Assalamu'alaikum Pak Syofiardi
Banyak pertanyaan saya mencerna tulisan Bapak, jadi lebih baik saya
langsung tanyakan daripada menebak2 yang tidak jelas. Mungkin iko dek
kurang ilmu, jadi ka cubo mancari tau.
Terlebih saya kagum kepada Bung Hatta: tanpa ucapan ayat dan panji
agama, sosoknya memperlihatkan ialah tauladan agama Islam yang baik.
Maksudnya tanpa ucapan ayat dan panji agama baa tu?
ada kesalahan kita beragama: yang keras adalah yang benar, yang pakem
(boleh juga dibaca dangkal) adalah yang benar. Fenomena seperti ini
adalah tipikal orang-orang atau bangsa yang tergesa.
Korelasi antara yang keras dan dangkal adalah benar, dengan bangsa yang
tergesa, maksudnya?
Jika kesimpulan ini di dasarkan dengan pernyataan Konfusius, tentu
hakikatnya tidak bisa disebut Haq bagi Muslim. Mungkin ada pernyataan
lainnya.
Banyak maaf,
Wassalam
On 29-Sep-10 6:57 PM, Syofiardi BachyulJb wrote:
Selamat buat Pak Azyumardi.
Janganlah nilai penghargaan ini sebagai tamparan buat kita, tapi
sebuah sukses penjembatan dunia barat dan Islam di Indonesia.
Membangun jembatan lebih baik daripada tidak, jauh lebih baik lagi
daripada menghancurkannya.
Sikap seorang tokoh lebih tauladan daripada ucap. Saya kagum dengan
Pak Syafii Maarif. Saya kagum dengan Pak Azyumardi. Keduanya bermental
pembangun yang toleran dan tidak hipokrit. Terlebih saya kagum kepada
Bung Hatta: tanpa ucapan ayat dan panji agama, sosoknya memperlihatkan
ialah tauladan agama Islam yang baik.
Di dunia ini kini banyak orang mengibar-ngibar bendera agama,
melantunkan ratusan ayat dalam sehari, tapi tidak tercermin kepada
sikap. Sayang orang-orang seperti ini lebih dikedepankan di negara
kita. Ada kesalahan eforia demokrasi (yang di satu sisi dicaci, di
sisi lain dimanfaatkan untuk kepentingan sendiri), ada kesalahan kita
beragama: yang keras adalah yang benar, yang pakem (boleh juga dibaca
dangkal) adalah yang benar. Fenomena seperti ini adalah tipikal
orang-orang atau bangsa yang tergesa.
"Tergesa adalah awal kehancuran," kata Konfusius (film versi vcd
original sudah beredar di Padang).
Pelajarilah Azyumardi Azra, pelajarilah Syafii Maarif, pelajarilah
Bung Hatta, dan tokoh hebat lain yang tumbuh dari Ranah Minang. Jangan
sampai kita kalah oleh Ratu Inggris, orang barat aristokrat yang lebih
berpikiran terbuka.
Terlebih terkurang mohon maaf,
Syofiardi (40/Padang)
--
*Roland Y. Mandailiang*
????? ????????
/26th - Jeddah, Saudi Arabia/
/"Sebaik-baik manusia, adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi
manusia lainnya"./
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.