Sanak Edy Utama nn ambo hormati n sanak palanta.
Pagi tadi,kl jam 09.00 ambo singgah di gedung perpustaka an alm.Abdullah
Kamil,di jalan Diponegoro no.3 Padang.JB singgah lo di Kantua LKAAM, tapi
ketuanyo pak Sayuti alun datang.
Kecek petugas di Kantua tu,sa nak Edy Utama bakantua lo di situ.
Nan ingin JB ketahui,diper pustakaan ini,apa benar ada dokumen2 lamo
tersimpan nn mencakup bidang2 adat, agama dlsb.
Senang sekali,kalau sanak Edy Utama dapat memberikan informasinya kepada
JB.Teri-ma kasih sebelumnya.
JB,71th,sk Mandailing,kini sadang di Piaman.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
-----Original Message-----
From: Edy Utama <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Mon, 22 Nov 2010 09:37:37
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [...@ntau-net] Danau Maninjau yg Amat Sangat
Memprihatinkan_Jugaseruan
kpd Para Ulama
Bung Andrinof, ambo kiro tulisan Bung o sangaik pantiang untuk dijadikan dasar
menyusun kebijakan pembangunan Maninjau ke depan. Ambo sejak tahun 1990-an
secara dekat mengikuti perkembangan sekitar Danau Maninjau. Situasi dalam 10
tahun terakhir memang sudah memprihatinkan. Ambo kiro memang perlu tindakan
bersama untuk menyelamatkan Danau Maninjau, dan salah satu di antaranyo adalah
menciptakan kegiatan ekonomi alternatif lainnya yang mungkin untuk dikembangkan
di Maninjau.
Namun ambo kiro, para petani (pengusaha) ikan keramba yang berdialog dengan
Bung di Kantor Camat Tanjung Raya tu, belum dapat dianggap sebagai gambaran
menyeluruh dari situasi masyarakat Maninjau.masa kini. Kebetulan ambo banyak
berhubungan dengan kelompok-kelompok seni budaya tradisi di salingka Danau
Maninjau, dan mereka banyak juga yang risau dengan situasi tersebut. Untuk Bung
ketahui, salingka Danau Maninjau, adalah merupakan salah satu kantong budaya
tradisi Minangkabau yang paling penting sekarang. Kalau untuak mangumpuakan
sekitar sartuih grup gandang tambua dari salingka Maninjau rasonyo indaklah
sarik bana doh. Baitu juo tradisi sileknyo nan manuruik ambo sangaik indah. Ado
pulo banyak budayawan lisan (ahli pasambahan) nan tingga di Maninjau tu. Ado
beberapa kelompok dabuih dan tari piriang. Dan puluhan mungkin lebih seratus
lagu-lagu ratok untuak saluang dendang nan alah diciptakan dari Maninjau, nan
iramanyo sangaik spesifik.Para seniman
dan budayawan nan ambo kenal, ndak bara urang bana doh nan manjadi petani
karamba ikan tu. Jadi manuruik ambo masih ado harapan untuk masuak dari jalur
lainnyo. Ambo sadang mancubonyo, dan nampaknyo kawan awak nan baru di lantik
jadi Bupati Agam tu tampaknyo lai punyo salero. Jadi ko memang ndak bisa sakali
salasai, harus diproses dengan tanang.
Salam
Edy Utama
Salam
--- On Mon, 11/22/10, [email protected] <[email protected]> wrote:
From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [...@ntau-net] Danau Maninjau yg Amat Sangat
Memprihatinkan_Jugaseruan kpd Para Ulama
To: [email protected]
Date: Monday, November 22, 2010, 5:39 AM
Asslmlkm, Mak Ngah. Kalau alah dibaco isi tulisan ambo ttg Danau Maninjau tp
diagiah judul Mentalitas Mumpung, itu tantu bisa ditangkok makna istilah itu.
Wass.,
Andrinof A Chaniago (48)
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
-----Original Message-----
From: "sjamsir_sjarif" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sun, 21 Nov 2010 15:07:15
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [...@ntau-net] Danau Maninjau yg Amat Sangat Memprihatinkan_Juga
seruan kpd Para Ulama
Saya ketinggalan dalam pengertian istilah yang saya anggap baru.
Dalam posting Angku Andrinof A Chaniago ada disebut:
1. "Budaya Mumpung"
2. "Penyakit Mumpung"
Apa arti dan definisi masing-masing istilah itu?
Dalam posting Angku Bot S Piliang disebut "bencana Mental dan Budaya" saja,
terlalu general dan kabur juga apa yang dimaksud.
Salam,
--MakNgah
Sjamsir Sjarif
--- In [email protected], Bot S Piliang <botsos...@...> wrote:
>
> Turut berduka atas bencana Mental dan Budaya yang menimpa Maninjau. Lantas
> dimana peran Ninik Mamak, alim ulama dan cadiak pandai yang kita agung2kan
> selama ini.
> Akankah Danau Maninjau yang kemulai itu akan sama nasibnya seperti Waduk
> Jatiluhur yang sudah menjadi Septitank terbesar di Dunia???
>
>
>
> Bot Sosani Piliang
> Just an Ordinary Man with Extra Ordinary Dream
> www.botsosani.wordpress.com
> Hp. 08123885300
>
> --- On Sun, 11/21/10, Andrinof A Chaniago <andri...@...> wrote:
>
> From: Andrinof A Chaniago <andri...@...>
> Subject: [...@ntau-net] Danau Maninjau yg Amat Sangat Memprihatinkan_Juga
> seruan kpd Para Ulama
> To: [email protected]
> Date: Sunday, November 21, 2010, 7:40 AM
>
> Assalamualaikum Wr. Wb.,
>
>
> Hari
> Sabtu, 20 Novenmber kamarin saya sudah datang ke Maninjau. Setelah
> melakukan dialog yang sempat panas (tetapi, alhamdulillah, terkendali),
> saya mengamati beberapa lokasi tepian Danau Maninjau dari dekat. Setelah
> saya amat risau dengan cara berpikir para pengusaha budidaya ikan
> keramba yang mereka perlihatkan di dalam acara diskusi, saya benar-benar
> terhenyak melihat kondisi danau dengan air yang amat kotor. Kalau bau
> bangkai ikan yang saat ini masih menyengat mungkinakan hilang dalam
> beberapa minggu ke depan, tetapi kondisi air Danau Maninjau betul-betul
> amat sangat rusak kalau dibanding keadaan aslinya yang masih bisa kita
> lihat 10 tahun lalu.
>
> Dalam
> situasi energi saya juga sedang terbatas dan berbagai hal lain yang
> juga harus saya kerjakan, untuk sementara saya sampaikan saja pandangan
> saya tentang masalah Danau Maninjau ini di dalam tulisan ini. Insya
> Allah, tulisan ini besok, 22 November 2010, akan dimuat di rubrik TERAS
> UTAMA Harian Padang Ekspres. Mudah-mudahan isi tulisan ini bisa
> memberikan gambaran tentang masalah dan sumber permasalahan yang terkait
> dengan keadaan Danau Maninjau saat ini, dan mudah-miudahan memberi
> insprirasi bagi kita yang bersungguh-sungguh ingin memperbaiki keadaan
> masyrakat luas.
> Saya baru saja kembali ke Jakarta. Besok saya seharian akan menjadi salah
> satu Juri dalam Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) untuk Bidang Ilmu
> Sosial. Ini juga satu tantangan bagi para tokoh pendidik dan Pemerintahan di
> Sumbar, karena dalam beberapa tahun terakhir ini hampir tidak peserta dari
> Sumbar, apalagi maju ke Babak Final.
>
>
> Salam hormat.
> Andrinof A Chaniago
>
>
>
> Mentalitas Mumpung
>
> Oleh Andrinof A Chaniago
>
> Koordiantor Tim Visi
> Indonesia 2033
>
>
>
> Menyaksikan langsung kondisi terakhir
> ekologi Danau Maninjau dan mendengarkan keinginan para pengusaha budidaya ikan
> keramba Danau Maninjau hari Sabtu, 20 November 2010, kemarin, betul-betul
> membuat batin saya terhenyak. Banyak butir-butir kesimpulan yang ada di kepala
> saya setelah menyaksikan pencemaran dan bau bangkai ikan yang masih menyengat
> dan setelah mengamati masalah yang sesungguhnya di balik "drama tangis" mereka
> yang selama sepuluh tahun terakhir mendapatkan penghasilan dengan cara relatif
> mudah dari sumber daya alam Danau Maninjau. Tetapi, yang membuat saya
> terhenyak
> adalah kesimpulan utama saya bahwa kondisi Danau Maninjau saat ini adalah
> karena budaya mumpung dalam mencari penghasilan bagi sebagian pelaku ekonomi
> dan
> karena pembiaran yang dilakukan oleh pemimpin dari dalam maupun luar
> pemerintahan..
>
> Keprihatinan saya justeru karena
> tidak banyak orang yang prihatin dengan budaya mumpung yang tidak berkurang,
> melainkan makin meluas. Dulu, budaya mumpung dalam berbisnis ini hanya kita
> temukan pada pengusaha, pelaksana usaha jasa dan pedagang sektor informal yang
> mengabaikan kepuasan pelanggan demi mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya
> dengan "mengakali" konsumen atau memanfaatkan situasi terdesak yang dihadapi
> oleh konsumen. Contoh memalukan yang disaksikan oleh penonton televisi di
> seluruh Indonesia adalah kasus seorang sopir taksi pada peristiwa Gempa 30
> September
> 2009 yang meminta bayaran ongkos Rp 500 ribu rupiah kepada calon penumpangnya
> dari depan Plaza Andalas menuju Bandara Internasional Minangkabau (BIM).
>
> Penyakit mumpung dalam mencari
> penghasilan ini kini telah merembet ke sebagian masyarakat di sekeliling Danau
> Maninjau yang dahulu dikenal hidup bersahaja dan berperilaku lebih mengagumkan
> dibanding kebanyakan para petani pada umumnya di negeri ini. Mereka penuh
> dengan
> sikap gotong royong, tanpa pamrih, ramah, santun dan peduli terhadap hidup
> saudaranya yang lain. Sikap ini terancam hilang pada sebagian dari warga
> Maninjau
> yang telah beralih ke usaha budidaya keramba ini. Mereka tampaknya telah mulai
> terpengaruh oleh budaya mumpung ini semenjak mereka bertemu dengan investor
> dari luar Maninjau dan pengusaha industri pakan ikan. Walaupun keuntungan jauh
> lebih besar dinikmati para investor dan produsen pakan ternak, saat ini
> justeru
> masyarakat Maninjau yang terjun sebagai pelaksana dan pelaku usaha kecil
> budidaya ikan keramba inilah yang maju memasang badan membela sistem kapitalis
> yang merusak lingkungan dan mematikan usaha-usaha sektor lainnya ini dengan
> menggunakan berbagai pembenaran.
>
> Saya betul-betul terhanyak karena
> alasan-alasan sempit yang memang berhasil mereka susun dalam jumlah banyak,
> menjadi hal yang berlaku dalam kenyataan karena diterima oleh para pembuat
> kebijakan, baik di pemerintah daerah maupun di DPRD. Termasuk di dalam daftar
> pembenaran itu adalah penolakan terhadap usaha pariwisata lewat anggapan
> seolah-olah seluruh kegiatan pariwisata identik dengan maksiat dan
> seolah-seolah pariwisata yang berbau maksiat tidak bisa dicegah dengan akal
> dan
> cara yang mudah. Mereka juga tidak peduli dengan peluang mencari nafkah dari
> paling kurang enam belas jenis usaha halal yang bisa dimasuki di sektor
> pariwisata dengan bantuan pembinaan usaha dan sebagainya yang dilakukan oleh
> pemerintah. Mereka, yakni sebagian dari para pelaku usaha budidaya ikan
> keramba
> itu, juga sekan tidak peduli dengan
> ekonomi ramah lingkungan dan berkelanjutan yang bisa dikembangkan dengan
> berbasiskan pada sektor pariwisata.
>
> Tumbuhnya sikap pragmatis yang
> saya sebut dengan budaya mumpung ini di sebagian masyarakat Maninjau tidak
> lain
> karena usaha budidaya keramba ini dirasakan oleh mereka sangat mudah
> mendatangkan penghasilan dalam jumlah lumayan besar. Tetapi, hitung-hitungan
> itu tentulah hanya menggunakan cara pandang ekonomi mikro, bukan ekonomi
> makro,
> apalagi konsep ekonomi berkelanjutan atau pertumbuhan berkualitas. Sementara,
> kalau dilihat dari kacamata ekonomi makro, terlebih menurut konsep pertumbuhan
> yang berkualitas, keuntungan besar yang diterima oleh para pelaku usaha
> budidaya keramba ikan ini adalah karena membebankan biaya-biaya lain yang
> seharusnya mereka tanggung kepada pihak lain, yakni masyarakat umum dan
> pemerintah. Dengan kata lain, kalau merujuk kepada ilmu ekonomi publik, telah
> terjadi praktek eksternalitas dalam pengeluaran biaya produksi oleh para
> pelaku
> usaha keramba ini. Jangankan biaya retribusi, baya perijinan, royalti atas
> pemakaian sumber daya air danau yang merupakan barang publik (bukan barang
> privat), biaya pengendalian dampak lingkungan dan sebagainya, biaya untuk
> membuang dan membersihkan sekitar dua ribu ton bangkai ikan sampai peristiwa 4
> hingga 8 November 2010 kemarin ikut ditanggung oleh anggaran publik yang
> diambil dari setoran pajak masyarakat lainnya. Sementara, mereka juga pernah
> mendapatkan bantuan bibit ikan dari Pemprov Sumbar sekitar setengah tahun yang
> lalu, yang tentu saja anggaran pengadaan bibit ikan itu juga berasal dari uang
> masyarakat yang membayar pajak kepada negara.
>
> Kalau dilihat asal-usul
> keuntungan besar yang selama ini dinikmati para investor dan pelaku usaha
> budidaya keramba tadi, jelas tidak semuanya keuntungan itu merupakan hak
> mereka, karena tidak semua biaya faktor produksi yang seharusnya mereka
> keluarkan mereka keluarkan. Sehingga, dengan cara pengeluaran biaya faktor
> produksi yang berlaku sekarang ini, jelas mereka telah mengambil hak
> masyarakat
> lain untuk bisa menikmati fungsi air Danau Maninjau untuk berbagai keperluan
> lain, karena fungsi air Danau Maninjau
> praktis hanya tinggal untuk budidaya ikan. Lebih dari itu, budidaya ikan
> keramba ini juga telah mengambil hak generasi yang sekarang dan akan datang
> karena mereka tidak bisa menikmati Danau Maninjau seperti orang tua dan nenek
> moyang mereka menikmati pada jaman dahulu. Danau Maninjau, yang saya yakini
> sebagai salah satu danau terindah di dunia, kini menjadi kenangan yang tersisa
> pada album-album foto yang mulai lusuh. Cara berusaha seperti ini jelas tidak
> cukup untuk dibenarkan hanya dengan alasan menyediakan lapangan kerja dan
> lapangan usaha. Baik ilmu ekonomi publik maupun agama juga tidak membenarkan
> cara seperti ini.
>
> Tetapi, kita tidak bisa
> menimpakan penyebab merasupnya mentalitas mumpung ke sebagian masyarakat di
> sekeliling Danau Maninjau itu pada masyarakat yang telah menjadi pelaku usaha
> budidaya keramba itu saja. Pemimpin formal, di eksekutif dan di legislatif
> serta penegak hukum jelas sebagai pihak yang paling bertanggungjawab terhadap
> terjadinya kondisi Danau Maninjau sebagai akibat merasupnya budaya mumpung
> tadi ke sebagian masyarakat Maninjau.
> Penegakan peraturan yang lemah, pembinaan mental bisnis yang nyaris tidak
> pernah dilakukan, dan yang lebih memprihatinkan lagi, dinas terkait yang
> berfikir dengan egosektoral, adalah bentuk-bentuk kelalaian dan kekeliruan
> yang
> telah dilakukan pemerintah selama ini.
>
> Ketika volume masalah ini menjadi
> besar seperti sekarang tentu saja masalahnya seperti dilematis. Tetapi, dilema
> ini juga tampak dilebih-lebihkan kalau akar masalahnya dilihat lebih mendalam
> dan kita lihat pilihan-pilihan kebijakan yang berorientasi jauh ke depan.
> Sesungguhnya, sebagian besar para stakeholder
> Danau Maninjau – kecuali investor dari luar dan produsen dan distributor
> pakan kan, tengah berada di
> pinggir jurang. Kondisi di tepi jurang ini belum bisa disebut dilema, karena
> sebagian besar para skrakeholder itu
> belum terlempar ke dalam jurang itu. Situasinya akan lebih menyedihkan lagi
> kalau
> penganut budaya mumpung itu makin luas sampai ke generasi berikutnya dan ke
> kelompok-kelompok masyarakat lain dengan ketidakpedulian yang makin tinggi
> terhadap multimanfaat yang hilang dari Danau Maninjau.
>
> Cara untuk membawa masyarakat
> menjauhi tepi jurang itu masih banyak. Pertama,
> sempurnakanlah segera regulasi yang ada dan tegakkan aturan dengan tegas.
> Kedua, siapkanlah langkah-langkah
> transformasi ekonomi sesegera mungkin agar mengarah kepada pertumbuhan yang
> berkualitas yang berkelanjutan. Ketiga,
> para pejabat yang berfikir secara egosektoral, seperti melihat peningkatan
> produksi ikan keramba adalah lebih penting dari yang lain, harus segera
> melakukan instrospeksi. Keempat,
> daripada memanjakan pelaku usaha bididaya keramba ikan ini dengan aneka
> bantuan, seperti pemberian bibit, bantuan
> modal, dan sebagainya, lebih baik dan lebih penting membuat mereka sadar akan
> hak-hak kelompok masyarakat lainnya atas keanekaan fungsi Danau Maninjau.
>
> Masyarakat dan elite lokal yang
> sering latah-latahan menggunakan pembenaran agama atas mentalitas mumpung
> mereka juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Para
> ulama tentu harus bertanggungjawab terhadap hal ini. Para
> ulama sebaiknya sejak saat ini mau bersikap adil memilih dan membacakan
> ayat-ayat Alqur'an dan hadis-hadis Nabi. Jika hingga saat ini kebanyakan
> ulama masih
> saja lebih suka menakuti-nakuti umat dengan ancaman neraka bagi mereka yang
> murtad dan mendekati maksiat, mulai saat ini sebaiknya juga menunjukkan
> larangan Allah SWT dan Rasul bagi mereka yang merusak lingkungan, merusak
> keindahan, mematikan hewan-hewan air danau dan spesies yang sudah hidup
> ratusan
> tahun, merugikan usaha orang lain, dan mengambil hak generasi masa depan untuk
> menikmati kebersihan, kesehatan, keindahan, aneka fungsi dan keanekaragaman
> hati di dakam Danau
> Maninjau. Dengan membaca dan memahami makna Islam sebagai rahmatan lil`alamin
> secara luas dan mendalam, para ulama tentu akan
> paham bahwa masalah Danau Maninjau saat ini adalah juga masalah penerapan
> ajaran agama. Mematahkan satu
> ranting pohon saja secara sembarangan dilarang oleh Islam. Islam juga sangat
> menganjurkan keindahan dan kebersihan. Islam juga melarang kita mematikan
> makhluk hidup apapun kecuali yang disyaratkan. Islam juga dengan tegas
> melarang
> orang untuk membuat kerusakan di muka bumi, baik dalam hubungan dengan sesama
> manusia maupun dengan alam.
>
> Danau Maninjau adalah anugerah Tuhan yang wajib kita syukuri tanpa henti.
> Sebagai
> salah satu danau terindah di dunia, dia menawarkan kesempatan untuk membangun
> sistem ekonomi lokal yang berkualitas, yakni yang bisa menghasilkan
> pertumbuhan
> secara berkelanjutan dan mengikutsertakan berbagai komponen masyarakat seluas
> mungkin di sekitar Danau Maninjau, termasuk generasi yang akan datang, jauh
> melebihi
> yang bisa diberikan oleh ekonomi berbasiskan budidaya ikan keramba saat ini.
> Caranya
> adalah dengan meletakkan sektor pariwisata yang disertai persyaratan dan
> kendali berdasarkan nilai agama dan adat sebagai basis perekonomian. Dalam
> model ekonomi seperti ini, terdapat belasan subsektor atau jenis usaha yang
> bisa dimasuki oleh masyarakat. Dengan perhitungan sangat minimalis, yakni
> dengan merebut dua persen saja wisman yang berkunjung ke negara tetangga,
> Singapura dan Malaysia, saya yakin dalam lima tahun PDRB Sumbar bertambah
> sebasar Rp 1,5 triliun. Dari nilai potensial itu, jelas Kabupaten Agam,
> khususnya kawasan Danau
> Maninjau, bisa mengambil sepertiganya.
>
>
>
> Padang, 21
> November 2010
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.