Assalamualaikum ww pak Abraham, Ajo Sur, dan para sanak sapalanta,
 
Rasanya saya kenal dengan  'bintara bernama Sudjono' yang pak Abraham maksud. 
Sewaktu saya pindah ke Kodam III/17 Agustus sebagai letnan satu pada bulan 
Agustus 1960, beliau berpangkat pembantu letnan satu, masih termasuk bintara, 
kemudian menjadi komandan kompi Raiders di Bukit Gombak, Batu Sangkar. 
Posturnya langsing dan orangnya gesit. Satu hal yang teringat oleh saya adalah 
orangnya rendah hati, mudah tersenyum, dan taat beragama. Kalau saya tidak 
salah, setelah pensiun beliau menjadi pengurus Tarbiyah. Saya baru tahu  dari 
pak Abrahan bahwa kemudian beliau menjadi besan orang Tanjung.
 
Sekedar catatan, mungkin bermanfaat jika saya sampaikan nama-nama perwira TNI 
yang berasal dari Jawa, yang pernah bertugas di Kodam III/17 Agustus dan 
berusaha memahami dan mengormati Minangkabau, yaitu :1) Kolonel Inf. Poniman, 
Kepala Staf kemudian Panglima Kodam III/17 Agustus, pendiri LKAAM, terakhir 
Jenderal, Menhankam; 2) Mayjen TNI Widodo, Pangdam III/17 Agustus, terakhir 
Jenderal, Kepala Staf TNI Angkatan Darat, yang mendorong dan merestui 
pementasan drama 'Tuanku Imam Bonjol' -- yang ditulis oleh seniman Makmur 
Hendrik` dan disutradarai oleh budayawan Ali Akbar Navis,  sebagai bagian dari 
pembinaan tradisi korps ('bintrakor') Kodam III/17 Agustus. Baik Poniman maupun 
Widodo pernah diangkat sebagai Payung Panji LKAAM Sumatera Barat karena 
perhatian dan jasanya dalam membangun LKAAM `dan memfungsikan para ninik mamak 
pemangku adat pasca PRRI. 3) Letkol CKH Iman Soeparto, SH, oditur Kodam III/17 
Agustus, yang berusaha berlaku adil terhadap eks
 anggota KDMST yang ikut dalam PRRI; terakhir Kolonel, Walikota Semarang; dan 
4)  Mayor Inf. Wardjono, Kepala Penerangan Kodam III/17 Agustus, yang selain 
merancang badge Kodam III/17 Agustus yang mencantumkan silhouette rumah gadang, 
juga mengangkat pepatah 'dimana bumi dipijak disana langit dijunjung' sebagai 
sesanti Kodam III/17 Agustus; terakhir Kolonel, Kepala Perwakilan Departemen 
Agama Provinsi Jawa Tengah. Semua beliau telah wafat.

Secara pribadi saya berhutang budi kepada keempat beliau, yang telah membimbing 
saya dalam karir di TNI Angkatan Darat. Semoga Allah swt menerima amal ibadat 
beliau-beliau dan mengampuni dosa-dosanya. Amin.
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar Soetan Madjolelo
(Laki-laki, Tanjung, masuk 74 th, Jakarta) 
Taqdir di tangan Allah, nasib di tangan kita.



--- On Sun, 4/3/11, Abraham Ilyas <[email protected]> wrote:


From: Abraham Ilyas <[email protected]>
Subject: Re: [R@ntau-Net] Sosok Sejarah yang Nyaris Ditenggelamkan
To: [email protected]
Date: Sunday, April 3, 2011, 3:18 PM


...................bagaimana mendekonstruksi dendam sejarah yang begitu 
mengakar di negeri ini, yang begitu mempengaruhi cara orang perpikir dan 
bertindak, termasuk dalam mengelola negara dan pendidikan. 
 Angku Suryadi nan ambo hormati.

Manuruik ambo di akar rumput indak ado istilah dendam sejarah, sarupo syair di 
bawah iko. 
Di nagari ambo antaro bakeh OPR dan pendukung PRRI saat tak ada tampak bekas 
permusuhan.

Tapi kutiko simbol simbol masalalu yang notabene pernah dianggap "berutang" 
kepada bakeh musuhnyo masih tetap dipagalehkan untuk merebut kekuasaan, mako 
disanalah mungkin muncul dendam sejarah !

XVII. Tiada permusuhan sesudah perang

Seorang bintara bernama Sudjono
Dia tentara Divisi Diponegoro
Tugas ke Batusangkar diperintah Soekarno
Pergi berperang penuh resiko

Instruksi Soekarno membasmi PRRI
Orang Tanjung ikut diperangi
Sudjono termasuk bagian infantri
Dulu ke Tanjung pergi operasi

Di Batusangkar Sudjono bertugas
Bersenjata bedil panjang laras
Keluarga ditinggal selalu cemas
Mereka berdoa kepada yang di Atas

Kepada Allah anak berdoa
Agar selamat pulang ke Sokaraja
Berkumpul kembali bersama keluarga
Mendidik perempuan anak pertama

Walau Sudjono tentara Pusat
Dia berpihak kepada rakyat
Sembahyang di mesjid setiap Jum-at
Di situ terjadi tangan berjabat

Saat perang sedang terjadi
Sudjono berpangkat bintara APRI
Dianggap musuh anak nagari
Jangan ditemui, perlu dihindari

Karena diatur Tuhan Robbana
Musuh akhirnya jadi keluarga
Orang Tanjung nikah di Jawa
Putri Sudjono menjadi isterinya

Anak pertama perempuan sulung
Setelah kawin pergi ke Tanjung
Ikut suami melihat kampung
Kini silaturahmi datang berkunjung

Datang berkunjung ke sanak saudara
Mungkin maaf yang diminta
Saat ayah jadi tentara
Melaksanakan tugas perintah perwira

Ketika perang telah berlalu
Anak Sudjono diambil menantu
Tiada permusuhan antar suku
Walau APRI telah keliru

Kelak terbukti tahun enam lima
Jenderal dibunuh saat kudeta
Mungkin Soekarno ikut merencana
Begitu tertulis dalam berita

Bukan pendapat dari pengarang
Tapi bukti yang sangat terang
APRI diperintah untuk berperang
Ketika Soekarno mabuk kepayang

Karena ini masalah politik
Supaya tak muncul debat polemik
Ada petuah orang cerdik
Forgive, but dont forget it

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke