Asslm.Wr.Wb.

Keabu-abuan ini membuat orang Minang dahulu dikatakan berhasil dalam
> pemerintahan sehingga sixty percent of BPUPKI members are orang Minang. Dan
> keabu-abuan itu juga yang membuat orang Minang tidak mau tampil ke muka
> memperlihatkan dada dan memperjuangkan mana yang benar. Alasannya mungkin
> “mandaulukan kawan salangkah, maninggikan kawan sarantiang”. Meskipun sarat
> dengan kenegawarawanan dan kebangsawanan serta punya visi jauh dan misi yang
> lengkap Bung Hatta tidak memegang tampuk kepemimpinan, badaulukan Soekarno
> nan alun jaleh baa sabananyo inyo lai. (Maaf bila pandangan ini menyinggung
> anak dan cucu beliau, tapi ini hanya sekedar pandangan atas bagaimana orang
> Minang). Dan periode berikutnya pun berlaku hal yang sama sampai kepada 
> kepemimpinan yang sekarang.

Kini telah berlansung Pemilu untuk mewakilkan aspirasi masyarakat
untuk mewujudkan kedaulatan rakyat di Senayan. Musyawarah dan mufakat
merupakan upaya memecahkan masalah di tingkat Muspida, sementara untuk
tingkat negara melalui MPR.

Jakarta, pusat kekuasaan dan ekonomi kapital. 700 triliun rupiah masih
menjadi simpanan untuk diambil ribanya di Bank BUMN sambil mengamati
Pemilu Presiden mendatang.

Internasionalisme, di Jakarta, Swiss, dan Dubai berbeda.
Jakarta; perputaran uang dollar, perputaran pencetakan uang dari Peruri-BI.
Swiss; perputaran valuta asing dengan bendungan danau dan sungai untuk
simpanan dan distribusi air PAM pada sepanjang musim dingin dan panas,
listrik dan pariwisata.
Dubai; perputaran uang emas, dinar dan pembangunan infrastruktur.

Demikian hasil pemikiran mengenai Kapital  dan Ummul Quraa.
http://www.scribd.com/doc/4685468/ekonomi-syariah-untuk-kemaslahatan-bangsa-agustianto

Wallahu Alam B. Wass.Wr.Wb.
A U G I JD
augispot.blogspot.com


2009/4/20 Sutan Sinaro <[email protected]>:
> Trialisme Masyarakat Minang.
>
>
>
> Assalamu’alaikum. w.w.
>
>
>
> Orang Minang marah bila dia disebut tidak beradat, karena terasa kecil
> sekali bila dikatakan begitu, seolah-olah ia menjadi orang terbuang, karena
> “urang ndak baradaik tabuang sapanjang adaik”. Yang  disebut “tabuang
> sapanjang adaik”  artinya hidup di region Minang pun, mulai dari “sialang
> balantak basi, sampai ka sipisak pisau anyuik, dari tapi ombak nan badabua
> sampai ka durian ditakuak rajo”, tidak boleh lagi. Kapan ia dapat
> mengunjungi orang tuanya atau sanak saudaranya ?, “bilo tangah malam aniang
> sunyi, urang lah bi lalok kasadonyo”. Itupun harus segera keluar sebelum
> subuh tiba, sebelum para “parewa nagari” terjaga.
>
> Belum lagi urusan suku bersuku dalam arti harta warisan dan gelar warisan.
>
> “We-e indak kamanakan Sidi lai tu do, we-e lah dicampak-an sapanjang adaik”.
> Oleh sebab itu orang Minang dahulu sangat berhati-hati menjaga segala
> tingkah laku jangan sampai melanggar aturan adat, atau bahkan sangat
> berhati-hati sekali sehingga jangan sampai lekat hujatan “indak tau
> di-ampek”.
>
>    Hanya saja hukum seperti itu sudah tidak diberlakukan lagi (santiang pulo
> urang balando lai, nan menghormati hukum adat, pado urang awak nan lah
> bakuaso di nagari sendiri). Sehingga perilaku generasi bertukar dan pepatah
> “adaik ndak lakang di paneh, ndak lapuak dek hujan”, kini alah lakang alah
> lapuak, semenjak nagari Minang diragang, dari Sialang balantak basi sampai
> ka Sabang, dari Durian ditakuak rajo sampai ka Merauke. Dan Minangpun
> tinggal nama dan sebutan selain cemoohan dan hujatan.
>
>   Semenjak berdirinya NKRI, kalahnya PRRI dan tampuk kepemimipinan bertukar
> kepada Soeharto, seluruh nagari Minang di “eliminate” dan diganti dengan
> desa. Usaha yang sekarang ini untuk mengembalikan Minang kepada bentuk
> semula, entah akan tinggal usaha saja dan sia-sia, karena secara yuridis,
> aturan peralihan dan aturan tambahan UUD 45 yang mengakui “kenegarian” di
> Minang sudah tidak dipedulikan lagi karena sudah banyak yang diamandemen.
> Boleh jadi nanti yang terdapat nama Minang itu hanyalah Bandara Ketaping
> yang untung saja bisa dikukuhkan menjadi Bi Ai Em.
>
>     Akan tetapi kemarahan orang Minang lebih besar lagi bila dia disebut
> tidak Islam alias kafir. Karena bagaimanapun tidak mau disebut “anak nan
> indak ba bismilah”, umpan api narako. Kepercayaan kepada hari akhirat sangat
> kuat meskipun “sumbayang antah lai antah indak”. Ketakutan tercampak ke
> dalam neraka selama-lamanya memang menjadi kekuatan dalam diri orang Minang
> yang khas karena kepercayaan adanya neraka dan sorga merasuk dalam hati,
> meskipun tidak ditindak lanjuti dengan perilaku dan perbuatan.  Oleh sebab
> itu kristenisasi yang marak belakangan ini tidak mempan atau tidak mampu
> mengembangkan sayapnya, meskipun dengan berbagai cara dari yang halus sampai
> yang kasar. Hanya saja kekuatan ini tidak dapat juga dibanggakan seperti
> rakyat Aceh yang mampu berhadapan dengan siapapun walaupun mati di depan
> mata kalau agama sudah dihina. Orang Minang menjadi berwarna abu-abu, tidak
> hitam tidak putih dan tidak jelas bagaimana sebenarnya ia. Pepatah “lambek
> lago lai ka manang” sudah ditinggalkan sudah diganti dengan “bialah
> takuruang asa lai di lua”.
>
>     Keabu-abuan ini membuat orang Minang dahulu dikatakan berhasil dalam
> pemerintahan sehingga sixty percent of BPUPKI members are orang Minang. Dan
> keabu-abuan itu juga yang membuat orang Minang tidak mau tampil ke muka
> memperlihatkan dada dan memperjuangkan mana yang benar. Alasannya mungkin
> “mandaulukan kawan salangkah, maninggikan kawan sarantiang”. Meskipun sarat
> dengan kenegawarawanan dan kebangsawanan serta punya visi jauh dan misi yang
> lengkap Bung Hatta tidak memegang tampuk kepemimpinan, badaulukan Soekarno
> nan alun jaleh baa sabananyo inyo lai. (Maaf bila pandangan ini menyinggung
> anak dan cucu beliau, tapi ini hanya sekedar pandangan atas bagaimana orang
> Minang). Dan periode berikutnya pun berlaku hal yang sama sampai kepada
> kepemimpinan yang sekarang. Sehingga orang Jawa dapat dengan bangga
> mengatakan “Sing due negoro tho”.  (“Yang punya Negara toh, Jawa-red).
> “Presidhen iku musti wong Djowo tho”.
>
>   Ketika datuak Ketumanggungan menerima Aditiyawarman sebagai menantu lalu
> mempersilahkannya menjadi raja di kerajaan Melayu di tanah Jambi, yang
> ditulis dalam tambo “Datanglah ruso dari lauik di tembak rajo nan baduo,
> badia sahantak duo dantam”,  ini adalah siasat politik, supaya anak dan
> kemenakan dan urang kampuang kasadonyo tidak sengsara dengan gaya
> kepemimpinan Jawa. Nagari Minang terselamatkan dan tampuk pimpinan tetap
> berada di tangan mereka. Tapi ilmu ini disalah tafsirkan sehingga
> mendahulukan orang menjadi Kepala Negara menjadi hal yang salah kalau sudah
> tahu Minangkabau diragang dari Sabang sampai Merauke. Seharusnya “tungkek”
> datuak Perpatiah dan datuak Ketumanggungan yang menjadi tongkat komando di
> Istana Negara. Tapi apa mau dikata, kesadaran ini baru sekarang menjalarnya
> dan penyakit orang Jawa “ngoko, kami wong cilik” sudah pula merasuk dalam
> dada orang Minang dan dibahasa Minang-kan “awak rakyaik badarai
> kadipangakan”.
>    Akibat dari semua itu jadilah orang Minang dalam trialisme yang tak
> berkesudahan.  Entah sadar entah tidak, agama, adat dan pemerintah bukanlah
> tungku tigo sajarangan yang dapat menyalakan api kehidupan dan memasak
> kebahagiaan orang Minang, akan tetapi justru menjadi racun buah simalakama
> yang membingungkan dan menghancurkan jati diri orang Minang. Adat yang mau
> ditegakkan seperti kejayaan datuak Nan Baduo, beradu, bakuhantam dengan
> agama dan NKRI. Kalau dipilih agama, rentan pula dengan Islamophobia dan
> keimanan yang entah kapan bisa kokohnya. Masuk bulat-bulat menjadi NKRI
> merasa diri tertindas pula dan hilang kebanggaan karena Javanisasi berhasil
> dikembangkan Soeharto. Indak ka dipiliah, rasa sengsara akan merasuk sampai
> ke anak cucu.  Antahlah yuang… (kok pulang abak-ang amak juo nan kamarasai).
>
>    Tetapi cerminan masih ada. “Kilek baliuang alun ka kaki lai do, kalik
> camin alun ka muko lai”. Gaung keberhasilan masyarakat Aceh melaksanakan
> syariat Islam hendaknya melecut juga semangat orang Minang untuk akhirnya
> memilih mana diantara ketiga nya yang patut dipedomani dan dijadikan tata
> aturan dalam kehidupan sehari-hari orang Minang.
>
>
>
>   …. Ado juo lai ko … kito caliak kama gandang nan kareh dulu …
>
>
>
> (Tulisan ko kok dimasuak-an ka Padang ekspress pasti kanai tulak lo sakali
> lai,
>
>  Karano Padek ko kapanjangan tangan dari Jawa Post nan liberal).
>
>
>
> Wassalam .w.w.
>
>
>
> Engineering design and Manufacturing laboratory
>
> Andalas University, Kampus Limau Manih
>
> Padang, April 2009.
>
> Dr. Eng. Khairi Yusuf St. Sinaro
>
>
>
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke