Dunsanak Sadonyo.

penggunaan kata "Bantuan" untuak Hutang Luar Negeri itu bukan miliknya Orba
ataupun Indonesia. Itu sudah menjadi "bahasa gaul" dalam ekonomi, apalagi
ekonomi pembangunan, yaitu kata "assistance" yang di Indonesia diterjemahkan
menjadi "Bantuan".
Dalam hubungan dengan bantuan luar negeri, BLN ini ini bentuknya 2 macam;
Loan dan Grant.

Tapi dalam dokumen resmi yang muncul adalah Loan dan Grant. Dalam struktur
APBN kita pun menggunakan kata Hutang dan Hibah, jadi bukan "bantuan". Ini
diurus oleh Direktorat Pinjaman dan Hibah Luar Negeri, Direjtorat Jenderal
Utang (Dulu - termasuk jaman Orba - unit ini berada di bawah Ditjen
Perbendaharaan).

Jadi menurut saya, ini bukan "korupsi bahasa", tapi cuma "bahasa gaul" yang
-mungkin- dasarnya adalah mencari kata2 yang lebih halus dan enak di dengar,
tetapi jika dalam hal yang lebih resmi tetap menggunakan istilah apa adanya,
kalau harus dibayar kembali itu ya hutang, kalau yang tidak itu ya hibah.

Memang dalam beberapa hal urang lua tu kadang2 bahasonyo labiah aluih dari
kromo inggil. Ambo pernah mandanga statement bantuak iko: "Tiga kata yang
sangat penting dalam bersopan santun, tapi ternyata saya pelajari di luar
negeri adalah: "Thank you, Sorry, dan Help"

riri
bekasi, l, 47









2010/2/15 hanifah daman <[email protected]>

> Bapak Syaaf, hanifah rasa arti utang dalam pepatah tsb, bukan hutang benda.
> Kan orang dulu kalau dalam cersil suka bertempur. Nah kalau dia kalah, dia
> merasa itu sbg hutang. Suatu saat dia akan menuntut balas. Oh ya pak. Kata
> ustadz, ada setan yg mandayo urang ba utang, yaitu indak namuah mambaia. Itu
> mungkin banyak peringatan Allah tantang hutang. Alhamdulillah senang membaca
> tulisan bapak yang sedang mendalami Alquran. Oh ya bisa jd jg pantun tsb ttg
> hutang benda, tp bpk sendiri sudah menduga itu telah ada sejak jaman sebelum
> Islam. Jd kalau hutang tsb memang ttg hutang benda ya di buang aja pak. Maaf
> ya pak, ikutan nimbrung. Wass. Hanifah
>
> Dr.Saafroedin BAHAR wrote:
> > Pak Abraham, rasonyo 'pepatah parewa' nan jahiliyah itu alah ado jauah
> sabalun adonyo Orde Baru. Mungkin alah ado sabalun zaman Paderi, 1803, 207
> tahun nan lalu. Wassalam, Saafroedin Bahar (Laki-laki, masuk 73 th, Jakarta)
> --- On Sun, 2/14/10, Abraham Ilyas <[email protected]> wrote: From:
> Abraham Ilyas <[email protected]> Subject: Re: [...@ntau-net] Pepatah
> Parewa yang jahiliyah. To: [email protected] Date: Sunday,
> February 14, 2010, 6:14 PM Pak Saaf yth. Dosa asalnyo ambo kiro ado pada
> penguasa di jaman ORBA nan "korupsi bahasa". Contohnyo untuk manyabuik utang
> ka LN disabuik sebagai bantuan LN. Mako ado nan manyabuikkan bahwa korupsi
> nan paling besar adolah "korupsi bahasa".
> >  Salam Abraham Ilyas
> > --
>

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke