Ass.Wr.Wb. Pak Saaf yang terhormat . Saya bangga dengan wanita2 INDONESIA yang maju dan duduk dikursi pemerintahan walaupun mereka bukan orang Minang, saya yakin wanita2 minang banyak yang profesional untuk menduduki posisi tersebut , hanya belum mendapat kesempatan ,karena banyak faktor2salah satunya yang boleh saya katakan wanita Minang ,<orang Minang> sedikit lebih berani mengemukakan pendapat yang kadang2 kurang bisa diterima oleh atasan sehingga karir mereka lebih sering terhambat. Sebagai wanita Minang diMinangkabau walaupun padusinya belum kelihatan menduduki jabatan dipemerintahan , mereka adalah ibu yang memberikan pendidikan yang paling baik sehingga anak2nya kelak bisa menjadi orang yang sangat dibanggakan , kita yakin pemimpin2 yang baik adalah dari keluarga yang ibunya mendidik dan mengarahkan dengan sangat baik. Kenapa LAKI-LAKI di Minangkabau yang selalu jadi pimpinan , karena ,saya rasa semua juga tau gerakan laki2 jauh lebih leluasa dari pada padusi dan juga sesuai dengan ajaran ISLAM, Saya tidak mengecilkan arti seorang perempuan ,karena tugas perempuan jauh lebih berat dari pada laki-laki ,suksesnya bapak-bapak sekarang tidak lepas dari peranan ibu-ibu ,<WANITA >. Saya yakin suksesnya laki2 kebanggaan wanita sebagai ibu ,sebagai pendamping yang sangat tidak bisa diabaikan.
Wassalam Dewi Mutiara .suku Sikumbang --- On Tue, 4/21/09, Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> wrote: From: Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] SERI NAN DI LUA TAMPURUANG 68: DR. SRI MULYANI, PROTOTIPE TOKOH PEREMPUAN INDONESIA BARU To: [email protected] Date: Tuesday, April 21, 2009, 11:42 PM Assalamualaikum w.w. para sanak sapalanta, Ada suatu anomali -- keganjilan -- dalam posisi perempuan di Minangkabau. Secara normatif kita menghormati peran perempuan Minangkabau dalam masyarakat, yang disebut dengan istilah anggun: Bundo Kanduang. Namun jika kita telaah, peran tersebut lebih banyak hanya bersifat simbolik belaka, dan bukannya dalam realita. Peran perempuan Minangkabau mengemuka dalam penulisan ranji yang mencatat garis keturunan, dan seiring dengan itu secara formal dalam pencatatan harta pusaka tinggi. Namun kekuasaan riil dalam manajemen suku dan manajemen harta pusaka tinggi tidaklah terletak dalam tangan perempuan, tetapi di tangan ninik mamak dan penghulu, yang seluruhnya harus dijabat oleh laki-laki. Mengapa harus demikian ? Apa perempuan dianggap tidak mampu untuk mengelola dan memimpin ? Sebaliknya dengan posisi perempuan di daerah lain di Indonesia, katakanlah di Jawa. Adat Jawa menempatkan perempuan sebagai 'konco wingking', teman yang berjalan di belakang. Namun dalam kenyataannya, di Jawa kita bisa menyaksikan adanya bupati, gubernur, bahkan kapolda yang berjenis kelamin perempuan, yang sampai sekarang sama sekali belum ada di Sumatera Barat. Perempuan Minang masih tetap dicitrakan sebagai limpapeh rumah nan gadang, dengan penekanan pada peranan tradisional domestik belaka, walaupun demikian banyak yang sudah bergelar profesor dan doktor, dengan potensi yang tidak kalah dengan laki-laki. Bagaimanapun, Minangkabau in concreto kelihatannya bukanlah 'negeri perempuan' seperti pernah disebut oleh Wisran Hadi (?), tetapi tetap adalah negeri laki-laki. Saya cukup risau dengan anomali ini, khususnya jika diingat bahwa kualitas perempuan sebagai manusia tidak kalah dengan kualitas laki-laki. Dalam beberapa hal, misalnya dalam bidang pendidikan, kesehatan, -- bahkan dalam manajemen ekonomi -- terkesan para umumnya prestasi perempuan lebih unggul dari laki-laki.. Dengan kata lain, walau secara formal menganut sistem kekerabatan matrilineal, namun Minangkabau tidaklah memberikan penghargaan, penghormatan, serta peran yang tinggi kepada kaum perempuannya. Perempuan Minangkabau masih tetap berada di bawah perwalian -- curatele -- dari kaum laki-laki. Cepat atau lambat, akan timbul pertanyaan: apakah belum saatnya kepada perempuan Minangkabau ini diberikan posisi yang lebih mengemuka, dimulai pada tataran suku dan masyarakat dan secara bertahap juga ke dalam bidang publik dan pemerintahan ? Apa belum waktunya manajemen suku juga melibatkan kaum perempuan ini secara riil dan efektif ? Juga timbul pertanyaan: mengapa tak satupun bupati dan walikota, atau asisten sekda perempuan, di Ranah Minang ini ? Apakah mereka belum siap, belum mampu, atau belum mau? Mau tidak mau saya membandingkannya dengan kemajuan peran perempuan Indonesia lainnya. Di tingkat nasional peran perempuan ini juga sudah jauh mengemuka. Sudah lama ada menteri perempuan dalam kabinet. Dalam Polri dan TNI sudah ada brigadir jenderal perempuan, sudah ada penerbang helikopter tempur perempuan. Di Amerika Serikat bahkan sudah ada jenderal bintang empat perempuan, yang bertanggung jawab dalam maslah logistik pertahanan.Demikianlah, di tingkat nasional dewasa ini secara pribadi saya mengagumi tokoh Dr Sri Mulyani, yang sekarang selain menjadi Menteri Keuangan juga menjabat sebagai Pelaksana Tugas Menteri Koordinator bidang Perekonomian, dan melaksanakan kedua tugasnya dengan mantap. Beliau bahkan dinilai sebagai menteri keuangan terbaik di tingkat regional dan internasional. Dalam pandangan saya, Dr Sri Mulyani dapat kita pandang sebagai prototipe tokoh perempuan Indonesia baru, termasuk untuk daerah Sumatera Barat. Bagaimana pendapat para sanak sekalian mengenai hal ini? Wassalam, Saafroedin Bahar (L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam, Pariaman.) "Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak" Alternate e-mail addresses: [email protected]; [email protected] [email protected] --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
