Pak Syofiardi,
Terus terang batua apo nan di kecekan samo Mak TR. Kito harus bedakan
antara toleransi dan penodaan agama.
Kito mungkin mudah membedakan antara ma nan umat Islam dan ma nan umat
Kristen. Tapi untuk membedakan antara aqidah yang lurus dan JIL, sangat
halus dan tipis. Baa kok ambo pribadi batanyo sabalunnyo, dek ambo
mancaliak ado alur berpikir yang terlalu terbuka. Samo halnyo dengan :
Tak ada yang salah dengan belajar ke Cina, bahkan Nabi Muhammad
menganjurkan. Mungkin saja Nabi juga pernah belajar ke Konfusius
Ambo raso menjadi terlalu mudah menyimpulkan hal-hal yang berkaitan
dengan Nabi kito, Rasul kito Muhammad SAW. Tambahan Pak, tentang sejarah
Rasulullah sebaiknya reference juga karangan Syaikh Syaifurrahman dari
India. Kalau di Indonesia terjemahan Ainur Rofiq.
Jadi bukan main ancam dan tebas. Nabi saja menjamin orang Kristen dan
Yahudi beribadah, ini pengikutnya malah menusuk orang Kristen beribadah
Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, bahwa ada banyak penyebab
terjadinya hal ini. Di tempat lain ketika orang agama lain yg melakukan
kekerasan apa pendapat Bapak?
Dan memang terus terang saya mengatakan kesimpulannya menjadi terlalu
dangkal.
Pak Syofiardi, cara JIL menyerang mindset atau pemikiran muslim lainnya
kurang lebih dengan pola yang sama seperti Bapak sampaikan. Saya tidak
menjudge Bapak, tapi saya melihat similaritas. Pola pikir liberal ini
tidak seperti teh atau kopi yang bisa kita bedakan rasanya, tapi ia
seperti oksigen yang tidak kita ketahui perbedaan kadarnya. Sama halnya
ketika Mak Buyang mengungkapkan bahwa seorang tokoh tsb mengatakan ia
berpikir tidak terpaku pada hitam putih aturan agama. Walaupun ia
mengaku bukan bagian dari JIL, tapi itu adalah pola pikir JIL,
wallahu'alam...
Ciri-ciri orang JIL selalu pintar retorika dan dialektika. Ia tidak
menjadi corong di depan, tapi lebih banyak memberikan brain storming di
belakang. Ia sangat lihai memainkan alur pemikiran lawan bicaranya dan
jitu mendoktrinnya. Jika ia mulai kesulitan dalam berpendapat, maka ia
cenderung menurunkan tempo diskusi atau perdebatan langsung. (ini adalah
apa yang saya temui nyata). Ini yang saya temukan dari sahabat yg
mengelu-elukan pemikiran liberal..
Finally, tetap لكم دينكم ولي دين "Untukmulah agamamu dan untukkulah
agamaku".
Tapi jika aqidah yang terganggu, maka tidak bisa diam saja dengan hal ini.
Diskusi sejuk kan Pak. Banyak maaf
wassalam,
On 29-Sep-10 10:26 PM, Syofiardi BachyulJb wrote:
Waalaikumusalam Sanak Roland,
(i) Iko penilaian ambo pribadi tentang sosok manusia di Indonesia ko,
yang lain tentu punyo tokoh panutan sendiri. Ini terkait dengan
perilaku tokoh muslim di Indonesia ko. Ambo kembali mambaco buku
sejarah Nabi Muhammad karangan Haekal, tiga hal setidaknya simpulan
utama tentang Nabi Muhammad nan ambo tangkok adolah: "Jujur",
"Sederhana", dan "Lembut".
Tiga hal yang juga dipraktekkan Bung Hatta, meski beliau pernah diuji
menjadi orang nomor dua di negeri ini. Setahu saya Bung Hatta meski
muslim tidak pernah terlihat sebagai pejuang kelompok muslim, ia
nasionalis. Ia berbeda dari Natsir yang kental perjuangan panji
agamanya. Saya juga memuji Natsir dalam hal ini, terutama
toleransinya. Bung Hatta tanpa terlihat sebagai agamis memperlihatkan
sosok teladan Nabi dalam bersikap (hal yang sekarang ditiru Kanda
Indra Cantri yang mengkredokan untuk jadi Bupati dengan meneladani
Nabi Muhammas SAW, semoga tetap konsisten menjalankan jujur,
sederhana, dan lembut itu).
(ii) Saya sedang gundah melihat maraknya intoleransi beragama di
Indonesia. Beberapa kelompok muslim muncul dengan praktek kekerasan
dan ngotot, ingin mengatur semua orang seakan ia atau mereka adalah
yang paling benar, baik dalam beragama maupun dalam bernegara. Sikap
seperti ini bahkan makin marak saja. Ada berita di The Jakarta Post
kemarin tentang "Intoleransi 'Bangkit di Kalangan Umat Islam",
berdasarkan survei dalam 10 tahun terakhir. Silakan baca:
http://www.thejakartapost.com/news/2010/09/29/intolerance-%E2%80%98-rise%E2%80%99-among-muslims.html.
Bagi saya (ini penilaian saya pribadi, bisa saja orang lain menilai
saya yang dangkal!) banyak di antara yang ngotot dan main keras ini
karena pemahaman agamanya yang dangkal, bukan karena ilmu agamanya
banyak. Orang yang ilmu agamanya banyak (ini pandangan saya saja) ia
tidak semakin main keras, ia menjadi orang lembut dalam berikhtiar
tentang kebenaran sesuai ajaran Islam. Ia tidak akan main atur sesuai
kemauannya. Ia akan mengetuk palu akhir sebagai "Bagimu agamamu,
bagiku agamaku" jika tak ada solusi.
Jadi bukan main ancam dan tebas. Nabi saja menjamin orang Kristen dan
Yahudi beribadah, ini pengikutnya malah menusuk orang Kristen
beribadah. Saya banyak menemukan orang Kristen menyediakan saya tempat
salat, mengingatkan saya beribadah. Saya membalasnya apakah sudah ke
gereja. Ketika bekerja saya mengingatkan anggota saya yang Kristen
untuk beribadah. Muslim lain tentu sudah ada yang menganggap saya
kafir karena mengakui Kristen. Pandangan dalam beragama seperti ini
sudah saya kategorikan sebagai telah menjadi paling benar dan wajar,
yang lain tidak.
(iii) Tergesa adalah strategi yang buruk. Di sinilah keunggulan
Kristen menyebarkan agamanya, juga keunggulan banyak ulama menyebarkan
agama Islam. Pelan dan mengajak dibarengi contoh teladan yang sejuk
adalah lebih baik. Tergesa akan memunculkan konflik. Mungkin ada yang
berpendapat jalan konflik lebih manjur karena Nabi juga menggunakan
jalan pedang untuk meluaskan pengaruh Islam. Sebagian penyebaran Islam
di dunia juga dengan jalan kekerasan. Di Indonesia penyebaran Islam
hanya beberapa kelompok dengan jalan seperti ini, salah satu adalah
Kaum Wahabi alias Paderi di Minangkabau. Tak ada yang salah dengan
belajar ke Cina, bahkan Nabi Muhammad menganjurkan. Mungkin saja Nabi
juga pernah belajar ke Konfusius. Tingkatannya baru mungkin, karena
saya tidak memiliki referensi sejarah tentang ini. Mungkin karena Nabi
sendiri juga orang yang senang belajar kepada orang lain tentang
banyak hal. Sebelum mendapat wahyu bahkan ia belajar kepada
macam-macam penyiar agama (Kristen, Yahudi, Pagan, dsb).
Maaf Sanak Roland, diskusi agama sering berlanjut jadi pro-kontra.
Tapi ambo berharap ini bisa menjadi diskusi yang sejuk. Beberapa
diskusi terkait pemahaman agama sebelumnya banyak memberi pelajaran
kepada saya, terlebih yang mengemukan informasi baru. Saya heran saja
kenapa tokoh-tokoh kita dengan pemikiran dan sikap yang bagus seperti
Syafii Maarif dan Azyumardi Azra ditentang 'banyak orang' di era
sekarang. Akhir-akhir ini saya juga kagum dengan pandangan KH Said
Aqil Syiradj dan Mahfud MD tentang beragama dan berbangsa.
Talabiah takurang mohon maaf.
Wassalam,
Syofiardi (40/Padang)
--
*Roland Y. Mandailiang*
رولان يوليانتو
/26th - Jeddah, Saudi Arabia/
/"Sebaik-baik manusia, adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi
manusia lainnya"./
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.