Kanda Epy di Ciputat sarato Sanak Palanta RN. Suai bana awak jo komentar kanda, kami nan laruik dirantau sajak ketek walaupun indak jauah bana ka Pakanbaru sarato akhirnyo tadampa di Tanah Jao.
Kepedulian keluarga besar kami ka kampuang di Piaman Laweh indak putuih sajak dari generasi Abak ambo sampai ka generasi kami nan maambiak tongkat niniak mamak keluarga besar. Masyalah nan kami hadapi kalau ingin menyisakan hiduik sabalun dipanggia oleh sang khalik di kampuang kami ado babarapo hal: 1. Perkembangan jumlah keturunan yang ado dikampuang dibandiangkan luas lahan pusako tinggi indak sanggup manarimo kepulangan sianak rantau doh. Untuak itu paralu dilakukan perobahan paradigma hiduik dari rumah tunggal menjadi apartment kalau dipasokan bana tingga ditanah pusako tinggi itu. Kami tahu indak ka mungkin doh, tarutamo dari anak kemanakan nan alah maraso gadang di kampuang dan manjadi urang bagak pulo. Walaupun seluruh biaya kehidupan mereka ditunjang dari keluarga besar dari rantau sejak bayi, tapi dek karano konsep ABS-SBK indak dirawat dek sanak keluarga dikampuang, sehingga mereka menjadi masalah oleh keluarga besar. 2. Kebiasaan hidup bertetangga sarupo kanda Epy caritokan memang menjadi salah satu faktor kenapa kami2 ini enggan menetap dilingkungan yang kami tahu sangat membutuhkan energy perobahan yang besar dari pribadi maupun keluarga, apakah kepedulian terhadap berminangkabau harus tinggal dilokasi tersebut 3. Sesuai dengan pesan Allah SWT, kami yang berada dirantau lebih maximum memanfaatkan rahmat Allah ini dilokasi kami menetap seperti menyedekahkan ilmu, tenaga, dana, maupun pikiran untuk kemashlahatan umat termasuk umat yang berada diranah minang. Oleh karena itu keluarga besar kami menyikapi keinginan untuk menetap diranah minang itu dengan membangun sebuah rumah "Pusako Tinggi baru" untuk anak cucu kami dilokasi yang memungkinkan, seperti rumah peristirahatan di tempat yang sama dengan lokasi Puncak Bogor. Sehingga kalau kami mengunjungi keluarga besar bisa secara rutin bergantian, dengan adanya rumah peristirahatan ini, kami tidak putus kepedulian terhadap ranah kampung. Mudah2an anak keturunan keluarga besar kami dapat melanjutkan kebiasaan kami ini. Salam, Bagindo Darwin Chalidi, 61, Bintaro Jaya 2011/1/4 bandarost <[email protected]> > > > On 4 Jan, 06:17, Zulkarnain Kahar <[email protected]> wrote: > Assalamualaikum wr wb. > > Saya ada pertanyaan pendek mungkin ada nan bisa memberi pencerahan > "Kenapa para pensiunan Minang enggan pulang dan menetap dikampung". > > > Sanak Zulkarnain Kahar dan sanak sapalanta nan ambo hormati, > > ‘Pensiunan Minang Enggan Pulang dan Menetap di Kampung’ merupakan > fenomena yang sangat kasat mata dan juga merupakan pertanyaan yang > ada di kepala banyak warga Minang di rantau dan di ranah. Bukan hanya > mereka yang tergolong tokoh terkenal, tapi fenomena ini dapat diamati > secara jelas di sekeliling kita, di lingkungan teman, kerabat, famili, > dll hal ini jelas tampak secara menonjol. > > Sulit tentunya menyelami alasan orang lain, tapi sekurangnya > pengalaman pribadi masing-masing mungkin dapat merefleksikan sejumlah > penyebab dari keengganan ini. Mungkin tidak gampang untuk > mengeneralisir atau menarik suatu benang merah dari kumpulan alasan > tersebut, terutama karena ‘tingkat keminangan’ para warga Minang ini > sangat pula bervariasi. > > Saya sendiri asli Minang (orang tua keduanya berasal dari ranah > Minang), tapi hanya sempat menetap sampai umur 7 tahun di ranah > Minang, untuk selanjutnya ikut lebur dalam perjalanan rantau orang tua > serta perjalanan rantau saya sendiri. Banyak ‘kandang kambing’ atau > ‘kandang kerbau’ yang dimasuki yang membuat saya bisa’membebek’, > ‘menguak’, ‘berkokok’, dlsbnya ; ataupun beragam tanah yang ‘sudah > dipijak’ dan tentunya bermacam pula ‘langit yang harus dijunjung’. > > Alhamdulillah saya tidak ‘tercerabut dari akar’ keminangan'. Isteri > saya juga asli Minang. Penggunaan bahasa Minang yang masih ada di > lingkungan keluarga besar (walau tidak lagi dengan slank yang medok > serta kosakata dan idiom Minang yang relatif terbatas) , masakan > Minang yang masih rutin dinikmati di rumah (walau kami juga menggemari > rawon, pepes, rujak cingur, lalaban, mpekmpek, dan beragam masakan > nusantara lainnya), dan kunjungan kerja ke Sumbar yang saya lakukan > secara rutin dari zaman muda dulu. > Saya selalu berupaya mencari proyek di Sumbar dan sekitarnya yang > memungkinkan saya pulkam secara rutin, melibatkan diri dalam > permasalahan kampung, dan mencoba melakukan sejumlah program untuk > membangun kampung (oh ya, saya dulu pernah berkiprah di departemen PU, > untuk kemudiannya sejak berumur 35 tahun beralih ke dunia konsultan > transportasi dan pengembangan wilayah). > > Dari masa muda berkecimpung di lingkungan proyek pembangunan , membuat > saya juga punya cita-cita dan mimpi-mimpi ideal untuk menetap di > Sumbar jika masa tua datang kelak. Sejumlah lokasi saya siapkan > (Padang, Simpang Empat, Tua Pejat, Embun Pagi). > Tapi...... sejak masa itu pula pertanyaan pokok sanak Zulkarnain Kahar > diatas hinggap, menetap, dan mengganggu fikiran saya. > Sesudah sampai saatnya pindah dari ‘jalur cepat’ ke ‘jalur lambat’ > pada awal abad ini, ternyata saya tidak/belum bisa merealisasikan > mimpi-mimpi tersebut. > > Salah satu penyebab utama yang saya rasakan adalah bahwa saya adalah > warga Minang yang tumbuh di berbagai situasi dan kondisi dan > lingkungan rantau yang sangat saya akrabi. Hubungan keluarga di rantau > yang patrilineal, hubungan kesukuan dan kaum yang longgar, budaya dan > pola pikir dan pola tindak suku lain yang juga sudah ikut menetap di > dalam diri saya; secara menyeluruh membuat saya belum dapat merasa > nyaman untuk terjun dalam kehidupan keseharian di kampung halaman saya > (kalau pulkam seminggu dua minggu hal ini tidak terlalu terasa). > Permasalahan ini tidak terlalu terasa untuk kota-kota di Sumbar. > > Disamping itu, walau sudah masuk ke ‘jalur lambat’, sebagai orang > swasta saya masih aktif dalam beberapa kegiatan , yang kebetulan juga > belum dapat dikembangkan di Sumbar karena kondisi sarana & prasarana > dan SDM yang belum mendukung. > > Dari pengalaman dan pengamatan saya diatas yang kemudian sering > dibahas dengan sejumlah rekan kerja Minang lainnya (Engineer dan > Arsitek), kami pernah berhipotesa bahwa para senior yang menetap di > rantau itu, sebagian mungkin dapat ‘dibuat’ berminat untuk tinggal dan > menetap di Sumbar jika mereka dapat hidup dalam suatu lingkungan yang > agak ‘berbau rantau’. > > Kami bayangkan adanya perumahan di kawasan nyaman di Sumbar yang > dibangun dan terutama diperuntukkan bagi para perantau senior ini. > Disana tentunya pergaulan tidak ‘Minang banget’, para mantan bisa > bertetangga dengan mantan lainnya, mau berbahasa Palembang OK, Jawa > OK, Sunda dll pun OK. Mereka tetap setiap waktu dapat datang ke > kampungnya masing-masing, tapi hidup di lingkungan yang tidak terlalu > asing bagi mereka. > (Pemukiman sejenis ini setau saya pernah dibuat tahun 1950an di > Palembang untuk orang Jawa yang berasal dari New Caledonia. Disini > mereka bisa hidup di lingkungan yang mirip dengan daerah > perantauannya dulu, dan bahasa pergaulan mereka adalah bahasa > Perancis). > > Waktu itu salah satu bidang kiprah saya adalah sebagai Developer, dan > kami sudah bermimpi untuk mengembangkan kawasan tersebut di Lubuk > Selasih/Sukaramai yang berjarak relatif dekat ke Padang. Para mantan > ini tetap dapat menyumbangkan ilmu dan pengalamannya sebagai pendidik/ > trainer, atau mengendalikan usahanya dari kediamannya di daerah nyaman > yang tidak memerlukan AC tersebut. > Mohon maaf, karena topik ini cukup menjadi perhatian saya sejak lama, > saya tidak dapat menjelaskannya secara singkat. > > Maaf & wasalam, > > Epy Buchari > L-67, Ciputat Timur > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
