> memilih mana diantara ketiga nya yang patut dipedomani dan dijadikan tata
> aturan dalam kehidupan sehari-hari orang Minang.

Assalaamu'alaikum. w.w.
 
 .... maaf komentar sanak lain alun ditanggapi lai do... mancaliak kama kareh
gandang sen dulu ...tapi silahkan berkomentar ...
 
... kok kito taruihkan ...
 
Cerminan masih ada. “Kilek baliuang alun ka kaki lai do,
kilek camin alun ka muko lai”. Gaung keberhasilan masyarakat Aceh melaksanakan
syariat Islam hendaknya melecut juga semangat orang Minang untuk akhirnya
memilih mana diantara ketiga nya yang patut dipedomani dan dijadikan tata
aturan dalam kehidupan sehari-hari orang Minang.
Persoalan sekarang mengapa harus memilih salah satu diantara ketiganya. 
Mari kita coba telaah secara filosofis. 
Kalau dikatakan "tungku tigo sajarangan", maknanya ketiga-tiganya terletak pada 
tempatnya dan tidak saling mempengaruhi satu sama lain, yang tujuannya 
mendukung 
beban yang ada diatasnya untuk mencapai tujuan. Ketiga-tiganya mempunyai jarak 
yang cukup dan tidak saling mempengaruhi sehingga beban diatasnya tidak oleng. 
Ketiganya harus sama tinggi sehingga beban diatasnya dapat mendatar menampung 
apapun bentuk material yang hendak dimasak dan tidak akan tumpah. Ini merupakan 
syarat sehingga tujuan tercapai, pincang salah satu maka olenglah bebannya dan 
tumpah
isinya sehingga tujuan tidak tercapai. 
   Nah apakah adat, agama dan pemerintahan yang ada sekarang mematuhi filosofi 
ini. 
Jelas tidak karena semua saling mempengaruhi. Jelas tidak karena tidak dapat 
dibuat 
sama tinggi. Jelas tidak karena kalau salah satu tinggi maka beban akan oleng 
dan 
tujuan tidak tercapai. 
  Dari analysis filososfis ini sudah dapat dipastikan, adat, agama dan 
pemerintahan 
bukanlah tungku tigo sajarangan yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan, yakni 
kebahagiaan hidup. Lalu, analogi apa yang cocok untuk ketiga-tiga ini. Tak lain 
dan 
tak bukan adalah kayu bacupang  tigo. Mengapa begitu karena mereka bukan jari 
tangan yang dapat saling membantu. Atau jari tangan robot sekalipun karena 
tidak 
bekerja sama dengan control yang sama, sama sinyal dan sama gerakannya. Serta 
dapat diatur dengan control program sesuai dengan keinginan. Justru kitanya 
yang 
akan diatur oleh mereka. 
   Secara adat Minang, kayu bacupang indak bisa diantakkan. Secara agama 
tidak bisa dibenarkan karena tidak boleh syirik. Secara Negara atau 
pemerintahan tidak
dapat dibenarkan karena semua harus konstitusional. 
Lagi, mengapa menjadi seperti kayu bacupang. Karena mereka saling mempengaruhi 
pada gagangnya. Jika beban diberikan pada yang satu maka yang lain akan terkena 
pengaruhnya yang bersumber dari gagangnya (analoginya masyarakat minang itu 
sendiri). Dan ketiganya jelas tidak sama panjang karena yang satu pasti 
mengatasi yang
 lain atau dipaksakan mengatasi yang lain (aratinyo dikarek).
   Nah, kalau sudah begini, jika ini dipaksakan kepada masyarakat Minang, 
kebahagiaan tidak akan pernah menjelang dan boleh jadi tidak satupun dari 
ketiga unsur
 itu dapat memberikan kebahagiaan. Bahkan ia akan jadi racun seumur-umur karena 
tidak dapat dipergunakan untuk apa-apa akan tetapi harus dibawa terus menerus. 
   Lalu apa jalan keluar yang paling mungkin ?. Mau tak mau suka atau tidak 
suka, 
Orang Minang harus memilih, mana yang harus dipertahankan dan mana yang harus 
dibuang. Atau dipotong menjadi pendek dua cupang dan dibiarkan panjang 
satu cupang 
yang lain. Artinya satu mesti menjadi superior yang akan mancucuak katiko 
diantakkan,
yang akan manabuak bila ado nan kaditabuak, yang akan menyentuh lebih dahulu 
kalau
 ada yang mau disentuh. Sekarang tinggal memilih, manakah dari ketiga cabang 
ini yang
 paling besar dan kuat fisik dan energynya. Pertimbangan yang matang harus 
diberikan
 sehingga tidak salah pilih. Bila salah memilih maka sengsara akibatnya. 
Mangauak 
harus sahabih sauang, manjangkau harus sahabih raso, kito inok ranuangkan iko 
dulu. 
Salah …? Fatal akibatnya. Kalau dipolitisir, hancurlah kita semua.
 
…. Banyak juo lai ko, singan iko dulu,… kama kareh bunyi gandang ko… kito
Danga pulo.
   

Wassalam .w.w.
 
Engineering design and Manufacturing laboratory
Andalas University, Kampus Limau Manih
Padang, April 2009.
Dr. Eng. Khairi Yusuf St. Sinaro

 


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke