Wa'alaikumussalam wr.wb.
Sanak St.Sinaro jo sanak sapalanta.

Maaf agak lamo ambo bisa marespon diskusi kitoko.
Alhamdulillah soal NKRI mayoritas orang setuju dan mudah untuk itu (dipahami?)
Itu berarti kita sudah setuju berpaham nasionalis bukan?

Soal tidak memusuhi bangsa lain dimaksudkan tidak perlu ofensif aktif tetapi 
defensif aktif.
Alah sasuai jo doktrin Hankamrata kita, musuh tidak dicari , bersua pantang 
dielakkan.
Tujuan Nasional  NKRI adalah ikut serta secara aktif menciptakan perdamaian 
dunia.
Berarti perdamaian antara bangsa-bangsa ( nasional) yang abadi.

Supaya kita tidak diganggu maka NKRI menyiapkan KETAHANAN NASIONAL  dan 
KEWASPADAAN NASIONAL, disegala aspek kehidupan bangsa (IPOLEKSOSBUDHANKAM)
Kalau memang diyakini bahwa cara yang paling moderat mengembalikan Piagam 
Jakarta  
kedalam UUD-45 maka yang harus/perlu meyakini lebih dahulu adalah komuniti 
Islam. Artinya
komuniti Islam sendiri yang harus meng Islam diri lebih dahulu. Selanjutnya 
akan mudah karena 
mayoritas suara komuniti Islam akan pasti menang dalam  sidang MPR RI yang 
berwenang 
mengembalikan Piagam Jakarta itu. Yakinkan komuniti bangsa yang beragama lain 
bahwa Islam 
benar-benar "rahmatan lil alamin" yang berarti termasuk mereka, seperti Piagam 
Medinah dulu.

Persoalan bangsa Yahudi dan freemansori adalah ingin menguasai dunia. Mereka 
saat ini melihat 
Islam dengan segala potensinya sangat potensial untuk juga menguasai dunia. 
Oleh karenanya 
mereka berusaha mengobok-obok semua bangsa non Yahudi  terutama Islam agar 
tetap lemah. 
Maka persoalannya ada dipihak kita, sudah siapkah NKRI sekarang atau kapan ? 
Lihat Iran, India 
China dan Jepang mereka sudah siap dan tidak terganggu.  

Sementara begitu dulu diskusi kita, mudah-mudahan berlanjut. 
Wassalam,

Asmardi Arbi ( 69+, Tangsel )





From: Sutan Sinaro 
Sent: Wednesday, June 01, 2011 1:49 AM
To: [email protected] 
Subject: Re: Menghadapi Freemasonry, mari kito diskusikan Re: [R@ntau-Net] 
Komuniti Islam di Indonesia


      Assalamu'alaikum. w.w.

      Pak Asmardi dihormati jo dunsanak kasadonyo.
      Rasanya ada kata berujung yang disampaikan dalam tulisan bapak, 
      dan ini tertangkap oleh saya, benar atau tidak, bapak yang tahu.
      Apa itu ?. Ujungnya yang saya tangkap yakni
      NKRI dan tidak memusuhi bangsa lain.

      Mengenai NKRI, mungkin banyak atau mayoritas orang setuju dan
      rasanya mudah untuk itu, akan tetapi seperti yang saya sebut 
      kemarin, kalau memang ingin menghadapi Zionis dan Freemason ini,
      mau tidak mau, suka atau tidak suka, jalan moderat yang boleh
      diambil adalah mengembalikan Piagam Jakarta ke dalam UUD RI,
      dan menjelaskan Pancasila itu seperti uraian Haji Agus Salim.
      Tinggal bagaimana mensosialisasikannya dan menyampaikan semua
      ini kepada para petinggi negara dan politisi negeri ini.
        Akan tetapi, ... akan tetapi lagi nih, apakah NKRI itu tidak
      rentan terhadap penyusupan agenda zionis dan fremason ini ?.
      Mengapa saya sebut demikian ?. Sebabnya adalah, NKRI selalu
      dikaitkan dengan isu nasionalis yang memang menjadi agenda 
      zionis dan freemason. Pengembalian Piagam Jakarta kepada UUD RI
      akan diganjal sana sini dan dijegal dimana saja. Ini jadi pertanyaan
      (Question mark) yang susah untuk dijawab. 
      Isu nasionalis ini sangat disetujui oleh zionis (lihat kembali agenda
      zionisme dan freemasonry) akan tetapi ditentang oleh rasulullah saw. 
      Kalau saja rasulullah menyetujui hal ini, tentu rasulullah saw. tidak
      memerlukan 13 tahun untuk mencari pengikut yang hanya 80 orang itu, 
sebelum hijrah.
      Cukup dengan mengibarkan bendera "Pan Arabisme" untuk persatuan Arab,
      maka dakwah beliau tidak banyak yang menentang malah disetujui banyak
      orang dan dakwah ini tidak mengalami kesulitan yang begitu rupa.
      (di "quot" dari buku "Petunjuk Jalan" Sayid Qutb). Tetapi rasulullah saw. 
tidak
      melakukan hal yang demikian, karena Allah swt. juga tidak menghendaki 
beliau
      menyampaikan dakwah dengan cara demikian. Bahkan sampai pada suatu ketika
      beliau bersabda urusan nasionalisme ini yang berbunyi kira-kira begini :
      "Barang siapa yang fanatis golongan (kesukuan, kaum, kebangsaan, 
nasionalisme)
      maka mereka bukan golongan kami". (al-hadits).
      Kalau sudah begini rasulullah saw., bagaimana kita menghadap beliau esok
      di padang mahsyar ?. Adakah kita tidak akan diusir dari barisan Muhammad
      rasulullah saw. nanti bila kita mencoba bergabung pada barisan kaum 
Muslimin
      itu ?. 
         Hal ini harus menjadi pemikiran kita, karena "hari yang tiada 
pertolongan
      padanya" itu pasti datang (Rukun Iman). 
      Kalau seandainya dijawab tidak rentan, dan dapat mengembalikan Piagam 
Jakarta
      ke posisinya dalam UUD RI, alhamdulillah. Cuma perlu kehati-hatian kita,
      karena urusannya sekarang agenda lawan agenda, Zionisme lawan Pancasila 
versi
      Islam. 
        Yang kedua, kata berujung yang nampak adalah "tidak memusuhi bangsa 
lain".
      Hal ini seperti menyerupai agenda satu dunia baru Freemasonry. (Tulisan 
ini ada
      dalam buku yang serangkai yang saya kirimkan yakni "Dajjal dan simbul 
Setan",
      coba klik dan baca). 
      Kita memang tidak berniat mencari musuh akan tetapi bila musuh ada, harus 
diten-
      tang. Artinya bila orang memusuhi kita secara otomatis kita akan menjadi 
musuh
      mereka atau tegasnya memusuhi mereka. Nabi saw. sendiri membagi 
negara-negara
      atau puak-puak (saya lupa istilah Arabnya, mungkin "Ad-Dar" atau "Darul").
      Yang pertama adalah puak-puak atau negeri-negeri yang berada dalam 
perlindungan
      pemerintahan Islam, yang kedua negeri-negeri yang mempunyai perjanjian 
damai
      dengan negeri Islam, dan yang ketiga "Darul Harb", negeri yang berperang 
dengan
      kaum Muslimin. 
          Dalam surat-surat rasulullah saw. kepada negara-negara yang dikirim 
(Romawi,
      Persia, Yaman, Mesir, Abesinia dll) juga terdapat kata-kata permusuhan 
seperti
      itu yang bunyinya kalau tidak salah begini, "kalau kamu tidak mau, maka 
sudah
      jelas perbedaan kami dan kamu dan sudah jelas permusuhan kami dan kamu". 
      Jadi mau tidak mau, akan ada bangsa-bangsa yang nantinya akan bermusuhan 
dengan 
      kita dan kita musuhi. 
      Memang, mengasihi dan mencintai, membenci dan memusuhi harus disandarkan 
kepada
      Allah swt. Yakni membenci dan mencintai karena Allah swt. Ini suruhan 
terhadap
      kita kaum muslimin. Tapi jangan lupa, ada hal-hal yang dikasihi oleh 
Allah dan
      ada yang dibenci bahkan dimurkai. Kalau berdasarkan Allah swt., sudah 
semestinya
      ada hal yang dikasihi dan dibenci atau dimurkai. Begitu juga dengan 
bangsa-bangsa.
      Tentu ada yang dikasihi dan dimusuhi. Karena sudah ada ayat Al-Qur-an 
yang berbunyi

      " Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, 
maka 
      tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. 
      Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah 
kamu 
      duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan 
itu)"
      (QS:6:68)

      Melihat ayat ini, sudah pasti kita disuruh membenci orang-orang yang 
memperolok-
      olokan ayat-ayat Allah. Dan kalau Allah swt sendiri yang sudah murka 
terhadap
      suatu kaum, golongan atau bangsa, maka kita mestilah membenci dan 
memusuhi mereka.

      Mana pula ayatnya ?. ayatnya kita baca tiap hari "Ghairil maghdu bi 
'alaihim".
      (QS:01:07). Dan bukan orang-orang yang Engkau murkai (Yahudi).

      Eh, itu kan di "murkai", bukan "musuh", tentu begitu pula nanti.
      Oops, bukan tidak ada ayat yang menyatakan musuh Allah.
      Ada lima ayat yang menyatakan musuh Allah. 

      "Barang siapa yang menjadi musuh Allah, ...." (QS:2:98)
      "...dengan itu kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu ..." (QS:8:60)
      "...tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah ..." 
(QS:9:114)
      "Dan ingatlah hari ketika musuh-musuh Allah di giring ke neraka...." 
(QS:41:19).
      "Demikianlah balasan terhadap musuh-musuh Allah ...." (QS:41:28).

      Kalau sudah musuh Allah, tentu jadi musuh kita. 
      Begitu pak Asmardi...

        Sekarang ini tentu usaha kita menentang rencana jahat mereka, jalan 
tentu masih
      panjang. Mana yang kita tempuh, tergantung kesepakatan kita semua bangsa 
Indonesia,
      mau langkah tegas, atau moderat.

      Billahil hidayah wat taufiq.

      Wassalam

      St. Sinaro


     


-- 
.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke