Sapandapek ambo jo sanak Yurnaldi. Memang bantuak tu lah kondisinyo.
Makonyo si pembuek berita (news maker) harus mengedepankan 'sense',
sensitifitas, dan peka terhadap keadaan.

Kalau lah bantuak ko, pro kontrak ndak bisa dihindarkan. Soal tudingan
"media mencari atau menciptakan sensasi", semua terpulang kepada kita;
apakah merasa sebagai korban atau justru diuntungkan. Semuanya
tergantung pada situasi dan kondisi kita saat itu.

Nan jadi pertanyaan ambo, kuker gubernur ko lai sasuai kah jo konteks
'alua jo patuik'?


Salam

On Nov 4, 9:28 am, nal naldi <[email protected]> wrote:
> "Warganya Kelaparan, Gubernur ke Jerman", begitu berita di Kompas.com, yang 
> sudah dibaca oleh 14 ribu lebih pengguna internet dan dikomentari 66 orang. 
> Sebagai berita di media online, pembaca sebanyak itu dan dengan komentar yang 
> juga demikian banyak, pertanda berita itu sampai.
>  
> Lantas dipersoalkan oleh kawan-kawan berita tersebut mengadu domba. Kita 
> harus tahu, berita di media online, sifatnya realtime, dalam hitungan menit 
> bisa berubah. Berita online mestinya di ap date setiap waktu. Yang 
> diberitakan spot-spot peristiwa yang dibuat singkat dengan satu sumber.
>  
> Persoalannya, karena banyaknya persoalan di hadapan mata si wartawan, 
> menyebabkan tak bisa fokus ke peroslan itu saja. Si wartawan tahu dan bisa 
> membedakan mana berita untuk online dan mana untuk cetak (Kompas cetak), 
> walau dikerjakan oleh orang yang sama. Ia tahu bagaimana berita yang harus 
> berimbang, dan itu hanya bisa dilakukan untuk media cetak yang rentang 
> waktunya panjang.
>  
> Kadang, kalau kita cermati, berita televisi lebih gawat lagi. opini si 
> wartawan lebih banyak, bahkan sumbernya hanya warga, sementara laporannya 
> soal awan panas. Inilah dinamika pers Indonesia. Walaupun sama-sama media 
> massa, namun soal kode etik dan segala tetek bengeknya, tak semua mengacu ke 
> sana. Media sekarang sangat kompetitif, berpacu dengan waktu (terutama online 
> dan televisi). Jika ingin bicara berita yang benar, cermati harian nasional, 
> walau terkadang masih ada satu-dua berita yg kurang berimbang.
>  
> Namun di  balik itu, kalau terjadi sesuatu atas berita tersebut, resiko dan 
> tanggung jawab harus dihadapi. Kalau ada pihak yang dirugikan dengan suatu 
> berita, sila gugat, somasi, atau diklarifikasi (diralat).
>  
> Yang perlu kita ingat, wartawan banyak. Dan lebih banyak lagi yang 
> mengaku-ngaku wartawan. Akan tetapi, hanya sedikit wartawan yang bisa 
> diperhitungkan dan bekerja profesional, dan konsisten menyuarakan hati 
> nuraninya, serta selalu belajar dan belajar. Kita berharap, bisa masuk 
> kategori yang sedikit itu. semoga....
>  
> Salam, sehat dan sukses selalu kerja di lapangan.. amin.
> yurnaldi.
>  
>
> --- On Wed, 11/3/10, Syofiardi BachyulJb <[email protected]> wrote:
>
> From: Syofiardi BachyulJb <[email protected]>
> Subject: Re: [...@ntau-net] BERITA ADU DOMBA ==>> Gubernur ke Jerman
> To: [email protected]
> Date: Wednesday, November 3, 2010, 10:55 PM
>
> Sanak Arief,
> Yang ambo ketahui Kompas.com memang beda urang dengan Kompas harian. Dari 
> segi kualitasnyo di bawah harian karano dikelola urang beda yang direkrut 
> sendiri belakangan. Akurasi dan mutunyo memang tidak seperti Kompas harian.
>
> Soal adu domba ambo manilai indak sajauah tu. Orang sekaliber IG mestinyo 
> lebih waspada dengan komentarnyo ke media online karano ka ditayang lebih 
> cepat dan agak kurang lengkap dibanding koran. Iko agak talambek dibandiang 
> live di TV-lah. IG bisa minta waktu untuak mancari tahu apo dulu nan tajadi. 
> Inyo bisa konfirm ka IP atau stafnyo. Jadi hasil padangannyo lebih mantap.
>
> Beberapa tahun lalu ambo pernah diminta pandapek sebagai Ketua AJI Padang ttg 
> suatu kasus pemukulan wartawan. Ambo baru dapek info satangah jam sabalunnyo 
> dan kawan ambo baru mancari kronologisnyo dan baa subanyo persoalannyo. Waktu 
> ado wartawan lain yang menelepon minta komentar ambo suruah tunggu sabanta 
> agar komentar ambo indak asbun.
>
> Baitulah kiro-kiro manuruik ambo Rangkayo.
>
> Wassalam,
> Syofiardi (40/Padang)
>
> From: ARIEF <[email protected]>
> To: [email protected]
> Sent: Wednesday, November 3, 2010 20:30:51
> Subject: [...@ntau-net] BERITA ADU DOMBA ==>> Gubernur ke Jerman
>
> Assalamu'alaikum WW.
>
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke