Pak Abraham dan sanak Augi yth.
Pada waktu kunjungan ke Bukit Tajadi beberapa bulan yang lalu saya sempat 
berdiskusi lama dengan Kol (pur) Dr. Saleh Djamaris, sejarawan TNI yang 
mengambil disertasi di UI tentang Perang Jawa.
 
Sebenarnya ada perbedaan mendasar antara Perang Jawa dan Perang Paderi, yaitu 
pada Perang Jawa tentara Belanda membangun benteng, sedangkan pada Perang 
Paderi justru pasukan Paderi yang membangun benteng.
 
Belanda banyak membangun benteng di pantai utara dan selatan Jawa, termasuk 
juga di beberapa titik penting seperti benteng Vredeburg di depan kraton Yogya 
itu. Benteng-benteng itu cukup kukuh sebagaimana dapat kita lihat masih berdiri 
hingga saat ini. Sebagian besar benteng itu dirancang oleh seorang perwira 
cerdas Belanda yang bernama Cochius. Dr. Saleh cukup terkejut ketika mengetahui 
Cochius datang ke Bonjol pada tahun 1837 untuk menyusun strategi terakhir 
penyerbuan ke benteng Tajadi, dan pada saat itu jabatannya sudah menjadi 
Panglima Tertinggi Balatentara Hindia Belanda. Dengan kata lain terjadi 
lonjakan karir Cochius yang sangat cepat pasca Perang Jawa (1830) hingga 1837, 
dari semula perwira zeni menjadi Pangti.
 
Dengan demikian bobolnya benteng Tajadi adalah berdasarkan perhitungan yang 
cermat dari Cochius (sketsa beliau pernah saya sampaikan), seorang pakar 
perbentengan Belanda terpenting pada masa itu. Begitupun dibutuhkan waktu 1-2 
bulan bagi Belanda untuk menjalankan strategi Cochius, termasuk juga 1 bulan 
penaklukan total setelah benteng itu dijebol.
 
Pola pertahanan benteng ini juga diikuti oleh Tuanku Rao (benteng Amerongen) 
dan Tuanku Tambusai (benteng tanah). Dan bila ditinjau lebih ke belakang hampir 
semua perlawanan Paderi adalah dengan membangun ‘kubu’ ukuran lebih kecil dari 
benteng, tersusun dari batu-batu yang dapat dibangun dalam waktu cepat. 
Sementara bagi Belanda membangun ‘stelling’, atau lubang/parit perlindungan. 
Seni berperang Paderi ini lebih menarik dari Perang Jawa. Satu pituah mungkin 
relevan: urang Balando babenteng batu, urang Minang babenteng adat.
 
Sementara demikian sanak.
 
Wassalam,
-datuk endang
 
Kabid Sejarah dan Tambo LAKM Jabodetabek
Wakil Ketua Lembaga Kajian Gerakan Paderi


On 12/27/08, Augi Jusri Djalaluddin <[email protected]> wrote:
> Asslm.Wr.Wb.
> Adat basandi syarak dan syarak basandi kitabullah
> Adat bersendi syariat dan syariat bersendi kitabullah.
> Semangat Imam Bonjol dan dilanjutkan oleh Buya Hamka. Selaras dengan
> Piagam Jakarta pada pembukaan UUD 45, selaras pula dengan semangat
> konstituante sebelum dihentikan oleh Dekrit Presiden 1959, Demokrasi
> Terpimpin.
>
> Perang Padri dan Mataram Diponegoro, dipatahkan bertahap oleh
> Protestan Kompeni. Bila Imam Bonjol, Diponegoro dan tokoh
> Makasar+Gorontalo mempunyai sarana internet, berkomunikasi dan
> bertahan untuk melawan perdamaian sektoral karena kompeni terbatas
> personil dan logistiknya.
>
> Sistem benteng yang mempersempit ruang gerak Pasukan Padri dan Pasukan
> Mataram mudah dihantam serentak di daerah, sementara Pasukan Bugis
> langsung masuk ke Batavia memutuskan komando dan suplai amunisi
> kompeni. Tidak akan mudah kompeni semena-mena menjajah.
>
> Memoriam
> Jendral Andi Muhammad Jusuf Aziz, saat menyerahkan tongkat komandonya
> pada Atase Militer US di Jakarta, sesudah menolak menyerahkan Surat
> Presiden RI pada Wapres George Bush Sr, di Washington DC.
>
> Menyambut Hijrah
> "Janganlah takut dan bersedih hati, sesungguhnya Allah SWT bersama
> kita " Sabda Rasulullah SAW pada Abu Bakar As Siddiq r.a. Saat dalam
> gua terkepung Kafir Quresh perjalanan hijrah dari Mekkah ke Madinah.
>
> Semoga berguna
> Wallahu Alam B.
> A U G I
> augispot.blogspot.com.
>
> On 12/26/08, Abraham Ilyas <[email protected]> wrote:
>> *1...Dalam bidang mental, hal ini terkait dengan kenyataan bahwa
doktrin
>> adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah (ABS SBK) yang telah
>> dinyatakan sebagai jatidiri Minangkabau ternyata adalah kebijakan
Tuanku
>> Imam Bonjol pada tahun 1832, setelah menyadari bahwa praktek kekerasan
>> Paderi sebelum itu tidak sesuai dengan ajaran Islam yang benar.*
>>
>> *2....Suatu hal yang selama ini kurang difahami adalah kenyataan bahwa
>> tidak
>> ada suatu struktur komando terpusat dari para tuanku dalam gerakan
Paderi.
>> Oleh karena itu setiap tuanku dapat mempunyai kebijakan sendiri dalam
>> daerah
>> pengaruhnya, berbeda dengan kebijakan para tuanku lainnya.*
>>
>> Dt. Endang yth.
>>
>> Menurut pengakuannya Ir. Mangaraja Onggang Parlindungan (MOP), dirinya
>> penganut Islam bermazhab Hambali, sedangkan bapaknya seorang pendeta
agama
>> Kristen yang bernama St. Martua Raja (pernah menjadi ketua Chuo Sangi
Kai
>> Sumatra Timur di Pematang Siantar). Ir. MOP bukan jamaah Ahmadiyah.
>> Setelah mengenal dari dekat, Buya Hamka berkesimpulan: "..saya
sendiri
>> mendapat kesan bahwa mungkin dalam pengetahuan sejarah luas pengalaman
>> Parlindungan, namun dalam hal agama Islam rupanya baru belajar."
(antara
>> Fakta dan Khayal Tuanku Rao hal. 18)
>>
>> Dari kesimpulan angka 1 dan 2 di atas, ambo mendapek gambaran bahwa
perang
>> Padri (1821 - 1837) berbeda penyebab dan caranya dengan perang
Diponegoro
>> atau perang Jawa (1825 - 1830 yang memiliki komando terpusat).
>> Kedua perang ini terjadi dalam waktu bersamaan.
>> Perlawanan Padri tidak memiliki struktur komando terpusat untuk
seluruh
>> alam
>> Minangkabau.
>> Perang Padri dimulai dengan perang batu antar pendukung sistim adat
>> (dipimpin oleh para pangulu) dengan pendukung sistim islam Wahabi
>> (dipimpin
>> oleh para Tuanku), yang kemudian ditunggangi oleh Belanda.
>>
>> "Islam politik wahabi" melegalisir sistim kekalifahan/amir,
di lain pihak
>> apabila Tuanku imam itu seorang penganut tarekat maka hal ini akan
menjadi
>> dilemma tersendiri untuk beliau sebagai pemimpin perang.
>> Dari sini bisa dipahami mengapa perang Padri lebih lama terjadi dari
>> perang
>> Diponegoro.
>>
>> *Ambo raso iko memang sudah merupakan ciri khas budaya Minangkabau nan
>> barajo surang (dalam pengertian positif lho !).
>> Tidak pernah ada "raja" dan tidak pula ada
"kawula" Minangkabau seperti
>> yang
>> ada di daerah lainnya.
>> Khusus untuk anak-kamanakan kito nan kini alah manjadi orang
Indonesia,
>> perlu diingatkan bahwa budaya Minang tidak mengenal istilah "wong
cilik"
>> ataupun "kawula muda".  *
>>
>> Menurut ambo hal ini telah sesuai dengan adagium adat: luak bapangulu
>> (musyawarah para kamanakan di dalam komunitas), rantau barajo (para
kawula
>> yang diperintah).
>> Hanya kesamaan nasib yang dapat dan bisa menyatukan/marapek-alam
>> orang-orang
>> Minangkabau di dalam berbagai perlawanan/perang terhadap kekuasaan
asing
>> ataupun mungkin menghadapi berbagai permasalahan lainnya masa kini dan
di
>> masa-masa yad.
>>
>> Perang Silungkang (perang ini berlangsung pula di luar nagari
Silungkang),
>> perang Batipuah (perang ini berlangsung pula di luar nagari 
Batipuah),
>> perang Kamang (perang ini berlangsung pula di luar nagari  Kamang),
bahkan
>> perlawanan PRRI sangat dipengaruhi oleh keikutsertaan masing-masing
>> komunitas lokal (sebut saja: nagari, di mana saat itu setiap
walinagari
>> membubuhkan stempelnya pada uang kertas yang beredar sebagai tanda
>> keikutsertaan komunitasnya dalam perlawanan).
>>
>> Bukti stempel di atas uang kertas merupakan dokumen resmi yang sangat
>> jelas
>> dan sangat mudah diketahui oleh musuh dibandingkan dokumen-dokumen
>> lainnya.
>> Seolah-olah setiap walinagari ingin menyatakan, inilah nagari kami,
ikut
>> dalam peperangan ini.
>> saat itu tidak ada terbentuk walinagari-pusat yang berlawanan dengan
>> walinagari asli/prri.
>> Ketika PRRI kalah dari tentara Pusat/Rezim Soekarno, barulah diadakan
>> istilah "tepatan Walinagari" sebagi pengganti walinagari
asli.
>> Begitupun dalam sebutan piagam *marapek-alam* tidak hanya terjadi di
>> bukik *Marapalam
>> *yang berada beberapa ratus meter jaraknya dari Bukik Tajadi, tapi ado
>> pulo
>> puncak yang banamo Marapalam letaknya di perbatasan Lintau dengan
nagari
>> Tanjuang-Sungayang (sering pula disebut sebagai puncak Pato).
>>
>> Di lokasi ini tg 12 April 1821 terjadi pertempuran besar yang
melibatkan
>> lk.
>> 12.000 kaum adat/dibantu Belanda
>> dengan dubalang Padri pengikut Tuanku Lintau.) lihat:
>> http://td73.nagari.org/cc.html
>>
>> Yang menjadi pertanyaan, - apakah Marapalam itu, nama yang diberikan
>> sesudah
>> perang Padri untuk mengukuhkan kalimat perdamaian: adat basandi
syarak,
>> syarak basandi adat, adat jo syarak sanda-basanda ?
>> Pernah pula terbaca dalam milis ini beberapa waktu yang lalu bahwa
puncak
>> Marapalam itu terdapat pula di Luak 50 Koto.
>>
>> Catatan: Istilah ABS-SBA serta adat jo syarak sanda-basanda, adalah
>> kalimat-kalimat tentang adat nan diberitahukan oleh ibu ambo wakatu
>> anak-anak dulu.
>>
>> Wa allohu 'aklamu bish showab.
>>
>> Wassalam
>> Abraham Ilyas, 63
>> www.nagari.org dan www.nagari.or.id



      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke