Assalaamu'alaikum. w.w. ... eeh,... iko iyolah antah,... ambo nan indak tau diri ... pak Suheimi Angkatan bara ?. Ambo murik partamo dek pak Sunariaman Mustopha, tapi di SMA 2. Wassalam St. Sinaro
--- On Mon, 4/20/09, suheimi ksuheimi <[email protected]> wrote: From: suheimi ksuheimi <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] SUNARYAMAN DALAM KENANGAN To: [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected] Date: Monday, April 20, 2009, 3:48 AM SUNARYAMAN DALAM KENANGAN Oleh : K . Suheimi Namanya Sunaryaman.. Kami panggil Pak Sun. Sun = Matahari. Bagaikan M dia Sumber kehidupan, dia menghidupkan. Dimana Pak Sun berada murid akan mengelilinginya, dan murid merasa lebih hidup bersamanya. Pancaran cahaya kehidupan yang di imbaskannya, menggairahkan murid menapaki jalan hidupnya. Makanya dari tangan pak Sun lahirlah murid-murid yang memantulkan kehidupan dan berani mengharungi lautan kehidupan ini. Bagaikan Matahari dia adalah sumber energi. Enrgi ini terimbas ke sekelilingnya, dan semua kami muridnya merasakan imbasan energi itu. Dialah guru yang sangat pandai membakar semangat. Setiap kali saya ketemu dengan Pak Sun bahu saya selalu di tepuk-tepuknya. “Tulisan kamu yang kemarin bagus sekali” kata beliau sambil memperlihatkan Koran Singgalang,m kerna saya sering menulis di Koran itu> Buku yang kamu beri dulu sudah tamat say abaca, enak, mengalir dan perlu kata beliau kembali menepuk pundakku.. Setiap kali pundaj saya di tepuknya setiap kali itu pula hati saya berbunga-bunga. Maka kalau terbit buku saya , yang pertama saya kitrimi beliau, dan beliau senyum senang menerima kiriman ini. Pada galibnya beliaulah yang memicu semnagat saya untuk menulis dan terus-terusan menulis hingga ke tagihan menulis. Hari ini, walaupun beliau telah tiada, juga tulisan ini saya peruntukkkan baginya. Guru yang saya sangat hormati, guru yang telah menorehkan semangat hidup dan kehidupan, Guru yang dari tangannya banyak murid yang mencapai tujuan, menuju cita mencapai tanah tepi. Sebagai Matahi dia selalu menghangatkan. Ada-adanya ceritra beliau, matanya berkaca-kaca menceritrakankeberjasilan muridnya. Wajahnya jernih , matanya bersinar memancarkan semangat dan pengabdian. Tutur katanya jelas dan yang keluar kata-kata ke iikhlasan. Keikhlasan akan keberhasilan muridnya. Keikhlasan itu pulalah yang menghabtarakan kemi menuju cita Dengan hangat saya disapanya, beliau tahu betul Istri saya dr Zurtias , mertua dan bapak saya, bahkan anak-anak saya dia hafal namanya. Kemampuan pak Sun mengenal dan menghafal nama murid serta ingatan beliau itulah yang tak mungkin kami tiru Pak Sunaryaman Guruku.yang namanya guru, sekali dia guru,seumur-umur kita dia tetap guru kita, tidak ada istilah itu bekas guru saya, dulu dia pernah jadi guru saya sekarang tidak lagi. Saya kan sudah lulus mata pelajarannya, saya tak akan berurusan¬ lagi dengannya. Sekali lagi saya ulangi, sekali seseorang jadi guru selamanya dia tetap guru, walaupun kita telah jauh sekali meninggalkannya namun dia tetap guru kita. Hanya untuk gurulah yang tidak ada istilah "Dia bekas guru saya". Tidak ada istilah bekas pada pak atau bu guru. Sampai detik inipun saya tetap salut dan hormat kepada guru-guru saya, mulai dari TK dan sampai guru-guru saya hari ini. Dan ternyata guru kita itu sangat banyak, di sekeliling kita di lingkungan kita bahkan alam takambangpun kita jadikan guru, Dan yang namanya guru, siapa saja, dimana saja dan kapan saja selalu kehormatan kita berikan dan kita persembahkan padanya. Dan kalau dia sakit, itulah saat yang paling tepat menunjukkan rasa simpatik dan kalau perlu memberikan bantuan dan pertolongan. Jangan ada seorang guru sampai berkata "Aku sakit engkau tak menjengukku". Guru pahlawan tak di kenal, tidak juga mengharap balas jasa, namun kalau bukan murid-muridnya siapa lagi yang akan menaruh simpati?. Disinilah kembali saya merenung, inikah dunia zaman sekarang?, murid tidak lagi menghargai dan mengacuhkan gurunya, dimana letaknya terima kasih dan kapan seorang murid menyampaikan terima kasihnya?. Lalu jawabannya sangat menyayat, "saya tidak membutuhkannya lagi, saya sudah ujian dan saya sudah lulus, peduli amat dengan dia". Didepan rumah saya, saya sering menyaksikan murid-murid SMA berebutan naik oplet dengan guru-gurunya, tidak ada mereka yang memberi kesempatan dan mendahulukan agar guru-gurunya di beri tempat dan di perjuangkan tempatnya. Lalu siapakah yang salah dan apakah yang salah. Salahkah si nurid atau salahkah si guru, atau salahkah zaman sekarang?. Tidak, tidak ada yang salah, cuma pendidikan di rumah agaknya perlu di tingkatkan, diberi tahu tentang etiket, tentang sopan santun tentang harga menghargai dan hormat menghormati, agaknya inilah yang kurang di zaman sekarang, pendidikan budi pekerti, akhlakul Karimah. Ingin dan rindunya kita akan pendidikan budi pekerti, agar melahirkan manusia-manusia yang berbudi luhur, yang tahu sopan santun dan pandai berterima kasih. Waktu saya jadi murid selalu di tanamkan, bahwa tak mungkin saya menjadi orang dan tak mungkin saya ber ilmu kalau bukan karena jasa seorang guru. Lalu saya mendengar sebuah lagu yang mengalun di TPI, "jasa guru" kita jadi pintar karena siaapa?. Guru adalah manusia yang sangat berjasa mendidik, dari tanganya¬lah lahir orang-orang besar dan orang-orang hebat. Untuk ini, pendidik ini, dapat di sejajarkan denga orang tua kita, dan baginya pantas kehormatan dan sebuah doa di panjatkan. Hari ini saya teringat sebuah firman suci_Nya dalam Al Qur'an surat Al-Israa' ayat 24 :"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah :"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah "mendidik" aku waktu kecil". SUNARYAMAN GURUKU Dalam sibukmu, kau slalu memikirkan kami Dalam sakitmu, kau terus hadir Dalam sakitmu, kau masih berkarya Dalam sakitmu, kau hadir di hati kami Tapi, seluruh kesibukanmu, adalah kesibukan untuk orang lain Engkaulah guru kami Banyak hal baik yang kami petik darimu Engkau adalah panutan kami Demi amanah yang dipikul Kami tahu, kau tak pernah mengeluh Banyak kemelut kau lalui dank au atasi Engkau bagaikan karang Semakin ditempa ombak dan badai Kau semakin kokoh Diwajahmu terpancar Ilmu amaliah, dan amal ilmiah Dan ilmu yang kau sebarkan adalah ilmu yang bermanfaat Engkau telah saksikan kami selalu berusaha mengenal dirimu berusaha meneladanimu tapi… maafkan kami inilah yang tak pernah kami bisa Kami kagumi pribadimu Dan untuk itulah kami hadir di sini hari ini Dihari Ulang Tahun emas SMA 1 P Baru 20 April 2009 Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis) --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
