Insya Allah, Buyo. Usaho tantu taruih. Baa hasilnyo kito pulangkan ka Allah swt juo.
Wassalam, Saafroedin Bahar (L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam, Pariaman.) "Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak" Alternate e-mail addresses: [email protected];[email protected] [email protected] ________________________________ From: Masoed Abidin <[email protected]> To: [email protected] Sent: Wednesday, April 22, 2009 11:01:26 PM Subject: Re: komen u/pak Mochtar Re: [...@ntau-net] Re: ABS-SBK di Gorontalo ... Wa alaykum salaam wa rahmatullahi wa barakatuh, Insyaallah pak Saaf, tapi sambie tatap ba usaho, Moga Allah memberkati kito dan masyarakat kito sado no. Amin Wassalam Buya HMA (l.74,Majo Kayo, Piliang, Kotogadang, kini di Padang) --- On Wed, 4/22/09, Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> wrote: From: Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> Subject: Re: komen u/pak Mochtar Re: [...@ntau-net] Re: ABS-SBK di Gorontalo ... To: [email protected] Date: Wednesday, April 22, 2009, 8:49 AM Waalaikumsalam w.w. Buya Mas'oed dan saluruah sanak sa palanta, Ambo aminkan sagalo petuah Buya tu. Lain dari itu, ambo ulang-ulang kearifan nan Buya sampaikan ka ambo wakatu kito basuo di TMII, bahaso kito urang Minang 'basuku ka Ibu, banasab ka Bapak,basako ka mamak', bahkan masuak ka 'signature' dalam e-mail ambo. Dalam hubuangan itulah pulo ambo kambangkan dan ambo lewakan konsep 'Ranji ABS SBK'. Tantang kainginan Buya supayo kito batua-batua malaksanakan ABS SBK sacaro labiah 'Istiqomah' ,"konsisten' dan 'koheren', nampaknyo iyo masih akan makan waktu, karano [sabagian] kito alah lamo tabiaso untuak hiduik indak konsisten, indak koheren, indak istiqomah, dan herannyo itu pulo nan salamo ko kito namokan 'khas Minang'. Basaba malah kito Buya, dan kita pulangkan sajo sagalonyo ka bakeh Allah s.w.t. Wassalam, Saafroedin Bahar (L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam, Pariaman.) "Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak" Alternate e-mail addresses: [email protected]; [email protected] [email protected] ________________________________ From: Masoed Abidin <[email protected]> To: [email protected] Sent: Wednesday, April 22, 2009 10:28:09 PM Subject: Re: komen u/pak Mochtar Re: [...@ntau-net] Re: ABS-SBK di Gorontalo ... Assalamu'alaykum warahmatullahi wa barakatuh, Pak Saaf Yth, Alah lamo lo kito indak basuo, Menarik bahasan ini, dan Buya ingat kembali kepada perbincangan hangat kita di masa membahas pandangan-pandangan di anataranya dari Pak Mochtar ini. Kita setuju dalam berapa hal, walau ada perbedaan dalam berapa ungkapan,. Masih ingatkan Pak Saaf, ketika Buya sampaikan "jangan dibiarkan syarak (Islam) merujuk ke adat (kebiasaan) di Minangkabau." Tetapi tuntunlah adat ini merujuk kepada syariat (agama Islam) dengan mengartikan secara pasti bahwa Kitabullah itu adalah Alquran". Kita mesti giring kembali kepada ketentuan yang sudah disebut oleh adat itu sendiri, yaitu syarak mangato, adaik mamakai. Kata-kata ini luas cakupannya, perlu penerjemahan, perlu kompilasi, walau masih banyak yang tidak setuju mengarah kesitu. Bila ABSSBK akan dipakai, konsekwensinya melaksanakan tuntunan agama (ISLAM), tidak lain dari itu. Namun, banyak menerjemahkan ke arah politik, sehingga harus mengganti Sumbar menjadi sama dengan Aceh. Pak Saaf, ingat bagaimana keberanian Rejang Lebong dengan menerapkan ABSSBK, tanpa harus mengatakan Kabupaten Rejang Lebong ini bersyariat Islam, tapi mereka konsekwen melaksanakan ajaran Islam di dalam adatnya. Demikian juga ketiga tujuh Prof, mendatangi Sumbar meneliti PPIM, mengkaji ABSSBK, dan mereka teguh... di tahun 2001 filosofi pemerintahan mereka di Gorontalo mereka ganti, adagium Gorontalo Adat bersendi adat (leluhur) selama ini, menjadi adat bersendi Syariat dan Syariat bersendi Kitabullah. Yang terbaik kita lakukan sekarang ini adalah "tekanan" terhadap masyarakat Minangkabau di Sumbar dan juga kepada penentu kebijakan (legislatif dan eksekutif) bahwa komitmen beradat Minangkabau dengan merujuk kepada Islam ini wajib diimplementasikan, artinya anak-anak Islam yang lahir di Minangkabau berilah nama Islam, kecil sangat kerja ini tapi besar maknanya, bukan ??? Bahwa nikah kawin harus dilakukan menurut syariat Islam, sehingga tidak ada lagi orang yang nikah sembunyi sembunyi, atau menjatuhkan thalak sampai serumpun betung, sehingga anak keturunan di Minangkabau jelas nasabnya, usaha ini kecil juga, tetapi besar pula maknanya. Agar tidak ada lagi orang yang menjual harta anak kemenakannya, untuk kepentingan diri sendiri, karena tindakan itu dzalim menurut ajaran Islam, dan inilah yang diminta untuk diterapkan dalam ABS SBK itu. Mohon maaf diperbanyak Pak Saaf... Wassalam, Buya HMA --- On Wed, 4/22/09, Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> wrote: From: Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> Subject: Re: komen u/pak Mochtar Re: [...@ntau-net] Re: ABS-SBK di Gorontalo ... To: [email protected] Date: Wednesday, April 22, 2009, 8:04 AM Assalamualaikum w.w. Sanak Sutan Sinaro dan pak Mochtar Naim dan para sanak sa palanta, Jelas sekali bahwa ABS SBK masih memerlukan renungan mendasar, bukan hanya untuk menyelaraskan substansi adat dan syarak yang belum seluruhnya kompatibel, tetapi juga untuk merapikan aspek operasionalisasinya dalam kehiduoan sehar-hari. Kompilasi dan sistematisasi yang telah dilakukan Tim Perumus ABS SBK yang dibentuk pak Gubernur jelas baru merupakan langkah pertama. Yang jauh lebih sulit adalah mengintegrasikan keseluruhannya itu menjadi satu kesatuan wawasan yang utuh. Untuk itu -- saya kira -- diperlukan kemampuan berfikir filsafati yang bersifat mendasar, kritis, sistematis, konsisten,dan koheren, yang sayangnya tak seorangpun di antara kita yang selain mempunyai cukup waktu juga cukup terlatih untuk itu. termasuk saya sendiri. Jadi bagaimana selanjutnya kajian masalah ABS SBK ini? Kelihatannya wacana mengenai ABS SBK ini akan bergulir terus menerus, berulang-ulang, berputar, naik turun sejak dari tataran yang amat abstrak sampai pada tataran kasus-kasus konkrit yang amat khusus, sampai puluhan tahun ke masa depan, sampai datang seorang tokoh filosof Minangkabau yang bersedia mengabdikan seluruh hidupnya untuk menyelesaikan benang kusut pemikiran ini. Sementara itu di daerah-daerah lain, seperti di Gorontalo, pelaksanaan ABS SBK tenang-tenang saja. Kalau begitu, layak kita bertanya: adakah sesuatu yang salah dengan cara berfikir kita orang Minang ini ? Wassalam, Saafroedin Bahar (L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam, Pariaman.) "Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak" Alternate e-mail addresses: [email protected]; [email protected] [email protected] --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
