"Warganya Kelaparan, Gubernur ke Jerman", begitu berita di Kompas.com, yang 
sudah dibaca oleh 14 ribu lebih pengguna internet dan dikomentari 66 orang. 
Sebagai berita di media online, pembaca sebanyak itu dan dengan komentar yang 
juga demikian banyak, pertanda berita itu sampai.
 
Lantas dipersoalkan oleh kawan-kawan berita tersebut mengadu domba. Kita harus 
tahu, berita di media online, sifatnya realtime, dalam hitungan menit bisa 
berubah. Berita online mestinya di ap date setiap waktu. Yang diberitakan 
spot-spot peristiwa yang dibuat singkat dengan satu sumber.
 
Persoalannya, karena banyaknya persoalan di hadapan mata si wartawan, 
menyebabkan tak bisa fokus ke peroslan itu saja. Si wartawan tahu dan bisa 
membedakan mana berita untuk online dan mana untuk cetak (Kompas cetak), walau 
dikerjakan oleh orang yang sama. Ia tahu bagaimana berita yang harus berimbang, 
dan itu hanya bisa dilakukan untuk media cetak yang rentang waktunya panjang.
 
Kadang, kalau kita cermati, berita televisi lebih gawat lagi. opini si wartawan 
lebih banyak, bahkan sumbernya hanya warga, sementara laporannya soal awan 
panas. Inilah dinamika pers Indonesia. Walaupun sama-sama media massa, namun 
soal kode etik dan segala tetek bengeknya, tak semua mengacu ke sana. Media 
sekarang sangat kompetitif, berpacu dengan waktu (terutama online dan 
televisi). Jika ingin bicara berita yang benar, cermati harian nasional, walau 
terkadang masih ada satu-dua berita yg kurang berimbang.
 
Namun di  balik itu, kalau terjadi sesuatu atas berita tersebut, resiko dan 
tanggung jawab harus dihadapi. Kalau ada pihak yang dirugikan dengan suatu 
berita, sila gugat, somasi, atau diklarifikasi (diralat).
 
Yang perlu kita ingat, wartawan banyak. Dan lebih banyak lagi yang 
mengaku-ngaku wartawan. Akan tetapi, hanya sedikit wartawan yang bisa 
diperhitungkan dan bekerja profesional, dan konsisten menyuarakan hati 
nuraninya, serta selalu belajar dan belajar. Kita berharap, bisa masuk kategori 
yang sedikit itu. semoga....
 
Salam, sehat dan sukses selalu kerja di lapangan.. amin.
yurnaldi.
 


--- On Wed, 11/3/10, Syofiardi BachyulJb <[email protected]> wrote:


From: Syofiardi BachyulJb <[email protected]>
Subject: Re: [...@ntau-net] BERITA ADU DOMBA ==>> Gubernur ke Jerman
To: [email protected]
Date: Wednesday, November 3, 2010, 10:55 PM






Sanak Arief,
Yang ambo ketahui Kompas.com memang beda urang dengan Kompas harian. Dari segi 
kualitasnyo di bawah harian karano dikelola urang beda yang direkrut sendiri 
belakangan. Akurasi dan mutunyo memang tidak seperti Kompas harian.

Soal adu domba ambo manilai indak sajauah tu. Orang sekaliber IG mestinyo lebih 
waspada dengan komentarnyo ke media online karano ka ditayang lebih cepat dan 
agak kurang lengkap dibanding koran. Iko agak talambek dibandiang live di 
TV-lah. IG bisa minta waktu untuak mancari tahu apo dulu nan tajadi. Inyo bisa 
konfirm ka IP atau stafnyo. Jadi hasil padangannyo lebih mantap.

Beberapa tahun lalu ambo pernah diminta pandapek sebagai Ketua AJI Padang ttg 
suatu kasus pemukulan wartawan. Ambo baru dapek info satangah jam sabalunnyo 
dan kawan ambo baru mancari kronologisnyo dan baa subanyo persoalannyo. Waktu 
ado wartawan lain yang menelepon minta komentar ambo suruah tunggu sabanta agar 
komentar ambo indak asbun.

Baitulah kiro-kiro manuruik ambo Rangkayo.

Wassalam,
Syofiardi (40/Padang)





From: ARIEF <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, November 3, 2010 20:30:51
Subject: [...@ntau-net] BERITA ADU DOMBA ==>> Gubernur ke Jerman

Assalamu'alaikum WW.

Nan terhormat dunsanak salingka palanta RN.

Dan sabalun no maaf utk kwn2 jurnalis nan ado di Palanta ko.

Mambaco berita dari kompas.com di bawah, agak miris ambo.
Kawan ambo "si pembuat berita" sepertinyo dak imbang mengetengahkan
berita. Bahkan terkesan mengadu domba antar sesama "urang Minang" (IP
vs IG)

Kalau kito inok kan bana isi berita tersebut, si wartawan hanya
berpatokan pada satu  sumber sajo. Kalopun ado sumber lain, itupun
tidak dalam kapasitas perimbangan berita.

Satahu ambo, ado kode etik no, bahwa dalam menyajikan berita, jurnalis
harus mendahulukan asaz perimbangan.
Apalagi media sekaliber KOMPAS (walau berlabel kompas.com).

Di berita tsb, tidak ado dimuek pernyataan dari pihak Pemda Sumbar,
baik dr Wagub, Humas, atau pihak terkait lainnyo.
Malah Lebih dominan mengadu domba IP dg IG, dan kemudian menyalahkan IP..

Apakah wartawan sudah bertanya utk apa Gub ke LN? Tujuannya apa?
Targetnya apa? Atau undangan itu sejak kapan dilayangkan tehadap Pemda
Sumbar?

Dak mungkin kan, pihak penyelenggara membatalkan acara hanya karena
bencana di Sumbar?
Di sisi lain, jika benefit dari acara tsb menguntungkan utk Sumbar ke
Depan, rasanya rugi bagi Gubernur utk melewatkan acara tsb.

Toh, masalah Tsunami Mentawai, tidak perlu ditongkrongi dan tidak
hanya gubernur saja yang bertanggungjawab??.

Ciek lai nan disayangkan adalah pernyataan Uda Irman nan seakan
menyalahkan kepergian Gubernur ke Jerman. Ambo yakin, baliau pasti
tahu untuak apo GubSumb ka LN.

Rasonyo, paralu juo berhati2 dalam memahami isi berita, walau dari
sebuah media nasional nan terkenal yang "katanya" pengusung Hati
Nurani Rakyat.

Ambo bukan pendukung partai nan  mengusung gubenur sewaktu PILKADA,
pun bukan pulo carmuk terhadap BA 1
.
Tapi lebih pada melihat sisi perimbangan sebuah berita.
Alangkah lebih baiknya sang wartawan tidak mengadu domba.

Sakitu sajolah...

Maaf jiko ado nan indak berkenan dg postingan ambo ko.

Wassalam w w

Arief Rangkayo Mulia
(sampai kini msh berprofesi sbg jurnalis)


On 11/3/10, Harman <[email protected]> wrote:
>
>
> "Kami
>  juga heran mengapa cuaca terus yang disalahkan, padahal kami sudah bisa
>  menembus wilayah-wilayah di ujung pulau yang sebelumnya katanya tak
> bisa ditembus perahu bantuan,"
>
> yang paling aman ya memang menyalahkan cuaca.
>
> wassalam,
> harman st.Idris
>
> http://regional.kompas.com/read/2010/11/03/12510686/Warganya.Kelaparan..Gubernur.ke.Jerman
>
> Bencana Tsunami
>            Warganya Kelaparan, Gubernur ke Jerman
>            Laporan wartawan KOMPAS Khaerudin            Rabu, 3 November
> 2010 | 12:51 WIB
>            KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Warga
>  Kampung Tumalei, Desa Silabu Kecamatan Saumanganya, Kabupaten Kepulauan
>  Mentawai, Sumatera Barat, membantu anggota TNI-AD menurunkan bantuan
> makanan, tikar, selimut dan jerigen bagi korban tsunami dari helikopter
> MI 17 milik TNI AD, Minggu (31/10/2010). Untuk mempercepat proses
> distribusi bantuan dan evakuasi korban luka salah satunya dilakukan
> melalui udara dengan heikopter.
>
> PADANG, KOMPAS.com
>  - Di saat ribuan warga Kepulauan Mentawai korban gempa dan tsunami
> terancam kelaparan karena sulitnya bantuan masuk ke wilayah-wilayah
> mereka, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno malah memilih pergi ke
> Jerman.
> Seperti anggota DPR yang juga memilih tetap pergi ke luar
> negeri di tengah situasi bencana melanda negeri ini, Irwan juga
> meninggalkan sejumlah masalah dalam soal penangangan bencana gempa dan
> tsunami di Mentawai.
> Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik
> Indonesia Irman Gusman yang juga berasal dari daerah pemilihan Sumatera
> Barat membenarkan, Irwan telah pergi ke Jerman. Bahkan saat dihubungi
> Irman, Rabu (3/11/2010) pagi, Irwan sudah berada di Dubai.
> "Seharusnya
>  situasi psikologis masyarakat saat ini yang tengah menghadapi bencana,
> mengharuskan kehadiran gubernur,"  ujar Irman yang mengaku memahami
> kepergian Irwan ke Jerman.
> Menurut Irman, dia tak bisa mencegah
> kepergian Irwan ke Jerman mengingat baru mengetahui keberangkatannya
> pada Rabu pagi.  "Mungkin kalau saya tahu kepergiannya dari tiga hari
> lalu, saya bisa mengingatkannya agar jangan dulu meninggalkan Sumbar,"
>  kata Irman.
> Irwan adalah Gubernur Sumbar yang diusung Partai
> Keadilan Sejahtera, Partai Bintang Reformasi, dan Partai Hati Nurani
> Rakyat. Mantan anggota DPR dari Fraksi PKS ini  pergi ke Jerman
> meninggalkan sejumlah kekacauan dalam soal distribusi bantuan korban
> gempa dan tsunami di Kepulauan Mentawai.
> Hingga hari delapan sejak
>  tsunami meluluhlantakkan tiga pulau di gugusan Kepulauan Mentawai
> (Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, dan Pagai Selatan)  distribusi bantuan
>  masih belum menjangkau banyak wilayah terpencil. Bantuan tetap menumpuk
>  di Sikakap, di Pulau Pagai Utara, tempat yang dipilih untuk
> mengonsentrasikan bantuan yang datang dari Padang.
> Alasan cuaca
> buruk dan gelombang tinggi dituding sebagai penyebab bantuan tak
> terdistribusikan ke sejumlah wilayah terpencil seperti Desa Bulasat dan
> Malakopak di Pagai Selatan yang merupakan daerah bencana terparah.
> "Kami
>  juga heran mengapa cuaca terus yang disalahkan, padahal kami sudah bisa
>  menembus wilayah-wilayah di ujung pulau yang sebelumnya katanya tak
> bisa ditembus perahu bantuan,"  ujar  Koordinator Posko Lumbung Derma
> Yosep Sarogdok.
> Lumbung Derma merupakan jejaring lembaga swadaya
> masyarakat di Sumbar yang mengoordinasi bantuan untuk korban gempa dan
> tsunami di Kepulauan Mentawai.  Yosep membenarkan, ribuan korban bencana
>  saat ini terancam kelaparan karena masih belum terdistribusikannya
> bantuan ke wilayah-wilayah mereka dengan baik.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
>  1. E-mail besar dari 200KB;
>  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
>  3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
>


-- 
Arief Budiman S
HP : 0813 1600 7756

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.



      

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke