Asslm.Wr.Wb.

Masalah Rokok, banyak mudharatnya di bandingkan manfaatnya. Saya
perokok sejak SMP, SMA dan Kuliah. Sesudah lulus karena terbentur
ekonomi dan kesehatan, dan berniat berhenti merokok. Tetapi hasil
pemeriksaan dokter, nikotin dalam paru2 masih retensi tidak mudah
hilangnya walau sudah rajin olahraga joging, perlu waktu lebih dari
5-10 thn agar paru-paru normal kembali.

Yang perlu perhatian adalah besarnya pendapatan Warga Jatim dan
Pemerintah Jatim dari Industri Rokok. Industri rokok sudah menjadi
bagian kehidupan mereka. Terutama Kediri dan Kudus dengan pertanian
tembakau dan cengkeh. Kediri yang terkenal dengan ramalan Jayabaya dan
Kudus, Menara Kudus, Kerjaan Demak telah berubah dari Citra Islami
menjadi Citra Rokok, seperti hio berasap dari mulut.

Raden Fatah, Raja Demak Pertama sangat prihatin saat melihat Mesjid
Laksmana Cheng Ho tidak dimakmurkan dan berubah menjadi Kelenteng di
Semarang. Industri dan teknologi Galangan Kapal untuk transportasi dan
perdagangan masih ditekuni oleh peranakan Cina yang telah berubah
keyakinannya.[1]

Bahkan di Kapital Jakarta dapat dilihat properti grup rokok. Sebagai
Contoh Grand Indonesia, Pusat Perbelanjaan, Bisnis, Hotel dimiliki
Group Jarum, perusahaan rokok.
Penyumbang pajak terbesar 10 besar di Indonesia masih group perusahaan rokok.

Kefakiran dekat dengan Kekafiran.
Yang perlu perhatian mengembangkan ekonomi rakyat syariah di Kediri,
Demak dan Tulung Agung. Mengembangkan wisata rohani dan pertanian
rakyat berkomoditas ekspor sehingga mencukupi sandang, pangan, papan,
pendidikan dan kesehatan wilayah produksi rokok.

Bila Rumah Makan Padang dan Rumah Makan Tegal mendapatkan skim bantuan
permodalan dari Bank Syariah, dan tidak memasarkan produksi rokok di
kedai, rumah makan, dan restoran karena menjalankan Fatwa MUI sebagai
tempat umum. Dan menjadi etalase produk makanan tradisional,
pertanian, perikanan dan oleh-oleh dari Demak dan Kediri. Ekonomi riil
akan bergerak menuju kemakmuran. Bila sudah makmur, otomatis sadar
akan besarnya rahmat dan karunia kesehatan.

Wallahu Alam B. Semoga Berguna.
Wass.Wr.Wb.
A U G I
augispot.blogspot.com

1. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa Majapahit dan Timbulnya Negara-Negara
Islam di Nusantara, Prof. Slamet Mulyono, LKIS, 2000.
http://lkis.co.id/site/index.php/id/katalog/20080206117/katalog/lkis/runtuhnya-kerajaan-hindu-jawa/menu-id-63.html

2. Pemerintah Kabupaten  Demak
http://www.demakkab.go.id/sejarah.htm

3. Djarum
http://en.wikipedia.org/wiki/Djarum

4. Detik Finance Djarum
http://www.detikfinance.com/read/2007/12/14/124355/867070/4/hartono-bersaudara-generasi-emas-djarum-group



On Mon, Jan 26, 2009 at 8:21 AM, Riri Chaidir
<[email protected]> wrote:
> Assalamualaikum wr wb.
>
> MUI akhirnya menyatakan merokok itu haram bagi dalam tiga kondisi: anak2
> dibawah umur, wanita hamil, dan tempat umum. Selebihnya, silakan memutuskan
> sendiri apakah itu haram atau makruh," kata Ketua Umum MUI.
>
> Keputusan itu merupakan ujung dari perdebatan alot diantara berbagai
> pendapat, termasuk pertimbangan bahwa "karena warga Indonesia masih banyak
> yang merokok ..."
>
> Berikut saya copy kan berita dari
> http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/207879/ pagi ini.
>
> Dan sekaligus mengutip tulisan di top banner berita tersebut, saya
> mengucapkan Gong Xi Fat Choi, Selamat Tahun Baru Imlek 2560/ 2009
>
> Riri
> Bekasi, L 46
>
> MUI Sepakati Fatwa Rokok
> Monday, 26 January 2009
> PADANG PANJANG (SINDO) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) akhirnya memutuskan
> fatwa haram merokok hanya berlaku bagi wanita hamil, anak-anak, dan merokok
> di tempat umum.
>
> Keputusan tersebut dinyatakan final berdasarkan Sidang Ijtima Ulama Fatwa
> III MUI yang diselenggarakan 24–26 Januari di Padang Panjang, Sumatera
> Barat. Dengan demikian, fatwa hukum merokok yang dihasilkan dari ijtima para
> ulama tersebut akan disosialisasikan kepada seluruh lapisan masyarakat
> secepatnya.
>
> Ketua Umum MUI KH Sahal Mahfudz mengakui fatwa haram merokok tidak diketuk
> secara menyeluruh lantaran munculnya perdebatan dan kontroversi antarulama
> dalam sidang Komisi Fatwa. "Akhirnya, MUI memutuskan hukum merokok antara
> haram dan makruh. Ini dianggap yang terbaik untuk solusinya. Yang dipastikan
> haram hanya merokok bagi wanita hamil dan anak remaja serta di tempat umum.
>
> Selebihnya, silakan memutuskan sendiri apakah itu haram atau makruh," ungkap
> KH Sahal kemarin. Menurut dia, implementasi keputusan itu tidak mengikat
> secara umum. Dengan begitu, masyarakat diminta memilih di antara keputusan
> itu, dengan mempertimbangkan pengaruh rokok secara pribadi. Ketua MUI KH
> Ma'ruf Amin menambahkan, putusan tersebut tidak bisa dikompromikan karena
> merupakan kesepakatan ulama dalam proses sidang yang panjang dan alot.
>
> Menurut dia, fatwa tersebut merupakan jalan tengah atas kontroversi yang
> terjadi di kalangan masyarakat serta diikuti perdebatan di antara para ulama
> dalam forum resmi MUI."Kita akan intensifkan sosialisasinya kepada
> masyarakat, terutama mengenai fatwa haram merokok di tempat umum, bagi
> anakanak, dan perempuan hamil. Adapun batasan usia anakanak belum disebutkan
> di sini,"katanya.
>
> Dari pantauan SINDO, sebelum keputusan tersebut ditetapkan, terjadi
> perdebatan alot saat masih dibahas di Komisi Fatwa. Bahkan, hasil sidang
> Komisi B-1 yang membahas masalah tersebut tidak mencapai kesepakatan alias
> deadlock. Akhirnya, hasil sidang tersebut diserahkan kepada Majelis MUI
> Pusat. Menurut Wakil Ketua Komisi B-1 Amin Suma, dalam persidangan Komisi
> B-1 terjadi perdebatan alot antara makruh dan haram.Ada beberapa alasan yang
> mengatakan merokok makruh karena warga Indonesia masih banyak yang merokok.
>
> "Selain itu warga Indonesia masih menggantungkan ekonominya pada produksi
> rokok," katanya seusai sidang Komisi B-1 di aula Perguruan Diniyyah Puteri
> Jalan Abdul Hamid Hakim,Padang Panjang. Sementara untuk opsi haram, mereka
> beralasan bahwa merokok mendatangkan banyak mudarat (bahaya) daripada
> manfaat. Mereka mengambil contoh lain seperti minuman keras yang diharamkan
> karena mendatangkan banyak mudarat daripada manfaat. Mudarat rokok dinilai
> lebih besar karena membahayakan masa depan generasi muda akibat kecanduan.
>
> "Persidangan ini membahas empat alternatif terkait hukum merokok, yakni
> haram dan haram dalam kondisi tertentu bagi anak-anak di bawah umur,wanita
> hamil, serta merokok di tempat umum," ungkap Amin. Di antara peserta sidang
> yang tidak setuju dengan fatwa haram rokok adalah Ketua MUI Jawa Timur
> Abdusshomad Bukhari. Dia menilai jika merokok diharamkan akan muncul banyak
> pengangguran, khususnya di Jawa Timur. "Itu artinya menimbulkan mudarat.
>
> Ribuan masyarakat Jatim menggantungkan hidup dengan bekerja di perusahaan
> rokok. Saya tidak mau bertanggung jawab kalau fatwa tersebut dikeluarkan.
> Karena, akan banyak masyarakat Jatim yang menganggur," tuturnya. Menanggapi
> hal itu, Ketua MUI Sumatera Utara Abdullah Syah menghargai perbedaan
> pendapat antarulama meskipun secara pribadi dia sepakat dengan fatwa haram.
>
> Karena itu, dia setuju dengan keputusan akhir yang dikeluarkan MUI yang
> menyatakan hukum merokok antara haram dan makruh. "Walaupun saya merokok,
> saya mendukung niat baik ulama lain untuk mengeluarkan fatwa larangan
> merokok," ujarnya.
>
> Mengikat Secara Moral
>
> Sementara itu, Direktur Jenderal Bina Masyarakat (Dirjen Bimas) Islam
> Departemen Agama Nasarudin Umar mengatakan, fatwa rokok MUI mengikat
> masyarakat secara moral,bukan secara hukum positif. "Jadi tidak ada penjara
> untuk anakanak yang merokok.
>
> Atau penjara bagi wanita hamil yang merokok," tandasnya. Menurut dia,
> anak-anak yang belum memiliki pendapatan sendiri tentu harus dilarang
> membeli rokok. Sebab dampaknya akan menimpa ekonomi keluarga,terutama
> kalangan bawah. Dia yakin, MUI sudah mempertimbangkan secara komprehensif
> keputusan ini. Kalaupun tidak diharamkan secara keseluruhan, pasti MUI punya
> pertimbangan tertentu. "MUI mungkin akan melokalisasi terlebih dahulu.
>
> Kalau hal ini berjalan efektif dan bermanfaat, siapa tahu pada waktu-waktu
> mendatang akan diharamkan seluruhnya," katanya. Dengan putusan tersebut, dia
> meminta MUI juga memberikan solusi terhadap dampak yang akan diakibatkan.
> Pemerintah, lanjut Nasarudin, akan mengambil langkah- langkah koordinasi
> dengan MUI terkait fatwa ini.
>
> Rugikan Industri Rokok
>
> Wakil Ketua Persatuan Perusahaan Rokok Kudus (PPRK) Assufar Ahmad menilai
> fatwa haram rokok akan berdampak besar bagi perekonomian masyarakat yang
> berpenghasilan dari tembakau atau bekerja di perusahaan rokok.
>
> "Saat ini di Kudus terdapat sekitar 110.000 pekerja rokok yang tersebar di
> perusahaan-perusahaan rokok besar maupun kecil.Ratarata mereka menanggung
> biaya hidup tiga anggota keluarga dalam setiap harinya. Jika perusahaan
> rokok harus ditutup karena ada fatwa haram, mau dikemanakan mereka," kata
> Assufar. (zia ul haq/rendra hanggara/ sundoyo hardi)
>
>
>
>
>
>
>
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke