Ini berarti selain berlokasi beberapa ratus 
meter dari Bukit Tajadi juga berlokasi beberapa ratus meter dari kekuatan besar 
Belanda yang sudah menduduki Bonjol pada masa itu. Sebelumnya dalam perkiraan 
saya adalah Bukit Tandikat yang berada di Padang Panjang. Untuk Marapalam, saya 
kira perlu dikaji kembali; namun syak saya tetap bila pertemuan-pertemuan para 
pemangku adat di masa lampau sering dilakukan di tempat tersebut.
 
Saya masih mencari tahu tentang pertemuan di mesjid sebelum sholat Jum’at 
sewaktu TIB ’menyerahkan’ kekuasaan adat dan merumuskan ABSSBK, karena ini 
terkait dengan kepulangan 3 kemenakan + Tuanku Rao dari haji. Bila Tuanku Rao 
syahid di Air Bangis pada tahun 1821, maka kejadian itu tentunya berlangsung 
sebelum 1821, jadi bukan 1832. Dengan demikian pada priode pra-1821 s/d 1832 
adalah priode tidak ada perang dari Bonjol, dan juga kekuasaan adat berlaku 
sepenuhnya di Alahan Panjang.
 
Untuk tambahan informasi yang lain saya berterima kasih. Perlu kita sering 
berdiskusi kalau ada bahan-bahan dan pandangan baru. Mohon maaf kalau ada 
kesalahan.
 
Wassalam,
-datuk endang

--- On Fri, 12/26/08, Abraham Ilyas <[email protected]> wrote:

From: Abraham Ilyas <[email protected]>
Subject: Re: Bls: [...@ntau-net] Re: Laporan Seminar Nasional Tuanku Imam 
Bonjol dan Tuanku Rao di Lubuk Sikaping, 17-18 Desember 2008.
To: [email protected]
Date: Friday, December 26, 2008, 10:56 AM




1...Dalam bidang mental, hal ini terkait dengan kenyataan bahwa doktrin adat 
basandi syarak syarak basandi Kitabullah (ABS SBK) yang telah dinyatakan 
sebagai jatidiri Minangkabau ternyata adalah kebijakan Tuanku Imam Bonjol pada 
tahun 1832, setelah menyadari bahwa praktek kekerasan Paderi sebelum itu tidak 
sesuai dengan ajaran Islam yang benar.
2....Suatu hal yang selama ini kurang difahami adalah kenyataan bahwa tidak ada 
suatu struktur komando terpusat dari para tuanku dalam gerakan Paderi. Oleh 
karena itu setiap tuanku dapat mempunyai kebijakan sendiri dalam daerah 
pengaruhnya, berbeda dengan kebijakan para tuanku lainnya.
Dt. Endang yth. 
Menurut pengakuannya Ir. Mangaraja Onggang Parlindungan (MOP), dirinya penganut 
Islam bermazhab Hambali, sedangkan bapaknya seorang pendeta agama Kristen yang 
bernama St. Martua Raja (pernah menjadi ketua Chuo Sangi Kai Sumatra Timur di 
Pematang Siantar). Ir. MOP bukan jamaah Ahmadiyah.
Setelah mengenal dari dekat, Buya Hamka berkesimpulan: "..saya sendiri mendapat 
kesan bahwa mungkin dalam pengetahuan sejarah luas pengalaman Parlindungan, 
namun dalam hal agama Islam rupanya baru belajar." (antara Fakta dan Khayal 
Tuanku Rao hal. 18) 
Dari kesimpulan angka 1 dan 2 di atas, ambo mendapek gambaran bahwa perang 
Padri (1821 - 1837) berbeda penyebab dan caranya dengan perang Diponegoro atau 
perang Jawa (1825 - 1830 yang memiliki komando terpusat). 
Kedua perang ini terjadi dalam waktu bersamaan. 
Perlawanan Padri tidak memiliki struktur komando terpusat untuk seluruh alam 
Minangkabau. 
Perang Padri dimulai dengan perang batu antar pendukung sistim adat (dipimpin 
oleh para pangulu) dengan pendukung sistim islam Wahabi (dipimpin oleh para 
Tuanku), yang kemudian ditunggangi oleh Belanda. 
"Islam politik wahabi" melegalisir sistim kekalifahan/amir, di lain pihak 
apabila Tuanku imam itu seorang penganut tarekat maka hal ini akan menjadi 
dilemma tersendiri untuk beliau sebagai pemimpin perang.
Dari sini bisa dipahami mengapa perang Padri lebih lama terjadi dari perang 
Diponegoro.  
Ambo raso iko memang sudah merupakan ciri khas budaya Minangkabau nan barajo 
surang (dalam pengertian positif lho !). 
Tidak pernah ada "raja" dan tidak pula ada "kawula" Minangkabau seperti yang 
ada di daerah lainnya. 
Khusus untuk anak-kamanakan kito nan kini alah manjadi orang Indonesia, perlu 
diingatkan bahwa budaya Minang tidak mengenal istilah "wong cilik" ataupun 
"kawula muda".  
Menurut ambo hal ini telah sesuai dengan adagium adat: luak bapangulu 
(musyawarah para kamanakan di dalam komunitas), rantau barajo (para kawula yang 
diperintah).
Hanya kesamaan nasib yang dapat dan bisa menyatukan/marapek-alam orang-orang 
Minangkabau di dalam berbagai perlawanan/perang terhadap kekuasaan asing 
ataupun mungkin menghadapi berbagai permasalahan lainnya masa kini dan di 
masa-masa yad.
Perang Silungkang (perang ini berlangsung pula di luar nagari Silungkang), 
perang Batipuah (perang ini berlangsung pula di luar nagari  Batipuah), perang 
Kamang (perang ini berlangsung pula di luar nagari  Kamang), bahkan perlawanan 
PRRI sangat dipengaruhi oleh keikutsertaan masing-masing komunitas lokal (sebut 
saja: nagari, di mana saat itu setiap walinagari membubuhkan stempelnya pada 
uang kertas yang beredar sebagai tanda keikutsertaan komunitasnya dalam 
perlawanan). 
Bukti stempel di atas uang kertas merupakan dokumen resmi yang sangat jelas dan 
sangat mudah diketahui oleh musuh dibandingkan dokumen-dokumen lainnya. 
Seolah-olah setiap walinagari ingin menyatakan, inilah nagari kami, ikut dalam 
peperangan ini.
saat itu tidak ada terbentuk walinagari-pusat yang berlawanan dengan walinagari 
asli/prri. 
Ketika PRRI kalah dari tentara Pusat/Rezim Soekarno, barulah diadakan istilah 
"tepatan Walinagari" sebagi pengganti walinagari asli. 
Begitupun dalam sebutan piagam marapek-alam tidak hanya terjadi di bukik 
Marapalam yang berada beberapa ratus meter jaraknya dari Bukik Tajadi, tapi ado 
pulo puncak yang banamo Marapalam letaknya di perbatasan Lintau dengan nagari 
Tanjuang-Sungayang (sering pula disebut sebagai puncak Pato). 
 
Di lokasi ini tg 12 April 1821 terjadi pertempuran besar yang melibatkan lk. 
12.000 kaum adat/dibantu Belanda 
dengan dubalang Padri pengikut Tuanku Lintau.) lihat: 
http://td73.nagari.org/cc.html
Yang menjadi pertanyaan, - apakah Marapalam itu, nama yang diberikan sesudah 
perang Padri untuk mengukuhkan kalimat perdamaian: adat basandi syarak, syarak 
basandi adat, adat jo syarak sanda-basanda ? 
Pernah pula terbaca dalam milis ini beberapa waktu yang lalu bahwa puncak 
Marapalam itu terdapat pula di Luak 50 Koto.
Catatan: Istilah ABS-SBA serta adat jo syarak sanda-basanda, adalah 
kalimat-kalimat tentang adat nan diberitahukan oleh ibu ambo wakatu anak-anak 
dulu.
Wa allohu 'aklamu bish showab.
Wassalam
Abraham Ilyas, 63
www.nagari.org dan www.nagari.or.id
 
 


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke