Pak Saaf yth.
 
KIta harus waspada,
terhadap siapa saja,
yang meminta agar kita ke ATM,
untuk men-check
apakah uang yang ditansfer ke
rekening kita sudah masuk.
 
Alasan mengapa terjadi transfer,
bisa macam-macam, antara lain:
 
= memenangkan undian.
= uang tanda jadi jual beli barang.
   (penipu dapat no telpon  korban
    melalui iklan baris)
= uang rapel.
= Dsb-nya
 
Pokoknya begitu ada orang
minta kita pergi ATM,
99,9  % orang itu akan menipu.
 
Kita akan dibimbing untuk
menekan tombol-tombol,
yang akhirnya saldo kita yang berkurang.
 
Modal penipu:
No telpon pra bayar.
No rekening dengan KTP palsu.
 
Begitu uang tertransfer,
sang penipu menarik habis uangnya.
 
Satu2nya cara untuk menangkap pelaku
adalah rekaman di ATM
di mana pelaku menarik uangnya.
Tapi ini tidak bisa segera terlacak,
apalagi kalau peleku  di luar kota.
 
Begitu penipuan gagal atau berhasil,
kartu pra bayar segera dibuang.
Untuk setiap calon korban, 
telah disediakan no khusus.
 
Penipu tidak mau ambil risiko,
dengan satu no telpon,
menghubungi beberapa calon korban.
 
Demikian, sekilas info.
Wass, Jacky M
===========

Judul: [R@ntau-Net] SAYA HAMPIR DIKERJAI PENIPU
Kepada: "rantaunet rantaunet rantaunet" <[email protected]>
Tanggal: Jumat, 11 Februari, 2011, 1:44 AM







Assalamualaikum ww para sanak sapalanta, 
Mestinya saya tahu pembicaraan via tilpon itu suatu penipuan, namun karena 
diiming-imingi akan dapat ‘dividen’ sebesar Rp 50 juta dari ‘dana pensiun 
Sekneg yang ditempatkan di Taspen’, menyebabkan saya – sebagai pensiunan – 
cukup tergiur dan hampir masuk perangkap. Ceritanya begini. 
 
Kemarin hari Kemis tanggal 10 Februari siang sekitar jam 11.45 WIB saya 
ditilpon ke rumah oleh seseorang yang mengaku sebagai ‘kepala biro keuangan 
Sekneg’, memberitahukan   bahwa sebagai mantan pejabat di Sekneg saya akan 
mendapat ‘dividen’  sebesar Rp 50 juta dari ‘dana pensiun Sekneg yang diinvest 
di Taspen’. Cara bicaranya lumayan meyakinkan. 
 
Mulanya saya agak heran dengan pemberitahuan tersebut, oleh karena saya adalah 
pensiunan TNI-Angkatan Darat, bukan pensiunan pegawai negeri sipil, walau saya 
pernah berdinas di Sekneg selama sepuluh tahun. Pensiun saya dibayar melalui 
Asabri. Lagi pula saya teringat pada kasus dana pensiun Jamsostek yang diinvest 
oleh dirutnya pada sebuah usaha swasta, yang kemudian menipu dirut Jamsostek 
tersebut, seorang mayor jenderal TNI purnawirawan. 
Namun, maklum pensunan yang hidup pas-pasan, iming-iming jumlah uang sebesar 
tersebut tentu saja membuat saya tergiur. Dengan alasan menchek, saya diminta 
memberikan nomor rekening bank saya, oleh karena si penipu yang menyaru sebagai 
‘kepala biro keuangan Sekneg’ ini menyatakan akan  menchecknya terlebih dahulu 
kepada Bank Mandiri, untuk dapat mentransfer ‘dividen’ tersebut ke rekening 
saya. Ia juga tak lupa menanyakan berapa saldo rekening saya, yang entah 
mengapa saya sampaikan begitu saja. 
Secara wanti-wanti ia mengatakan bahwa ‘dividen’ tersebut akan ditranfer hari 
ini juga, oleh karena sudah terhubung secara ‘on line’ dengan PPATK. 
 
Hebat ndak tuh ?  Selanjutnya saya diminta untuk menghubungi seorang ‘pejabat 
Taspen’ dengan memberikan nomor HP-nya. Kedua penipu ini memakai nomor HP 
081210332444 dan 081389447766. 
Yang saya agak heran adalah saya diminta untuk pergi ke ATM terdekat untuk 
kemudian akan dipandu untuk menerima ‘dividen’ tersebut, dengan memberikan 
“nomor registrasi pencairan dana dividen pensiunan Sekneg’ nomor 0199.887.29. 
Saya diminta untuk merahasiakan nomor ini, oleh karena merupakan ‘rahasia 
bank’.  Lazimnya kalau ada hak saya, langsung ditransfer ke rekening saya. Saya 
menyatakan akan mandi dan sholat dahulu.  Dengan diantar putri saya, saya pergi 
ke ATM terdekat yang sering saya gunakan, di kantor Bank Mandiri. 
 
Sesuai dengan petunjuk, saya kemudian menghubungi ‘pejabat Taspen’  tersebut, 
menyampaikan bahwa saya sudah di ATM. Eh, ia menanya apakah ATM tersebut di 
dalam bank atau di luar bank, yang tentu saja saya sebut di dalam bank. 
Herannya lagi, ia mengatakan bahwa agar dapat dipandu untuk menerima ‘dividen’ 
tersebut, saya agar  segera pergi ke ATM yang di luar kantor Bank Mandiri, 
dengan alasan ia tak dapat mendengar suara saya, padahal saya dapat mendengar 
suaranya dengan jelas.  Sewaktu saya tanyakan kepada satpam Bank Mandiri, ia 
menyatakan bahwa tidak ada ATM Bank Mandiri yang berdekatan. 
Syukurnya, seorang satpam lain mengatakan agar saya jangan pergi, oleh karena 
itu adalah penipuan, yang sudah sering dialami oleh nasabah bank tersebut. 
Percakapan saya dengan dua satpam tersebut didengar oleh kepala cabang yang 
kebetulan ada di dekat saya. Saya diajak oleh kepala cabang itu untuk datang ke 
meja terdekat yang kebetulan pula sedang kosong. Kepada saya dijelaskan ‘modus 
operandi’ yang sering digunakan oleh para penipu. 
Sewaktu saya sedang berbicara dengan kepala cabang tersebut, si penipu tersebut 
menghubungi saya lagi liwat HP. Setelah saya jawab bahwa tidak ada ATM di luar 
kantor bank, saya memberikan HP saya kepada kepala kantor cabang agar ia 
berbicara langsung. Kepala kantor cabang bank dengan santun menyarankan agar 
‘dividen’ tersebut langsung ditransfer saja, dipotong seluruh biaya. Tentu saja 
si penipu itu tidak mau. 
Oleh karena saya masih punya sahabat di Sekneg, beliau-beliau saya tilpun 
secara langsung, dan mendapat jawaban bahwa tidak ada ‘dividen’ tersebut. Jadi 
sudah ‘confirmed’ penipuan. 
Apa hikmah dari pengalaman hampir tertipu ini ? Begini: 1) si penipu telah 
mempelajari riwayat hidup saya, dengan cukup detail; 2) ia menawarkan sesuatu 
yang cukup menggiurkan bagi saya sebagai pensiunan; 3)  ia memberikan data yang 
dinyatakannya ‘rahasia’ dan agar tidak diberitahukan kepada orang lain; 4) ia 
meminta agar saya  pergi ke ATM di luar kantor bank , untuk kemudian ‘dipandu’ 
untuk menerima ‘dana’ melalui ‘nomor register’ yang dinyatakannya ‘rahasia 
bank’. 
Yang tidak diduganya adalah bahwa  1)  saya pergi ke ATM di dalam kantor bank, 
2)  bahwa saya masih mempunyai komunikasi langsung dengan pejabat Sekneg, yang 
dengan cepat me nyatakan bahwa tidak ada ‘dividen’ seperti itu; 3) ia telah 
memberikan ‘nomor register’nya di Bank Mandiri – yaitu 0199.887.29 – yang bisa 
dilacak dengan mudah oleh bank dan reserse kriminal. [Kalau nomor HP, 
pastisudah tak akan digunakan lagi, oleh karena sudah ketahuan.] 
Ringkasnya, jika selama ini kita mengenal ‘Nigerian scam’, kini ternyata kita 
sudah  punya ‘Indonesian scam’, seratus  prosen kreativitas dalam negeri. 
Kepada Kabareskrim Polri, saya harapkan dapat melacak  ‘nomor register’ 
0199.887.29 di Bank Mandiri. Dari sana bisa ditelusuri nama lengkap dua orang 
sontoloyo ini. 
Kepada masyarakat, saya harapkan bersedia mencari – atau mengingat --  siapa 
yang mempunyai nomor HP 081210332444 dan 081389447766. 
Kepada kedua satpam dan kepala kantor cabang Bank Mandiri saya ucapkan terima 
kasih banyak. 
  
Wassalam,
Saafroedin Bahar Soetan Madjolelo
(Laki-laki, Tanjung, masuk 74 th, Jakarta) 
Taqdir di tangan Allah, nasib di tangan kita.




8:00? 8:25? 8:40? Find a flick in no time
with theYahoo! Search movie showtime shortcut. 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke