Terima kasih banyak pak Syofiardi

Cara kita bertoleransi sesama umat beragama menurut saya tergantung dari 
beberapa hal:
Lingkungan kita dibesarkan
Lingkungan dimana kita menempuh pendidikan
Lingkungan dimana kita bekerja/bergaul dan menjalani kehidupan sehari hari

Kalau ketiga Hal diatas lokasinya di habiskan di tempat yang mayoritas hanya 
ada 
satu kelompok agama. perediksi sederhana saya  80 % tidak akan pernah tahu apa 
itu "toleransi agama". Mungkin lupa atau tak mau tahu bahwa ada orang lain yang 
juga hidup didunia ini yang berbeda dengan kita menghirup udara yang sama dan 
berbagi waktu dan ruang yang sama. Kalau sudah begini biasanya "are you with 
us, 
or again us"

Kilas balik 
Waktu kecil saya dibesarkan dalam lingkungan multiras dan agama. Bila hari raya 
tiba, kami anak anak berjalan dari rumah ke rumah mencari salam tempel dan 
kacang tojin dan tak jarang salah masuk rumah, ternyata pemiliknya orang 
beragama lain. tapi sang pemilik rumah tetap tersenyum salam tempel dan air 
sirupun dapat kue keu tidak ada tapi roti kaleng selalu saja ada. Bila tiba 
tahun baru tetangga yang membakar petasan membagi bagi kami juga petasannya 
agar 
sama sama bergembira. Nama daerah tersebut adalah Meral - Tanjung Balai Karimun 
pangkalan armada kapal kapal patroli duane waktu itu. Para tetangga kebanyakan 
awak kapal yang mayoritas datang dari ambon dan menado. Para pedagang 
didominasi 
warga cina. Yang muslim hanya segelintir orang asli  dan para pendatang seperti 
kami. What a wonderful life... 


Pada saat saya bekerja in the middle of nowhere saya sendiri yang muslim, 
Saya jadi object toleran sobat sobat saya non muslim. Senang juga rasa hati 
bila 
sang sahabat merasa menyesal minum disebelah saya pada saat mereka tahu saya 
puasa.

kata orang bijak: Bila anda tak ingin dicubit orang jangan cubit orang lain... 
sederhana sekali bukan
 
Wassalam 
Zulkarnain Kahar

m: Syofiardi BachyulJb <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Wed, September 29, 2010 2:26:18 PM
Subject: Re: [...@ntau-net] Azyumardi Azra Terima Gelar Kehormatan dari Inggris


Waalaikumusalam Sanak Roland,
(i) Iko penilaian ambo pribadi tentang sosok manusia di Indonesia ko, yang lain 
tentu punyo tokoh panutan sendiri. Ini terkait dengan perilaku tokoh muslim di 
Indonesia ko. Ambo kembali mambaco buku sejarah Nabi Muhammad karangan Haekal, 
tiga hal setidaknya simpulan utama tentang Nabi Muhammad nan ambo tangkok 
adolah: "Jujur", "Sederhana", dan "Lembut". 


Tiga hal yang juga dipraktekkan Bung Hatta, meski beliau pernah diuji menjadi 
orang nomor dua di negeri ini. Setahu saya Bung Hatta meski muslim tidak pernah 
terlihat sebagai pejuang kelompok muslim, ia nasionalis. Ia berbeda dari Natsir 
yang kental perjuangan panji agamanya. Saya juga memuji Natsir dalam hal ini, 
terutama toleransinya. Bung Hatta tanpa terlihat sebagai agamis memperlihatkan 
sosok teladan Nabi dalam bersikap (hal yang sekarang ditiru Kanda Indra Cantri 
yang mengkredokan untuk jadi Bupati dengan meneladani Nabi Muhammas SAW, semoga 
tetap konsisten menjalankan jujur, sederhana, dan lembut itu).

(ii) Saya sedang gundah melihat maraknya intoleransi beragama di Indonesia. 
Beberapa kelompok muslim muncul dengan praktek kekerasan dan ngotot, ingin 
mengatur semua orang seakan ia atau mereka adalah yang paling benar, baik dalam 
beragama maupun dalam bernegara. Sikap seperti ini bahkan makin marak saja. Ada 
berita di The Jakarta Post kemarin tentang "Intoleransi 'Bangkit di Kalangan 
Umat Islam", berdasarkan survei dalam 10 tahun terakhir. Silakan baca: 
http://www.thejakartapost.com/news/2010/09/29/intolerance-%E2%80%98-rise%E2%80%99-among-muslims.html.
 Bagi saya (ini penilaian saya pribadi, bisa saja orang lain menilai saya yang 
dangkal!) banyak di antara yang ngotot dan main keras ini karena pemahaman 
agamanya yang dangkal, bukan karena ilmu agamanya banyak. Orang yang ilmu 
agamanya banyak (ini pandangan saya saja) ia tidak semakin main keras, ia 
menjadi orang lembut dalam berikhtiar tentang kebenaran sesuai ajaran Islam. Ia 
tidak akan main atur sesuai kemauannya. Ia akan mengetuk palu akhir sebagai 
"Bagimu agamamu, bagiku agamaku" jika tak ada solusi. 


Jadi bukan main ancam dan tebas. Nabi saja menjamin orang Kristen dan Yahudi 
beribadah, ini pengikutnya malah menusuk orang Kristen beribadah. Saya banyak 
menemukan orang Kristen menyediakan saya tempat salat, mengingatkan saya 
beribadah. Saya membalasnya apakah sudah ke gereja. Ketika bekerja saya 
mengingatkan anggota saya yang Kristen untuk beribadah. Muslim lain tentu sudah 
ada yang menganggap saya kafir karena mengakui Kristen. Pandangan dalam 
beragama 
seperti ini sudah saya kategorikan sebagai telah menjadi paling benar dan 
wajar, 
yang lain tidak.

(iii) Tergesa adalah strategi yang buruk. Di sinilah keunggulan Kristen 
menyebarkan agamanya, juga keunggulan banyak ulama menyebarkan agama Islam. 
Pelan dan mengajak dibarengi contoh teladan yang sejuk adalah lebih baik. 
Tergesa akan memunculkan konflik. Mungkin ada yang berpendapat jalan konflik 
lebih manjur karena Nabi juga menggunakan jalan pedang untuk meluaskan pengaruh 
Islam. Sebagian penyebaran Islam di dunia juga dengan jalan kekerasan. Di 
Indonesia penyebaran Islam hanya beberapa kelompok dengan jalan seperti ini, 
salah satu adalah Kaum Wahabi alias Paderi di Minangkabau. Tak ada yang salah 
dengan belajar ke Cina, bahkan Nabi Muhammad menganjurkan. Mungkin saja Nabi 
juga pernah belajar ke Konfusius. Tingkatannya baru mungkin, karena saya tidak 
memiliki referensi sejarah tentang ini. Mungkin karena Nabi sendiri juga orang 
yang senang belajar kepada orang lain tentang banyak hal. Sebelum mendapat 
wahyu 
bahkan ia belajar kepada macam-macam penyiar agama (Kristen, Yahudi, Pagan, 
dsb).

Maaf Sanak Roland, diskusi agama sering berlanjut jadi pro-kontra. Tapi ambo 
berharap ini bisa menjadi diskusi yang sejuk. Beberapa diskusi terkait 
pemahaman 
agama sebelumnya banyak memberi pelajaran kepada saya, terlebih yang mengemukan 
informasi baru. Saya heran saja kenapa tokoh-tokoh kita dengan pemikiran dan 
sikap yang bagus seperti Syafii Maarif dan Azyumardi Azra ditentang 'banyak 
orang' di era sekarang.  Akhir-akhir ini saya juga kagum dengan pandangan KH 
Said Aqil Syiradj dan Mahfud MD tentang beragama dan berbangsa.

Talabiah takurang mohon maaf.

Wassalam,
Syofiardi (40/Padang)




________________________________
From: Roland Y. Mandailiang <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, September 29, 2010 23:21:57
Subject: Re: [...@ntau-net] Azyumardi Azra Terima Gelar Kehormatan dari Inggris

Assalamu'alaikum Pak Syofiardi

Banyak pertanyaan saya mencerna tulisan Bapak, jadi lebih baik saya langsung 
tanyakan daripada menebak2 yang tidak jelas. Mungkin iko dek kurang ilmu, jadi 
ka cubo mancari tau.


Terlebih saya kagum kepada Bung Hatta: tanpa ucapan ayat dan panji agama, 
sosoknya memperlihatkan ialah tauladan agama Islam yang baik.Maksudnya tanpa 
ucapan ayat dan panji agama baa tu? 




ada kesalahan kita beragama: yang keras adalah yang benar, yang pakem (boleh 
juga dibaca dangkal) adalah yang benar. Fenomena seperti ini adalah tipikal 
orang-orang atau bangsa yang tergesa. Korelasi antara yang keras dan dangkal 
adalah benar, dengan bangsa yang tergesa, maksudnya?
Jika kesimpulan ini di dasarkan dengan pernyataan Konfusius, tentu hakikatnya 
tidak bisa disebut Haq bagi Muslim. Mungkin ada pernyataan lainnya.

Banyak maaf,
Wassalam


On 29-Sep-10 6:57 PM, Syofiardi BachyulJb wrote: 
Selamat buat Pak Azyumardi.
>Janganlah nilai penghargaan ini sebagai tamparan buat kita, tapi sebuah sukses 
>penjembatan dunia barat dan Islam di Indonesia. Membangun jembatan lebih baik 
>daripada tidak, jauh lebih baik lagi daripada menghancurkannya.
>
>Sikap seorang tokoh lebih tauladan daripada ucap. Saya kagum dengan Pak Syafii 
>Maarif. Saya kagum dengan Pak Azyumardi. Keduanya bermental pembangun yang 
>toleran dan tidak hipokrit. Terlebih saya kagum kepada Bung Hatta: tanpa 
>ucapan 
>ayat dan panji agama, sosoknya memperlihatkan ialah tauladan agama Islam yang 
>baik.
>
>Di dunia ini kini banyak orang mengibar-ngibar bendera agama, melantunkan 
>ratusan ayat dalam sehari, tapi tidak tercermin kepada sikap. Sayang 
>orang-orang 
>seperti ini lebih dikedepankan di negara kita. Ada kesalahan eforia demokrasi 
>(yang di satu sisi dicaci, di sisi lain dimanfaatkan untuk kepentingan 
>sendiri), 
>ada kesalahan kita beragama: yang keras adalah yang benar, yang pakem (boleh 
>juga dibaca dangkal) adalah yang benar. Fenomena seperti ini adalah tipikal 
>orang-orang atau bangsa yang tergesa. 
>
>
>"Tergesa adalah awal kehancuran," kata Konfusius (film versi vcd original 
>sudah 
>beredar di Padang). 
>
>
>Pelajarilah Azyumardi Azra, pelajarilah Syafii Maarif, pelajarilah Bung Hatta, 
>dan tokoh hebat lain yang tumbuh dari Ranah Minang. Jangan sampai kita kalah 
>oleh Ratu Inggris, orang barat aristokrat yang lebih berpikiran terbuka.
>
>Terlebih terkurang mohon maaf,
>Syofiardi (40/Padang)
>
>
>

-- 
Roland Y. Mandailiang
رولان يوليانتو
26th - Jeddah, Saudi Arabia

"Sebaik-baik manusia, adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia 
lainnya".-- 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke