Perpektif lain dari  Harian Singgalang On-Line

http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=1659

Kamis, 04 November 2010
SETELAH TSUNAMI MENTAWAI
Pejabat Sipil dan Militer yang Kelelahan
PADANG — Mentawai telah memberi kita sebuah tembang baru yang pilu.
Sekaligus memberi kita ruang untuk perasaan dan pengetahuan. Semuanya
makin sekarang.
Keprihatinan meluas. Ada yang bertindak, ada yang berkoar. Ada yang
diam, ada yang tak peduli.
Tsunami di sana, merupakan yang tercepat di dunia. Sekejap saja,
monster itu langsung menyebar maut. Mentawai jadi berita dunia.
Lalu pada Senin (1/11) saya terbang ke Mentawai bersama Gubernur Irwan
Prayitno. Saya melihat garut kelelahan di wajahnya. Ketika saya
postingkan foto Irwan dan saya di atas helikopter ke facebook, teman-
teman mengomentarinya. Antara lain, mereka bertanya, “Kenapa wajah
gubernur terlihat lelah.” Yang lelah bukan hanya gubernur, tapi juga
wagub serta Danrem dan bupati Kepulauan Mentawai.
Menurut seorang dokter kepada saya sekitar 6 tahun silam, jika dokter
bedah habis melakukan operasi berat pada pasien, maka ia harus
istirahat sehari dua, karena kalau tidak berdampak pada jiwanya.
Di dunia wartawan, jika usai melakukan liputan berat seperti ke
Mentawai, boleh istirahat sehari dua. Tak istirahat juga tak apa, tapi
harus mau mencari suasana enjoy, hiburlah dirimu. Itulah sebabnya
kenapa antara lain, dokter dan wartawan suka karaoke. Sesekali ke
Jakarta, he he he....
Hiburlah diri, agar tidak stres. Kalau wartawan tak suka menghibur
dirinya, maka kabarnya orang lain akan salah melulu di matanya. Dia
saja yang benar.
Menurut saya, gubernur memang harus istirahat barang sehari dua. Kalau
tidak ia akan sakit kuning. Sejak dilantik, ia seperti mobil putus rem
saja. Teman-teman wartawan peliput di kantor gubernur menjadi
saksinya. Lasak benar, berjalan saja maunya. Tiap sebentar ke daerah.
Mungkin karena baru menjabat.
Gempa dan tsunami
Akan halnya gempa 7,2 SR yang menimbulkan tsunami di Mentawai terjadi
pada Senin malam. Padang panik. Warga menuju ke ketinggian di bawah
guyuran gerimis. Pada saat yang sama, Gubernur Irwan Prayitno terlihat
berkeliling kota memantau suasana.
“Pak Gubernur kaliliang kota,” kata wartawan Singgalang, Adi Hazwar
kepada saya, malam itu. Saya tak hirau benar, sebab saya punya protap
sendiri kalau gempa datang. Begitu gempa, saya lari dengan mobil atau
dibonceng teman, sampai ke depan pasar Lapai. Di sana saya parkir,
memantau suasana.
Setengah jam atau lebih saya kembali ke kantor. Atau ke Simpang Haru,
parkir sesudah lampu merah. Aman, balik lagi. Kenapa saya harus pergi?
Saya menghindari kemungkinan tsunami yang datang tak terdeteksi.
Sirene tak bisa diharapkan, waktu latihan pekak telinga dibuatnya.
Datang yang sesungguhnya, sirene itu anok.
Kenapa Lapai labih favorit, karena sesampai di sana, berarti tak ada
jembatan yang akan patah atau ambruk akibat gempa. Selanjutnya tinggal
jalan kaki ke Ampang. Saya takut kalau jembatan patah, tak ada jalan
keluar lagi dari pusat kota.
Gubernur ke Jerman menjadi janggal bagi sebagian orang, wajar saja
bagi sebagian lainnya. Yang tak wajar, rakyat tidak peduli.
Dia di Jerman Jumat (5/11) dan besok siangnya kembali ke Indonesia.
“Ambo hanyo 1,5 hari di Jerman, sayang peluang investasi tidak
diambil, urusan gempa oleh Wagub,” Irwan berkirim SMS kepada saya,
kemarin.
Menurut agendanya, Irwan ke Jerman bersama enam gubernur. Ke sana
Irwan mengurus investasi bidang infrastruktur. Semoga saja, bisa
mengurus bouy sekalian, yaitu alat pendeteksi tsunami.
Menurut Ketua DPD Irman Gusman, kepergian Irwan ke sana, untuk
kepentingan Sumbar.
Dari segi, “gubernur lelah,” wajar ia rehat sehari dua. Kalau
pelesiran, menurut dia, semua negara Eropa sudah dijelajahinya selama
ia menjadi anggota DPR. “Sekarang untuk investasi, agendanya padat,
saya mohon pengertian,” kata dia lagi.
Saya kira Gubernur Irwan bukan orang kurang akal. Ia telah
memertimbangan segala hal. Tapi, itu tadi, hak orang pula untuk sinis
dan setuju atas perjalanannya ke Jerman. Antara lain, itulah risiko
pilihan sekaligus risiko seorang pemimpin. Akan dipuji sekaligus akan
dikirik.
Yang menarik justru aktivitasnya sejak gempa 26 Oktober 2010. Senin
malam keliling kota, Selasa rapat koordinasi, karena ternyata Mentawai
dilanda tsunami. Rabu Wapres Boediono datang dan ditemani Irwan
terbang ke Mentawai. Wapres pulang, Irwan tinggal. Kamis giliran
Presiden SBY yang datang ke Mentawai. SBY pulang siang, Irwan pulang
malam. Begitu sampai di Padang, rapat dan langsung jumpa pers.
Jumat menemani SBY. Irwan bergabung dengan Wagub Muslim Kasim yang
baru pulang dari luar negeri. Segera rapat dengan Pangdam Bukit
Barisan. Sabtu sibuk lagi bersama Wagub mengurus bencana. Wagub
terbang ke Mentawai.
Minggu Irwan ke daerah, kalau tak salah Payakumbuh. Senin (1/11)
terbang ke Mentawai bersama saya dan teman-teman. Selasa ke Payakumbuh
meresmikan sekolah. Selasa menerima Menteri Fadel Muhammad. Rabu
terbang ke Jerman.
Wagub
Wagub di Mentawai pada Sabtu (30/10). Pulang 3 Nobember. Empat hari di
sana. Muslim sempat menemani Ketua PMI Jusuf Kalla yang dua hari pula
di sana.
Empat hari tak ganti baju, AC/DC. Nyaris bau bada badannya. Kepala
Dinas Prasjal dan Tarkim Sumbar Doddy Ruswandi setali tiga uang. Apa
boleh buat.
Ketika pada Senin (1/11) pagi Gubernur Irwan dan saya serta sejumlah
pemred mendarat di Mentawai, di helikopter ada dua tas pakaian. Satu
milik Muslim lainnya milik Doddy.
Pada Rabu (3/11) kemarin, Muslim terbang lagi ke Mentawai menemami
Menteri Fadel Muhammad.
Malah di Mentawai, Irwan tiap sebentar ditelepon oleh hampir semua
suratkabar dan televisi. Di Mentawai, Wagub Muslim sempat pula jadi
‘reporter’
Danrem
Saya menemukan Danrem 032 Wirabraja Kol Mulyono di Mentawai. “Bapak
tak pulang-pulang,” kata stafnya. Sejak Rabu pekan lalu smapai Rabu
kemarin, Mulyono masih di sana. Ia mengendalikan berbagai gerak
relawan, distribusi bantuan. Danrem risau kalau rela wan terdampar,
seperti yang terjadi dua hari lalu. Karena itu, tentara ini berusaha
mencarinya. Wartawan asing yang lambat dapat kapal, lantas menuduh
diusir, berusaha pula ia jelaskan kepada publik, “tidak ada
pengusiran”
Ia memberi informasi ke Tanah Tepi, menerima telepon dari wartawan. Ia
tentu juga menerima telepon dari istri dan anaknya di Padang.
Tentara ini, pada Senin lalu, saya lihat di Tuapejat. Ia menyambut
kedatangan Gubernur Irwan. Kami terbang ke Muntei Baru-Baru, ia telah
tiba pula di sana.
Bupati
Akan halnya Bupati Kepulauan Mentawai, Edison Saleleubaja, merupakan
pejabat yang selain sibuk, lelah, letih juga harus mengemban tugas
lebih berat. Namanya saja bupati. Edison, pada Senin lalu saya jumpai
memakai sepatu boat hitam sampai ke lulut. Wajahnya ‘gersang’.
Ia menjadi tumpuan harapan sekaligus kekesalan warganya sendiri.
Bantuan yang menumpuk di posko induk, menjadi tanggungjawabnya. Saya
melihat, ia tidak kosentrasi lagi. Namun sang bupati berusaha tampil
prima, apalagi silih berganti pejabat penting datang ke sana. “Bapak
kurang tidur, makan juga telat terus,” kata stafnya kepada saya.
Itulah hal-hal yang sempat terdeteksi oleh wartawan Sing galang dan
sebagian jadi berita.
Lalu, Irwan ke Jerman. Selanjutnya terserah Anda. (Kj)

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke