Pandangan di bawah tampaknya tanpa mempertimbangkan kuantitas penggunaan 
kendaraan bemotor di Indonesia: misalnya berapa jumlah motor yang dipakai di 
Indonesia dan yang dipakai di negara pembuatnya sendiri, seperti Jepang. 
Lihatlah kerumunan motor di stasiun-stasiun pengisian bahan bakar di kota-kota 
Indonesia yang makin seperti samuik salimbado tapijak sarang. Sekarang dengan 
mudah dapat dilihat rumah tangga-rumah-tangga Indonesia yang memiliki lebih 
dari satu kendaraan bermotor roda dua. Malah di desa saya yang boleh dikatakan 
masih rural, di satu rumah dengan empat anggota keluarga, juga punya 4 
kendaraan bermotor roda dua dan satu mobil. Ampun kerek saya melihatnya. Belum 
lagi kalau kita lihat budaya hidup hemat yang masih jauh dari nur'aini bangsa 
kita. Jadi, saya kira rentannya ketahanan energi negara kita ini lebih 
disebabkan oleh tingkat 'snobisme' penggunaan kendaraan bermotor, belum lagi 
dihitung biaya tambahan akibat sistem transportasi
 yang amburadul seperti Jakarta yang makin macet total. Kan sudah pernah 
dihitung2 akibat sistem kemacetan yang dipelihara ini kerugian akibat 
penggunaan energi yang percuma di Jakarta saja mencapai jutaan dollar per hari.
Dengan kata lain, rentannya ketahanan energi bangsa ini juga disebabkan oleh 
budaya bangsa ini yang 'khas' dan 'unik' dalam menggunakan energi itu sendiri. 
 
Salam,
Suryadi

--- Pada Ming, 6/3/11, andi ko <[email protected]> menulis:


Dari: andi ko <[email protected]>
Judul: Re: [R@ntau-Net] OOT: Ketahanan Energi Mengkhawatirkan
Kepada: [email protected]
Tanggal: Minggu, 6 Maret, 2011, 1:47 PM


Nuklir nan takana dek urang-urang di nagari nan rentan ko mak

salam

andiko


Pada 6 Maret 2011 13:35, Darwin Bahar <[email protected]> menulis:




EDITORIAL Media Indonesia, Jumat, 04 Maret 2011 00:00 WIB      14 Komentar 
http://www.mediaindonesia.com/read/2011/03/04/207686/70/13/Ketahanan-Energi-Mengkhawatirkan
INILAH negeri yang bergelimang sumber daya energi dan serentak dengan itu, 
inilah pula negeri yang rawan energi. Rawan karena ketahanan energinya rendah.
Padahal, selain ketahanan pangan, ketahanan energi merupakan faktor penting 
ketahanan nasional. Karena itu, Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) 
berteriak saat stok minyak Republik Indonesia hanya cukup untuk 20 hari, bahkan 
dalam kondisi tertentu hanya tahan untuk lima hari.
Angka itu sangat jauh di bawah stok minyak Jepang yang mencapai 107 hari dan 
Singapura 120 hari. Padahal, Jepang dan Singapura tidak memiliki kandungan 
minyak dalam perut bumi mereka.
Bagaimana mungkin daya tahan energi sebuah negara yang punya kandungan emas 
hitam di dalam perut buminya lebih rapuh ketimbang negara-negara yang 
ditakdirkan sebagai konsumen?
Selama ini, kita dininabobokan kekayaan alam dan malas mengolah kekayaan alam 
itu sehingga memberi nilai tambah.
Kita pun lebih suka main cepat. Dengan dalih menyelamatkan penerimaan, 
pemerintah lebih suka menyerahkan pengelolaan isi perut bumi kepada kontraktor 
minyak asing. Jaminan ketersediaan energi di dalam negeri pun menjadi persoalan 
nomor dua.
Kontraktor minyak asing telah dijadikan raja di hulu energi. Mereka menguasai 
65% atau 329 blok migas. Sebaliknya, perusahaan nasional hanya menguasai 24,27% 
dan sisanya perusahaan patungan.
Sistem bagi hasil pun belum berkiblat pada kepentingan nasional. Para 
kontraktor hanya wajib menyetor 25% dari hasil produksi mereka untuk pasokan 
domestik. Karena itu, tak mengherankan jika ketahanan energi kita rentan.


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke