Ajo Suryadi, Nakan Afrijon sarato Sanak  sa Palanta; 

Apa yang Ajo Sur kemukakan itu tidak salah,  editorial Media Indonesia
memang 'menguliti' kerawanan energy tersebut berhubungan dengan kebijakan
pemerintah dari sisi 'supply'.

Tetap dalam pengelolaan 'demand, kebijakan Pemerintah SBY-Boediono pun tidak
kurang kedodoran.

Dulu kita masih ingat harga eceran BBM dalam negeri naik hampir dua kali dan
kita tahu arsiteknya adalah JK. Pasalnya APBN dari tahun ke tahun semakin
dibebani subsidi dan harga yang terlalu rendah---dan kita tahu ini hukum
ekonomi yang berlaku universal---mendorang orang untuk boros.

Akan tetapi menjelang Pemilu tahun 2009 yang lalu---demi politik
pencitraan---pemerintah melalui Menkeu Sri Mulyani, menurunkan lagi harga
eceran BBM dalam negeri seturut menurunnya harga minyak mentah di pasaran
dunia ketika itu.

Agak aneh juga, seorang  Sri Mulyani yang begitu 'hakkul yakin' kalau Bank
Century tidak di-bail out akan menyebabkan pasar keuangan dalam negeri akan
ambruk lagi seperti tahun 1998 dulu, bisa abai tentang kemungkinan harga
minyak mentah dunia bisa naik lagi, seperti yang terjadi saat ini.

Nah sekarang  SBY-Boediono---demi politik pencitraan---berusaha bagaimana
caranya menaikkan harga eceran BBM dalam negeri naik, tetapi kelihatannya
seakan-akan tidak naik :).

Karena itu, kebijakan untuk membatasi penggunaan BBM bersubsidi sampai hari
ini masih hebohnya saja.

Alangkah  mahalnya biaya sosial dan ekonomi yang harus dibayar bangsa ini
'membuang' seorang JK.  

Wallahualam bissawab

Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 67+)

 

. 


 
<http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/message/138317;_ylc=X3oDMTJzYmo2OXU
zBF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzExMjAxMjcEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MzI5NzI5BG1zZ0lkAzEzODM
xNwRzZWMDZG1zZwRzbGsDdm1zZwRzdGltZQMxMjk5NDA1MDMw> Re: [R@ntau-Net] OOT:
Ketahanan Energi Mengkhawatirkan 


Posted by: "Lies Suryadi"
<mailto:[email protected]?Subject=%20Re%3A%20%5BR%40ntau-Net%5D%20OOT%3A
%20Ketahanan%20Energi%20Mengkhawatirkan> [email protected] 


Sun Mar 6, 2011 1:15 am (PST) 



Pandangan di bawah tampaknya tanpa mempertimbangkan kuantitas penggunaan
kendaraan bemotor di Indonesia: misalnya berapa jumlah motor yang dipakai di
Indonesia dan yang dipakai di negara pembuatnya sendiri, seperti Jepang.
Lihatlah kerumunan motor di stasiun-stasiun pengisian bahan bakar di
kota-kota Indonesia yang makin seperti samuik salimbado tapijak sarang.
Sekarang dengan mudah dapat dilihat rumah tangga-rumah-tangga Indonesia yang
memiliki lebih dari satu kendaraan bermotor roda dua. Malah di desa saya
yang boleh dikatakan masih rural, di satu rumah dengan empat anggota
keluarga, juga punya 4 kendaraan bermotor roda dua dan satu mobil. Ampun
kerek saya melihatnya. Belum lagi kalau kita lihat budaya hidup hemat yang
masih jauh dari nur'aini bangsa kita. Jadi, saya kira rentannya ketahanan
energi negara kita ini lebih disebabkan oleh tingkat 'snobisme' penggunaan
kendaraan bermotor, belum lagi dihitung biaya tambahan akibat sistem
transportasi
yang amburadul seperti Jakarta yang makin macet total. Kan sudah pernah
dihitung2 akibat sistem kemacetan yang dipelihara ini kerugian akibat
penggunaan energi yang percuma di Jakarta saja mencapai jutaan dollar per
hari.
Dengan kata lain, rentannya ketahanan energi bangsa ini juga disebabkan oleh
budaya bangsa ini yang 'khas' dan 'unik' dalam menggunakan energi itu
sendiri. 
 
Salam,
Suryadi

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke