Waalaikumsalam w.w. Dewi dan para sanak sa  palanta,
Saya juga melihat bahwa belum banyak kesempatan diberikan kepada wanita-wanita 
Minang yang mempunyai kemampuan untuk memimpin, dan bahwa laki-laki mempunyai 
ruang gerak yang lebih luas dari wanita. Saya garis bawahi pernyataan Dewi 
bahwa perempuan Minang selain telah mendidik anak-anaknya dengan baik juga 
telah mendampingu suaminya dengan setia.
Tentang pernyataan Dewi bahwa belum mengemukanya peranan perempuan antara lain 
karena ajaran Islam, saya masih bertanya-tanya. Mungkin Buya Mas'oed dapat 
memberi kita pencerahan. 
Memang dahulu ada sebagian ulama N.U yang mengeluarkan fatwa bahwa 
perempuan tidak boleh menjadi presiden, sewaktu Megawati akan menggantikan Gus 
Dur. Tetapi kita tahu bahwa kemudian Ketua Umum NU Hasyim Muzadi malah bersedia 
menjadi cawapresnya Megawati, dan sekarang suara tersebut tak terdengar 
lagi.[Waktu saya bertemu dengan tokoh OPM Yustinus Murib di pergunungan 
Kwayawage di atas Wamena, dia juga marah-marah mengapa presiden Indonesia 
seorang perempuan. Di Papua semua kepala suku adalah laki-laki.]
Jika Islam memang mengajarkan bahwa perempuan tidak boleh menjadi 
pemimpin, lantas bagaimana kita bisa membenarkan kebijakan Presiden Megawati 
dahulu dari segi  ajaran agama Islam? Apa Sri Mulyani perlu kita suruh mundur 
dari jabatannya? Dalam Pilpres 2009 mendatang, apa perlu dikeluarkan lagi fatwa 
bahwa pencalonan Megawati melanggar ajaran Islam? Bagaimana pula kita dapat 
menerangkan posisi Cut Nyak Din dan Laksamana Malahayati sebagai panglima 
perang di Aceh yang tak kurang Islamnya dari Minang?

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam, 
Pariaman.)
"Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak" 
Alternate e-mail addresses: 
[email protected];




________________________________
From: Dewi Mutiara <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, April 22, 2009 7:53:05 AM
Subject: [...@ntau-net] Re: SERI NAN DI LUA TAMPURUANG 68: DR. SRI MULYANI, 
PROTOTIPE TOKOH PEREMPUAN INDONESIA BARU


Ass.Wr.Wb.

Pak Saaf yang terhormat .
Saya bangga    dengan wanita2 INDONESIA  yang maju dan duduk dikursi 
pemerintahan 
walaupun mereka bukan orang Minang,  saya yakin wanita2 minang banyak yang 
profesional untuk menduduki posisi tersebut , hanya belum mendapat kesempatan 
,karena banyak faktor2salah satunya  yang boleh saya katakan  wanita Minang 
,<orang Minang>  sedikit lebih berani mengemukakan pendapat yang kadang2 kurang 
bisa diterima  oleh atasan sehingga karir mereka lebih sering terhambat.
Sebagai wanita Minang diMinangkabau walaupun padusinya belum kelihatan 
menduduki jabatan dipemerintahan , mereka adalah ibu yang memberikan pendidikan 
yang paling baik sehingga anak2nya kelak bisa menjadi orang yang sangat 
dibanggakan , kita yakin pemimpin2 yang baik adalah dari keluarga yang ibunya 
mendidik dan mengarahkan dengan sangat baik.
Kenapa LAKI-LAKI di Minangkabau yang selalu jadi pimpinan , karena ,saya rasa 
semua juga tau gerakan laki2 jauh lebih leluasa dari pada padusi dan juga 
sesuai dengan ajaran ISLAM, 
Saya tidak mengecilkan arti  seorang perempuan ,karena tugas perempuan jauh 
lebih berat dari pada laki-laki ,suksesnya bapak-bapak sekarang tidak lepas 
dari peranan ibu-ibu ,<WANITA >. Saya yakin suksesnya laki2 kebanggaan wanita 
sebagai ibu ,sebagai pendamping yang sangat tidak bisa diabaikan.

Wassalam
Dewi Mutiara ..suku Sikumbang
--- On Tue, 4/21/09, Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> wrote:


From: Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] SERI NAN DI LUA TAMPURUANG 68: DR. SRI MULYANI, 
PROTOTIPE TOKOH PEREMPUAN INDONESIA BARU
To: [email protected]
Date: Tuesday, April 21, 2009, 11:42 PM


Assalamualaikum w.w. para sanak sapalanta,
Ada suatu anomali -- keganjilan -- dalam posisi perempuan di Minangkabau. 
Secara normatif kita menghormati peran perempuan Minangkabau dalam 
masyarakat, yang disebut dengan istilah anggun: Bundo Kanduang.
Namun jika kita telaah, peran tersebut lebih banyak hanya bersifat simbolik 
belaka, dan bukannya dalam realita. Peran perempuan Minangkabau 
mengemuka dalam penulisan ranji yang mencatat garis keturunan, dan seiring 
dengan itu secara formal dalam pencatatan harta pusaka tinggi. Namun kekuasaan 
riil dalam manajemen suku dan manajemen harta pusaka tinggi tidaklah  terletak 
dalam tangan perempuan, tetapi di tangan ninik mamak dan penghulu, yang 
seluruhnya harus dijabat oleh laki-laki. Mengapa harus demikian ? Apa perempuan 
dianggap tidak mampu untuk mengelola dan memimpin ?
Sebaliknya dengan posisi perempuan di daerah lain di Indonesia, katakanlah di 
Jawa. Adat Jawa menempatkan perempuan sebagai 'konco wingking', teman yang 
berjalan di belakang. Namun dalam kenyataannya, di Jawa kita bisa menyaksikan 
adanya bupati, gubernur, bahkan kapolda yang berjenis kelamin perempuan, yang 
sampai sekarang sama sekali belum ada di Sumatera Barat.. 
Perempuan Minang masih tetap dicitrakan sebagai limpapeh rumah nan gadang, 
dengan penekanan pada peranan tradisional domestik belaka, walaupun demikian 
banyak yang sudah bergelar profesor dan doktor, dengan potensi yang tidak kalah 
dengan laki-laki. Bagaimanapun, Minangkabau in concreto kelihatannya bukanlah 
'negeri perempuan' seperti pernah disebut oleh Wisran Hadi (?), tetapi tetap 
adalah negeri laki-laki. 
Saya cukup risau dengan anomali ini, khususnya jika diingat bahwa kualitas 
perempuan sebagai manusia tidak kalah dengan kualitas laki-laki. Dalam beberapa 
hal, misalnya dalam bidang pendidikan, kesehatan, -- bahkan dalam manajemen 
ekonomi -- terkesan para umumnya prestasi perempuan lebih unggul dari 
laki-laki.. 
Dengan kata lain, walau secara formal menganut sistem kekerabatan matrilineal, 
namun Minangkabau tidaklah memberikan penghargaan, penghormatan, serta peran 
yang tinggi kepada kaum perempuannya. Perempuan  Minangkabau masih tetap berada 
di bawah perwalian -- curatele -- dari kaum laki-laki.
Cepat atau lambat, akan timbul pertanyaan: apakah belum saatnya kepada 
perempuan Minangkabau ini diberikan posisi yang lebih mengemuka, dimulai 
pada tataran suku dan masyarakat dan secara bertahap juga ke dalam bidang 
publik dan pemerintahan ? Apa belum waktunya manajemen suku juga melibatkan 
kaum perempuan ini secara riil dan efektif ? Juga timbul pertanyaan: mengapa 
tak satupun bupati dan walikota, atau asisten sekda perempuan, di Ranah Minang 
ini ? Apakah mereka belum siap, belum mampu, atau belum mau? 
Mau tidak mau saya membandingkannya dengan kemajuan peran perempuan Indonesia 
lainnya. 
Di tingkat nasional peran perempuan ini juga sudah jauh mengemuka. Sudah lama 
ada menteri perempuan dalam kabinet. Dalam Polri dan TNI sudah ada brigadir 
jenderal perempuan, sudah ada penerbang helikopter tempur perempuan. Di Amerika 
Serikat bahkan sudah ada jenderal bintang empat perempuan, yang bertanggung 
jawab dalam maslah logistik pertahanan.Demikianlah, di tingkat nasional dewasa 
ini secara pribadi saya mengagumi tokoh Dr Sri Mulyani, yang sekarang selain 
menjadi Menteri Keuangan juga menjabat sebagai Pelaksana Tugas Menteri 
Koordinator bidang Perekonomian, dan melaksanakan kedua tugasnya dengan mantap. 
Beliau bahkan dinilai sebagai menteri keuangan terbaik di tingkat regional dan 
internasional.
Dalam pandangan saya, Dr Sri Mulyani dapat kita pandang sebagai prototipe tokoh 
perempuan Indonesia baru, termasuk untuk daerah Sumatera Barat.
Bagaimana pendapat para sanak sekalian mengenai hal ini?

 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam, 
Pariaman.)
"Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak" 
Alternate e-mail addresses: 
[email protected];
[email protected]
[email protected]
 


 



[email protected]
[email protected]
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke