Assalamu'alaikum wr. wb Dunsanak palanta
Menururt saya, seperti yangdisarankan pak Edy Utama, yang diperlukan sekarang adalah mencari kegiatan ekonomi alternatif yang mungkin dilakukan dan memang bisa diterima masyarakat sekitar pinggiran danau. Sesuatu yang membutuhkan usaha keras karena termasuk mengubah pola berpikir dan tetap mempertimbangkan, menjelang ekonomi alternatif jangka panjang itu dapat memberikan 'hasil', alternatif jangka pendeknya juga sangat perlu jadi perhatian, karena ini menyangkut urusan perut rakyat badarai. Menyuruh masyarakat tiba-tiba berhenti ber karamba tanpa ada penghasilan mereka untuk sementara waktu rasanya juga tidak mungkin. Secara umum masyarakat tentu akan lebih mengutamakan bagaimana anak istri dan keluarganya nya bisa cukup makan. Walaupun saya tidak punya karamba, tapi sebagai anak nagari Maninjau nan memang tingga di pinggiran danau, sering terlibat baik langsung atau tidak langsung dengan diskusi tentang karamba dan kebersihan air danau ini dengan petani karamba itu sendiri. Bagi saya pribadi, melihat hubungan keramba dan air danau, ditambah urusan perekonomian, pariwisata, ekologi, bahkan termasuk budaya, dan sebagainya memang seperti 'rambut keriting yang belum disisir'. Sabana tasangkuik-sangkuik. Apakah petani keramba sebenarnya senang dengan air danau yang sekarang kotor? Dari diskusi saya dengan puluhan peternak keramba yang saya sempat bincang-bincang dalam pergaulan sehari-hari, jawaban mereka sama dengan kita, yaitu TIDAK. Itulah sebabnya ketika kemaren saya baca tulisan Uda Andrinof, saya langsung bersyukur, wah semoga pihak-pihak yang terkait sejak dari petani keramba, pemuka masyarakat dan pemerintah jadi lebih mendengar apa yang disarankan. Mungkin sedikit yang disayangkan adalah pertemuan petani keramba dengan kelompok Uda Andrinof justru tidak banyak diketahui petani keramba itu sendiri. Tadi pagi saya tanyakan kepada petani keramba, bagaimana pertemuan hari Sabtu lalu dan siapa saja serta dari nagari mana saja ketua kelompok keramba yang datang mewakili pertemuan hari Sabtu. Banyak petani keramba yang kaget karena tidak sampai info kegiatan pertemuan itu kepada mereka. Mereka banyak mengatakan sayang karena kami tidak tahu, kalau tahu, kami juga ingin berperan dan ikut duduk bersama serta mencari bagaimana jalan keluarnya untuk kebaikan semua pihak. Lalu ketika saya katakan mungkin Pak Andrinof cuma bertemu dengan ketua-ketua kelompok tani keramba saja sebagai perwakilan, dan belum sempat mensosialisasikan, mereka juga menggeleng. Tidak kok, jawab mereka. Ketua gadang petani keramba Maninjau saat ini sedang tidak di Maninjau karena ada urusan ke Jakarta.... Entahlah, saya juga tidak tahu pasti. Saya ingat urusan keramba ini juga 'hangat' di RN sejak tahun 2000 yang lalu. Waktu itu permasalahan juga sudah bacilutu putu, sejak dari air danau yang kotor, tanah perbukitan yang gersang, tantangan perekonomian dan masalah pariwisata, sampai urusan kelompok yang menamakan diri masyarakat peduli air danau dan sebagainya. Kalau saya tidak salah, sekitar dua tahun yang lalu, ketika pertemuan antara petani keramba, bupati agam dan anggota DPRD dari Lubuk Basung diadakan, win-win solution di awal pertemuan sepertinya akan tercapai. Dari petani keramba saya dapat info (saya hanya bertanya kemudian, tidak ikut pertemuan karena saya tidak ada keterkaitan dengan keramba), ada beberapa poin yang 'hampir' disetujui, antara lain pembatasan jumlah keramba yang dimiliki perorangan, kewajiban petani untuk punya SIUP dan membayar pajak, serta pembatasan dana pinjaman bank, kalau keperluannya untuk keramba. Tetapi pertemuan waktu itu akhrnya deadlock juga. (Kabarnya sebagian poin-poin malah kini sudah jadi perda, tapi realisasinya belum kelihatan. entahlah, saya kurang begitu paham... ) Ketika ada pembicaraan tentang pembatasan jumlah keramba hanya maksimal 5 petak perorang, petani menuntut pembatasan itu tidak hanya untuk anak nagari keliling danau, tapi minta jaminan dari pihak yang berwenang agar investor dari luar Maninjau dilarang juga punya puluhan keramba sekaligus, ketika jaminan itu tidak bisa dijawab instansi terkait, petani 'agak' emosi. Pendaftaran SIUP dan kewajiban membayar pajak serta pembatasan tentang tidak boleh meminjam ke Bank kalau 100 % untuk keperluan keramba juga awalnya diterima (sebagian) petani keramba, dengan syarat utang-utang mereka yang sedang jalan waktu itu kalau ternyata mandeg tolong dulu dicarikan jalan keluar oleh pemerintah/pihak terkait atau perbolehkan juga bank meminjamkan kepada mereka untuk pelunasan karena pengurangan jumlah karamba dan mencari usaha lain butuh waktu. Tetapi permintaan itu juga tidak mencapai titik temu. Disayangkan waktu itu mungkin petani karamba sudah mulai putus harapan, emosi, dan menemui jalan buntu, dan pada saat yang tidak tepat, sayang juga salah seorang utusan pemerintah waktu itu 'manyorong' dan mengatakan urusan kami air danau, urusan hutang piutang itu urusan perdata dan urusan kalian masyarakat masing-masing. Mendengar itu salah seorang petani karamba menggertak, "Tuan-tuan yang terhormat, daripado kami bacakak jo galang-galang, bialah kami bacakak jo urang... " Akhirnya utusan yang datang waktu itu entah ketakutan atau apa, keluar ruangan dan pertemuan bubar... Baru seminggu yang lalu saya berdiskusi dengan petani-petani keramba, bertanya-tanya kerugian mereka waktu tubo lalu, itu juga setelah mereka bercerita bagaimana macam-macam respon mereka ketika tubo itu tiba. Ada yang melongo, ada yang termenung, ada yang seperti lokomotif kereta api. Ada yang jalan hilir mudik memikirkan utang pakan yang menumpuk di agen, dan lain-lain. Walaupun mereka bercerita sudah dengan setengah bercanda, tetap saja ada rasa prihatin terdengar di nada suara mereka. Saya tentu tidak bertanya teknis karena saya tidak punya ilmu tentang berkaramba dan tidak punya kapasitas untuk berbicara apa dan bagaimana seharusnya berkeramba. Saya hanya bercerita bahwa dari buku yang saya baca, kebanyakan pakan ternak yang mengendap dan membusuk menyebabkan air kekurangan oksigen dan overdosisnya unsur nitrogen. Jadi karena ada pula penelitian bahwa enceng gondok atau kalayau ternyata mengikat nitrogen, saya sarankan bagaimana kalau di coba memasukkan enceng gondok agak serumpun ke dalam tiap petak karamba. Coba-coba saja, menjelang ada penelitian ilmiah oleh orang dari instansi terkait tentang hal ini. Karena pertumbuhannya enceng gondok itu sangat cepat, tentu juga harus sering diambil, jangan sampai kebanyakan pula sehingga mengganggu. Saya ceritakan pula bagaimana awal bulan Juli lalu saya sempat mengunjungi danau Tondano dI Sulawesi Utara dan melihat eceng gondok disana dibiarkan saja oleh nelayan, bahkan menurut kami sudah terlalu banyak. Mereka mengatakan iya akan mencoba pula pakai eceng gondok, dan bahkan memang sudah ada saya lihat petani keramba memasukkan serumpun atau dua rumpun eceng gondok kedalam petak-petak keramba mereka. Sepertinya sudah ada yang meneliti dan menyarankan juga sebelumnya. Itulah sebabnya, ketika ada berita bahwa di danau Tondano ikan-ikan juga mati 3 hari yang lalu, sebagian mereka kembali menemui saya tertawa-tawa sambil 'setengah menggugat' dan bercanda. "Tuh, Uni sayang...di danau Tondano yang uni bilang dulu banyak eceng gondok, ikan juga pada mati... " Nah lho... Untungnya saya dapat berita lengkapnya bahwa ikan di danau Tondano mati karena belerang, bukan karena airnya penuh unsur nitrogen seperti danau Maninjau. Jadi saran saya untuk sementara masih bernilai relevan, karena kalau di Maninjau yang membuat ikan mati tidak hanya Hidrogen Sulfida, tapi juga unsur Nitogen dari pakan-pakan ikannya. Entahlah... Semoga ada saran yang langsung dari ahlinya, karena perkarambaan memang bukan bidang saya. Urusan teknis aliran air danau tentunya perlu dipertimbangkan juga. Dulu sudah pernah ada rencana membuat aliran arus bawah di hulu batang Antokan, walaupun mungkin berupa katub buka tutup, sehingga yang mengalir ke batang Antokan tidak hanya air permukaan, tapi juga air dasar danau yang mungkin mengandung kotoran. Tapi realisasinya sampai sekarang tidak diketahui secara pasti. Dua hari yang lalu, seorang petani karamba bercerita bahwa beberapa bulan yang lalu, ketika ikan-ikan mulai 'nonoi' karena kekurangan oksigen (petani sendiri yang juga menyadari dan mengakui ikan kekurangan oksigen karena kebanyakan karamba), waktu itu mereka katanya berhasil 'meminta' pihak PLTA Antokan untuk memutar turbin 'terbawah' yang memang tampaknya tidak selalu dioperasikan. Saya juga kurang tahu persisnya bagaimana, tapi menurut info petani keramba, untuk sementara waktu itu kekeruhan air danau jadi berkurang... Kalau saya melihat dari kaca mata saya sebagai orang awam, Mereka juga sebenarnya sangat mengharapkan bantuan pilihan alternatif dalam mencari nafkah. Yang juga diinginkan petani keramba adalah adanya regulasi yang jelas dan terarah dari pihak PEMDA. Kalau kami dilarang, semua juga harus di larang. Kalau sekarang dilarang, besok jangan ada yang diperbolehkan.... Kalau kami disuruh bayar pajak dan mengurus SIUP, kenapa sebagian lainnya tidak..., Kalau sekarang kami diarahkan begini, besok ternyata kami disuruh begitu... demikian alasan mereka. Sebagai anak dusun pinggiran danau saya sedih juga. Tiap hari mendengar keluh kesah masyarakat tentang 'kerinduan' akan indah dan murninya air danau seperti dulu. Saya juga mendengar keluh kesah pemerintah setempat yang mengatakan 'susahnya' mengatur kedisiplinan petani-petani keramba yang katanya meracuni air danau. Saya juga melihat 'tangis air mata' petani keramba yang dirundung bencana. saya juga mendengar petani keramba berharap punya pilihan mata pencaharian lain dan juga ingin melihat air danau mereka kembali bersih. Saya juga mendengar umpatan yang agak kesal juga dari masyarakat dengan banyaknya investor dari luar Maninjau yang punya puluhan petak karamba-karamba tanpa ada teguran dari pihak terkait. Saya juga mendengar impian dan keluhan petani keramba yang pada dasarnya juga ingin mengalihkan mata pencaharian ke bidang lain tapi terkendala dana, kendala tanah-tanah perbukitan yang sudah tandus yang juga butuh waktu untuk disuburkan kembali sebelum mereka mendapatkan hasil panen. Mereka yang bingung karena tidak dapat pinjaman usaha dari bank... saya juga mendengar cerita 'nostalgia' sesama anak-anak negeri bagaimana kami dulu bisa berintegrasi dan sering bertemu dengan turis-turis berkulit putih, yang suka belanja makanan yang dimasak induak-induak secara tradisional. Hampir tiap hari anak-anak Maninjau, masyarakat, bahkan petani karamba itu sendiri pada dasarnya menginginkan kampung kami kembali alami seperti dulu... Hanya saja belum ada kelihatan jalan yang bisa memuaskan dan memenuhi keinginan semua pihak... Entah kapan... Namun saya tetap optimis, bahwa jalan keluar itu pasti ada. Tetap yakin bahwa masyarakat Maninjau tetaplah orang-orang yang punya semangat tinggi seperti Buya Hamka. Saya juga berharap agar masyarakat juga menyadari bahwa karamba bukan satu-satunya mata pencaharian andalan. Ini terlihat juga dari jumlah petani karamba yang tidak sampai seperlima dari total masyarakatnya.Hanya saja karena setiap orang yang berkaramba, punya beberapa petak bahkan puluhan petak karamba, sehingga tetap saja jumlahnya di permukaan danau menjadi puluhan ribu banyaknya. Kita berterima kasih kepada Uda Andrinof, yang sudah memprakarsai pertemuan kemaren. Semoga ini bisa menjadi starting point untuk mencari dan mendapatkan solusi dari permasalahan yang sudah menjadi benang kusut ini... Solusi yang tentunya di approach dari berbagai aspek, dan semua pihak, pemda, pemuka masyarakat, pemuda, petani karamba, sasyarakat umum, semua mau terlibat dan bekerja sama, karena ini toh untuk kebaikan kita semua.... di masa kini dan nanti... Wassalam, Padang, 22 November 2010 Rita Desfitri Lukman ---- Anak Dusun Pinggiran Danau Maninjau --------------------------------------- Pada 22 November 2010 08.37, Edy Utama <[email protected]> menulis: > Bung Andrinof, ambo kiro tulisan Bung o sangaik pantiang untuk dijadikan > dasar menyusun kebijakan pembangunan Maninjau ke depan. Ambo sejak tahun > 1990-an secara dekat mengikuti perkembangan sekitar Danau Maninjau. Situasi > dalam 10 tahun terakhir memang sudah memprihatinkan. Ambo kiro memang perlu > tindakan bersama untuk menyelamatkan Danau Maninjau, dan salah satu di > antaranyo adalah menciptakan kegiatan ekonomi alternatif lainnya yang > mungkin untuk dikembangkan di Maninjau. > > Namun ambo kiro, para petani (pengusaha) ikan keramba yang berdialog > dengan Bung di Kantor Camat Tanjung Raya tu, belum dapat dianggap sebagai > gambaran menyeluruh dari situasi masyarakat Maninjau.masa kini. Kebetulan > ambo banyak berhubungan dengan kelompok-kelompok seni budaya tradisi di > salingka Danau Maninjau, dan mereka banyak juga yang risau dengan situasi > tersebut. Untuk Bung ketahui, salingka Danau Maninjau, adalah merupakan > salah satu kantong budaya tradisi Minangkabau yang paling penting sekarang. > Kalau untuak mangumpuakan sekitar sartuih grup gandang tambua dari salingka > Maninjau rasonyo indaklah sarik bana doh. Baitu juo tradisi sileknyo nan > manuruik ambo sangaik indah. Ado pulo banyak budayawan lisan (ahli > pasambahan) nan tingga di Maninjau tu. Ado beberapa kelompok dabuih dan tari > piriang. Dan puluhan mungkin lebih seratus lagu-lagu ratok untuak saluang > dendang nan alah diciptakan dari Maninjau, nan iramanyo sangaik > spesifik.Para seniman dan budayawan nan ambo kenal, ndak bara urang bana doh > nan manjadi petani karamba ikan tu. Jadi manuruik ambo masih ado harapan > untuk masuak dari jalur lainnyo. Ambo sadang mancubonyo, dan nampaknyo kawan > awak nan baru di lantik jadi Bupati Agam tu tampaknyo lai punyo salero. Jadi > ko memang ndak bisa sakali salasai, harus diproses dengan tanang. > > Salam > Edy Utama > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
