Sebagai org yag terlibat langsung pernah 32 thn di perminyakan, bocara ttg 
energy ini di ngr klta tidaklah semudah spt yg kita perbincangkan

Banyak parameter rumit yang menentukan, tidaklah sederhana memang

Wass
  
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: "Dr Saafroedin Bahar" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sun, 6 Mar 2011 10:01:18 
To: [email protected].<[email protected].>
Reply-To: [email protected]
Cc: Warni DARWIS<[email protected]>
Subject: Fw: [R@ntau-Net] OOT: Ketahanan Energi Mengkhawatirkan

Aslm ww Sanak Aafrijon, ambo satuju panuah jo kekhawatiran Sanak. Salanjuiknyo, 
apo nan dapek dan paralu dibuek Rakyat utk manjamin ketahanan energi tu ?
Mampicayokan sajo ka Pamarentah jo partai-partai nan 'alah kanampakan budi' tu 
? Atau manyarah sajo pado nasib ?
Apo nan mudo-mudo lai ka baiyo bana sato sakaki manyalamaikkan nagari kito ko ? 
Baa kok Sanak basamo jo nan mudo-lain bakumpua membahas dan maambiak sikap ttg 
soal iko ?
Itu nan takana dek ambo. Talabiah takurang mohon maaf.
Wassalam,
------Original Message------
From: Aafrijon Aafrijon
Sender: Rantau Net Rantau Net
To: Rantau Net Rantau Net
To: Darwin Bahar
ReplyTo: Rantau Net Rantau Net
Subject: Re: [R@ntau-Net] OOT: Ketahanan Energi Mengkhawatirkan
Sent: Mar 6, 2011 16:30

Mak DB, kekhawatiran ini sangatlah beralasan bahkan jauh dari itu beberapa 
dekade generasi kita kebelakang akan kehilangan sumber energi karena saat ini 
dikelola tanpa perencanaan yang berpihak kepada kepentingan negara dalam jangka 
panjang,
Kebijakan pengelolaan sumber energi dan sumber daya alam lainnya oleh 
pemerintah dari zaman Orde baru sampai saat ini sangat tidak berpihak kepada 
kepentingan dan kelangsungan serta persiapan dalam jangka panjang.
Pemerintah lebih cenderung sebagai penerima fee dari pada pengelolaan sendiri 
yang akan lebih memberi manfaat dan keuntungan yang besar terhadap negara dan 
rakyat Indonesia.
Diakui atau tidak bahwa pemerintah kita telah dikendalikan oleh negara-negara 
pengusa ekonomo barat yang sifatnya kapitalisme, dan telah mendarah faging 
secara sistimatis pola cukup menerima fee ini disetiap generasi pemerintahan 
kita.
Kita adalah negara yang sangat kaya dari sumber daya alam yang berpotensi 
sangat tinggi untuk kemajuan dan kemakmuran bangsa, namun bagai mana mungkin 
kita bisa berkekurangan, peluang kerja dan usaha sebenarnya sangat banyak namun 
pengangguran melimpah tenaga kerja malah mencari kerja ke luar negri.
Semua hasil SDA kita sebut saja mulai dari minyak mentah, CPO, Pulp, Batubara, 
Mangan, dll semua di ekspor setengah jadi, sedikit sekali indistri hilir 
dibangun di Indonesia padahal keuntungan dan tenaga kerja akan lebih banyak 
didapat dan diserap pada industri hilir ini.
Kalau hal ini tidak dilakukan sebuah perubahan kebijakan terhadap pengelolaan 
sumber daya alam kita maka Indonesia akan tetap terpaut hutang luar negeri yang 
tak akan pernah putus dan suatu saat anak cucu kita akan.kehabisan sumberdaya 
alam yang luar biada dan pada saat itu kemiskinan dan kesisahan hidup akan jauh 
lebih parah lagi.
PEMERINTAH SAAT INI HANYALAH KOLEKTOR FEE YANG MENGHARAPKAN KOMISI seolah-olah 
kemiskinan dan pengangguran ini sengaja dipelihara.
Tks Afrijon Ponggok 44,L, sdg di Bdr Sukarno Hatta 
Sent from Yahoo! Mail on Android
From: Darwin Bahar <[email protected]>; To: Palanta Rantaunet 
<[email protected]>; Subject: [R@ntau-Net] OOT: Ketahanan Energi 
Mengkhawatirkan Sent: Sun, Mar 6, 2011 6:35:25 AM EDITORIAL Media Indonesia, 
Jumat, 04 Maret 2011 00:00 WIB      14 Komentar
http://www.mediaindonesia.com/read/2011/03/04/207686/70/13/Ketahanan-Energi-Mengkhawatirkan
INILAH negeri yang bergelimang sumber daya energi dan serentak dengan itu, 
inilah pula negeri yang rawan energi. Rawan karena ketahanan energinya rendah.
Padahal, selain ketahanan pangan, ketahanan energi merupakan faktor penting 
ketahanan nasional. Karena itu, Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) 
berteriak saat stok minyak Republik Indonesia hanya cukup untuk 20 hari, bahkan 
dalam kondisi tertentu hanya tahan untuk lima hari.
Angka itu sangat jauh di bawah stok minyak Jepang yang mencapai 107 hari dan 
Singapura 120 hari. Padahal, Jepang dan Singapura tidak memiliki kandungan 
minyak dalam perut bumi mereka.
Bagaimana mungkin daya tahan energi sebuah negara yang punya kandungan emas 
hitam di dalam perut buminya lebih rapuh ketimbang negara-negara yang 
ditakdirkan sebagai konsumen?
Selama ini, kita dininabobokan kekayaan alam dan malas mengolah kekayaan alam 
itu sehingga memberi nilai tambah.
Kita pun lebih suka main cepat. Dengan dalih menyelamatkan penerimaan, 
pemerintah lebih suka menyerahkan pengelolaan isi perut bumi kepada kontraktor 
minyak asing. Jaminan ketersediaan energi di dalam negeri pun menjadi persoalan 
nomor dua.
Kontraktor minyak asing telah dijadikan raja di hulu energi. Mereka menguasai 
65% atau 329 blok migas. Sebaliknya, perusahaan nasional hanya menguasai 24,27% 
dan sisanya perusahaan patungan.
Sistem bagi hasil pun belum berkiblat pada kepentingan nasional. Para 
kontraktor hanya wajib menyetor 25% dari hasil produksi mereka untuk pasokan 
domestik. Karena itu, tak mengherankan jika ketahanan energi kita rentan.
Keadaan akan bertambah buruk bila konflik yang melanda sejumlah negara 
penghasil minyak di Timur Tengah dan Afrika Utara berlangsung berkepanjangan 
yang menyebabkan negara-negara itu terpaksa menghentikan produksi.
Oleh karena itu, langkah pembenahan harus dimulai dari segera menata ulang 
sistem pengelolaan ladang minyak nasional. Tidak bisa lagi main obral sumber 
daya, tanpa memikirkan ketahanan di dalam negeri. Dengan dalih apa pun, menjaga 
ketersediaan stok domestik harus lebih penting.
Pemerintah jangan tuli terhadap seruan tentang keberpihakan pada kepentingan 
dalam negeri. Tidak ada larangan, misalnya, mengubah undang-undang dan 
kontrak-kontrak pengelolaan ladang-ladang minyak kita bila dirasa terlalu 
merugikan.
Termasuk, tidak memperpanjang pengelolaan ladang minyak di tangan perusahaan 
asing bila masa kontrak mereka selesai. Kita juga perlu mengingatkan komitmen 
pemerintah untuk mengembangkan energi alternatif yang terbarukan. Jangan 
program itu hanya hangat-hangat tahi ayam!
 
-- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke